RSS

Tag Archives: kbri tokyo

Image

Lika-liku Mengurus Akta Kelahiran Anak Luar Negeri di Dispendukcapil

Ketika anak ke-3 kami lahir di Tokyo, seorang teman menyarankan begitu kembali ke Indonesia, untuk segera mengurus akta kelahiran anak. Teman kami ini, usia anaknya sudah 5 tahun dan sampai sekarang anaknya tidak mempunyai akta kelahiran karena ketika mengurus di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (selanjutnya disingkat Dispendukcapil) setempat, ia ditolak dengan alasan surat keterangan lahir dari KBRI Tokyo bisa dianggap akta kelahiran, padahal surat itu hanyalah surat keterangan lahir sebagai pengantar untuk mengurus paspor di luar negeri.

Akta samakah dengan Surat Keterangan Lahir?

Menurut KBBI, akta/ak·ta/ n adalah surat tanda bukti berisi pernyataan (keterangan, pengakuan, keputusan, dan sebagainya) tentang peristiwa hukum yang dibuat menurut peraturan yang berlaku, disaksikan dan disahkan oleh pejabat resmi.

Daring KBBI

Kami tidak tahu, apakah surat keterangan lahir bisa dianggap sama kedudukannya dengan akta kelahiran. Pengalaman teman-teman yang anaknya lahir di luar negeri memang ada yang berhasil dan gagal mengurus akta kelahiran itu ketika kembali ke Indonesia. Bahkan ada yang sudah 1 tahun lebih, anak tidak bisa masuk Kartu Keluarga (KK) karena gagal mendapatkan Akta Kelahiran. Dispendukcapil tempat teman kami itu, tidak mau memasukkan nama anaknya itu ke KK, karena berpendapat bahwa yang diurus harusnya Akta Kelahiran anak dulu, baru KK. Ketika mau mengurus akta menemui jalan buntu. Padahal harusnya sebaliknya, KK dulu baru akta kelahiran dibuat. Pemahaman petugas di lapang yang ngotot dengan pendapatnya ini sangat merepotkan banyak pihak, benar-benar merugikan kita sebagai pengguna layanannya.

Read the rest of this entry »
 
Leave a comment

Posted by on January 2, 2019 in Jepang, Kisah

 

Tags: , , , , , , , , ,

Laporan Kelahiran Anak di Jepang

Pasca kelahiran anak di Jepang, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait administrasinya. Jauh hari sebelum anak ke-3 kami Fatih lahir, beberapa teman telah memberi masukan untuk segera lapor kelahiran anak ke kantor pemerintah kota setempat (shiyakusho). Batasnya 14 hari setelah melahirkan dan kemudian dilanjutkan dengan ke imigrasi Jepang untuk mendapatkan residence card (visa) sehingga secara legal sudah sah tinggal di Jepang mengikuti batas visa orang tuanya. Sedangkan laporan ke KBRI bisa dilakukan setelah laporan ke pemerintah kota setempat selesai dan residence card didapatkan.

Laporan ke Shiyakusho (maksimal H+14 kelahiran)

Karena istri melahirkan secara caesar, dokter meminta untuk istirahat 10 hari di rumah sakit. Walaupun beberapa hari setelah melahirkan sudah bisa berjalan dan merasa sehat, istirahat selama 10 hari ini memberikan kesempatan Bunda untuk pulih benar. Di Malang, saat kelahiran anak ke-2 dengan caesar, pada hari ke-3 sudah boleh pulang ke rumah. Namun ternyata untuk melakukan aktivitas sehari-hari (memasak, beres-beres rumah, dll), perut masih terasa nyeri. Ya, kita ambil sisi positifnya, pertimbangan dokter ada benarnya.

Karena 10 hari di rumah sakit, maka surat keterangan lahir dari rumah sakit dikeluarkan ketika pulang. Otomatis waktu yang tersisa tinggal 4 hari. Alhamdulillah, urusan di shiyakusho beres. Sayangnya saya lupa tidak memfotokopi surat dari rumah sakit tersebut karena ternyata surat itu tidak dikembalikan alias disimpan mereka. Jangan lupa bawa boshitecho (buku panduan ibu dan anak) dan kartu asuransi orangtua. Setelah beres langsung urus juga asuransi kesehatan dan tunjangan anak. Kalau di Fuchu city Tokyo, bisa diurus di lantai 5. Read the rest of this entry »

 
4 Comments

Posted by on July 20, 2017 in Jepang

 

Tags: , , , , , , , ,

 
%d bloggers like this: