RSS

Tag Archives: Tokyo

Tama Zoo

 

Setelah sempat tertunda hampir sebulan, akhirnya sekolahan Fadhil memutuskan pergi juga ke Tama Zoo, Kebun Binatang terbesar di Tokyo. Luasnya 52 ha atau 4x lipat Ueno Zoo yang terkenal dengan koleksi pandannya itu. Kalau dibandingkan, Tama Zoo lebih mirip gembiraloka kebun binatang di Yogyakarta. Saking luasnya, ada areal yang belum dimanfaatkan untuk koleksi satwa.

Harus ada di lokasi jam 9.00 membuat kami lumayan gedubrakan di paginya. Apalagi kepastian saya ikut baru jam 7.00 pagi setelah memberanikan diri email izin ke Sensei untuk tidak mengikuti seminar pekanan. Untunglah diijinkan. Lega rasanya pergi dengan hati riang gembira. Sampai lokasi ternyata tidak sendirian, Keluarga pak Alim juga hadir lengkap. Namun, orang Jepang sendiri (orang tua temannya Fadhil) banyak yang hanya berangkat sendiri. Kalau kami ya memanfaatkan momentum. Kapan lagi bisa kesini bareng-bareng. Hehe.

Setiap bulan selalu ada program keluar, entah itu ke museum, taman maupun tempat wisata seperti kebun binatang ini. Anak-anak diajak berjalan dan mengenal hewan selama 3 jam, atau dari jam 9-12. Isitrahat makan bekal sekitar satu jam. Selepas itu acara ditutup dan bebas. Orang tua dipersilahkan menemani anak-anaknya berkeliling di lokasi favorit.

Sebenarnya pengin segera pulang, pikiran sudah ke tugas yang menumpuk. Namun saat anak-anak beli minuman, tidak sengaja melihat peta Tama Zoo. Lha kok ada insectarium yang hanya 200 meter saja dari lokasi kami berdiri di depan gerbang pintu keluar. Ya kita sempatkan saja menengok. Ternyata memang lokasi ini asyik, banyak kupu-kupu berterbangan.

Secara umum, kebun binatang ini sama dengan kebun binatang yang ada di Indonesia. Yang membedakan hanya disini banyak lokasi tempat duduk untuk makan bekal. Kalau tidak sehari penuh berasa rugi. Kami pun tanpa terasa menghabiskan waktu sampai Kebun Binatang ini tutup yaitu jam 16.30 (Bulan Nopember).

Tokyo, 18 November 2017

 

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on November 18, 2017 in umum

 

Tags: , , ,

Laporan Kelahiran Anak di Jepang

Pasca kelahiran anak di Jepang, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait administrasinya. Jauh hari sebelum anak ke-3 kami Fatih lahir, beberapa teman telah memberi masukan untuk segera lapor kelahiran anak ke kantor pemerintah kota setempat (shiyakusho). Batasnya 14 hari setelah melahirkan dan kemudian dilanjutkan dengan ke imigrasi Jepang untuk mendapatkan residence card (visa) sehingga secara legal sudah sah tinggal di Jepang mengikuti batas visa orang tuanya. Sedangkan laporan ke KBRI bisa dilakukan setelah laporan ke pemerintah kota setempat selesai dan residence card didapatkan.

Laporan ke Shiyakusho (maksimal H+14 kelahiran)

Karena istri melahirkan secara caesar, dokter meminta untuk istirahat 10 hari di rumah sakit. Walaupun beberapa hari setelah melahirkan sudah bisa berjalan dan merasa sehat, istirahat selama 10 hari ini memberikan kesempatan Bunda untuk pulih benar. Di Malang, saat kelahiran anak ke-2 dengan caesar, pada hari ke-3 sudah boleh pulang ke rumah. Namun ternyata untuk melakukan aktivitas sehari-hari (memasak, beres-beres rumah, dll), perut masih terasa nyeri. Ya, kita ambil sisi positifnya, pertimbangan dokter ada benarnya.

Karena 10 hari di rumah sakit, maka surat keterangan lahir dari rumah sakit dikeluarkan ketika pulang. Otomatis waktu yang tersisa tinggal 4 hari. Alhamdulillah, urusan di shiyakusho beres. Sayangnya saya lupa tidak memfotokopi surat dari rumah sakit tersebut karena ternyata surat itu tidak dikembalikan alias disimpan mereka. Jangan lupa bawa boshitecho (buku panduan ibu dan anak) dan kartu asuransi orangtua. Setelah beres langsung urus juga asuransi kesehatan dan tunjangan anak. Kalau di Fuchu city Tokyo, bisa diurus di lantai 5. Read the rest of this entry »

 
2 Comments

Posted by on July 20, 2017 in Jepang

 

Tags: , , , , , , , ,

Surga Bunga di Jindai Botanical Garden

Horee…akhirnya bisa jalan-jalan ke taman lagi. Sudah sebulan lebih sejak lahiran kemarin, kami memang sudah berencana mengunjungi taman-taman sekitar tempat tinggal. Ya anggap aja ini liburan mudik, hehe. Walau cuaca panas dan gerah karena jarangnya angin bertiup, aktivitas luar ruangan seperti ini perlu untuk anak-anak dan tentunya kami juga.

Tempat liburan kesukaanku lebih ke alam, maka kali ini kami putuskan main ke taman bunga. Sudah lama pengin ke lokasi ini. Dengan naik bus dan kereta dan sedikit jalan kaki tentunya, akhirnya sampai juga ke “Jindai Botanical Garden”, lokasinya masih di Tokyo, tepatnya di Chofu, kalau dengan kereta semi express arah Shinjuku cukup 1 stasiun saja dari Fuchu, kota kami tinggal. Biaya masuknya 500 yen per orang. Kami datang berlima, namun hanya dihitung berdua, anak-anak free.

Ada dua taman yang seperti ini yang sudah kukunjungi dan semuanya menarik yaitu Kyoto Botanical Garden dan Shinjuku Park. Semuanya memiliki koleksi tanaman tropis dalam rumah kaca yang luar biasa besar. Selain koleksinya cukup lengkap, terawat dengan sangat baik. Jindai Botanical Garden luasnya 42 hektar yang terbagi menjadi 30 blok berdasarkan spesies tanaman. Terdapat 100.000 pohon dan semak yang terdiri dari 4500 spesies. Taman mawarnya terbesar di Tokyo dan terkenal juga dengan pohon plum dan cherry yang mekar di musim semi. Nah, kalau datang di bulan apapun pasti ada kok bunga yang mekar, karena ada kalender bunganya. Jadi jangan khawatir ga ada objek menarik.

Namun bunga unggulan yaitu mawar hanya mekar di bulan Mei – Juli, puncaknya pada 9-31 Mei. Bunga di Greenhouse yaitu orchid, tuberous begonia dan water lily bisa dijumpai hampir sepanjang tahun. Di musim panas ini, lokasi greenhouse menjadi tempat favorit kami karena sangat sejuk. Lumayan bisa ngadem. Fadhil yang awalnya uring-uringan karena kepanasan dan minta plosotan akhirnya sumringah juga. Layaknya menemukan “harta karun”, ia sangat enjoy di area ini. Ternyata di luar ia gerah, kepanasan. Areal seperti ini di Indonesia bisa ditemui di Kebun LIPI yang ada di Bogor, Bali dan Purwodadi. Yang terakhir ini sebenarnya dekat Malang, moga kelak bisa mengunjungi dan menikmati keindahannya. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on July 8, 2017 in Jepang, Perjalanan

 

Tags: , , , , ,

Fuchunomori Park (Tokyo)

Pertama kali melewati taman Fuchunomori ini dari sisi selatan sudah takjub. Waow, taman ini lengkap fasilitasnya. Fuchunomori Seni Teater bangunannya indah dan sekitarnya hijau. Jika berjalan ke utara, maka akan nampak berbagai fasilitas seperti area olahraga, joging, baseball, tenis, sepak bola, taman bermain,area barbeque, area terbuka dan ada pula Museum Seni Fuchu. Detail ada disini.

Taman ini awalnya merupakan bekas pangkalan militer AS setelah perang dunia kedua. Daerah sekitarnya memang terdapat bekas pangkalan udara dan saat ini beberapa pesawat jet dipajang di dekat gerbang bekas pangkalan di sisi kanan taman ini. Mengingat kebutuhan akan perbaikan lingkungan warga, maka bekas pangkalan ini dikembangkan menjadi taman, fasilitas olahraga, dan pusat evakuasi ketika terjadi bencana.

Sepanjang 300 meter, di taman terdapat pohon sakura yang tentunya akan indah saat awal musim semi. Di sekitar Fuchunomori park juga terdapat 8 patung seniman terkemuka. Salah satunya adalah patung Anne & Michele yang sama Fasya dikira mbak-mbak sedang ngobrol karena keduanya berambut panjang. Japanese Garden tampaknya menarik, namun biasanya bagus saat musim gugur dan musim semi. Kami pun belum terlalu mengeksplor Japanese Garden ini.

Pada saat kami ke sini bersama anak-anak, yaitu di akhir musim gugur, yang nampak adalah pohon kering. Pun begitu, taman ini tetaplah indah. Taman bermain dan hamparan rumput menjadi area menarik untuk bermain. Saat wekdays, taman ini pun sering dipakai rombongan anak-anak TK bermain. Jangan sampai lupa membawa cemilan dan bento ketika main disini. Waktu 4 jam pun bagi anak-anak terasa begitu cepat.

Pada saat akhir pekan, taman ini lebih ramai. Ada yang bermain layang-layang, lempar bola, bulu tangkis dan berlatih sepak bola. Fadhil dan Aisyah lebih memilih bermain di playground anak dan bermain gelembung. Karena musim gugur, air yang mengalir hanyalah di air mancur dan air terjun pojok perempatan.

Tokyo, 25 Maret 2017

 
Leave a comment

Posted by on March 25, 2017 in Activity, Jepang

 

Tags: , , , , , ,

Koganei Park (Tokyo)

Akhir pekan adalah waktu yang cocok buat refreshing sekeluarga. Setelah “ndekem” di ruangan selama 1 pekan tentunya anak-anak merasa bosan dan ingin refreshing. Nah. tempat termurah dan nyaman untuk melewatkan waktu bersama disini yaitu di taman yang banyak tersedia di Tokyo. Kali ini kami mengunjungi Koganei Park. Taman ini letaknya di utara Stasiun Musashi atau Higashi Koganei, sekitar 30 menit dari lokasi kontrakan kami menggunakan bus.

Koganei Park ini luasnya 79 hektar atau 1,5 kali luas Ueno Park. Taman ini lengkap fasilitasnya. Selain hamparan rumput, terdapat pula playground anak-anak, areal sepatu roda dan skiteboard, lapangan baseball, lapangan anjing, areal seluncur, gedung panahan, lapangan tenis, area barbeque, area sepeda, dll.

Lokasi yang paling disukai Fadhil dan Aisyah yaitu playground, dimana terdapat perosotan aneka macam, termasuk yang besar yang bisa digunakan pula oleh orang tua. Sayangnya ketika kemarin kami kesana, debunya sangat mengganggu. Area ini tampaknya menjadi favorit banyak keluarga, apalagi akhir pekan, peminatnya sangat banyak.

Taman ini memang sangat komplit, ada fasilitas meluncur dari rumput sintetis, sayangnya kami tidak mempunyai alat seluncur itu sehingga anak-anak pun hanya bisa melongo dan beberapa kali merengek minta untuk meluncur. “Kapan-kapan ya Nak, kalau sudah punya papan seluncurnya kita main bareng-bareng.” Untungnya dari atas nampak gundukan putih, dimana antriannya lumayan panjang. Kayaknya menarik tuh. Anak-anak pun bisa jot-jotan di arena itu.

Ketika kami mendekat, ternyata dibatasi setiap anak maksimal 10 menit. Alas kaki termasuk kaos kaki harus dilepas agar anak tidak tergelincir. Petugas pun menghitung banyaknya anak yang masuk, kurang lebih 30-50 anak. Memang sih kalau tidak dibatasi permainan ini menjadi tidak nyaman dan anak-anak pun akan saling bertabrakan.

Taman yang terbuka dan gratis seperti ini sangat bagus untuk tempat refreshing. Tidak perlu jauh-jauh memang, Setiap kota biasanya punya 1 taman besar dan banyak lagi taman ukuran sedang. Karena kali ini hanya survei, ke depan akan berkunjung lagi sejak pagi tentunya. Sasaran yang dituju adalah playground anak.

This slideshow requires JavaScript.

 
Leave a comment

Posted by on March 25, 2017 in Activity, Jepang

 

Tags: , , , , , , ,

Nobel Prize Dialogue Tokyo 2017

noble-prize-dialogue-tokyo-2017-zainurihanifAhad, 26 Februari 2017 bersama rombongan teman-teman PPI Nokodai kami mengikuti acara Nobel Prize Dialogue Tokyo 2017 di Tokyo International Forum. Acara ini adalah event yang diselenggarakan oleh Japan Society for the Promotion of Science (JSPS). Acara ini diadakan untuk menyebar pengetahuan tentang prestasi nobel dan merangsang minat dalam ilmu pengetahuan, sastra dan perdamaian. Tema yang diambil pun sangat menarik, yaitu “The Future of Intelligence.” Dialog kali ini mengeksplorasi topik dari lima pemenang nobel dan para ahli terkenal dunia.

Acara ini free, kami hanya perlu untuk registrasi 2 bulan sebelumnya dan saat hari-H menunjukkan print out lembar registrasi. Tepat pukul 08.00 JST registrasi dibuka dan antrian yang mengular pun segera berpindah dari meja registrasi di B1F Lobby Galery ke lantai atas B7. Ternyata banyak juga teman-teman Indonesia yang datang di acara ini, wajahnya tidak asing, apalagi kalau sudah terdengar bicara bahasa Indonesia. Beberapa bahkan dari luar Tokyo seperti Kyoto.

Hidup di kota besar seperti Tokyo tentunya tidak menjadi pilihan sebagian mahasiswa. Alasan utamanya biasanya karena padatnya penduduk (yang implikasinya ke ruwetnya jalur kereta, dst) dan juga biaya hidup yang mahal. Namun, sebagian yang lain justru memilih hidup di kota besar karena mudahnya berbagai akses fasilitas seperti makanan halal dan juga berbagai event internasional seperti seminar, pameran maupun event sebagaimana noble prize dialogue kali ini.

Bagi teman-teman yang belum berkesempatan hadir bisa mengaksesnya melalui Youtube https://www.youtube.com/user/NobelWeekDialogue. Acara ini diselenggarakan 2 tahun sekali dan tahun sebelumnya bisa juga diakses di link tersebut.

Kesan saya ikut dalam acara ini yaitu panitia terlihat sangat profesional, semua jadwal berlangsung dengan tepat waktu dan fasilitas peserta sangat memadai. Video streaming juga berkualitas sangat bagus. Peserta juga diberikan alat translater yang bisa dipakai 2 bahasa, bahasa Jepang dan Inggris. Yang perlu ditambahkan yaitu peta toilet di setiap lantai karena ketika masa rehat, antrian di toilet dekat acara sangat panjang. Peta yang terpampang di booklet hanya di sekitar lokasi acara saja. Kalo dari penyelenggaraan kuberi bintang 5 dari 5.

Acara seperti ini sangat menarik, karena sebagai peneliti kita tidak hanya didorong untuk mendalami keilmuwan kita, namun perlu untuk mempelajari bidang lainnya. Terkadang ide dan inspirasi didapat dari mempelajari bidang yang tidak berhubungan sama sekali dengan keilmuwan yang selama ini kita tekuni. Dan ketika menyimak ide-ide panelis, mereka sangat visioner. Melakukan sesuatu hal yang di luar nalar. Seperti bagaimana mengukur gelombang gravitasi dengan membandingkan pengukuran dengan membangun stasiun riset di gurun dan membandingkan dengan partikel atom yang diperbesar sampai jutaan kali.

Semoga ke depan bisa mengikuti acara serupa. Begitu juga dengan teman-teman. Insya Allah banyak manfaatnya.

photo; dokumen pribadi dan FB @nobleprize

Tokyo, 27 Februari 2017

 

 
Leave a comment

Posted by on February 27, 2017 in Activity, Jepang

 

Tags: , , ,

Catatan Akhir Tahun

tokyo-tower

Kita tak bisa mengatur waktu, tapi kita bisa mengatur prioritas

Beberapa menit lagi sudah bertemu hari baru di tahun 2017. Apa saja capaian selama ini? Semoga evaluasi di tahun 2016 ini lebih baik dari tahun sebelumnya. Dan tahun selanjutnya lebih baik dan baik lagi. Apakah ada resolusi khusus? Hmm.. tentu tapi tidak semuluk-muluk sebelumnya, tapi ada yang harus diperbaiki. Disini saya lebih realistis dalam satu hal dan ingin mencapai target lain yang lebih ambisius dari sebelumnya. Yang paling menjadi catatan tahun ini adalah proses berangkat ke Jepang kembali per Oktober 2016 setelah di Maret 2016 kemarin kembali ke Indonesia dari Kyoto. Saat ini sebagaimana ibukota Kyoto pindah ke Tokyo, saya pun mengikutinya juga, pindah belajar dari Kyoto ke Tokyo. Hehe.

Sebelum berangkat ke Jepang untuk melanjutkan study master, ada banyak kendala dan tantangannya. Selain proses administrasi yang membuat harap-harap cemas karena bisa terganjal sewaktu-waktu sebagaimana yang dialami beberapa teman, ada banyak persiapan yang dirasa kurang matang. Penguasaan bahasa jelas, masih perlu banyak belajar. Bisanya cuma bilang “haik… haik.., iek dan arigatou doank.” Kalau ditanya penggemar Manga atau tidak? Jawabannya jelas, level menengah. Sadar masih biasa aja tuh menggembari manga Jepang, masih kalah jauh dari beberapa teman yang mengikuti banyak manga, gila untuk mengikuti serinya dan tahu banyak kisah Jepang. Favoritku masih Doraemon, Dragon Ball dan Conan. Komik jadul banget ya? hehe. Tahukah penyanyi top jepang? Trend di Jepang? Nah yang ini apalagi. Nggak mudeng!

Lalu apa yang membuat tertarik ke Jepang? salah satunya adalah kerja keras, prinsip Kaizen yang kukagumi dari dosen-dosen di Teknologi Pertanian UGM yang memang banyak lulusan Jepang cukup memberi pengaruh tentang info dan motivasi untuk berlajar ke Negeri Sakura. Dan yang menarik, beliau dosen kami ini objektif memberikan informasi. Tidak hanya sisi baiknya saja tapi ada juga sisi kelamnya juga, artinya jatuh bangunnya beliau dengan suasana belajar dan budaya Jepang. Jadi kita lebih mendapatkan gambaran utuh. Dan Alhamdulillah, sekarang ini diberi kesempatan untuk belajar disini.

Tidak mudah mengajak keluarga ke Jepang, apalagi biaya hidup cukup besar. Beberapa teman dengan berbagai kendalanya, misal pasangan yang bekerja, sekolah anak, dan berbagai alasan khusus lainnya akhirnya memutuskan untuk tidak mengajak keluarga. Saya tahu, ini pun bukan pilihan ideal bagi meraka tapi semoga menjadi pilihan terbaik baginya. Siapa sih yang tidak mau bersama keluarga? Nah di saat seperti ini saya juga sedang berjuang mengajak keluarga tingga bersama di Tokyo, Insya Allah bulan depan kami bisa berkumpul bersama. Semoga Allah mudahkan. Ada teman yang sudah siap semua; COE, tempat tinggal family room, sepeda buat istri, dan tiga tiket pesawat dari negaranya ke sini terancam batal dan hangus tiketnya karena tiba-tiba Sensei melarang untuk mengajak keluarga. Bahkan ketika berusaha dilobi malah diberi embel-embel peringatan keras untuk tidak melanggarnya. Tentunya ini tantangan tersendiri yang berbeda tiap orang.

Sekolah di luar negeri memang memberi tantangan berbeda. Permasalahannya lebih kompleks karena selain tranfer ilmu dengan bahasa yang berbeda, hal teknis tidak terduga kadang muncul. Apalagi menghadapi kakunya sistem di Jepang. Dan disinilah memang kita diuji dengan berbagai masalah yang bisa jadi tidak ditemui di Indonesia terutama ketika beasiswa telat cairnya. Hehe. Nilai nominal yang harus ditanggung sudah puluhan juta, bahkan ada yang ratusan juta untuk yang di Eropa. Alhamdulillah selalu ada solusi dari teman-teman Indonesia lainnya (PPI, KMII, dll).

Ohya, beberapa waktu lalu berkesempatan juga berbagai ilmu dengan senior yang sudah lebih dari 15 tahun menjadi asisten profesor di Tokyo University of Agriculture and Technology (TUAT). Kapan-kapan moga bisa membuat resumenya dan upload disini. Yang pasti bangga bisa mengikuti sharing session dengan beliau yang difasilitasi temen-temen PPI Nokodai. Banyak juga ternyata orang Indonesia berprestasi dan berkarya nyata di luar negeri.

Kedepan harus terus belajar membagi waktu. Belajar di negeri Sakura memang unik, kita harus siap dengan pola dan gaya belajar disini yang kadang memang tidak mengenal waktu. Awalnya Bushido atau semangat kerja keras yang diwariskan secara turun-temurun menjadi dambaan. Namun beberapa pihak menyadari bahwa kerja keras saja tidak cukup, kerja dengan waktu yang efisien ternyata lebih produktif. Dan soal mengevaluasi diri, orang Jepang sudah menyadari ini dan mulai melakukan perubahan. Beberapa sensei yang belajar dari negara Barat sudah berusaha untuk mengubah pola itu, namun umumnya memang masih belajar dari pagi-larut malam di laboratorium. Istilah nge-Lab disini bukan hanya jikken (eksperimen) dengan alat-alat laboratorium namun lebih luas lagi, termasuk membuat laporan dan berkutat dengan komputer di student room.

Akhirnya, yuks buat tahun depan lebih baik lagi! Belajar lebih keras lagi dan efisien. Tentunya bisa membersamai keluarga. Karena kerja harus diimbangi dengan kebersamaan dengan keluarga. Bersama keluargalah kita akan miniti jalan bersama ke surga, Insya Allah.

unnamed

Maunya gak setuju, tapi kok tampaknya benar… 😀 Harus diseimbangkan lagi nih…

 

Tokyo, 31 Desember 2016

 
Leave a comment

Posted by on December 31, 2016 in Jepang, Kisah

 

Tags: , , , ,

Kelengkapan Membuat COE Jepang

img_6241

Certificate of Eligibility Japan, COE keluarga sudah jadi, Alhamdulillah

Bagi kita yang mencanangkan ambil studi ke Jepang, biasanya salah satu pertimbangannya memilih Jepang karena di negeri ini sangat ramah dengan keluarga dan pendidikannya bagus. Kebersamaan dengan keluarga bagi saya pribadi adalah sebuah hal yang harus diupayakan. Akan lebih bermakna jika beasiswa yang kita dapatkan manfaatnya tidak hanya untuk kita penerima saja, tapi bisa juga “dinikmati” untuk keluarga. Keluarga turut merasakan beasiswa dengan pengalaman di luar negeri dan juga pendidikan yang bisa didapatkan. Dan yang pasti perkembangan sang anak terus bisa kita bersamai bersama istri.

Tidak mudah untuk mengajak keluarga bersamman ketika kita berangkat pertama kali. Biasanya tantangannya adalah karena belum mendapatkan tempat tinggal yang layak untuk keluarga, karena apartemen yang fix di awal adalah single room dan yang paling penting adalah sulitnya mendapat COE karena itemnya banyak. Ada beberapa sensei yang mau menjamin dan menguruskan COE untuk si penerima beasiswa dan keluarganya, yang seperti ini patut dicoba dulu. Namun umumnya diminta berangkat dulu dan setelah itu (sekitar 3 bulan) keluarga bisa menyusul.

Jalan yang ditempuh untuk mengajak keluarga ada 3 yaitu;

Pertama, langsung berangkat dengan COE lengkap sebagaimana contoh kasus di atas. Sensei atau universitas membantu untuk menguruskan sehingga COE bisa terbit bersamaan dan amanlah berangkat ke Jepang. Begitu mendarat di Airport lansung bisa mendapatkan Residence Card sesuai waktu studi yang tertera. Kedua, langsung berangkat dengan visa kunjungan dan begitu datang langsung mengurus COE. Cara ini sangat riskan, namun ada teman yang sukses melakukannya. Syaratnya memang semua akomodasi di tempat tujuan sudah beres. Dan yang ketiga, mengurus COE keluarga setelah datang di Jepang. Cara ini yang sangat umum ditempuh oleh mahasiswa karena resiko bisa lebih diprediksi dan tentunya lebih nyaman untuk keluarga. Selisihnya paling cepat sekitar 2 bulan dari kedatangan kita.

Kali ini saya akan berbagi informasi mengenai bagaimana mendapatkan COE di Jepang, karena sudah saya lakukan dan buktikan sendiri, dan sukses tanpa revisi, oleh karena itu saya share ke temen-teman. Jalur yang saya tempuh adalah yang ketiga, dimana saya memilih datang duluan dan mempersiapkan segala sesuatu disini selama 1 bulan pertama dan kemudian mengurus COE di Tokyo Regional Immigration Bureau Tachikawa Branch Office. Saya masukkan berkas Senin tanggal 31 Oktober 2016 dan COE saya terima pada Selasa, 6 Desember 2016 atau proses berlangsung selama 5 pekan. Ada yang cukup 3 pekan saja dapat COE, tergantung memang dengan banyaknya aplikasi yang masuk saat itu.

Berikut persyaratan COE untuk mengundang keluarga ke Jepang;

  1. Application Form (masing-masing).
  2. Fotocopy dan terjemahan surat nikah (terjemahkan dalam bahasa Jepang, tidak perlu penerjemah bersertifikat).
  3. Fotocopy dan terjemahan akta lahir (masing-masing), untuk syarat ini juga terjemahkan dalam bahasa Jepang, tidak perlu penerjemah bersertifikat)
  4. Form Letter of Guarantee (masing-masing)
  5. Fotocopy Paspor (masing-masing termasuk paspor kita).
  6. Fotocopy dan asli Resident Card (zairyu).
  7. Amplop A5 dan perangko 392 Yen (jika berkas lebih dari 1, misal saya kemarin 3 bekas, cukup 1 aja amplop beserta perangkonya, perangko 392 yen ditempelkan di amplopnya, tuliskan alamat di Jepang). Perangko bisa dibeli di kantor pos atau kombini.
  8. Pasfoto 3×4 sebanyak 1 lembar (masing-masing), ditempel di berkas pengajuan.
  9. Surat Enrollment letter dari Kampus (tinggal print di mesin yang ada di kampus, bisa pilih bahasa Jepang atau Inggris, saya print yang bahasa Jepang).
  10. Sponsor letter atau keterangan bahwa mendapatkan beasiswa (dan besaran monthly allowance jika ada).
  11. Fotokopi Kartu Keluarga (KK) dan terjemahkan dalam bahasa Inggris.
  12. Fotokopi saldo terakhir buku tabungan. Tidak ada harus sekian Yen. Saat itu di buku tabungan saya hanya ada 290 Yen karena kiriman belum masuk, dan ternyata tidak masalah (COE tetap keluar) karena mungkin lebih dilihat sponsor letter beasiswa itu.
  13. Fotokopi dan asli Surat Juminhyo dari Kuyakusho. (Difoto-kopi untuk masing-masing), aslinya bisa disimpan. Biayanya cetaknya 250 yen, ditunggu sebentar jadi. Beberapa teman malah sudah punya sejak pendaftaran alamat apato resident card.

Beberapa file syarat COE bisa di-download disini. Link web resmi Imigrasi Jepang disini.

Syarat di atas saya ikuti dan alhamdulillah lancar. Teman dari negara lain sampai memakai penerjemah yang bersertifikat, selain mahal, sebenarnya hal ini tidak perlu. Cukup kita saja yang menterjemahkan dan menandatanganinya. Berkas terjemahan selalu lampiri dengan fotokopian dari berkas asli. Karena pengajuan COE ini masing-masing, maka cek lagi untuk tiap anggota keluarga lengkap semua itemnya. Semoga sukses! Jika dalam 1 pekan tidak ada surat ke mailbox kita untuk melengkapi berkas, perlu bersyukur, berarti berkas yang dikumpulkan kemarin lengkap dan sudah diproses. COE akan jadi 3 pekan sampai 2 bulan.

Ada teman yang aplly COE namun lama ga jadi-jadi, dan karena kedatangan keluarga sudah tidak bisa ditunda lagi, ia langsung pulang ke Indonesia untuk menempuh jalan kedua. Jadi dari pilihan kedua seperti penjelasan sebelumnya, mau beralih ke yang pertama. Ternyata ketika pulang ke Indonesia, COE datang ke alamat rumahnya di Jepang. Ketika kembali ke Jepang dan ingin mengurus COE, prosedur menjadi rumit. Harusnya COE yang sudah diperoleh dipakai ketika hendak keluar airport di Jepang, namun kemarin masuk ke Jepang dengan visa kunjungan. Proses perpindahan status itu menjadi lebih berliku. Jadi COE memang diurus ketika yang bersangkutan belum masuk Jepang. Alhamdulillah, bisa diselesaikan dengan baik dan mendapat resident card, dan keluarga tidak perlu kembali ke Indonesia. Tentunya menguras energi juga meloby peraturan Jepang yang terkenal kaku, kadang tergantung kebijaksanaan petugas lapang. Hikmahnya untuk temen-temen semua, bersabarlah dengan proses yang sudah dipilih dan ditempuh.

Terima kasih kepada pak Ali dan mas Arie Wahyu yang memberikan detail syarat-syarat ini. Insya Allah keluarga kami segera berkumpul sebagaimana keluarga kalian yang sudah berkumpul.

Tokyo, 24 Desember 2016

 
Leave a comment

Posted by on December 24, 2016 in Jepang, umum

 

Tags: , , , , , ,

Agro-innovation Jepang 2016

agro-innovation-japan

Tokyo adalah pusat dari salah satu kawasan terbesar di dunia. Tokyo, kota yang masuk kawasan Kanto ini menjadi kawasan terpadat di Jepang dengan kota lainnya yaitu Yokohama, Kawasaki, Saitama dan Chiba. Tokyo merupakan pusat kegiatan ekonomi dan konsumen yang dinamis. Setengah dari perusahaan Jepang publik berkantor pusat di Tokyo, bersama dengan sejumlah besar perusahaan modal ventura dan UKM dengan teknologi yang unik.

Berawal dari informasi teman, kami akhirnya tertarik juga untuk mendatangi Agro-innovation 2016, sebuah pameran profesional yang menampilkan teknologi dan produk terdepan bisnis pertanian di Jepang. Event-event besar di Jepang banyak diadakan di Tokyo, sebuah keberuntungan bagi para pelajar-mahasiswa yang kuliah di wilayah ini. Tentunya ini menjadi kelebihan tersendiri di tengah hiruk pikuk dan padatnya transportasi. Sarana refreshing yang sangat bermanfaat dan menambah ilmu.

Tokyo Big Sight di Odaiba menjadi lokasi expo yang meliputi produksi pertanian, pengolahan, grading, logistik dan berbagai teknologi unggulan pertanian lainnya. Hari terakhir ini tidak seramai yang dibayangkan, disisi lain ini menjadi keuntungan kami bisa melihat stand satu per satu. Sayangnya keterbatasan bahasa menyebabkan ilmu tidak tertransfer semua. Hmmm… perlu belajar lagi nih Nihongo. Beberapa stand penelitinya bisa menjelaskan dengan baik dalam bahasa Inggris, kesempatan yang tidak boleh kami lewatkan.

Salah satu stand yang menarik yaitu stand yang menyajikan info tentang i-Farming. Bukan karena kami dapat payung gratis disitu, hehe. tapi juga infonya memang up to date tentang penggunaan satelit di bidang pertanian. Wakamori yang menjadi senior manager Space Research Business Group Japan Manned Space System Corporation (JMSSC) menjelaskan bagaimana data dari satelit digunakan sebagai layanan informasi pertanian, layanan informasi meteorologi da layanan informasi bencana. Status budidaya tanaman dapat diakses melalui smartphone dan dapat di-update setiap 10 hari sekali.

Hal lainnya yang dipamerkan adalah teknologi tentang hidroponik, packaging, grading, pertanian organik, desain rangka rumah kasa, lampu LED untuk penerangan tanaman, dome house dan juga ada diskusi atau workshop. Ohya, tiket masuknya seharga 3000 yen, namun gratis jika kita membawa formulir dan 2 business card. Di lokasi ini juga banyak expo lainnya yang bisa dikunjungi. Ke depan moga berbagai event menarik serupa bisa dikunjungi. Kesempatan seperti ini harus dimanfaatkan. Dan ada baiknya memang ajak teman yang lancar bahasa Jepangnya agar interaksi lebih maksimal. 🙂

Tokyo, 20 Desember 2016

 
Leave a comment

Posted by on December 20, 2016 in Jepang

 

Tags: , , ,

#Tokyo4Aleppo

Aleppo before war. -source; Wikimedia

Aleppo before war. -source; Wikimedia

“Beruntunglah negeri Syam. Sahabat bertanya: mengapa?
Jawab Nabi saw: Malaikat rahmat membentangkan sayapnya di atas negeri Syam.”
(HR. Imam Ahmad)

Kita yang hidup di negeri yang aman seringkali melupakan berbagai nikmat yang telah Allah berikan. Waktu seolah berlalu begitu saja, kejadiannya hampir sama; rutinitas bangun pagi, ke kantor atau kampus, makan, meeting, pulang dan bermain bersama anak-anak, kadang sedikit menyempatkan membaca Qur’an (itupun kalau ingat) dan tidur lagi. Rutinitas yang berulang dan berulang.

Lengah, malas dan lemahnya iman ditegur dengan kejadian yang menimpa saudara kita di negeri lainnya. Selepas Rohingya, baru-baru ini eskalasi kekerasan di Syam, khususnya di Aleppo meningkat dan bombardir bom menyisakan kisah pilu. Terlalu pilu untuk menjadi tontonan sehingga beberapa video share teman-teman terpaksa di-skip karena diri ini sudah tidak mampu lagi untuk menonton adanya kebiadaban yang terjadi.

Teknologi telah memudahkan kita mengakses informasi sehingga kejadian nan jauh disana bisa kita saksikan di detik yang sama. Kejadian yang terekam di depan mata semua orang. Lalu kemanakah pihak yang selama ini mengaku aktivis atau peduli kemanusiaan? Mungkin saja peristiwa lebih sadis terjadi di berbagai tempat. Apapun itu, naif jika mengharap mereka berbuat sesuatu, kitalah seharusnya berbuat sesuatu.

Syam merupakan benteng umat Islam saat terjadinya malhamah kubro (perang dahsyat akhir zaman). Akhir zaman dengan berbagai tandanya sudah banyak terjadi. Apakah Syam sekarang ini adalah tanda akhir zaman sebelum kiamat, wallahualam. Yang pasti sekarang ini terus dan semakin meningkat dan tidak menutup kemungkinan akan menjadi perang dunia ke-3. Kita hanya diminta untuk ikhtiar mempersiapan hari pertanggungjawaban di hadapan Allah kelak. Apa yang sudah kita perbuat? Mereka yang disana sudah menjadi syuhada dan memperoleh janji Allah akan surga, sedangkan kita?

Kita patut untuk introspeksi, lambatnya kita dalam berbuat karena bisa jadi kadar iman kita yang memang makin menipis. Umat yang belum bangkit ini kontribusi kita juga. Namun, saat ini di negeri Indonesia gerakan kebangkitan itu terasa menggeliat, energinya menular bahkan sampai lintas negara, lintas benua. Allah memberikan kesadaran dari peristiwa yang tidak disangka. Dan semoga gelombang kebangkitan itu terus menggelinding.

Tokyo, We Stand For Aleppo

Tokyo, We Stand For Aleppo, Allahuakbar. (KMII.doc)

Teman-teman di Jepang yang tergabung di Keluarga Masyarakat Islam Indonesia (KMII) Jepang menginisiasi aksi solidaritas yang dikemas dalam kajian, doa, penggalangan dana dan pernyataan sikap. Paparan ust. Imron Rosyadi memberikan pencerahan apa yang terjadi disana dan yang penting yang bisa dan harus kita lakukan.

Penggalangan dana mencapai 578.000 Yen atau lebih dari Rp 60 juta rupiah, 2 buah jam tangan dan 1 gelang. Dan bisa jadi bertambah dengan penutupan penggalangan dana via rekening beberapa hari lagi. Mari terus doakan dan ringankan beban saudara kita di negeri Syam. Negeri yang Allah takdirkan nantinya munculnya para pahlawan yang menegakkan kemenangan dan kejayaan Islam.

Tokyo, 19 Desember 2016
Hanif

 

 
Leave a comment

Posted by on December 19, 2016 in Activity, Jepang

 

Tags: , , ,

 
%d bloggers like this: