RSS

Gotong Royong Membuat Kompos Daun

dokumentasi panitia

dokumentasi panitia

Jepang memiliki cara tersendiri untuk melestarikan hutan dan pertanian. Sebagaimana wilayah di Indonesia, sebagian besar wilayah Jepang sangat cocok untuk lahan pertanian. Masyarakat di pedesaan mengembangkan tradisi yang unik dalam rangka memenuhi kebutuhan pupuk yaitu dengan mengumpulkan daun-daun yang berjatuhan di musim gugur. Kali ini kami mendapat kesempatan diajak Oikawa Sensei membuat kompos dari daun bersama Yanase Community di daerah Tokorozawa, Saitama.

Divisi pertanian dari Pemerintah Kota Tokorozawa menginisiasi acara pembuatan compos dari dari daun gugur di hutan sekunder. Daerah pertanian yang tidak jauh dari Tokyo metropolitan ini, dikenal sebagai penghasil bayam, talas, lobak dan ubi. Kualitas pertanian yang dihasilkan disini diakui dan diterima secara luas di pasar. Sekitar 60 orang bergabung dalam acara ini. Mayoritas sudah berusia, pun begitu mereka sangat energik. Beberapa pemuda tampak pula turun dan membantu. Dekan Graduate School of Agriculture TUAT dan Walikota Tokorozawa menandatangani MoU untuk 5 tahun kerja sama untuk meningkatkan daya saing komoditas pertanian di wilayah ini, khususnya talas. Maka kesempatan ini kami gunakan pula untuk memantau tanaman penelitian tersebut.

Konsep Satoyama

Jepang sedang berjuang untuk menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi yang cepat dengan perlindungan dan warisan budaya dan alamnya yang kaya. Modernisasi telah menyebabkan berbagai cara baru pertanian dilakukan oleh masyarakat Jepang. Mulai dari penggunaan alat mekanisasi modern, konstruksi bendungan dan irigasi dan ekspansi kebutuhan perumahan. Hal ini menyebabkan berkurangnya daerah pertanian secara menyuluruh dan banyak spesies tanaman, mamalia, reptil amfibi dan ikan tawar menyusut.Tentunya jangka panjangnya kerugian juga buat manusia.

Mereka cepat belajar dan berbenah, apalagi selama ini mempunyai konsep Satoyama, sebuah konsep yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara urbanisasi dan konservasi alam. Satoyama berasal dari kata ‘sato’ (desa atau kampung) dan ‘yama’ (gunung, hutan, padang rumput). Targetnya yaitu untuk membangun keberadaan lahan yang merupakan perpaduan harmoni antara manusia dengan alam. Dalam arti luas Satoyama berarti campuran dari hutan, sawah basah, lahan budidaya, padang rumput, sungai, kolam dan irigasi parit yang mengelilingi sebuah pertanian Jepang. Dalam era Edo (1603-1867) sekitar lima hektar satoyama diperlukan untuk mendukung setiap keluarga petani yang terdiri tujuh atau delapan orang.

Kompos Daun

Petani berusaha membuat pupuk sendiri dengan memanfaatkan hutan sekitar. Kali ini mereka gotong royong membantu mengumpulkan dedaunan kering dari garu berbahan bambu. Karena dikerjakan banyak orang, tidak sampai 2 jam satu area seluas lapangan bola sudah terkumpul dedaunan keringnya. Daun kering ini kemudian dipadatkan dengan diinjak-injak, selanjutnya ditutup dengan jaring agar tidak bertebaran lagi terhembus oleh angin. Apakah dikasih larutan apa tambahan bahan tertentu? Ternyata tidak. Kompos ini baru akan digunakan 1,5 tahun lagi. Yaitu melewati musim dingin selanjutnya dan digunakan pada waktu musim semi. Di sebelahnya tampak kompos yang hampir jadi dimana dedaunan menjadi tanah kembali namun kaya akan bahan organik. Berbagai serangga akan hidup dan menguraikan dedaunan yang tertimbun.

Awal ketika datang, kami diberi pengarahan terlebih dahulu. Dan Oikawa Sensei menterjemahkan kepada kami maksud dan tatacara untuk mengumpulkan daun untuk kompos ini. Walau saat itu suhu satu derajat celcius, dengan banyak gerak ternyata badan menjadi hangat, bahkan berkeringat. Peluit panjang dibunyikan sebagai penanda istirahat dan kami semua dipersilahkan mengambil teh atau kopi hangat beserta camilan. Keramahtamahan ini mengingatkan kerja bakti atau gotong royong di kampung. Gotong royong seperti ini masih kental di daerah pedesaan. Dan berkumpul dengan banyak orang seperti ini sangat menyenangkan.

Kami pun sempat diajak berpindah ke areal lainnya karena di lokasi pertama sudah selesai. Dan sebagaimana sebelumnya, dedaunan itu dikumpulkan dan ditaruh di atas matras plastik untuk kemudian dikumpulkan di lokasi penampungan. Setelah semuanya selesai, kami pun diajak makan bersama. Menunya adalah semua produk petani setempat dan organik. Dari tampilannya sangat menarik dan rasanya juga enak. Karena ini menu sayuran, tentunya saya santap sampai habis, Insya Allah Halal. Selagi makan tak lupa kami ngobrol, terutama Khom teman dari Kamboja sudah lancar bahasa Jepangnya jadi sangat menikmati obrolan itu. Kami pun berkesempatan mengunjungi greenhouse dan melihat tanaman stroberi yang rasanya manis. Stroberi termanis yang pernah saya rasakan selama ini.

Tokyo, 10 Januari 2017

 
Leave a comment

Posted by on January 10, 2017 in Jepang

 

Tags: , ,

Taman Sari, Yogyakarta

taman-sari-yogyakarta

Taman Sari is one of popular tourism destination in Yogyakarta, Indonesia.

Sailed the oceans of life
We are like adventurer
Life is a struggle
Challenges different day by days, year by years
To survive, we must continue the journey
no way back!

Happy new year 2017!

Tokyo, January 1, 2017
Resilient

 
Leave a comment

Posted by on December 31, 2016 in Picture

 

Tags: ,

Catatan Akhir Tahun

tokyo-tower

Kita tak bisa mengatur waktu, tapi kita bisa mengatur prioritas

Beberapa menit lagi sudah bertemu hari baru di tahun 2017. Apa saja capaian selama ini? Semoga evaluasi di tahun 2016 ini lebih baik dari tahun sebelumnya. Dan tahun selanjutnya lebih baik dan baik lagi. Apakah ada resolusi khusus? Hmm.. tentu tapi tidak semuluk-muluk sebelumnya, tapi ada yang harus diperbaiki. Disini saya lebih realistis dalam satu hal dan ingin mencapai target lain yang lebih ambisius dari sebelumnya. Yang paling menjadi catatan tahun ini adalah proses berangkat ke Jepang kembali per Oktober 2016 setelah di Maret 2016 kemarin kembali ke Indonesia dari Kyoto. Saat ini sebagaimana ibukota Kyoto pindah ke Tokyo, saya pun mengikutinya juga, pindah belajar dari Kyoto ke Tokyo. Hehe.

Sebelum berangkat ke Jepang untuk melanjutkan study master, ada banyak kendala dan tantangannya. Selain proses administrasi yang membuat harap-harap cemas karena bisa terganjal sewaktu-waktu sebagaimana yang dialami beberapa teman, ada banyak persiapan yang dirasa kurang matang. Penguasaan bahasa jelas, masih perlu banyak belajar. Bisanya cuma bilang “haik… haik.., iek dan arigatou doank.” Kalau ditanya penggemar Manga atau tidak? Jawabannya jelas, level menengah. Sadar masih biasa aja tuh menggembari manga Jepang, masih kalah jauh dari beberapa teman yang mengikuti banyak manga, gila untuk mengikuti serinya dan tahu banyak kisah Jepang. Favoritku masih Doraemon, Dragon Ball dan Conan. Komik jadul banget ya? hehe. Tahukah penyanyi top jepang? Trend di Jepang? Nah yang ini apalagi. Nggak mudeng!

Lalu apa yang membuat tertarik ke Jepang? salah satunya adalah kerja keras, prinsip Kaizen yang kukagumi dari dosen-dosen di Teknologi Pertanian UGM yang memang banyak lulusan Jepang cukup memberi pengaruh tentang info dan motivasi untuk berlajar ke Negeri Sakura. Dan yang menarik, beliau dosen kami ini objektif memberikan informasi. Tidak hanya sisi baiknya saja tapi ada juga sisi kelamnya juga, artinya jatuh bangunnya beliau dengan suasana belajar dan budaya Jepang. Jadi kita lebih mendapatkan gambaran utuh. Dan Alhamdulillah, sekarang ini diberi kesempatan untuk belajar disini.

Tidak mudah mengajak keluarga ke Jepang, apalagi biaya hidup cukup besar. Beberapa teman dengan berbagai kendalanya, misal pasangan yang bekerja, sekolah anak, dan berbagai alasan khusus lainnya akhirnya memutuskan untuk tidak mengajak keluarga. Saya tahu, ini pun bukan pilihan ideal bagi meraka tapi semoga menjadi pilihan terbaik baginya. Siapa sih yang tidak mau bersama keluarga? Nah di saat seperti ini saya juga sedang berjuang mengajak keluarga tingga bersama di Tokyo, Insya Allah bulan depan kami bisa berkumpul bersama. Semoga Allah mudahkan. Ada teman yang sudah siap semua; COE, tempat tinggal family room, sepeda buat istri, dan tiga tiket pesawat dari negaranya ke sini terancam batal dan hangus tiketnya karena tiba-tiba Sensei melarang untuk mengajak keluarga. Bahkan ketika berusaha dilobi malah diberi embel-embel peringatan keras untuk tidak melanggarnya. Tentunya ini tantangan tersendiri yang berbeda tiap orang.

Sekolah di luar negeri memang memberi tantangan berbeda. Permasalahannya lebih kompleks karena selain tranfer ilmu dengan bahasa yang berbeda, hal teknis tidak terduga kadang muncul. Apalagi menghadapi kakunya sistem di Jepang. Dan disinilah memang kita diuji dengan berbagai masalah yang bisa jadi tidak ditemui di Indonesia terutama ketika beasiswa telat cairnya. Hehe. Nilai nominal yang harus ditanggung sudah puluhan juta, bahkan ada yang ratusan juta untuk yang di Eropa. Alhamdulillah selalu ada solusi dari teman-teman Indonesia lainnya (PPI, KMII, dll).

Ohya, beberapa waktu lalu berkesempatan juga berbagai ilmu dengan senior yang sudah lebih dari 15 tahun menjadi asisten profesor di Tokyo University of Agriculture and Technology (TUAT). Kapan-kapan moga bisa membuat resumenya dan upload disini. Yang pasti bangga bisa mengikuti sharing session dengan beliau yang difasilitasi temen-temen PPI Nokodai. Banyak juga ternyata orang Indonesia berprestasi dan berkarya nyata di luar negeri.

Kedepan harus terus belajar membagi waktu. Belajar di negeri Sakura memang unik, kita harus siap dengan pola dan gaya belajar disini yang kadang memang tidak mengenal waktu. Awalnya Bushido atau semangat kerja keras yang diwariskan secara turun-temurun menjadi dambaan. Namun beberapa pihak menyadari bahwa kerja keras saja tidak cukup, kerja dengan waktu yang efisien ternyata lebih produktif. Dan soal mengevaluasi diri, orang Jepang sudah menyadari ini dan mulai melakukan perubahan. Beberapa sensei yang belajar dari negara Barat sudah berusaha untuk mengubah pola itu, namun umumnya memang masih belajar dari pagi-larut malam di laboratorium. Istilah nge-Lab disini bukan hanya jikken (eksperimen) dengan alat-alat laboratorium namun lebih luas lagi, termasuk membuat laporan dan berkutat dengan komputer di student room.

Akhirnya, yuks buat tahun depan lebih baik lagi! Belajar lebih keras lagi dan efisien. Tentunya bisa membersamai keluarga. Karena kerja harus diimbangi dengan kebersamaan dengan keluarga. Bersama keluargalah kita akan miniti jalan bersama ke surga, Insya Allah.

unnamed

Maunya gak setuju, tapi kok tampaknya benar… 😀 Harus diseimbangkan lagi nih…

 

Tokyo, 31 Desember 2016

 
Leave a comment

Posted by on December 31, 2016 in Jepang, Kisah

 

Tags: , , , ,

Guide Us to The Straight Path

img_6949

Guide us to the straight path. The path of those upon whom You have bestowed favor, not of those who have evoked [Your] anger or of those who are astray. (Al-Fatihah 6-7, Qur’an)

Path

 
1 Comment

Posted by on December 24, 2016 in Renungan, umum

 

Tags: , ,

Kelengkapan Membuat COE Jepang

img_6241

Certificate of Eligibility Japan, COE keluarga sudah jadi, Alhamdulillah

Bagi kita yang mencanangkan ambil studi ke Jepang, biasanya salah satu pertimbangannya memilih Jepang karena di negeri ini sangat ramah dengan keluarga dan pendidikannya bagus. Kebersamaan dengan keluarga bagi saya pribadi adalah sebuah hal yang harus diupayakan. Akan lebih bermakna jika beasiswa yang kita dapatkan manfaatnya tidak hanya untuk kita penerima saja, tapi bisa juga “dinikmati” untuk keluarga. Keluarga turut merasakan beasiswa dengan pengalaman di luar negeri dan juga pendidikan yang bisa didapatkan. Dan yang pasti perkembangan sang anak terus bisa kita bersamai bersama istri.

Tidak mudah untuk mengajak keluarga bersamman ketika kita berangkat pertama kali. Biasanya tantangannya adalah karena belum mendapatkan tempat tinggal yang layak untuk keluarga, karena apartemen yang fix di awal adalah single room dan yang paling penting adalah sulitnya mendapat COE karena itemnya banyak. Ada beberapa sensei yang mau menjamin dan menguruskan COE untuk si penerima beasiswa dan keluarganya, yang seperti ini patut dicoba dulu. Namun umumnya diminta berangkat dulu dan setelah itu (sekitar 3 bulan) keluarga bisa menyusul.

Jalan yang ditempuh untuk mengajak keluarga ada 3 yaitu;

Pertama, langsung berangkat dengan COE lengkap sebagaimana contoh kasus di atas. Sensei atau universitas membantu untuk menguruskan sehingga COE bisa terbit bersamaan dan amanlah berangkat ke Jepang. Begitu mendarat di Airport lansung bisa mendapatkan Residence Card sesuai waktu studi yang tertera. Kedua, langsung berangkat dengan visa kunjungan dan begitu datang langsung mengurus COE. Cara ini sangat riskan, namun ada teman yang sukses melakukannya. Syaratnya memang semua akomodasi di tempat tujuan sudah beres. Dan yang ketiga, mengurus COE keluarga setelah datang di Jepang. Cara ini yang sangat umum ditempuh oleh mahasiswa karena resiko bisa lebih diprediksi dan tentunya lebih nyaman untuk keluarga. Selisihnya paling cepat sekitar 2 bulan dari kedatangan kita.

Kali ini saya akan berbagi informasi mengenai bagaimana mendapatkan COE di Jepang, karena sudah saya lakukan dan buktikan sendiri, dan sukses tanpa revisi, oleh karena itu saya share ke temen-teman. Jalur yang saya tempuh adalah yang ketiga, dimana saya memilih datang duluan dan mempersiapkan segala sesuatu disini selama 1 bulan pertama dan kemudian mengurus COE di Tokyo Regional Immigration Bureau Tachikawa Branch Office. Saya masukkan berkas Senin tanggal 31 Oktober 2016 dan COE saya terima pada Selasa, 6 Desember 2016 atau proses berlangsung selama 5 pekan. Ada yang cukup 3 pekan saja dapat COE, tergantung memang dengan banyaknya aplikasi yang masuk saat itu.

Berikut persyaratan COE untuk mengundang keluarga ke Jepang;

  1. Application Form (masing-masing).
  2. Fotocopy dan terjemahan surat nikah (terjemahkan dalam bahasa Jepang, tidak perlu penerjemah bersertifikat).
  3. Fotocopy dan terjemahan akta lahir (masing-masing), untuk syarat ini juga terjemahkan dalam bahasa Jepang, tidak perlu penerjemah bersertifikat)
  4. Form Letter of Guarantee (masing-masing)
  5. Fotocopy Paspor (masing-masing termasuk paspor kita).
  6. Fotocopy dan asli Resident Card (zairyu).
  7. Amplop A5 dan perangko 392 Yen (jika berkas lebih dari 1, misal saya kemarin 3 bekas, cukup 1 aja amplop beserta perangkonya, perangko 392 yen ditempelkan di amplopnya, tuliskan alamat di Jepang). Perangko bisa dibeli di kantor pos atau kombini.
  8. Pasfoto 3×4 sebanyak 1 lembar (masing-masing), ditempel di berkas pengajuan.
  9. Surat Enrollment letter dari Kampus (tinggal print di mesin yang ada di kampus, bisa pilih bahasa Jepang atau Inggris, saya print yang bahasa Jepang).
  10. Sponsor letter atau keterangan bahwa mendapatkan beasiswa (dan besaran monthly allowance jika ada).
  11. Fotokopi Kartu Keluarga (KK) dan terjemahkan dalam bahasa Inggris.
  12. Fotokopi saldo terakhir buku tabungan. Tidak ada harus sekian Yen. Saat itu di buku tabungan saya hanya ada 290 Yen karena kiriman belum masuk, dan ternyata tidak masalah (COE tetap keluar) karena mungkin lebih dilihat sponsor letter beasiswa itu.
  13. Fotokopi dan asli Surat Juminhyo dari Kuyakusho. (Difoto-kopi untuk masing-masing), aslinya bisa disimpan. Biayanya cetaknya 250 yen, ditunggu sebentar jadi. Beberapa teman malah sudah punya sejak pendaftaran alamat apato resident card.

Beberapa file syarat COE bisa di-download disini. Link web resmi Imigrasi Jepang disini.

Syarat di atas saya ikuti dan alhamdulillah lancar. Teman dari negara lain sampai memakai penerjemah yang bersertifikat, selain mahal, sebenarnya hal ini tidak perlu. Cukup kita saja yang menterjemahkan dan menandatanganinya. Berkas terjemahan selalu lampiri dengan fotokopian dari berkas asli. Karena pengajuan COE ini masing-masing, maka cek lagi untuk tiap anggota keluarga lengkap semua itemnya. Semoga sukses! Jika dalam 1 pekan tidak ada surat ke mailbox kita untuk melengkapi berkas, perlu bersyukur, berarti berkas yang dikumpulkan kemarin lengkap dan sudah diproses. COE akan jadi 3 pekan sampai 2 bulan.

Ada teman yang aplly COE namun lama ga jadi-jadi, dan karena kedatangan keluarga sudah tidak bisa ditunda lagi, ia langsung pulang ke Indonesia untuk menempuh jalan kedua. Jadi dari pilihan kedua seperti penjelasan sebelumnya, mau beralih ke yang pertama. Ternyata ketika pulang ke Indonesia, COE datang ke alamat rumahnya di Jepang. Ketika kembali ke Jepang dan ingin mengurus COE, prosedur menjadi rumit. Harusnya COE yang sudah diperoleh dipakai ketika hendak keluar airport di Jepang, namun kemarin masuk ke Jepang dengan visa kunjungan. Proses perpindahan status itu menjadi lebih berliku. Jadi COE memang diurus ketika yang bersangkutan belum masuk Jepang. Alhamdulillah, bisa diselesaikan dengan baik dan mendapat resident card, dan keluarga tidak perlu kembali ke Indonesia. Tentunya menguras energi juga meloby peraturan Jepang yang terkenal kaku, kadang tergantung kebijaksanaan petugas lapang. Hikmahnya untuk temen-temen semua, bersabarlah dengan proses yang sudah dipilih dan ditempuh.

Terima kasih kepada pak Ali dan mas Arie Wahyu yang memberikan detail syarat-syarat ini. Insya Allah keluarga kami segera berkumpul sebagaimana keluarga kalian yang sudah berkumpul.

Tokyo, 24 Desember 2016

 
Leave a comment

Posted by on December 24, 2016 in Jepang, umum

 

Tags: , , , , , ,

Agro-innovation Jepang 2016

agro-innovation-japan

Tokyo adalah pusat dari salah satu kawasan terbesar di dunia. Tokyo, kota yang masuk kawasan Kanto ini menjadi kawasan terpadat di Jepang dengan kota lainnya yaitu Yokohama, Kawasaki, Saitama dan Chiba. Tokyo merupakan pusat kegiatan ekonomi dan konsumen yang dinamis. Setengah dari perusahaan Jepang publik berkantor pusat di Tokyo, bersama dengan sejumlah besar perusahaan modal ventura dan UKM dengan teknologi yang unik.

Berawal dari informasi teman, kami akhirnya tertarik juga untuk mendatangi Agro-innovation 2016, sebuah pameran profesional yang menampilkan teknologi dan produk terdepan bisnis pertanian di Jepang. Event-event besar di Jepang banyak diadakan di Tokyo, sebuah keberuntungan bagi para pelajar-mahasiswa yang kuliah di wilayah ini. Tentunya ini menjadi kelebihan tersendiri di tengah hiruk pikuk dan padatnya transportasi. Sarana refreshing yang sangat bermanfaat dan menambah ilmu.

Tokyo Big Sight di Odaiba menjadi lokasi expo yang meliputi produksi pertanian, pengolahan, grading, logistik dan berbagai teknologi unggulan pertanian lainnya. Hari terakhir ini tidak seramai yang dibayangkan, disisi lain ini menjadi keuntungan kami bisa melihat stand satu per satu. Sayangnya keterbatasan bahasa menyebabkan ilmu tidak tertransfer semua. Hmmm… perlu belajar lagi nih Nihongo. Beberapa stand penelitinya bisa menjelaskan dengan baik dalam bahasa Inggris, kesempatan yang tidak boleh kami lewatkan.

Salah satu stand yang menarik yaitu stand yang menyajikan info tentang i-Farming. Bukan karena kami dapat payung gratis disitu, hehe. tapi juga infonya memang up to date tentang penggunaan satelit di bidang pertanian. Wakamori yang menjadi senior manager Space Research Business Group Japan Manned Space System Corporation (JMSSC) menjelaskan bagaimana data dari satelit digunakan sebagai layanan informasi pertanian, layanan informasi meteorologi da layanan informasi bencana. Status budidaya tanaman dapat diakses melalui smartphone dan dapat di-update setiap 10 hari sekali.

Hal lainnya yang dipamerkan adalah teknologi tentang hidroponik, packaging, grading, pertanian organik, desain rangka rumah kasa, lampu LED untuk penerangan tanaman, dome house dan juga ada diskusi atau workshop. Ohya, tiket masuknya seharga 3000 yen, namun gratis jika kita membawa formulir dan 2 business card. Di lokasi ini juga banyak expo lainnya yang bisa dikunjungi. Ke depan moga berbagai event menarik serupa bisa dikunjungi. Kesempatan seperti ini harus dimanfaatkan. Dan ada baiknya memang ajak teman yang lancar bahasa Jepangnya agar interaksi lebih maksimal. 🙂

Tokyo, 20 Desember 2016

 
Leave a comment

Posted by on December 20, 2016 in Jepang

 

Tags: , , ,

#Tokyo4Aleppo

Aleppo before war. -source; Wikimedia

Aleppo before war. -source; Wikimedia

“Beruntunglah negeri Syam. Sahabat bertanya: mengapa?
Jawab Nabi saw: Malaikat rahmat membentangkan sayapnya di atas negeri Syam.”
(HR. Imam Ahmad)

Kita yang hidup di negeri yang aman seringkali melupakan berbagai nikmat yang telah Allah berikan. Waktu seolah berlalu begitu saja, kejadiannya hampir sama; rutinitas bangun pagi, ke kantor atau kampus, makan, meeting, pulang dan bermain bersama anak-anak, kadang sedikit menyempatkan membaca Qur’an (itupun kalau ingat) dan tidur lagi. Rutinitas yang berulang dan berulang.

Lengah, malas dan lemahnya iman ditegur dengan kejadian yang menimpa saudara kita di negeri lainnya. Selepas Rohingya, baru-baru ini eskalasi kekerasan di Syam, khususnya di Aleppo meningkat dan bombardir bom menyisakan kisah pilu. Terlalu pilu untuk menjadi tontonan sehingga beberapa video share teman-teman terpaksa di-skip karena diri ini sudah tidak mampu lagi untuk menonton adanya kebiadaban yang terjadi.

Teknologi telah memudahkan kita mengakses informasi sehingga kejadian nan jauh disana bisa kita saksikan di detik yang sama. Kejadian yang terekam di depan mata semua orang. Lalu kemanakah pihak yang selama ini mengaku aktivis atau peduli kemanusiaan? Mungkin saja peristiwa lebih sadis terjadi di berbagai tempat. Apapun itu, naif jika mengharap mereka berbuat sesuatu, kitalah seharusnya berbuat sesuatu.

Syam merupakan benteng umat Islam saat terjadinya malhamah kubro (perang dahsyat akhir zaman). Akhir zaman dengan berbagai tandanya sudah banyak terjadi. Apakah Syam sekarang ini adalah tanda akhir zaman sebelum kiamat, wallahualam. Yang pasti sekarang ini terus dan semakin meningkat dan tidak menutup kemungkinan akan menjadi perang dunia ke-3. Kita hanya diminta untuk ikhtiar mempersiapan hari pertanggungjawaban di hadapan Allah kelak. Apa yang sudah kita perbuat? Mereka yang disana sudah menjadi syuhada dan memperoleh janji Allah akan surga, sedangkan kita?

Kita patut untuk introspeksi, lambatnya kita dalam berbuat karena bisa jadi kadar iman kita yang memang makin menipis. Umat yang belum bangkit ini kontribusi kita juga. Namun, saat ini di negeri Indonesia gerakan kebangkitan itu terasa menggeliat, energinya menular bahkan sampai lintas negara, lintas benua. Allah memberikan kesadaran dari peristiwa yang tidak disangka. Dan semoga gelombang kebangkitan itu terus menggelinding.

Tokyo, We Stand For Aleppo

Tokyo, We Stand For Aleppo, Allahuakbar. (KMII.doc)

Teman-teman di Jepang yang tergabung di Keluarga Masyarakat Islam Indonesia (KMII) Jepang menginisiasi aksi solidaritas yang dikemas dalam kajian, doa, penggalangan dana dan pernyataan sikap. Paparan ust. Imron Rosyadi memberikan pencerahan apa yang terjadi disana dan yang penting yang bisa dan harus kita lakukan.

Penggalangan dana mencapai 578.000 Yen atau lebih dari Rp 60 juta rupiah, 2 buah jam tangan dan 1 gelang. Dan bisa jadi bertambah dengan penutupan penggalangan dana via rekening beberapa hari lagi. Mari terus doakan dan ringankan beban saudara kita di negeri Syam. Negeri yang Allah takdirkan nantinya munculnya para pahlawan yang menegakkan kemenangan dan kejayaan Islam.

Tokyo, 19 Desember 2016
Hanif

 

 
Leave a comment

Posted by on December 19, 2016 in Activity, Jepang

 

Tags: , , ,

Pijakan Kaki yang Kokoh

originalKetika menerangkan tentang teori ekonomi dan diskusi mengenai perkembangan riset, Sensei tiba-tiba naik kursi dan memperagakan betapa riskannya jika pijakan kaki di atas kursi yang beroda, mudah tergelincir. Kemudian beliau turun dan berdiri tegap di lantai. Walau ada yang menggoyang, posisi bisa lebih stabil.

Begitu ekspresif menceritakan dan menjelaskan ke saya, walau sudah sama-sama mengerti. Namun sikap ekapresifnya itu memberi penekanan lebih. Be careful with your research! Pesan utamanya, semua riset dan penelitian harus berpijak dr penelitian lain yang kuat (stabil); menambahi, mengurangi, mengkritisi dan memberi solusi hal yang baru. Melanjutkan hal-hal yang sudah ada dengan menemukan sisi novelty.

Hal yang sebelumnya sering dicela di negeri kita dan meminta kita bener-bener menemukan hal yang baru yang belum pernah dilakukan orang lain. Kita mendadak diminta lebih hebat dari Einstein, Al Khawarismi, James Watt dan berbagai penemu lainnya. Bagi saya pesannya sangat masuk akal. Lakukan sesuatu dari pijakan yang kokoh.

Pijakan yang kokoh itu kita perlukan dalam bersikap. Jangan sampai mudah goyah, mudah dioombang-ambingkan isu-isu liar dan berita tidak jelas. Kita besok akan mempertanggungjawabkan amal kita sendiri-sendiri. Bukan dihisab secara jamaah atau tergantung teman, keluarga, orang tua dan faktor x lainnya. Be your self!

#odaiba #gundam #pijakan #kokoh #patlabor #tokyo #japan #teory – at Odaiba (お台場)

View on Path

 
Leave a comment

Posted by on December 17, 2016 in umum

 

Tags: , ,

Gas Metana

Lagi-lagi, penghasilnya terbanyak juga negara maju. Peternakannya sangat intensif. Apalagi wagyu (sapi Jepang), yang harga 1 kgnya lebih dari Rp 4.000.000,-

Sapi Kobe misalnya diberi makan dengan rumput yang masih fresh dilengkapi dengan buah-buahan dan sayur-sayuran. Pemberianny dengan cara dilumatkan yang bertujuan untuk melengkapi vitamin dan mineral si sapi. Sapi ini juga sering diajak ngobrol, dan didengerin musik biar ga stress. Misalnya dengerin lagu klasik sambil dikasih minum sake. Tujuannya biar ngantuk dan rileks. Selain itu juga dipijat agar mencegah kram otot, terutama peternakan yang tidak mempunyai cukup ruang untuk pergerakan sapi.

Ketimpangan dalam berbagai hal ini di kalangan akademisi mendapat perhatian. Sampai kapan kita akan terus begini? Di saat yang lain masih kekurangan, sebagian orang bermewah-mewahan dan menghabiskan sumberdaya alam.

Peneliti berusaha mengurangi gas metana pada sapi dengan mengatur bahan pakan. Pakan dari Jagung dinilai lebih sedikit emisi methan-nya. Jenis makanan berbasis jagung relatif kaya pati sehingga di perut besar diolah secara berbeda. Dibandingkan dengan silase rumput yang strukturnya kasar dan kaya serat, pakan dari padi jagung akan menghasilkan gas methana yang lebih sedikit. Kotoran dan limbah peternakan menghasilkan 20% emisi peternakan.

View on Path

 
Leave a comment

Posted by on December 11, 2016 in umum

 

Tags: ,

The Magic of Seeing Something

Sirakawa-go Situs Warisan Dunia (20)

One destination is never a place, but a new way of seeing things. – Henry Miller

journey makes us know that we must learn and learn again. So many things that we did not understand. Interaction with nature, peoples, and animals, make us have a new different point of view. So, why we just stay at home? make a journey, it’s can make know more. Have a nice weekend!

 

weekly photo challenge

 
Leave a comment

Posted by on December 11, 2016 in Renungan, umum

 

Tags: , , ,

 
%d bloggers like this: