RSS

Asyiknya Berkunjung ke Museum

Siapa bilang museum itu kuno! Tempat pemakaman benda dan karya seni? Museum pengetahuan dan alam jauh dari kesunyian itu. Benda diam itu serasa hidup, apalagi video grafis dan audio visual membuat kita berimajinasi seolah berada dan menjadi bagian dari alam.

@zanif2018
Isi dalam sel

Horee… ke Museum lagi!

Kali ini kami ke National Museum of Nature and Science, Ueno. Salah satu museum terbaik yang pernah kami kunjungi di Tokyo. Anak-anak bisa masuk gratis, saya pun gratis, tinggal nunjukin kartu mahasiswa. Banyak universitas yang bekerjasama dengan museum ini sehingga mahasiswanya pun mendapatkan hak khusus. Jika mengunjungi Ueno, selain Tokyo National Museum, sempatklanlah mampir di di museum ini.

Ada dua gedung utama yaitu Japanese gallery dan global gallery, masing-masing 3 lantai. Banyak hal bisa dipelajari disana. Anak-anak pun sangat menikmati berbagi objek dan banyak pertanyaan belum terjawab. Sayangnya objek bioskop 360 derajat sedang diperbaiki selama 6 bulan kedepan. Setidaknya butuh waktu 4 jam untuk kami mengunjungi semua koleksi yang ada di museum ini. 

Masuk ke Japanese gallery justru yang teringat adalah film Doraemon karena ada fosil Brachiosaurus, dinosaurus berleher panjang yang ada di film petualangannya. Sejarah tentang geologi Jepang juga lengkap ada disini, termasuk video mengenai pembentukan pulau Jepang dan berbagai batuan yang bisa ditemukan di berbagai wilayah di Jepang. Setiap sudut juga ada lokasi duduk untuk pengunjung yang kelelahan berjalan. 

Di Global gallery berbagai koleksi lebih lengkap, mulai dari zaman pra sejarah sampai teknologi terbaru seperti replika satelit dan teknologi terbaru. Video tentang daerah tropis yang berada di blok khusus tanaman tropis membuat kita serasa berada di dalam hutan hujan tropis. Di gedung ini jangan sampai lewatkan naik ke atap gedung dan bersantai sejenak di taman. Pemandangan hijau sekitar Taman Ueno dapat kita nikmati disini. 

Ueno Park

Tips Nyaman mengunjungi National Museum of Nature and Science, Ueno:

  • Jika mengajak anak-anak langsung tanyakan playground anak di Global gallery lantai 3, mengenai tiket dan jadwal masuknya. Wahana ini terbuka bagi anak umur 4-6 tahun bersama orangtua.
  • Bioskop 360 derajat jangan sampai dilewatkan. Ada di lantai 1 tidak jauh dari resepsionis. Saat ini masih direnovasi, dibuka lagi pada April 2019.
  • Karena lokasi banyak yang gelap, atur dan sesuaikan kamera.
  • Stroller untuk bayi ditinggal di lantai 1 dekat resepsionis karena akan mengganggu pengunjung lainnya dan demi keamanan juga.
  • Bawa bento dan makanan sendiri juga boleh karena kantinnya ada yang khusus buat pembeli menu di kantrin dan area lebih luas terbuka untuk umum. Menggunakannya di luar jam makan siang lebih direkomendasikan karena tidak terlalu padat pengunjung.
 
Leave a comment

Posted by on September 17, 2018 in Jepang

 

Tags:

Kebaikan yang tidak terduga

Fadhil di Sekolah

Prakiraan cuaca disini bisa diandalkan, per-jamnya akurat. Tapi sehari menjelang #TyphoonJebi kemarin cuaca tidak menentu. Pagi yang cerah, secerah penampakan pagi di jendela sekolah Fadhil di foto ini, membuat kami tidak membekali payung favoritnya. Siangnya seperti biasa, Fadhil pulang sekolah sendiri. Ternyata dari sekedar hujan rintik dalam waktu singkat berubah menjadi hujan deras. Sambil pulang dalam guyuran hujan, kata Fadhil, dia didatangi seorang kakek. Kakek itu memberikan payungnya ke Fadhil. Dan akhirnya Fadhil sampai rumah, walau bajunya sedikit basah, tas dan bukunya selamat. Kami pun hendak mengembalikan payung itu, tapi kata Fadhil, “Kakeknya bilang ga usah dikembalikan Yah.” Lagian nih anak ditanya rumahnya juga tidak tahu dimana?

Sebulan sebelumnya, saat hari terakhir sekolah sebelum liburan musim panas, ternyata orangtua diminta jemput ke sekolah untuk membantu membawa pulang semua barang yang ditinggal di sekolah. Mulai dari buku, box biru tempat pernak-pernik alat tulis, piano kecil, tas pelindung gempa dll. Kami tidak tahu info tersebut, dan tidak menjemput Fadhil kala itu. Mungkin sudah ada pemberitahuan lewat surat tapi terlewat terbaca, maklum “keriting” soalnya, dan kadang banyak sekali surat di tasnya Fadhil. Dengan tergopoh-gopoh, saat itu Fadhil membawa semua peralatannya, sambil membawa tas sekolahnya. Dan ternyata di jalan ada seorang yang baik hati membantu Fadhil membawakan barang-barang tersebut sampai rumah. Padahal lumayan jaraknya, ia harus menyempatkan (waktunya tersita) berjalan menemani selama 20-30 menit. Urusannya ia kesampingkan untuk membantu anak kami sampai rumah.

Terima kasih atas kebaikannya kepada anak kami. Alhamdulillah, banyak orang baik di sekitar kita. 🙂

 
Leave a comment

Posted by on September 5, 2018 in Jepang, umum

 

Tags: , , , , , ,

Rumitnya Privasi, Foto Pribadi vs Foto Publik

“Setiap kita punya cerita, tapi tak setiap cerita itu perlu dibagikan ke orang lain. Karena bisa jadi cerita kita menyangkut orang lain dan itu baginya adalah privasi.”

Dua tahun yang lalu saat orientasi kampus, ada sesi tentang penggunaan jaringan kampus dan keamanaan media sosial. Salah satu point yang dibahas adalah mengenai privasi. Orang Jepang memang dikenal memegang aturan ketat soal privasi itu.

Instruktur saat itu memberikan tayangan link kasus yang pernah terjadi di Jepang, yaitu penyalahgunaan foto pribadi di twitter. Beberapa hari setelah tayangan itu, saya telusuri lagi webnya, ternyata tidak ketemu. Mungkin masuk ke sub-subnya menu dan spesifik kasusnya, nanya teman-teman ga ada yang mencatat. Hehe. Maklum, banyak materi pembekalan dan beberapa hanya menarik untuk disimak, tidak perlu dicatat. Garis besarnya kasusnya saya masih ingat sampai sekarang.

Diceritakan bahwa salah satu mahasiswa di Jepang (orang Jepang) kuliah sambil bekerja, hal yang biasa mereka lakukan disini. Kerjanya di restoran. Nah, suatu saat restoran itu kedatangan aktor bersama temen perempuannya. Segera saja dia keluarin HP dan mengambil foto mereka berdua di meja makan. Langsung ngetweet, “Ini lho aktor terkenal Jepang saja datang ke Restoran ini!” bla..bla…bla

Maksudnya sih promosi dan memang ternyata viral, banyak di retweet oleh pengguna twitter lainnya, malahan ada yang screenshoot dan sebarin ke groups Line. Kalau di kita mungkin lebih ngetrend WA atau IG. Tentu dong, si mahasiswa tadi senang promosinya berhasil, begitu juga yang punya restoran. Senang juga ada karyawannya yang aktif dan kreatif.

Tapi itulah awal malapetaka.

Aktor tersebut tidak terima fotonya tersebar, dengan alasan privasi. Ia baru tahu setelah sepekan lebih foto itu beredar dan viral. Apalagi dia dengan seorang perempuan sedang kencan. Otomatis identitas perempuan tersebut juga akan dibicarakan, dikorek-korek media dan hubungannya menjadi komplek. Dituntutlah si pengupload tadi di pengadilan, si empunya restoran yang awalnya senang dan mendukung berbalik murka. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on September 2, 2018 in Jepang

 

Tags: , , , , ,

Mengenal IEAS TUAT

Bagi saya yang belum bisa bahasa Jepang tapi ingin belajar optimal di negeri sakura, tentunya program kelas internasional dengan bahasa pengantar bahasa Inggris menjadi incaran. Sudah banyak kampus terkemuka di Jepang yang mempunyai program kelas internasional ini. Beda universitas, beda nama dan spesifikasi, tergantung background supervisor (Sensei) yang masuk daftar staf pengajar. Tokyo University of Agriculture and Technology (TUAT) mempunyai satu departemen dan divisi riset yang khusus membawahi mahasiswa internasional yaitu International Environmental and Agricultural Science (IEAS) di bawah naungan Graduate School of Agriculture. di departemen ini semua penyampaian materi di kelas, seminar dan berbagai kegiatan dilakukan dalam bahasa Inggris.

Setiap semester IEAS hanya menerima sekitar 15-18 mahasiswa master dan 3-5 mahasiswa doktoral. Meskipun begitu, banyak juga di departemen lain yang menerapkan bahasa Inggris dalam seminar pekanan maupun kelas, baik di TUAT kampus Fuchu maupun TUAT kampus Koganei. Khusus IEAS karena mahasiswanya asingnya 70% dan mahasiswa Jepang 30%, bahasa keseharian yang digunakan adalah bahasa Inggris, di departemen lainnya masih bercampur. Kebanyakan mahasiswa asing berasal dari Asia Tenggara (Indonesia, Kamboja, Myanmar, Vietnam, Malaysia, dll), Asia Tengah biasanya dari Uzbekistan, Asia Selatan (Bangladesh), Timur tengah (Iran) dan negara Afrika (Ghana, Kenya, Zimbabwe, Kamerun, dll). Mahasiswa dari negara Eropa dan Amerika memang masih jarang yang ke kampus Jepang, kalaupun ada lebih banyak mengambil jurusan yang spesifik seperti bahasa, anime, seni dan arsitektur.

IEAS mempunyai tiga bidang studi yaitu International Environmental Rehabilitation and Conservation, International Biological Production and Resource Science, dan International Development on Rural Areas. Masing-masing bidang studi tersebut staf pengajarnya diampu oleh profesor dan asisten profesor yang mempunyai keahlian yang spesifik, bisa dilihat disini. Berbeda dengan laboratorium lainnya, di IEAS seminar progress report pekanan dilakukan per laboratorium yang diampu Sensei tersebut, atau gabungan dari dua Sensei (laboratorium). Umumnya memang satu bidang studi, misal International Development on Rural Areas menjadi satu karena risetnya berdekatan sehingga bisa saling tukar-menukar informasi dan perkembangan penelitian. Namun di IEAS kebijakannya spesifik per laboratorium. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on August 30, 2018 in Jepang

 

Tags: , , , , , , ,

Ramadhan di Hokkaido

Hokkaido adalah salah satu lokasi di Jepang yang sejak lama ingin dikunjungi. Lokasinya yang di utara dan lebih lama mengalami musim salju membuat berbagai objek wisata, bahkan festival salju mendunia. Apalagi banyak objek wisata mempesona sepanjang musim. Kalau di Tokyo salju lebat yang turun satu hari bisa mengacaukan jadwal transportasi, di Hokkaido justru semuanya lancar dan terkendali karena mereka sudah terbiasa dan bisa beradaptasi dengan salju. Begitu adaptifnya orang-orang yang tinggal disana, mulai dibangunnya jalan yang sangat lebar untuk menumpuk salju di pinggir yang kemudian diangkut truk, dan adanya jalan bawah tanah beserta pusat perbelanjaannya. Alhamdulillah beberapa waktu lalu saya berkesempatan kesana di bulan Ramadhan untuk menghadiri konferensi tahunan economic agriculture. Suhu di akhir Mei sudah mulai menghangat, sangat nyaman untuk travelling.

Kesempatan untuk berinteraksi dengan saudara-saudara Muslim di sana tentunya tidak boleh dilewatkan. Masjid Sapporo menjadi pusat kegiatan muslim di sekitar kampus Hokkaido. Hanya berjalan kaki sekitar 15 menit dari stasiun Sapporo atau 10 menit dari kampus Hokkaido, kita sudah bisa menjumpai masjid dua lantai ini. Saat Ramadhan, buka bersama dan sholat berjamaah adalah acara yang dinantikan. Jika di hari Jumat jamaah Maghrib yang datang sekitar 70-100 orang, ketika akhir pekan (Sabtu-Ahad) pengunjung bisa mencapai 200 orang lebih. Jika hari biasa, cukup ada yang bertugas memasak di masjid, namun jika akhir pekan, mereka bergiliran menyuguhkan makanan, saat itu giliran teman-teman dari Bangladesh dan Malaysia menyuguhkan makanan untuk berbuka puasa.

Sebagaimana kota lainnya, di Sapporo, saat ini juga sedang berbenah untuk memperbesar Masjid dengan membeli bangunan di sebelahnya. Komunitas muslimnya terus menggeliat, tentunya kabar gembira buat kita semua. Memang untuk menampung jamaah yang semakin bertambah (300 orang lebih), bangunan yang ada sudah tidak layak dan cukup lagi. Apalagi jika ingin difungsikan sebagaimana Islamic Center, tentunya ruang-ruang pertemuan dan diskusi yang lebih luas juga diperlukan. Belum lagi fasilitas tempat parkir yang layak. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on August 20, 2018 in Jepang

 

Tags: , , ,

JRA Racing Museum

Balapan kuda populer di Jepang yang awalnya dikenalkan oleh negara Barat di Yokohama. Maka tak heran, di Fuchu Tokyo terdapat stadion balapan kuda yang dikenal dengan Tokyo Racecourse. Awalnya Fuchu pada era Musashi (prefectur jauh sebelum Tokyo terbentuk) populer dengan pasar kuda unggulan, maka secara historis pembangunan stadion balap kuda ini memang punya makna tersendiri. Pada pertandingan puncak balapan kuda “The Japanese Derby 2016,” lokasi ini mampu menampung lebih dari 190.000 penonton. Selain itu setiap summer ada festival hanabi di lokasi ini. Yang lebih menarik buat anak-anak, terdapat pula taman bermain di Hiyoshigaoka Park, tepan di depan JRA Racing Museum.

Awal Maret ketika cuaca menghangat kami berencana ke museum ini, namun ternyata masih direnovasi sejak November sampai akhir Mater 2018. Dibuka lagi per 1 April 2018. Jadilah hanya bermain di taman Hiyoshigaoka Park yang dibuka dari jam 10.00-16.00. Taman ini lengkap permainan anak-anaknya mulai dari replika kapal bajak laut, arena bermain air, dan perosotan. Datanglah waktu weekdays atau bukan di saat adanya pertandingan balap kuda, anak-anak akan lebih nyaman juga bermain kesana kemari.

Awal Agustus 2018 ini, kami ke JRA Racing Museum. Cuaca sangat panas, cocok untuk liburan sekolah, wisata di dalam ruangan. Masuknya gratis dan setelah renovasi, penataan lokasi memang jauh lebih menarik daripada sebelumnya. Museum ini terdiri dari dua lantai. Dibuka mulai 10.00-16.00, khusus saat ada pacuan kuda dibuka sampai 17.00 dan ada biaya masuk 200 yen yang termasuk melihat pacuan kuda di stadion utama. Museum yang didirikan sejak 1991 ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan kuda balap dari aspek budaya.  Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on August 8, 2018 in Jepang

 

Tags: , , , , , , ,

Pangkalan Angkatan Udara AS yang ditinggalkan di Fuchu

Selain penjara Fuchu yang dikenal penjara paling ketat di Jepang, tempat penjahat kelas kakap ditahan (Yakuza, dll), ada satu lokasi di Fuchu, satu areal dengan Fuchunomori park yang membuat penasaran. Selama hampir setahun tinggal di Sengencho, di pemukiman samping lokasi bangunan yang terlantar, selalu ingin tahu ada apa sih dalamnya? Kenapa juga ada antena besar parabola dan bangunan misterius yang tidak dipakai lagi di tengah pemukiman penduduk. Ternyata lokasi ini dulunya adalah pangkalan undara AS yang aktif digunakan pada tahun 1956-1973. Pangkalan dengan 2 parabola setinggi 13 meter ini merupakan pangkalan re-supply selama perang Vietnam (1957-1975). Komunikasi dibuat dengan memancarkan gelombang troposferik yang di terima di lapasian atmosfer troposfer dengan ketinggian rata-rata 11 km. Koomunikasi ini terjadi sepanjang Okinawa ke Tohoku, yang berpusat di Pangkalan Militer Misawa.

Saat ini lokasi ini tidak dipagari dan publik dilarang masuk dan banyak tulisan dilarang masuk dimana-mana. Meskipun begitu pernah terlihat ada petugas yang menjaga dan mobil keluar masuk lokasi ini melewati gerbang sebelah barat. Walau penasaran, saya tidak berani melanggar aturan masuk dan melongok isi bangunan. Gegabah kalau gara-gara rasa penasaran kemudian harus dideportasi dan DO kuliah. Soalnya warga sekitar ada yang turut mengamati juga dan beberapa sensor masih aktif untuk penerobos. Ternyata beberapa waktu lalu menemukan ada yang upload di Google maps dan ada juga postingan blogger Jordy Meow seorang fotografer Prancis yang lama tinggal di Jepang memposting berbagai tempat yang ditinggalkan, salah satunya pangkalan di Fuchu ini. Ia menyelinap dan mengambil berbagai foto lokasi pangkalan setelah ditelantarkan selama lebih dari 30 tahun. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on August 4, 2018 in Jepang

 

Tags: , ,

Akankah Pasar Tradisional Hanya Layak Dikenang?

Belanja di pasar tradisional selalu menimbulkan kesan positif. Selain banyak variasi barang yang dijajakan, kelebihan pasar tradisional umumnya yaitu murah dan penjualnya ramah. Ada perasaan akrab dengan obrolan santai walau itu sekedar basa-basi saja. Dan hampir dua tahun merantau, kami pun kangen belanja di pasar tradisional, kangen dengan jajanan merakyat seperti arem-arem, lemper, lupis dan semuanya yang biasa tersaji di lapaknya Budhe di Pasar Gowok, Caturtunggal Sleman.

Di Jepang, banyak pasar tradisional yang menjelma menjadi pusat tujuan wisata. Selain memang bersih, lokasinya memang sangat strategis. Namun apakah semuanya demikian adanya?

Disini kita bisa temukan dengan mudah minimarket (konbini) seperti Lawson, Family Mart, dan 7 Eleven. Tiga konbini ini yang paling sering dijumpai. Namun ada pula Ministop, Yamasaki, Sunkus, dan lain-lain. Jarak kombini ini sering ditemui 100-200 meter, tidak berhadap-hadapan atau di samping kanan-kiri seperti umumnya minimarket di Indonesia. Dan menu jualannya pun sangat lengkap. Tidak hanya produk instan, buah dan sayur pun mereka jual, juga berbagai makanan siap saji. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on July 31, 2018 in Activity, Jepang

 

Tags: , , , , ,

Jenguk Bayi, Membuat Kita Banyak Bersyukur

Alhamdulillah, Ramadhan terakhir kemarin di negeri sakura, kami isi dengan berbagai macam aktivitas bermanfaat. Pagi sampai sore saya di kampus, istri beraktivitas dengan teman-temannya ke pasar kota Fuchu. Sebelum malam kumpul-kumpul takbiran, mumpung cuaca cerah, agenda nengok bayi pun langsung kami eksekusi. Selama sepekan ini memang hujan terus. Di Jepang, bulan Juni memang bulannya hujan. Maka membaca puisi hujan bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono terasa sangat pas. hehe.

Jarum jam menunjuk angka 4 sore, dan kami bersepeda ke Tokyo Municipal Tama General Medical Care Center tempat di mana bayinya Rubi dan Maya dilahirkan beberapa hari yang lalu. Perjalanan sangat menyenangkan karena jalan untuk bersepeda sangat lebar, jadi cocok juga buat Fadhil yang masih perlu memperlancar gaya bersepedanya. Fadhil baru bisa bersepeda sekitar dua bulan yang lalu, pertengahan Ramadhan dengan mempersering belajar sendiri habis pulang sekolah.

Jika melahirkan normal, cukup menginap lima hari saja, jika harus dioperasi seperti kasus istri, harus menginap sampai sepuluh hari. Maka kedatangan teman dan keluarga terdekat yang mejenguk sangat berarti. Apalagi di negeri rantauan! Setidaknya, itu yang kami rasakan. Rasa kesepian yang istri rasakan saat itu sangat berkurang dengan kedatangan teman-teman yang menjenguk di rumah sakit dan mendukung penuh proses penyembuhan, dan tentunya kedatangan Fadhil Aisyah yang selalu kuajak setiap sore sekedar menyapa saat itu membuat Bundanya makin sering tersenyum. Sampai akhirnya kami punya pengalaman yang tidak akan terlupakan saat Fadhil hilang. Rasa capek, cuaca hujan selama perjalanan dan keinginan segera bertemu buah hati terkadang membuat kita hilang konsentrasi sekejap. Tantangan bagi mahasiswa adalah jadwal kesibukan kampus dan pertemuan dengan supervisor yang kadang bisa berubah sewaktu-waktu. Denga pernah mengalami memang kita akan merasa lebih berempati.

Kita foto gini di sebelah gerombolan anak SD yang sedang pulang sekolah melongo. Nih keluarga kok suka photo-photo ya? (pikirnya) apa asyiknya? 😀

Setelah bersepeda selama setengah jam, akhirnya kami sampai. Rumah sakitnya sangat bagus, lebih dekat jaraknya dari tempat tinggal kami di Fuchu daripada Inagi Hospital tempat anak ketiga kami lahir tahun lalu. Dan kesempatan ini kami gunakan pula untuk mengajak anak-anak bersilaturrahim, bersyukur pula atas berbagai kemudahan yang kami dapatkan tahun lalu ketika dengan segala keterbatasan, banyak yang menolong dan membantu. Anak-anak pun tak sabar pengin lihat dedek bayi, anaknya om Rubi dan Tante Maya. Dan ternyata di rumah sakit ini tidak seketat yang kami bayangkan. Justru lebih ketat di Inagi Hospital yang ketika anak masuk harus dicek temperatur dan diberi gelang di pergelangan tangan.

Yang menarik dari rumah sakit ini adalah adanya swalayan Lawson di lantai 1 sehingga berbagai kebutuhan bisa dibeli dengan mudah. Tempat duduk banyak tersedia dan ada juga meja makan tersendiri untuk pengunjung. Kami pun berbuka dengan membeli onigiri dan minuman ringan disini dan selepas sholat Maghrib bergegas pulang. Kalau mendatangi undangan walimah, kadang kita teringat akan peristiwa akad nikah yang dulu dilaksanakan. Nah, kalau nengok bayi, begitu juga. Mengingatkan kita akan semua memori perjuangan kala itu. Dan memang itulah salah satu fungsi silaturrahim, mempererat persaudaraan dan membuat kita banyak bersyukur dan bersyukur.

Tokyo, 17 Juni 2018
Zainuri Hanif

 
Leave a comment

Posted by on June 17, 2018 in Activity, Jepang

 

Tags: , , , ,

Lebaran ini Banyak yang Harus Kita Syukuri.


Apa yang diingat ketika lebaran? Setiap kita tentunya punya kenangan yang berbeda. Bagi kami yang paling berkesan yaitu perasaan haru, bahagia, rindu bisa berkumpul dengan keluarga besar yang jika tidak di hari lebaran, hampir mustahil bisa bertatap muka semuanya. Biasanya sehabis sholat Ied kemudian silaturrahim ke tetangga dan sanak kerabat. Bisa kumpul dengan trah keluarga besar, mengunjungi pesantren di Munthilan tempat keluarga mbah Kung, atau ke Lempuyangan tempat keluarga Mbah Ti. Sampai gara-gara ada keluarga simbah yang pelihara monyet dan kita sulit menghapal namanya, seringkali mudahnya kita sebut, “Ayo silaturrahim ke Mbah Munyuk!”.

Alhamdulillah, dua kali lebaran disini mendapatkan suasana yang ramah dari saudara seiman. Banyak hal yang patut disyukuri. Suasana terawih pun akan kami kangeni. Tidak terasa sebulan cepat berlalu. Tahun ini Fadhil mulai belajar tertib shalat terawih yang biasanya berakhir sampai jam 22.00 dan membuatnya sering tidur larut malam. Tantangannya ya  bangun pagi untuk sekolah penuh perjuangan. Semoga kelak kau ingat ya Nak dan membuatmu lebih rajin lagi ibadah.

Jamaah ikhwan. Saudara muslim se-Fuchu dan sekitarnya banyak juga yang lebih memilih sholat disini.

Kalau tahun lalu kami sholat Ied di SRIT-Masjid Indonesia Tokyo dan mendatangi KBRI Tokyo, kali ini kami memilih di dekat kontrakan, yaitu di Lumiere atau Fuchu Library yang masih di Fuchu, sebuah kabupaten di Propinsi Tokyo kalo di Indonesia. Bedanya disini kami tidak bisa leluasa silaturrahim seperti biasanya di Indonesia karena memang tidak liburan. Meskipun hanya sebentar, karena setelah sholat Ied kita tidak harus ngampus lagi dan meeting dengan supervisor. Toh begitu, Ramadhan dan lebaran kali ini lebih berarti. Penyebabnya? ya, banyak hal 😉.

Terima kasih kepada “Keluarga Sengencho” yang bermurah hati menjamu kita semua.

 

 

 
Leave a comment

Posted by on June 16, 2018 in Activity, Jepang

 

Tags: , , , ,

 
%d bloggers like this: