RSS

Tag Archives: Tokyo

Kebaikan yang tidak terduga

Fadhil di Sekolah

Prakiraan cuaca disini bisa diandalkan, per-jamnya akurat. Tapi sehari menjelang #TyphoonJebi kemarin cuaca tidak menentu. Pagi yang cerah, secerah penampakan pagi di jendela sekolah Fadhil di foto ini, membuat kami tidak membekali payung favoritnya. Siangnya seperti biasa, Fadhil pulang sekolah sendiri. Ternyata dari sekedar hujan rintik dalam waktu singkat berubah menjadi hujan deras. Sambil pulang dalam guyuran hujan, kata Fadhil, dia didatangi seorang kakek. Kakek itu memberikan payungnya ke Fadhil. Dan akhirnya Fadhil sampai rumah, walau bajunya sedikit basah, tas dan bukunya selamat. Kami pun hendak mengembalikan payung itu, tapi kata Fadhil, “Kakeknya bilang ga usah dikembalikan Yah.” Lagian nih anak ditanya rumahnya juga tidak tahu dimana?

Sebulan sebelumnya, saat hari terakhir sekolah sebelum liburan musim panas, ternyata orangtua diminta jemput ke sekolah untuk membantu membawa pulang semua barang yang ditinggal di sekolah. Mulai dari buku, box biru tempat pernak-pernik alat tulis, piano kecil, tas pelindung gempa dll. Kami tidak tahu info tersebut, dan tidak menjemput Fadhil kala itu. Mungkin sudah ada pemberitahuan lewat surat tapi terlewat terbaca, maklum “keriting” soalnya, dan kadang banyak sekali surat di tasnya Fadhil. Dengan tergopoh-gopoh, saat itu Fadhil membawa semua peralatannya, sambil membawa tas sekolahnya. Dan ternyata di jalan ada seorang yang baik hati membantu Fadhil membawakan barang-barang tersebut sampai rumah. Padahal lumayan jaraknya, ia harus menyempatkan (waktunya tersita) berjalan menemani selama 20-30 menit. Urusannya ia kesampingkan untuk membantu anak kami sampai rumah.

Terima kasih atas kebaikannya kepada anak kami. Alhamdulillah, banyak orang baik di sekitar kita. 🙂

 
Leave a comment

Posted by on September 5, 2018 in Jepang, umum

 

Tags: , , , , , ,

JRA Racing Museum

Balapan kuda populer di Jepang yang awalnya dikenalkan oleh negara Barat di Yokohama. Maka tak heran, di Fuchu Tokyo terdapat stadion balapan kuda yang dikenal dengan Tokyo Racecourse. Awalnya Fuchu pada era Musashi (prefectur jauh sebelum Tokyo terbentuk) populer dengan pasar kuda unggulan, maka secara historis pembangunan stadion balap kuda ini memang punya makna tersendiri. Pada pertandingan puncak balapan kuda “The Japanese Derby 2016,” lokasi ini mampu menampung lebih dari 190.000 penonton. Selain itu setiap summer ada festival hanabi di lokasi ini. Yang lebih menarik buat anak-anak, terdapat pula taman bermain di Hiyoshigaoka Park, tepan di depan JRA Racing Museum.

Awal Maret ketika cuaca menghangat kami berencana ke museum ini, namun ternyata masih direnovasi sejak November sampai akhir Mater 2018. Dibuka lagi per 1 April 2018. Jadilah hanya bermain di taman Hiyoshigaoka Park yang dibuka dari jam 10.00-16.00. Taman ini lengkap permainan anak-anaknya mulai dari replika kapal bajak laut, arena bermain air, dan perosotan. Datanglah waktu weekdays atau bukan di saat adanya pertandingan balap kuda, anak-anak akan lebih nyaman juga bermain kesana kemari.

Awal Agustus 2018 ini, kami ke JRA Racing Museum. Cuaca sangat panas, cocok untuk liburan sekolah, wisata di dalam ruangan. Masuknya gratis dan setelah renovasi, penataan lokasi memang jauh lebih menarik daripada sebelumnya. Museum ini terdiri dari dua lantai. Dibuka mulai 10.00-16.00, khusus saat ada pacuan kuda dibuka sampai 17.00 dan ada biaya masuk 200 yen yang termasuk melihat pacuan kuda di stadion utama. Museum yang didirikan sejak 1991 ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan kuda balap dari aspek budaya.  Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on August 8, 2018 in Jepang

 

Tags: , , , , , , ,

Pangkalan Angkatan Udara AS yang ditinggalkan di Fuchu

Selain penjara Fuchu yang dikenal penjara paling ketat di Jepang, tempat penjahat kelas kakap ditahan (Yakuza, dll), ada satu lokasi di Fuchu, satu areal dengan Fuchunomori park yang membuat penasaran. Selama hampir setahun tinggal di Sengencho, di pemukiman samping lokasi bangunan yang terlantar, selalu ingin tahu ada apa sih dalamnya? Kenapa juga ada antena besar parabola dan bangunan misterius yang tidak dipakai lagi di tengah pemukiman penduduk. Ternyata lokasi ini dulunya adalah pangkalan undara AS yang aktif digunakan pada tahun 1956-1973. Pangkalan dengan 2 parabola setinggi 13 meter ini merupakan pangkalan re-supply selama perang Vietnam (1957-1975). Komunikasi dibuat dengan memancarkan gelombang troposferik yang di terima di lapasian atmosfer troposfer dengan ketinggian rata-rata 11 km. Koomunikasi ini terjadi sepanjang Okinawa ke Tohoku, yang berpusat di Pangkalan Militer Misawa.

Saat ini lokasi ini tidak dipagari dan publik dilarang masuk dan banyak tulisan dilarang masuk dimana-mana. Meskipun begitu pernah terlihat ada petugas yang menjaga dan mobil keluar masuk lokasi ini melewati gerbang sebelah barat. Walau penasaran, saya tidak berani melanggar aturan masuk dan melongok isi bangunan. Gegabah kalau gara-gara rasa penasaran kemudian harus dideportasi dan DO kuliah. Soalnya warga sekitar ada yang turut mengamati juga dan beberapa sensor masih aktif untuk penerobos. Ternyata beberapa waktu lalu menemukan ada yang upload di Google maps dan ada juga postingan blogger Jordy Meow seorang fotografer Prancis yang lama tinggal di Jepang memposting berbagai tempat yang ditinggalkan, salah satunya pangkalan di Fuchu ini. Ia menyelinap dan mengambil berbagai foto lokasi pangkalan setelah ditelantarkan selama lebih dari 30 tahun. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on August 4, 2018 in Jepang

 

Tags: , ,

Akankah Pasar Tradisional Hanya Layak Dikenang?

Belanja di pasar tradisional selalu menimbulkan kesan positif. Selain banyak variasi barang yang dijajakan, kelebihan pasar tradisional umumnya yaitu murah dan penjualnya ramah. Ada perasaan akrab dengan obrolan santai walau itu sekedar basa-basi saja. Dan hampir dua tahun merantau, kami pun kangen belanja di pasar tradisional, kangen dengan jajanan merakyat seperti arem-arem, lemper, lupis dan semuanya yang biasa tersaji di lapaknya Budhe di Pasar Gowok, Caturtunggal Sleman.

Di Jepang, banyak pasar tradisional yang menjelma menjadi pusat tujuan wisata. Selain memang bersih, lokasinya memang sangat strategis. Namun apakah semuanya demikian adanya?

Disini kita bisa temukan dengan mudah minimarket (konbini) seperti Lawson, Family Mart, dan 7 Eleven. Tiga konbini ini yang paling sering dijumpai. Namun ada pula Ministop, Yamasaki, Sunkus, dan lain-lain. Jarak kombini ini sering ditemui 100-200 meter, tidak berhadap-hadapan atau di samping kanan-kiri seperti umumnya minimarket di Indonesia. Dan menu jualannya pun sangat lengkap. Tidak hanya produk instan, buah dan sayur pun mereka jual, juga berbagai makanan siap saji. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on July 31, 2018 in Activity, Jepang

 

Tags: , , , , ,

Jenguk Bayi, Membuat Kita Banyak Bersyukur

Alhamdulillah, Ramadhan terakhir kemarin di negeri sakura, kami isi dengan berbagai macam aktivitas bermanfaat. Pagi sampai sore saya di kampus, istri beraktivitas dengan teman-temannya ke pasar kota Fuchu. Sebelum malam kumpul-kumpul takbiran, mumpung cuaca cerah, agenda nengok bayi pun langsung kami eksekusi. Selama sepekan ini memang hujan terus. Di Jepang, bulan Juni memang bulannya hujan. Maka membaca puisi hujan bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono terasa sangat pas. hehe.

Jarum jam menunjuk angka 4 sore, dan kami bersepeda ke Tokyo Municipal Tama General Medical Care Center tempat di mana bayinya Rubi dan Maya dilahirkan beberapa hari yang lalu. Perjalanan sangat menyenangkan karena jalan untuk bersepeda sangat lebar, jadi cocok juga buat Fadhil yang masih perlu memperlancar gaya bersepedanya. Fadhil baru bisa bersepeda sekitar dua bulan yang lalu, pertengahan Ramadhan dengan mempersering belajar sendiri habis pulang sekolah.

Jika melahirkan normal, cukup menginap lima hari saja, jika harus dioperasi seperti kasus istri, harus menginap sampai sepuluh hari. Maka kedatangan teman dan keluarga terdekat yang mejenguk sangat berarti. Apalagi di negeri rantauan! Setidaknya, itu yang kami rasakan. Rasa kesepian yang istri rasakan saat itu sangat berkurang dengan kedatangan teman-teman yang menjenguk di rumah sakit dan mendukung penuh proses penyembuhan, dan tentunya kedatangan Fadhil Aisyah yang selalu kuajak setiap sore sekedar menyapa saat itu membuat Bundanya makin sering tersenyum. Sampai akhirnya kami punya pengalaman yang tidak akan terlupakan saat Fadhil hilang. Rasa capek, cuaca hujan selama perjalanan dan keinginan segera bertemu buah hati terkadang membuat kita hilang konsentrasi sekejap. Tantangan bagi mahasiswa adalah jadwal kesibukan kampus dan pertemuan dengan supervisor yang kadang bisa berubah sewaktu-waktu. Denga pernah mengalami memang kita akan merasa lebih berempati.

Kita foto gini di sebelah gerombolan anak SD yang sedang pulang sekolah melongo. Nih keluarga kok suka photo-photo ya? (pikirnya) apa asyiknya? 😀

Setelah bersepeda selama setengah jam, akhirnya kami sampai. Rumah sakitnya sangat bagus, lebih dekat jaraknya dari tempat tinggal kami di Fuchu daripada Inagi Hospital tempat anak ketiga kami lahir tahun lalu. Dan kesempatan ini kami gunakan pula untuk mengajak anak-anak bersilaturrahim, bersyukur pula atas berbagai kemudahan yang kami dapatkan tahun lalu ketika dengan segala keterbatasan, banyak yang menolong dan membantu. Anak-anak pun tak sabar pengin lihat dedek bayi, anaknya om Rubi dan Tante Maya. Dan ternyata di rumah sakit ini tidak seketat yang kami bayangkan. Justru lebih ketat di Inagi Hospital yang ketika anak masuk harus dicek temperatur dan diberi gelang di pergelangan tangan.

Yang menarik dari rumah sakit ini adalah adanya swalayan Lawson di lantai 1 sehingga berbagai kebutuhan bisa dibeli dengan mudah. Tempat duduk banyak tersedia dan ada juga meja makan tersendiri untuk pengunjung. Kami pun berbuka dengan membeli onigiri dan minuman ringan disini dan selepas sholat Maghrib bergegas pulang. Kalau mendatangi undangan walimah, kadang kita teringat akan peristiwa akad nikah yang dulu dilaksanakan. Nah, kalau nengok bayi, begitu juga. Mengingatkan kita akan semua memori perjuangan kala itu. Dan memang itulah salah satu fungsi silaturrahim, mempererat persaudaraan dan membuat kita banyak bersyukur dan bersyukur.

Tokyo, 17 Juni 2018
Zainuri Hanif

 
Leave a comment

Posted by on June 17, 2018 in Activity, Jepang

 

Tags: , , , ,

Lebaran ini Banyak yang Harus Kita Syukuri.


Apa yang diingat ketika lebaran? Setiap kita tentunya punya kenangan yang berbeda. Bagi kami yang paling berkesan yaitu perasaan haru, bahagia, rindu bisa berkumpul dengan keluarga besar yang jika tidak di hari lebaran, hampir mustahil bisa bertatap muka semuanya. Biasanya sehabis sholat Ied kemudian silaturrahim ke tetangga dan sanak kerabat. Bisa kumpul dengan trah keluarga besar, mengunjungi pesantren di Munthilan tempat keluarga mbah Kung, atau ke Lempuyangan tempat keluarga Mbah Ti. Sampai gara-gara ada keluarga simbah yang pelihara monyet dan kita sulit menghapal namanya, seringkali mudahnya kita sebut, “Ayo silaturrahim ke Mbah Munyuk!”.

Alhamdulillah, dua kali lebaran disini mendapatkan suasana yang ramah dari saudara seiman. Banyak hal yang patut disyukuri. Suasana terawih pun akan kami kangeni. Tidak terasa sebulan cepat berlalu. Tahun ini Fadhil mulai belajar tertib shalat terawih yang biasanya berakhir sampai jam 22.00 dan membuatnya sering tidur larut malam. Tantangannya ya  bangun pagi untuk sekolah penuh perjuangan. Semoga kelak kau ingat ya Nak dan membuatmu lebih rajin lagi ibadah.

Jamaah ikhwan. Saudara muslim se-Fuchu dan sekitarnya banyak juga yang lebih memilih sholat disini.

Kalau tahun lalu kami sholat Ied di SRIT-Masjid Indonesia Tokyo dan mendatangi KBRI Tokyo, kali ini kami memilih di dekat kontrakan, yaitu di Lumiere atau Fuchu Library yang masih di Fuchu, sebuah kabupaten di Propinsi Tokyo kalo di Indonesia. Bedanya disini kami tidak bisa leluasa silaturrahim seperti biasanya di Indonesia karena memang tidak liburan. Meskipun hanya sebentar, karena setelah sholat Ied kita tidak harus ngampus lagi dan meeting dengan supervisor. Toh begitu, Ramadhan dan lebaran kali ini lebih berarti. Penyebabnya? ya, banyak hal 😉.

Terima kasih kepada “Keluarga Sengencho” yang bermurah hati menjamu kita semua.

 

 

 
Leave a comment

Posted by on June 16, 2018 in Activity, Jepang

 

Tags: , , , ,

Aktivitas Ramadhan di Jepang

Wallpaper di Fuchu Library (Lumiere)

Bagi kami sekeluarga, tahun ini Ramadhan ke-2 di Tokyo, Jepang. Rasanya memang bulan Ramadhan selalu spesial, bukan hanya karena sahur dan berbukanya saja, tapi bayangan mengenai aktivitas Ramadhan masa kecil yang sangat menyenangkan selalu berbekas: mulai dari TPA dan ta’jilan, sholat tarawih dan jaburan, lomba-lomba Islami, takbiran dan suasana lebarannya. Tahun ini, berbeda dari tahun kemarin, dengan usia Fatih sudah 1 tahun, tentunya akan lebih memudahkan kami untuk lebih aktif lagi mengikuti berbagai agenda Ramadhan di Tokyo dan sekitarnya. Bagaimanapun, dengan kondisi yang terbatas, kami ingin memberikan pengalaman Ramadhan berkesan bagi anak-anak.

Selama bulan Ramadhan ini, banyak agenda yang sudah disiapkan oleh Keluarga Masyarakat Islam Indonesia (KMII). Ustadz terbaik dari Indonesia yang sudah disyurokan sejak bulan-bulan sebelumnya, bergantian sepekan penuh mengisi kajian di Masjid Indonesia Tokyo (MIT). Agenda besar yaitu tablig akbar diselenggarakan setiap Ahad. Dan ada juga ikhtikaf di sepuluh hari terakhir.

KMII merupakan organisasi dakwah Islam di Jepang yang dimotori oleh masyarakat islam Indonesia yang tinggal di Jepang. Kepengurusan KMII bersifat terbuka bagi setiap masyarakat Islam Indonesia mulai dari staf KBRI, masyarakat Islam yang bekerja di Jepang, pelajar, sampai dengan Ibu rumah tangga. Banyak organisasi yang mendukung kegiatan KMII mulai dari Muhammadiyah, NU, Trainee (IPTIJ), Perawat (IPMI), Todai Muslim, Muslim Fuchu Koganei, Midori, FKMIT, KAMMI, Fahima, FGA, PMIJ, Forkita, Promia, Mudai, dll.

Dalam keseharian, tentunya aktivitas Ramadhan seperti sholat tarawih bisa saja dilakukan di MIT atau mencari lokasi yang lebih dekat dengan lokasi tinggal. Di sekitar tempat tinggal kami, Alhamdulillah ada komunitas muslim yang menyelenggarakan sholat terawih di Fuchu Library yang dikoordinir oleh Fuchu Muslim Community. Sholat terawih diselenggarakan mulai pukul 20.30 – 22.00 sebanyak 23 rakaat tanpa ceramah. Kami hanya perlu bersepeda 10 menit dari kontrakan ke Fuchu Library. Lokasinya juga sangat bersih dan nyaman.

Untuk buka bersama, komunitas muslim Indonesia disini, Muslim Fuchu Koganei juga menyelenggarakan setiap Sabtu. Dan tentunya ini menjadi ajang silaturrahim yang dikangeni teman-teman. Dan berita baiknya, per 1 Ramadhan kemarin (17 Mei 2018), kampus kami di Nokodai (TUAT) memfasilitasi multipurpose room yang bisa kami gunakan untuk sholat berjamaah. Alhamdulillah. Semoga aktivitas selama Ramadhan 1439 H ini lebih berarti dari tahun-tahun sebelumnya.

 

Hanif
Tokyo, 19 Mei 2018.

 
Leave a comment

Posted by on May 18, 2018 in Jepang, Kisah

 

Tags: , , , ,

“The Path”

Cherry blossom (Koganei Park, Tokyo)

Swing across the seven skies
They say a pure heart never lies
The words you learned were never heard
It’s time to think and wonder why

The stars above will always be
A shining guide for us to see
And when I doubt, I’ll have no doubt
But still I wonder why

Digging through our pages past
Wondering how the truth will last
God’s in control is what I found
I think I’ll try this time around!

And no one really feels the path I seek, and
No one’s going to care as much as me, and
No one seems to know our history, and
Stories are told for the world to see!

And maybe I’ll find the path I seek tonight
Let it be! Only God really knows what’s right!
Maybe, I’ll find the path I seek tonight
Let it be! Only God really knows I tried!

Reaf: https://www.youtube.com/watch?v=BKhSicFDNws

Song

 
1 Comment

Posted by on April 16, 2018 in Picture

 

Tags: , , , , , , , ,

Tama Zoo

 

Setelah sempat tertunda hampir sebulan, akhirnya sekolahan Fadhil memutuskan pergi juga ke Tama Zoo, Kebun Binatang terbesar di Tokyo. Luasnya 52 ha atau 4x lipat Ueno Zoo yang terkenal dengan koleksi pandannya itu. Kalau dibandingkan, Tama Zoo lebih mirip gembiraloka kebun binatang di Yogyakarta. Saking luasnya, ada areal yang belum dimanfaatkan untuk koleksi satwa.

Harus ada di lokasi jam 9.00 membuat kami lumayan gedubrakan di paginya. Apalagi kepastian saya ikut baru jam 7.00 pagi setelah memberanikan diri email izin ke Sensei untuk tidak mengikuti seminar pekanan. Untunglah diijinkan. Lega rasanya pergi dengan hati riang gembira. Sampai lokasi ternyata tidak sendirian, Keluarga pak Alim juga hadir lengkap. Namun, orang Jepang sendiri (orang tua temannya Fadhil) banyak yang hanya berangkat sendiri. Kalau kami ya memanfaatkan momentum. Kapan lagi bisa kesini bareng-bareng. Hehe.

Setiap bulan selalu ada program keluar, entah itu ke museum, taman maupun tempat wisata seperti kebun binatang ini. Anak-anak diajak berjalan dan mengenal hewan selama 3 jam, atau dari jam 9-12. Isitrahat makan bekal sekitar satu jam. Selepas itu acara ditutup dan bebas. Orang tua dipersilahkan menemani anak-anaknya berkeliling di lokasi favorit.

Sebenarnya pengin segera pulang, pikiran sudah ke tugas yang menumpuk. Namun saat anak-anak beli minuman, tidak sengaja melihat peta Tama Zoo. Lha kok ada insectarium yang hanya 200 meter saja dari lokasi kami berdiri di depan gerbang pintu keluar. Ya kita sempatkan saja menengok. Ternyata memang lokasi ini asyik, banyak kupu-kupu berterbangan.

Secara umum, kebun binatang ini sama dengan kebun binatang yang ada di Indonesia. Yang membedakan hanya disini banyak lokasi tempat duduk untuk makan bekal. Kalau tidak sehari penuh berasa rugi. Kami pun tanpa terasa menghabiskan waktu sampai Kebun Binatang ini tutup yaitu jam 16.30 (Bulan Nopember).

Tokyo, 18 November 2017

 

 
Leave a comment

Posted by on November 18, 2017 in umum

 

Tags: , , ,

Laporan Kelahiran Anak di Jepang

Pasca kelahiran anak di Jepang, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait administrasinya. Jauh hari sebelum anak ke-3 kami Fatih lahir, beberapa teman telah memberi masukan untuk segera lapor kelahiran anak ke kantor pemerintah kota setempat (shiyakusho). Batasnya 14 hari setelah melahirkan dan kemudian dilanjutkan dengan ke imigrasi Jepang untuk mendapatkan residence card (visa) sehingga secara legal sudah sah tinggal di Jepang mengikuti batas visa orang tuanya. Sedangkan laporan ke KBRI bisa dilakukan setelah laporan ke pemerintah kota setempat selesai dan residence card didapatkan.

Laporan ke Shiyakusho (maksimal H+14 kelahiran)

Karena istri melahirkan secara caesar, dokter meminta untuk istirahat 10 hari di rumah sakit. Walaupun beberapa hari setelah melahirkan sudah bisa berjalan dan merasa sehat, istirahat selama 10 hari ini memberikan kesempatan Bunda untuk pulih benar. Di Malang, saat kelahiran anak ke-2 dengan caesar, pada hari ke-3 sudah boleh pulang ke rumah. Namun ternyata untuk melakukan aktivitas sehari-hari (memasak, beres-beres rumah, dll), perut masih terasa nyeri. Ya, kita ambil sisi positifnya, pertimbangan dokter ada benarnya.

Karena 10 hari di rumah sakit, maka surat keterangan lahir dari rumah sakit dikeluarkan ketika pulang. Otomatis waktu yang tersisa tinggal 4 hari. Alhamdulillah, urusan di shiyakusho beres. Sayangnya saya lupa tidak memfotokopi surat dari rumah sakit tersebut karena ternyata surat itu tidak dikembalikan alias disimpan mereka. Jangan lupa bawa boshitecho (buku panduan ibu dan anak) dan kartu asuransi orangtua. Setelah beres langsung urus juga asuransi kesehatan dan tunjangan anak. Kalau di Fuchu city Tokyo, bisa diurus di lantai 5. Read the rest of this entry »

 
4 Comments

Posted by on July 20, 2017 in Jepang

 

Tags: , , , , , , , ,

 
%d bloggers like this: