RSS

Fuchunomori Park (Tokyo)

Pertama kali melewati taman Fuchunomori ini dari sisi selatan sudah takjub. Waow, taman ini lengkap fasilitasnya. Fuchunomori Seni Teater bangunannya indah dan sekitarnya hijau. Jika berjalan ke utara, maka akan nampak berbagai fasilitas seperti area olahraga, joging, baseball, tenis, sepak bola, taman bermain,area barbeque, area terbuka dan ada pula Museum Seni Fuchu. Detail ada disini.

Taman ini awalnya merupakan bekas pangkalan militer AS setelah perang dunia kedua. Daerah sekitarnya memang terdapat bekas pangkalan udara dan saat ini beberapa pesawat jet dipajang di dekat gerbang bekas pangkalan di sisi kanan taman ini. Mengingat kebutuhan akan perbaikan lingkungan warga, maka bekas pangkalan ini dikembangkan menjadi taman, fasilitas olahraga, dan pusat evakuasi ketika terjadi bencana.

Sepanjang 300 meter, di taman terdapat pohon sakura yang tentunya akan indah saat awal musim semi. Di sekitar Fuchunomori park juga terdapat 8 patung seniman terkemuka. Salah satunya adalah patung Anne & Michele yang sama Fasya dikira mbak-mbak sedang ngobrol karena keduanya berambut panjang. Japanese Garden tampaknya menarik, namun biasanya bagus saat musim gugur dan musim semi. Kami pun belum terlalu mengeksplor Japanese Garden ini.

Pada saat kami ke sini bersama anak-anak, yaitu di akhir musim gugur, yang nampak adalah pohon kering. Pun begitu, taman ini tetaplah indah. Taman bermain dan hamparan rumput menjadi area menarik untuk bermain. Saat wekdays, taman ini pun sering dipakai rombongan anak-anak TK bermain. Jangan sampai lupa membawa cemilan dan bento ketika main disini. Waktu 4 jam pun bagi anak-anak terasa begitu cepat.

Pada saat akhir pekan, taman ini lebih ramai. Ada yang bermain layang-layang, lempar bola, bulu tangkis dan berlatih sepak bola. Fadhil dan Aisyah lebih memilih bermain di playground anak dan bermain gelembung. Karena musim gugur, air yang mengalir hanyalah di air mancur dan air terjun pojok perempatan.

Tokyo, 25 Maret 2017

 
Leave a comment

Posted by on March 25, 2017 in Activity, Jepang

 

Tags: , , , , , ,

Koganei Park (Tokyo)

Akhir pekan adalah waktu yang cocok buat refreshing sekeluarga. Setelah “ndekem” di ruangan selama 1 pekan tentunya anak-anak merasa bosan dan ingin refreshing. Nah. tempat termurah dan nyaman untuk melewatkan waktu bersama disini yaitu di taman yang banyak tersedia di Tokyo. Kali ini kami mengunjungi Koganei Park. Taman ini letaknya di utara Stasiun Musashi atau Higashi Koganei, sekitar 30 menit dari lokasi kontrakan kami menggunakan bus.

Koganei Park ini luasnya 79 hektar atau 1,5 kali luas Ueno Park. Taman ini lengkap fasilitasnya. Selain hamparan rumput, terdapat pula playground anak-anak, areal sepatu roda dan skiteboard, lapangan baseball, lapangan anjing, areal seluncur, gedung panahan, lapangan tenis, area barbeque, area sepeda, dll.

Lokasi yang paling disukai Fadhil dan Aisyah yaitu playground, dimana terdapat perosotan aneka macam, termasuk yang besar yang bisa digunakan pula oleh orang tua. Sayangnya ketika kemarin kami kesana, debunya sangat mengganggu. Area ini tampaknya menjadi favorit banyak keluarga, apalagi akhir pekan, peminatnya sangat banyak.

Taman ini memang sangat komplit, ada fasilitas meluncur dari rumput sintetis, sayangnya kami tidak mempunyai alat seluncur itu sehingga anak-anak pun hanya bisa melongo dan beberapa kali merengek minta untuk meluncur. “Kapan-kapan ya Nak, kalau sudah punya papan seluncurnya kita main bareng-bareng.” Untungnya dari atas nampak gundukan putih, dimana antriannya lumayan panjang. Kayaknya menarik tuh. Anak-anak pun bisa jot-jotan di arena itu.

Ketika kami mendekat, ternyata dibatasi setiap anak maksimal 10 menit. Alas kaki termasuk kaos kaki harus dilepas agar anak tidak tergelincir. Petugas pun menghitung banyaknya anak yang masuk, kurang lebih 30-50 anak. Memang sih kalau tidak dibatasi permainan ini menjadi tidak nyaman dan anak-anak pun akan saling bertabrakan.

Taman yang terbuka dan gratis seperti ini sangat bagus untuk tempat refreshing. Tidak perlu jauh-jauh memang, Setiap kota biasanya punya 1 taman besar dan banyak lagi taman ukuran sedang. Karena kali ini hanya survei, ke depan akan berkunjung lagi sejak pagi tentunya. Sasaran yang dituju adalah playground anak.

This slideshow requires JavaScript.

 
Leave a comment

Posted by on March 25, 2017 in Activity, Jepang

 

Tags: , , , , , , ,

Mengenal Stone Fruit

Apa kesan yang terlintas saat mendengar istilah “stone fruit”? Kebanyakan kita mungkin berpikir dan membayangkan buah batu yang bijinya keras dan besar. Ketika disodorkan di hadapan kita beberapa contoh buah jenis ini barulah kita kebingungan bagaimana membedakannya? Peach, nectarine, plum, aprikot, dan cherry adalah semua anggota dari genus prunus (family Rosaceae), oleh karena itu kekerabatannya dekat. Buah ini umumnya disebut sebagai stone fruits (buah batu) karena benihnya sangat besar dan keras. Mangga pun dimasukkan dalam kategori buah ini. Meskipun begitu pemahaman umum seperti ini berbeda dengan ahli botani karena tidak semua stone fruit harus berbuah besar dan tunggal karena Rasberries pun masuk kategori stone fruits.

Kita yang berada di wilayah tropis tentunya asing dengan nama-nama buah ini. Bentuknya pun bahkan tidak tahu. Berbeda dengan penduduk yang berada di daerah subtropis, aneka stone fruits justru menjadi buah unggulan. China menjadi negara produsen terbesar dimana 50% peach dan nectarine di negara ini. USA, Italy dan Spanyol menjadi negara produsen berikutnya dengan produksi lebih dari 1 juta ton per tahun. Rata-rata produktifitas lahan yang ada mencapai 20 ton/ha, namun petani yang mampu merawat dengan optimal mampu menghasilkan 40 ton/ha.

Prof. Daniele Bassi dan Prof. Antonio Ferrante, Dept. Agricultural and Environmental Science University of Milano dalam presentasinya di Tokyo University of Agriculture and Technology (TUAT) menyampaikan rencana dan apa yang sudah dicapai dalam penelitian buah peach dan apricort di Itali. Dalam uraiannya, ia telah mengoleksi ratusan plasma nutfah berbagai stone fruit di dunia. Dan ternyata selain dari China, peach dan apricort berkembang baik di Jepang. Jepang dianggap sebagai negara yang punya plasma nutfah buah dengan keragaman yang unggul. Dari penelusurannya, indukan tanaman yang didapat dari New Jersey, USA ternyata awalnya dari Jepang.

Maka kedatangannya ke Jepang termasuk dalam rangka kerjasama pertukaran material untuk breeding program. Dalam hal ini jujur saja, kita tertinggal jauh. Begitu rumitnya mekanisme untuk kerjasama dan disisi lain begitu mudahnya plasma nutdah kita keluar secara ilegal dan dimiliki peneliti lain. Kerjasama yang saling menguntungkan memang perlu digagas dan terus diupayakan, apalagi tantangan global seperti climate change, serangan hama dan penyakit yang mematikan sekarang ini tidak hanya dialami satu-dua negara saja.

Itali yang selama ini diuntungkan dengan kondisi geografis yang sangat mendukung pengembangan buah di wilayah utara negaranya saat ini perlu terus berinovasi karena kompetitor meraka di Eropa yaitu Spanyol sudah menggeser posisi Itali dalam jumlah tonase ekspor ke negara sekitarnya. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menghasilkan buah yang sesuai preferensi konsumen di masa datang. Dan hal ini tentunya tidak mudah mengingat ketatnya standar Eropa, terutama dalam keamanan pangan. Usaha meningkatkan daya simpan agar buah bisa lebih lama sampai konsumen pun terus dilakukan.

Lalu bagaimana cara membedakan jenis stone fruits tersebut? Berikut secara ringkas beberapa jenis stone fruit:

Plum

Plum terkait erat dengan buah persik dan ceri dan secara luas dimakan segar sebagai buah pencuci mulut, dimasak sebagai kolak atau selai, atau sebagai bahan kue. Eropa plum (P. domestica) dan plum Jepang (P. salicina) yang ditanam secara komersial untuk buah-buahan, dan sejumlah spesies, termasuk plum ungu-daun (P. cerasifera), digunakan sebagai tanaman hias untuk karena mengasilkan bunga dan daun yang menarik.

Plum – Encyclopedia Britannica

 

Peach

Tanaman peach berdaun kecil dimana pohonya mampu tumbuh sampai dengan ketinggian 25 sampai 30 kaki, banyak ditanam di Amerika Serikat, Eropa, dan China dan umumnya diminum dalam bentuk jus. Ada beberapa kultivar peach tumbuh di seluruh dunia yang berbeda dalam warna, ukuran dan karakteristik tumbuh berdasarkan daerah asal. Bunga peach muncul di musim semi. Secara umum, masa panen buah hampir seragam antara Mei dan September. Buahnya seukuran apel kecil, dengan diameter dan berat sekitar 130-160 gram.

Peach

 

Aprikort

Aprikot dibudidayakan hampir di seluruh dunia, terutama di Mediterania. Mereka dimakan segar atau dimasak dan diawetkan dengan pengalengan atau pengeringan. Buah ini juga banyak dibuat menjadi selai dan sering digunakan untuk perasa minuman. Aprikot merupakan sumber yang baik untuk vitamin A dan kandungan gula alaminya tinggi.

Apricot – Pinterest

Nektarine

Nectarine disebut sebagai varian genetik peach umumnya, nektarin itu kemungkinan besar domestifikasi dari Cina lebih dari 4.000 tahun yang lalu, sepintas nectarine dan peach pohonnya hampir tidak bisa dibedakan. Ciri khas yang membedakannya dengan peach adalah tidak adanya bulu-bulu halus di permukaannya. Bulu-bulu halus pada permukaan buah ini merupakan ciri khas dari peach itu sendiri. Terkadang, saat bunga peach mengalami polinasi, maka akan dihasilkan dua jenis biji, satu jenis yang akan tumbuh menjadi pohon nektarin dan jenis yang lainnya akan tumbuh menjadi pohon peach itu sendiri

© alexlukin/Fotolia

 

Cherry

Kebanyakan buah cherry tumbuh di belahan bumi utara. Ceri tidak mencakup satu jenis saja, tetapi ada beberapa, seperti P. cerasus, P. avium, dan P. emarginata. Di Jepang, cherry disukai dan bunganya disebut Sakura. Buah ceri mengandung antosianin, yaitu pigmen warna merah yang baik untuk kesehatan karena merupakan antioksidan. Selain itu, rutin mengkonsumsi buah ceri setiap hari dapat menurunkan jumlah kadar asam urat dalam tubuh, bahkan dapat menyembuhkan pirai.

@pinterest

 

Jika hanya melihat penjelasan dan gambar di atas, sekilas memang mudah membedakan, namun ketika ditampilkan berbagai varietas tersebut bersamaan, tentunya sulit untuk membedakan mana itu peach, nectarine, plum, dan aprikot. Seperti yang saya alami kemarin ketika melihat tampilan berbagai varietas di slide presentasi. Apalagi masing-masing variannya juga banyak dengan warna buah matang yang berbeda pula. Semoga bisa merasakan satu per satu, sehingga nanti mudah untuk membedakannya. 🙂

 

Tokyo, 23 Maret 2017

 
Leave a comment

Posted by on March 23, 2017 in Activity, Jepang

 

Tags: , , , , ,

Belajar Antre


Ada banyak hak yang dijaga ketika kita mau antre. Siapa yang duluan, dia lebih berhak untuk memperoleh haknya, dalam membeli maupun duduk menggunakan fasilitas publik, dll. Namun begitu, prioritas tetep diberikan kepada orang tua, ibu hamil dan anak-anak ketika naik bus maupun kereta, sehingga yang di belakang dan membutuhkan tetap nyaman.

Fadhil dan Aisyah pun sedang belajar antre. Seringkali bertanya ngapain sih harus berbaris? Untuk hal ini kami pun mudah memberi pengertian. Namun ada fenomena yg unik yang kami juga sulit mengerti, dimana disini orang rela antre 1 jam sebelum toko buka maupun untuk makan rela berdiri lama mengular untuk menunggu gilirannya. Awal-awal memang sulit karena maunya duluan masuk bus, masuk kereta, masuk lift dan macam-macam aktifitas, mereka maunya serba pertama. Namun perlahan tapi pasti, anak-anak mulai mengerti.

Dengan antre semua lebih nyaman, selamat dan juga anak belajar untuk menghargai sebuah usaha; jika mau duluan ya datang dulu dengan persiapan lebih awal. Anakpun merasa bahwa orang lain juga penting. Rasa malu pun akan tumbuh jika merampas hak orang lain.

Ada banyak hal yang bisa dipelajari, dan pelajaran hidup antre sejak dini ini memang akan bermanfaat kelak, bahwa manfaat antre itu menjaga banyak hak dan agar semua hak tertunaikan dengan baik, kita wajib untuk ikut etika baik yg dijunjung masyarakat sekitar. Toh, kita juga ingin dihargai kan? 😊

Tokyo, 17 Maret 2017

 
Leave a comment

Posted by on March 17, 2017 in Activity, umum

 

Nobel Prize Dialogue Tokyo 2017

noble-prize-dialogue-tokyo-2017-zainurihanifAhad, 26 Februari 2017 bersama rombongan teman-teman PPI Nokodai kami mengikuti acara Nobel Prize Dialogue Tokyo 2017 di Tokyo International Forum. Acara ini adalah event yang diselenggarakan oleh Japan Society for the Promotion of Science (JSPS). Acara ini diadakan untuk menyebar pengetahuan tentang prestasi nobel dan merangsang minat dalam ilmu pengetahuan, sastra dan perdamaian. Tema yang diambil pun sangat menarik, yaitu “The Future of Intelligence.” Dialog kali ini mengeksplorasi topik dari lima pemenang nobel dan para ahli terkenal dunia.

Acara ini free, kami hanya perlu untuk registrasi 2 bulan sebelumnya dan saat hari-H menunjukkan print out lembar registrasi. Tepat pukul 08.00 JST registrasi dibuka dan antrian yang mengular pun segera berpindah dari meja registrasi di B1F Lobby Galery ke lantai atas B7. Ternyata banyak juga teman-teman Indonesia yang datang di acara ini, wajahnya tidak asing, apalagi kalau sudah terdengar bicara bahasa Indonesia. Beberapa bahkan dari luar Tokyo seperti Kyoto.

Hidup di kota besar seperti Tokyo tentunya tidak menjadi pilihan sebagian mahasiswa. Alasan utamanya biasanya karena padatnya penduduk (yang implikasinya ke ruwetnya jalur kereta, dst) dan juga biaya hidup yang mahal. Namun, sebagian yang lain justru memilih hidup di kota besar karena mudahnya berbagai akses fasilitas seperti makanan halal dan juga berbagai event internasional seperti seminar, pameran maupun event sebagaimana noble prize dialogue kali ini.

Bagi teman-teman yang belum berkesempatan hadir bisa mengaksesnya melalui Youtube https://www.youtube.com/user/NobelWeekDialogue. Acara ini diselenggarakan 2 tahun sekali dan tahun sebelumnya bisa juga diakses di link tersebut.

Kesan saya ikut dalam acara ini yaitu panitia terlihat sangat profesional, semua jadwal berlangsung dengan tepat waktu dan fasilitas peserta sangat memadai. Video streaming juga berkualitas sangat bagus. Peserta juga diberikan alat translater yang bisa dipakai 2 bahasa, bahasa Jepang dan Inggris. Yang perlu ditambahkan yaitu peta toilet di setiap lantai karena ketika masa rehat, antrian di toilet dekat acara sangat panjang. Peta yang terpampang di booklet hanya di sekitar lokasi acara saja. Kalo dari penyelenggaraan kuberi bintang 5 dari 5.

Acara seperti ini sangat menarik, karena sebagai peneliti kita tidak hanya didorong untuk mendalami keilmuwan kita, namun perlu untuk mempelajari bidang lainnya. Terkadang ide dan inspirasi didapat dari mempelajari bidang yang tidak berhubungan sama sekali dengan keilmuwan yang selama ini kita tekuni. Dan ketika menyimak ide-ide panelis, mereka sangat visioner. Melakukan sesuatu hal yang di luar nalar. Seperti bagaimana mengukur gelombang gravitasi dengan membandingkan pengukuran dengan membangun stasiun riset di gurun dan membandingkan dengan partikel atom yang diperbesar sampai jutaan kali.

Semoga ke depan bisa mengikuti acara serupa. Begitu juga dengan teman-teman. Insya Allah banyak manfaatnya.

photo; dokumen pribadi dan FB @nobleprize

Tokyo, 27 Februari 2017

 

 
Leave a comment

Posted by on February 27, 2017 in Activity, Jepang

 

Tags: , , ,

Aisyah

aisyah-zahira-mumtaza

Aisyah adinda kita tidak banyak berkata
Aisyah adinda kita dia memberi contoh saja

Ada sepuluh Aisyah berbusana muslimah
Ada seratus Aisyah berbusana muslimah
Ada sejuta Aisyah berbusana muslimah
Ada sejuta Aisyah, Aisyah adinda kita

(Bimbo – Aisyah Adinda Kita)

 
Leave a comment

Posted by on February 27, 2017 in Tingkah Polah Anak

 

Tags:

“Andaikata”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta ‘ala daripada orang mukmin yang lemah. Pada masing-masing memang terdapat kebaikan. Capailah dengan sungguh-sungguh apa yang berguna bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah Azza wa Jalla dan janganlah kamu menjadi orang yang lemah. Apabila kamu tertimpa suatu kemalangan, maka janganlah kamu mengatakan; ‘Seandainya tadi saya berbuat begini dan begitu, niscaya tidak akan menjadi begini dan begitu’. Tetapi katakanlah; ‘lni sudah takdir Allah dan apa yang dikehendaki-Nya pasti akan dilaksanakan-Nya. Karena sesungguhnya ungkapan kata ‘andaikata’ akan membukakan jalan bagi godaan syaitan. – with Yanuk

View on Path

 
Leave a comment

Posted by on February 27, 2017 in Renungan, umum

 

Memberi Pengertian Anak

fasya-fadhil-aisyah

Nggak jadi beli es cream, magnet kulkas pun jadi penghibur.  ^_^

Yang paling menantang ketika mengajak anak jalan-jalan yaitu ketika mereka ingin sesuatu, es krim dan snack misalnya, kita harus mengalihkan perhatian mereka. Berbagai makanan dan olahan di Jepang, benar-benar dikemas dengan penampilan cantik tersaji membuat siapapun ingin mencoba. Tampilannya lucu, unik dan menggemaskan! Jangankan anak-anak, orang dewasa pun menginginkannya. Tidak semua halal, pun begitu tidak semua haram. Ketika tidak ada logo halal, ingredient perlu diperhatikan. Jika tidak mengandung yang haram, misal emulsifier dari kedelai, Insya Allah aman dikonsumsi.

Kebanyakan makanan di Jepang tidak bisa dikonsumsi karena mengandung bahan yang terlarang. Bagi anak-anak memberi pengertian itu susah-susah gampang. Apalagi jika sudah begitu merengeknya. Belok kanan, eh ketemu foodcourt. Belok kiri, eh ada godaan lagi, toko mainan yang aduhai kerennya. Ya, untungnya anak-anak kami bisa diberi pengertian walau pengalihannya perlu waktu cukup lama. Caranya ya dibelikan magnet yang lucu ataupun dengan pengalihan lainnya.

Ya, kita tentunya tak ingin anak-anak yang selama ini kita jaga dari makan makanan haram, justru menjadi tidak terkendali makanannya di negeri perantauan dan akan semakin berat nantinya mengajari agama.

Dongeng dari buku cerita dan kartun Dodo Syamil sangat membantu memberi pengertian pemahaman yang mudah dimengerti oleh anak. Semoga yang membuat media tersebut dilimpahi banyak keberkahan, ilmu yang terus mengalir. Meski kami meihatnya dari upload seseorang si youtube.

Insya Allah, hidup ini ujian. Jalani saja sebaik-baiknya. Dan untuk kau Nak… Semoga terus tumbuh menjadi anak sholih dan menjadi pembela agama Islam. Kelak, kami sebagai ayah-bundamu butuh doa-doa dan pembelaanmu di akherat. – with Yanuk

View on Path

 
4 Comments

Posted by on February 1, 2017 in Perjalanan, umum

 

Tags: ,

Waktu

Dari bayang-bayang jendela itu, tampak berbagai aktivitas kesibukan warga Kota. Ada yang berlari, tapi lebih banyak yang berjalan terburu. Semuanya tampak mengejar waktu. Waktu adalah kehidupan. Sebagian waktu lebih berharga dari sebagian waktu lainnya.

Diantara gambaran terindah Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam mengenai nilai waktu adalah sabdanya, “Setiap kali fajar menyingsing, maka hari berseru, ‘ Wahai manusia, aku adalah makhluk yang baru, menjadi saksi atas amalmu, maka ambillah bekal dariku, karena aku tidak akan kembali hingga hari kiamat ”

“Kereta api tidak pernah keluar dari jalurnya. Ia selalu berpijak pada relnya.”

Kita pun selalu diingatkan akan tujuan utama kita di dunia, memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Jangan sampai dimanfaatkan untuk selain yang mampu mengantarkan kita pada tujuan utama kita, akherat. Teguran-teguran kecil senantiasa diberikan agar kita kembali ke jalurnya. Kecuali sudah keterlaluan, maka berbuatlah sesukamu, pandangan dan kesenangan dunia justru akan dibuka dan semakin melenakanmu.

Umar radhiyallahu ‘anhu berdoa kepada Allah agar diberikan keberkahan waktu dan kebaikannya. Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser di hari kiamat sehingga Allah bertanya kepadanya tentang umur yang ia habis kan, tentang harta darimana ia mendapatkannya dan untuk apa ia membelanjakannya? – with Yanuk

View on Path

 
Leave a comment

Posted by on January 29, 2017 in Perjalanan, Renungan, umum

 

Tags: ,

Gotong Royong Membuat Kompos Daun

dokumentasi panitia

dokumentasi panitia

Jepang memiliki cara tersendiri untuk melestarikan hutan dan pertanian. Sebagaimana wilayah di Indonesia, sebagian besar wilayah Jepang sangat cocok untuk lahan pertanian. Masyarakat di pedesaan mengembangkan tradisi yang unik dalam rangka memenuhi kebutuhan pupuk yaitu dengan mengumpulkan daun-daun yang berjatuhan di musim gugur. Kali ini kami mendapat kesempatan diajak Oikawa Sensei membuat kompos dari daun bersama Yanase Community di daerah Tokorozawa, Saitama.

Divisi pertanian dari Pemerintah Kota Tokorozawa menginisiasi acara pembuatan compos dari dari daun gugur di hutan sekunder. Daerah pertanian yang tidak jauh dari Tokyo metropolitan ini, dikenal sebagai penghasil bayam, talas, lobak dan ubi. Kualitas pertanian yang dihasilkan disini diakui dan diterima secara luas di pasar. Sekitar 60 orang bergabung dalam acara ini. Mayoritas sudah berusia, pun begitu mereka sangat energik. Beberapa pemuda tampak pula turun dan membantu. Dekan Graduate School of Agriculture TUAT dan Walikota Tokorozawa menandatangani MoU untuk 5 tahun kerja sama untuk meningkatkan daya saing komoditas pertanian di wilayah ini, khususnya talas. Maka kesempatan ini kami gunakan pula untuk memantau tanaman penelitian tersebut.

Konsep Satoyama

Jepang sedang berjuang untuk menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi yang cepat dengan perlindungan dan warisan budaya dan alamnya yang kaya. Modernisasi telah menyebabkan berbagai cara baru pertanian dilakukan oleh masyarakat Jepang. Mulai dari penggunaan alat mekanisasi modern, konstruksi bendungan dan irigasi dan ekspansi kebutuhan perumahan. Hal ini menyebabkan berkurangnya daerah pertanian secara menyuluruh dan banyak spesies tanaman, mamalia, reptil amfibi dan ikan tawar menyusut.Tentunya jangka panjangnya kerugian juga buat manusia.

Mereka cepat belajar dan berbenah, apalagi selama ini mempunyai konsep Satoyama, sebuah konsep yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara urbanisasi dan konservasi alam. Satoyama berasal dari kata ‘sato’ (desa atau kampung) dan ‘yama’ (gunung, hutan, padang rumput). Targetnya yaitu untuk membangun keberadaan lahan yang merupakan perpaduan harmoni antara manusia dengan alam. Dalam arti luas Satoyama berarti campuran dari hutan, sawah basah, lahan budidaya, padang rumput, sungai, kolam dan irigasi parit yang mengelilingi sebuah pertanian Jepang. Dalam era Edo (1603-1867) sekitar lima hektar satoyama diperlukan untuk mendukung setiap keluarga petani yang terdiri tujuh atau delapan orang.

Kompos Daun

Petani berusaha membuat pupuk sendiri dengan memanfaatkan hutan sekitar. Kali ini mereka gotong royong membantu mengumpulkan dedaunan kering dari garu berbahan bambu. Karena dikerjakan banyak orang, tidak sampai 2 jam satu area seluas lapangan bola sudah terkumpul dedaunan keringnya. Daun kering ini kemudian dipadatkan dengan diinjak-injak, selanjutnya ditutup dengan jaring agar tidak bertebaran lagi terhembus oleh angin. Apakah dikasih larutan apa tambahan bahan tertentu? Ternyata tidak. Kompos ini baru akan digunakan 1,5 tahun lagi. Yaitu melewati musim dingin selanjutnya dan digunakan pada waktu musim semi. Di sebelahnya tampak kompos yang hampir jadi dimana dedaunan menjadi tanah kembali namun kaya akan bahan organik. Berbagai serangga akan hidup dan menguraikan dedaunan yang tertimbun.

Awal ketika datang, kami diberi pengarahan terlebih dahulu. Dan Oikawa Sensei menterjemahkan kepada kami maksud dan tatacara untuk mengumpulkan daun untuk kompos ini. Walau saat itu suhu satu derajat celcius, dengan banyak gerak ternyata badan menjadi hangat, bahkan berkeringat. Peluit panjang dibunyikan sebagai penanda istirahat dan kami semua dipersilahkan mengambil teh atau kopi hangat beserta camilan. Keramahtamahan ini mengingatkan kerja bakti atau gotong royong di kampung. Gotong royong seperti ini masih kental di daerah pedesaan. Dan berkumpul dengan banyak orang seperti ini sangat menyenangkan.

Kami pun sempat diajak berpindah ke areal lainnya karena di lokasi pertama sudah selesai. Dan sebagaimana sebelumnya, dedaunan itu dikumpulkan dan ditaruh di atas matras plastik untuk kemudian dikumpulkan di lokasi penampungan. Setelah semuanya selesai, kami pun diajak makan bersama. Menunya adalah semua produk petani setempat dan organik. Dari tampilannya sangat menarik dan rasanya juga enak. Karena ini menu sayuran, tentunya saya santap sampai habis, Insya Allah Halal. Selagi makan tak lupa kami ngobrol, terutama Khom teman dari Kamboja sudah lancar bahasa Jepangnya jadi sangat menikmati obrolan itu. Kami pun berkesempatan mengunjungi greenhouse dan melihat tanaman stroberi yang rasanya manis. Stroberi termanis yang pernah saya rasakan selama ini.

Tokyo, 10 Januari 2017

 
Leave a comment

Posted by on January 10, 2017 in Jepang

 

Tags: , ,

 
%d bloggers like this: