RSS

Tag Archives: Tokyo University of Agriculture and Technology

Mengenal IEAS TUAT

Bagi saya yang belum bisa bahasa Jepang tapi ingin belajar optimal di negeri sakura, tentunya program kelas internasional dengan bahasa pengantar bahasa Inggris menjadi incaran. Sudah banyak kampus terkemuka di Jepang yang mempunyai program kelas internasional ini. Beda universitas, beda nama dan spesifikasi, tergantung background supervisor (Sensei) yang masuk daftar staf pengajar. Tokyo University of Agriculture and Technology (TUAT) mempunyai satu departemen dan divisi riset yang khusus membawahi mahasiswa internasional yaitu International Environmental and Agricultural Science (IEAS) di bawah naungan Graduate School of Agriculture. di departemen ini semua penyampaian materi di kelas, seminar dan berbagai kegiatan dilakukan dalam bahasa Inggris.

Setiap semester IEAS hanya menerima sekitar 15-18 mahasiswa master dan 3-5 mahasiswa doktoral. Meskipun begitu, banyak juga di departemen lain yang menerapkan bahasa Inggris dalam seminar pekanan maupun kelas, baik di TUAT kampus Fuchu maupun TUAT kampus Koganei. Khusus IEAS karena mahasiswanya asingnya 70% dan mahasiswa Jepang 30%, bahasa keseharian yang digunakan adalah bahasa Inggris, di departemen lainnya masih bercampur. Kebanyakan mahasiswa asing berasal dari Asia Tenggara (Indonesia, Kamboja, Myanmar, Vietnam, Malaysia, dll), Asia Tengah biasanya dari Uzbekistan, Asia Selatan (Bangladesh), Timur tengah (Iran) dan negara Afrika (Ghana, Kenya, Zimbabwe, Kamerun, dll). Mahasiswa dari negara Eropa dan Amerika memang masih jarang yang ke kampus Jepang, kalaupun ada lebih banyak mengambil jurusan yang spesifik seperti bahasa, anime, seni dan arsitektur.

IEAS mempunyai tiga bidang studi yaitu International Environmental Rehabilitation and Conservation, International Biological Production and Resource Science, dan International Development on Rural Areas. Masing-masing bidang studi tersebut staf pengajarnya diampu oleh profesor dan asisten profesor yang mempunyai keahlian yang spesifik, bisa dilihat disini. Berbeda dengan laboratorium lainnya, di IEAS seminar progress report pekanan dilakukan per laboratorium yang diampu Sensei tersebut, atau gabungan dari dua Sensei (laboratorium). Umumnya memang satu bidang studi, misal International Development on Rural Areas menjadi satu karena risetnya berdekatan sehingga bisa saling tukar-menukar informasi dan perkembangan penelitian. Namun di IEAS kebijakannya spesifik per laboratorium. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on August 30, 2018 in Jepang

 

Tags: , , , , , , ,

Aktivitas Ramadhan di Jepang

Wallpaper di Fuchu Library (Lumiere)

Bagi kami sekeluarga, tahun ini Ramadhan ke-2 di Tokyo, Jepang. Rasanya memang bulan Ramadhan selalu spesial, bukan hanya karena sahur dan berbukanya saja, tapi bayangan mengenai aktivitas Ramadhan masa kecil yang sangat menyenangkan selalu berbekas: mulai dari TPA dan ta’jilan, sholat tarawih dan jaburan, lomba-lomba Islami, takbiran dan suasana lebarannya. Tahun ini, berbeda dari tahun kemarin, dengan usia Fatih sudah 1 tahun, tentunya akan lebih memudahkan kami untuk lebih aktif lagi mengikuti berbagai agenda Ramadhan di Tokyo dan sekitarnya. Bagaimanapun, dengan kondisi yang terbatas, kami ingin memberikan pengalaman Ramadhan berkesan bagi anak-anak.

Selama bulan Ramadhan ini, banyak agenda yang sudah disiapkan oleh Keluarga Masyarakat Islam Indonesia (KMII). Ustadz terbaik dari Indonesia yang sudah disyurokan sejak bulan-bulan sebelumnya, bergantian sepekan penuh mengisi kajian di Masjid Indonesia Tokyo (MIT). Agenda besar yaitu tablig akbar diselenggarakan setiap Ahad. Dan ada juga ikhtikaf di sepuluh hari terakhir.

KMII merupakan organisasi dakwah Islam di Jepang yang dimotori oleh masyarakat islam Indonesia yang tinggal di Jepang. Kepengurusan KMII bersifat terbuka bagi setiap masyarakat Islam Indonesia mulai dari staf KBRI, masyarakat Islam yang bekerja di Jepang, pelajar, sampai dengan Ibu rumah tangga. Banyak organisasi yang mendukung kegiatan KMII mulai dari Muhammadiyah, NU, Trainee (IPTIJ), Perawat (IPMI), Todai Muslim, Muslim Fuchu Koganei, Midori, FKMIT, KAMMI, Fahima, FGA, PMIJ, Forkita, Promia, Mudai, dll.

Dalam keseharian, tentunya aktivitas Ramadhan seperti sholat tarawih bisa saja dilakukan di MIT atau mencari lokasi yang lebih dekat dengan lokasi tinggal. Di sekitar tempat tinggal kami, Alhamdulillah ada komunitas muslim yang menyelenggarakan sholat terawih di Fuchu Library yang dikoordinir oleh Fuchu Muslim Community. Sholat terawih diselenggarakan mulai pukul 20.30 – 22.00 sebanyak 23 rakaat tanpa ceramah. Kami hanya perlu bersepeda 10 menit dari kontrakan ke Fuchu Library. Lokasinya juga sangat bersih dan nyaman.

Untuk buka bersama, komunitas muslim Indonesia disini, Muslim Fuchu Koganei juga menyelenggarakan setiap Sabtu. Dan tentunya ini menjadi ajang silaturrahim yang dikangeni teman-teman. Dan berita baiknya, per 1 Ramadhan kemarin (17 Mei 2018), kampus kami di Nokodai (TUAT) memfasilitasi multipurpose room yang bisa kami gunakan untuk sholat berjamaah. Alhamdulillah. Semoga aktivitas selama Ramadhan 1439 H ini lebih berarti dari tahun-tahun sebelumnya.

 

Hanif
Tokyo, 19 Mei 2018.

 
Leave a comment

Posted by on May 18, 2018 in Jepang, Kisah

 

Tags: , , , ,

Hikmah Silaturrahim

Seharian kemarin mendapat pengalaman menarik menemani Sensei presentasi di Tsukuba University. Tampaknya ini kelas Forestry dan bersinggungan dengan Rural Development Policy and Planning yang diampu oleh Prof. Masuda. Sensei kami dari Tokyo University of Agriculture and Technology diundang sebagai dosen tamu dan diminta presentasi tentang “Introduction of Japanese agroforestry in the Brazilian Amazon to West African Cocoa Farms (by Prof. Yamada)” dan topik kedua tentang “Challenges of Charcoal Application for Sustainable Agriculture in Southeast Asia (by Assc. Prof. Oikawa)”. Kelas yang berisi lebih dari 40 mahasiswa internasional ini berlangsung aktif. Apalagi membahas mengenai sustainable agroforestry per oasis negara.

Diskusi berlanjut di meja makan. Apalagi temen-temen dari Ghana ingin berbagi secara langsung perkembangan negaranya yang menjadi salah satu negara tujuan riset. Saat ini Cocoa yang menjadi andalan ekspor negaranya memang sedang menurun. Namun ternyata mereka telah melakukan banyak upaya untuk meningkatkan kembali produktifitasnya, salah satunya dengan grafting. Bahkan lembaga risetnya, (kalau kita ya Puslit Kakao) sudah menggandeng banyak pihak termasuk FAO untuk meningkatkan program pemberdayaan penduduk lokal. Penduduk lokal tidak mau pohon yang sudah berumur lebih dari 25 tahun itu dibongkar, alasannya karena jika dibongkar hak guna langsung hilang. Tentunya masalah sosial yang spesifik membuat berbagai program yang sukses di daerah lain harus disesuaikan keadaan setempat. Yang unik lagi ternyata komoditas kakao di Ghana tidak ditangani Kementerian Pertanian, tapi Kementerian Keuangan. Ini tantangan tersendiri di birokrasinya.

Teman-teman Tsukuba dari negara lainnya juga sharing tentang pengembangan berbagai program pemberdayaan masyarakat di negaranya. Prof. Masuda yang mengundang Sensei kami ternyata bisa berbahasa Indonesia. Lancar sebagaimana Oikawa Sensei. Wah jadi malu, hehe. Sampai sekarang saya nggak bisa Bahasa Jepang. Beliau kenal dengan beberapa dosen Kehutanan UGM yang menjadi partnernya. Tahu juga sekelumit tentang Indonesia.

Selepas makan, agenda selanjutnya adalah berkunjung ke kediaman Emeritus Prof. Shioya (general agronomist) yang kebetulan rumahnya di Tsukuba dan kali ini pimpinan departemen IEAS Fujii-sensei and Kawabata-sensei bergabung. Emeritus Prof Shioya ini sebelumnya adalah professor TUAT dan pensiun pada usia 63 dan sekarang di usia 77 tahun sekarang ini masih produktif menulis di berbagai koran lokal dan juga journal. Karya-karya yang baru saja terbit beberapa bulan ini dengan bangganya ditunjukkan ke kami. Dan seperti pesan Sensei kami sebelumnya di mobil, beliau akan dengan antusias bertanya dan menanyai kalian terutama mengenai regional development dan isu terbaru. Maka kami berempat dari Indonesia, Malaysia, Kamboja dan Ghana pun ditanyai satu persatu. Serasa giliran presentasi. Haha.

Namun dari 3 jam berbincang dengan beliau, kami tentunya lebih banyak mendengar daripada bicara. Kesempatan yang baik tentunya untuk menimba banyak ilmu. Beliau bercerita tentang tempat kelahirannya di Fukhushima dan dampak nuklir bagi pertanian sampai saat ini. Begitu juga dengan ketergantungan impor Jepang atas komoditi gandum dari AS. Sebagaimana diketahui, Jepang memang berhasil melakukan diversivikasi dari 100 sekian kg beras per kapita saat ini menjadi 60 kg per kapita. Awalnya petani senang menanam gandum, namun produktifitas 3 ton per ha tidak mampu bersaing dengan gandum AS yang 7 ton per Ha. Prof. Shioya saat itu mampu menghasilkan teknologi gandum sehingga panen mencapai 7 ton per ha namun ketika ditawarkan ke pemerintah lokal, tawarannya tidak terlalu dilirik. Ditambah kebijakan nasional yang tidak mendukung petani gandum. Jadilah saat ini ketergantungan terhadap gandum impor sangat besar. Dan masalah inipun akan melanda negara lain yang ingin diversivikasi pangan. Program berhasil namun berdampak lain yaitu matinya petani gandum lokal. Sebuah kebijakan yang diambil perlu ditimbang benar untung ruginya dalam jangka panjang, termasuk antisipasi masalah tak terduga. Sharing yang menarik.

Kopi dan teh hangat pun telah empat cangkir saya habiskan, begitu juga dengan lainnya. Soalnya begitu habis langsung diganti cangkir lainnya oleh tuan rumah. Hampir semuanya kemudian permisi ke toilet secara bergiliran, tanda untuk pamit juga. Hehe. Kalau diteruskan beliau tampaknya nggak akan berhenti bicara dalam waktu yang singkat.

Walau usia sudah 77 tahun dan ketika berjalan harus dibantu tongkat, secara fisik masih sehat dan pikirannya sangat jernih. Begitu juga dengan istrinya yang pensiunan guru TK, masih bugar. Jadi berandai-andai, bisakah kita besok kalau pensiun didatangi oleh juniornya (teman-teman kita) dan berbagi seperti ini? Tentunya bergantung dengan apa yang kita lakukan saat ini. Jika hubungan baik dengan banyak orang dijaga, kontribusi terasa nyata, siapa sih yang tidak mau terus menyambung silaturrahim? Ah, jadi ingat guru-guru dan dosenku, rasanya sudah lama nggak main juga bersama teman-teman. (hnf)

 

Tokyo, 10 November 2017

 
Leave a comment

Posted by on November 10, 2017 in Activity, Jepang

 

Tags: , , ,

 
%d bloggers like this: