RSS

Tag Archives: Japan

Jenguk Bayi, Membuat Kita Banyak Bersyukur

Alhamdulillah, Ramadhan terakhir kemarin di negeri sakura, kami isi dengan berbagai macam aktivitas bermanfaat. Pagi sampai sore saya di kampus, istri beraktivitas dengan teman-temannya ke pasar kota Fuchu. Sebelum malam kumpul-kumpul takbiran, mumpung cuaca cerah, agenda nengok bayi pun langsung kami eksekusi. Selama sepekan ini memang hujan terus. Di Jepang, bulan Juni memang bulannya hujan. Maka membaca puisi hujan bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono terasa sangat pas. hehe.

Jarum jam menunjuk angka 4 sore, dan kami bersepeda ke Tokyo Municipal Tama General Medical Care Center tempat di mana bayinya Rubi dan Maya dilahirkan beberapa hari yang lalu. Perjalanan sangat menyenangkan karena jalan untuk bersepeda sangat lebar, jadi cocok juga buat Fadhil yang masih perlu memperlancar gaya bersepedanya. Fadhil baru bisa bersepeda sekitar dua bulan yang lalu, pertengahan Ramadhan dengan mempersering belajar sendiri habis pulang sekolah.

Jika melahirkan normal, cukup menginap lima hari saja, jika harus dioperasi seperti kasus istri, harus menginap sampai sepuluh hari. Maka kedatangan teman dan keluarga terdekat yang mejenguk sangat berarti. Apalagi di negeri rantauan! Setidaknya, itu yang kami rasakan. Rasa kesepian yang istri rasakan saat itu sangat berkurang dengan kedatangan teman-teman yang menjenguk di rumah sakit dan mendukung penuh proses penyembuhan, dan tentunya kedatangan Fadhil Aisyah yang selalu kuajak setiap sore sekedar menyapa saat itu membuat Bundanya makin sering tersenyum. Sampai akhirnya kami punya pengalaman yang tidak akan terlupakan saat Fadhil hilang. Rasa capek, cuaca hujan selama perjalanan dan keinginan segera bertemu buah hati terkadang membuat kita hilang konsentrasi sekejap. Tantangan bagi mahasiswa adalah jadwal kesibukan kampus dan pertemuan dengan supervisor yang kadang bisa berubah sewaktu-waktu. Denga pernah mengalami memang kita akan merasa lebih berempati.

Kita foto gini di sebelah gerombolan anak SD yang sedang pulang sekolah melongo. Nih keluarga kok suka photo-photo ya? (pikirnya) apa asyiknya? 😀

Setelah bersepeda selama setengah jam, akhirnya kami sampai. Rumah sakitnya sangat bagus, lebih dekat jaraknya dari tempat tinggal kami di Fuchu daripada Inagi Hospital tempat anak ketiga kami lahir tahun lalu. Dan kesempatan ini kami gunakan pula untuk mengajak anak-anak bersilaturrahim, bersyukur pula atas berbagai kemudahan yang kami dapatkan tahun lalu ketika dengan segala keterbatasan, banyak yang menolong dan membantu. Anak-anak pun tak sabar pengin lihat dedek bayi, anaknya om Rubi dan Tante Maya. Dan ternyata di rumah sakit ini tidak seketat yang kami bayangkan. Justru lebih ketat di Inagi Hospital yang ketika anak masuk harus dicek temperatur dan diberi gelang di pergelangan tangan.

Yang menarik dari rumah sakit ini adalah adanya swalayan Lawson di lantai 1 sehingga berbagai kebutuhan bisa dibeli dengan mudah. Tempat duduk banyak tersedia dan ada juga meja makan tersendiri untuk pengunjung. Kami pun berbuka dengan membeli onigiri dan minuman ringan disini dan selepas sholat Maghrib bergegas pulang. Kalau mendatangi undangan walimah, kadang kita teringat akan peristiwa akad nikah yang dulu dilaksanakan. Nah, kalau nengok bayi, begitu juga. Mengingatkan kita akan semua memori perjuangan kala itu. Dan memang itulah salah satu fungsi silaturrahim, mempererat persaudaraan dan membuat kita banyak bersyukur dan bersyukur.

Tokyo, 17 Juni 2018
Zainuri Hanif

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on June 17, 2018 in Activity, Jepang

 

Tags: , , , ,

Lebaran ini Banyak yang Harus Kita Syukuri.


Apa yang diingat ketika lebaran? Setiap kita tentunya punya kenangan yang berbeda. Bagi kami yang paling berkesan yaitu perasaan haru, bahagia, rindu bisa berkumpul dengan keluarga besar yang jika tidak di hari lebaran, hampir mustahil bisa bertatap muka semuanya. Biasanya sehabis sholat Ied kemudian silaturrahim ke tetangga dan sanak kerabat. Bisa kumpul dengan trah keluarga besar, mengunjungi pesantren di Munthilan tempat keluarga mbah Kung, atau ke Lempuyangan tempat keluarga Mbah Ti. Sampai gara-gara ada keluarga simbah yang pelihara monyet dan kita sulit menghapal namanya, seringkali mudahnya kita sebut, “Ayo silaturrahim ke Mbah Munyuk!”.

Alhamdulillah, dua kali lebaran disini mendapatkan suasana yang ramah dari saudara seiman. Banyak hal yang patut disyukuri. Suasana terawih pun akan kami kangeni. Tidak terasa sebulan cepat berlalu. Tahun ini Fadhil mulai belajar tertib shalat terawih yang biasanya berakhir sampai jam 22.00 dan membuatnya sering tidur larut malam. Tantangannya ya  bangun pagi untuk sekolah penuh perjuangan. Semoga kelak kau ingat ya Nak dan membuatmu lebih rajin lagi ibadah.

Jamaah ikhwan. Saudara muslim se-Fuchu dan sekitarnya banyak juga yang lebih memilih sholat disini.

Kalau tahun lalu kami sholat Ied di SRIT-Masjid Indonesia Tokyo dan mendatangi KBRI Tokyo, kali ini kami memilih di dekat kontrakan, yaitu di Lumiere atau Fuchu Library yang masih di Fuchu, sebuah kabupaten di Propinsi Tokyo kalo di Indonesia. Bedanya disini kami tidak bisa leluasa silaturrahim seperti biasanya di Indonesia karena memang tidak liburan. Meskipun hanya sebentar, karena setelah sholat Ied kita tidak harus ngampus lagi dan meeting dengan supervisor. Toh begitu, Ramadhan dan lebaran kali ini lebih berarti. Penyebabnya? ya, banyak hal 😉.

Terima kasih kepada “Keluarga Sengencho” yang bermurah hati menjamu kita semua.

 

 

 
Leave a comment

Posted by on June 16, 2018 in Activity, Jepang

 

Tags: , , , ,

Seminar Tanpa Prosiding, Apa yang Kita Dapatkan?

Sederhana, tanpa banyak atribut dan tanpa kompromi dalam masalah waktu, itulah kesan yang kudapat kala mengikuti konferensi tahunan Agricultural Economics Society of Japan (AESJ). Ini adalah kedua kalinya saya mengikuti AESJ setelah tahun lalu di Chiba University, kali ini dilakukan di Hokkaido University.

Berbeda dengan konferensi dan seminar yang dilakukan di Indonesia, seminar di luar negeri umumnya bukan untuk penilaian hasil riset tapi untuk evaluasi jalannya riset. Presentasi oral dan poster yang dilakukan untuk mencari masukan sebanyak-banyaknya dari kolega. Bahkan yang terbit hanya abstrak saja, bukan makalah lengkap dalam bentuk prosiding. Sehingga beberapa teman yang masih dengan konsep ikut seminar untuk publikasi, enggan mengikuti seminar jenis ini. Dengan banyaknya masukan, diskusi lebih lanjut dapat dilakukan untuk memperbaiki tulisan yang akan dikirimkan ke jurnal.

AESJ sendiri memang dikelola secara profesional. Yang bisa mendaftar presentasi di event tahunan hanyalah anggota. Untuk menjadi anggota harus membayar iuran tahunan terlebih dahulu. Untuk makalah yang akan dipresentasikan, makalah lengkap harus sudah dikirim sejak 2 bulan sebelumnya. Setelah diumumkan makalah yang lolos, 2 pekan sebelum acara berlangsung, bahan presentasi harus sudah dikirim dalam format PDF. Sehingga tidak ada lagi cerita besoknya presentasi, malam sebelumnya masih cek ricek atau bahkan membuat bahan presentasi. Sekedar mengganti satu halaman karena update keterangan dari Sensei (supervisor) pun dilarang. Yang dikirim adalah bahan final tayang. Presenter tinggal datang, dan menunggu giliran presentasi sesuai jadwalnya.

Sebelumnya, yang bisa mengirim dan masuk jurnal AESJ hanyalah yang melakukan presentasi oral, tahun ini yang presentasi poster pun juga diperbolehkan. meskipun tidak terindex scopus, banyak yang bilang bahwa untuk terbit di jurnal asosiasi ini berat, peluangnya 10-20% saja. Jurnal yang diterbitkan ada dua, dalam bahasa Jepang dan dalam bahasa Inggris. Kadang gengsi organisasi memang membuat bobot itu berbeda. Sayangnya walau terbit di jurnal ini, penilaian di Indonesia masih dianggap selevel jurnal nasional karena reviewernya dari Jepang semua, walaupun mereka juga reviewer dari berbagai jurnal bereputasi internasional.

Saya sendiri memilih presentasi oral. Presentasi oral dipilih karena sangat pas untuk ajang latihan dan mengasah kemampuan presentasi dan juga lebih praktis dibanding poster yang harus memikirkan desain, biaya cetak dan juga sama juga, persiapan presentasinya, walau waktunya setengah dari presentasi oral.

Presentasi poster yang dikemas dengan apik justru waktu diskusi lebih banyak dan lebih akrab.

 

Lalu apa yang unik dengan pertemuan seperti AESJ ini?

Pertama, jika dibandingkan dengan seminar pada umumnya, dekorasi, cetakan buku dan kartu nama sangat biasa. Namun peneliti di bidang economic agriculture di seluruh Jepang sangat berminat untuk datang mengikuti simposium di hari pertama maupun presentasi di hari kedua. Hal ini karena semua profesor top di bidang ekonomi pertanian Jepang berkumpul disini. Asosiasi ini paling tua dan paling besar, baru kemudian disusul asosiasi lebih spesifik seperti Farm Management, Rural Development, dll yang anggotanya lebih spesifik lagi. Sayangnya memang acara utama dalam bahasa Jepang, sehingga saya perlu sering-sering bertanya teman sebelah agar paham mengenai garis besar pembicaraannya. Sedangkan presentasi oral maupun poster setengahnya dilakukan dalam bahasa Inggris.

Kedua, dengan mengikuti acara seperti ini kita menjadi tahu tema apa yang sekarang update dan sedang menarik diteliti oleh kampus lainnya. Untuk tema rural development misalnya, banyak juga ternyata mahasiswa PhD di Jepang yang menjalankan proyek di benua Afrika. Sebelumnya, di Amerika pun, tema penelitian tentang Afrika juga mendapat perhatian di pertemuan tahunan Agricultural & Applied Economics Association. Afrika dianggap memiliki potensi besar yang belum tergarap maksimal menghadapi 10 Milyar manusia di 2050. Apalagi prediksi UN, pertumbuhan terbesar populasi dunia muncul di benua ini.

Ketiga, komentar yang diberikan memang out of the box, tidak terprediksi sebelumnya dan tidak menjatuhkan. Justru yang terasa adalah memberikan saran sehingga sering setelah batas waktu presentasi habis, presenter akan mendatangi penanya (yang biasanya profesor) untuk berdiskusi lebih lanjut sambil bertukar kartu nama.

Keempat, bagi yang akan melanjutkan ke jenjang berikutnya, pertemuan seperti ini sangat layak digunakan untuk mencari tahu calon Sensei berikutnya dari apa yang dipresentasikan oleh yang bersangkutan maupun mahasiswa yang dibimbingnya (baik master maupun PhD).

Kelima, sesi poster justru mendapatkan perhatian lebih karena memang diberi waktu khusus. Ada penghargaan khusus yaitu “best presentation award.” Awalnya tim penilai akan mendatangi setiap poster dan pemilik poster diberi waktu 10 menit menjelaskan posternya, 7 menit presentasi dan 3 menit tanya jawab. Baru setelah itu, para peserta dan presenter di ruang presentasi oral yang kemarin jumlahnya 8 venue (setiap venue sekitar 10 presenter) diberi waktu khusus 1,5 jam untuk mendatangi sesi poster sebelum melanjutkan ke sesi presentasi oral berikutnya. Jika di ruang presentasi oral peserta terbagi dan berpindah-pindah, di sesi ini justru diskusi terlaksana dengan antusias.

Bersama Yamaura Sensei di depan patung Nitobe Inazō, Wakil Sekretaris Jenderal Liga Bangsa-Bangsa dari 1919 hingga 1926 dan Ia terkenal karena menulis “Bushido; Soul of Japan” (1900).

 

Adakah yang kurang dari penyelenggaraannya?

Ada. Bagi mahasiswa master dan PhD khususnya, kesempatan pertemuan tahunan ini menjadi ajang yang sangat baik untuk menambah relasi dan pengetahuan. Alangkah lebih baik jika ada study tournya yang bisa dilakukan di hari ketiga. Misal mendatangi riset unggulan di kampus yang bersangkutan maupun ke objek menarik; seperti kelompok tani maupun daerah pertanian unggulan. Sebenarnya di Hokkaido kemarin ingin tahu bagaimana masyarakat etnis Ainu misalnya menjalankan aktivitas pertaniannya setelah sebelumnya bergantung pada laut dan harus berubah menjadi petani akibat kebijakan pendudukan dari warga pulau Honshu. Sayangnya waktu sangat terbatas dan belum tahu kemana harus mencari info lebih detail.

Untuk variasi acara tampaknya penyelenggarakan berbagai seminar, konferensi dan sejenisnya di Indonesia dan negara lainnya sudah jauh lebih menarik daripada di Jepang. Disini terlalu serius, harusnya tidak melulu hanya terpaku pada aktivitas di meja dan ruangan. Seminar memang dibuat untuk saling tukar ide dan gagasan dan juga tempat refreshing. Itulah mengapa lokasinya biasanya dipilih yang populer dan menarik untuk liburan.

Kedatangan di Sapporo Hokkaido ini tentunya sangat berkesan bagi saya pribadi karena bertepatan dengan bulan Ramadhan dan bisa silaturrahim dengan muslim di Masjid Sapporo saat berbuka dan tarawih. Lebih lengkapnya di tulisan yang berikutnya ya. Insya Allah.

 

Zainuri Hanif
Tokyo, 30 Mei 2018

 
Leave a comment

Posted by on May 30, 2018 in Activity, Jepang

 

Tags: , , , , , ,

“The Path”

Cherry blossom (Koganei Park, Tokyo)

Swing across the seven skies
They say a pure heart never lies
The words you learned were never heard
It’s time to think and wonder why

The stars above will always be
A shining guide for us to see
And when I doubt, I’ll have no doubt
But still I wonder why

Digging through our pages past
Wondering how the truth will last
God’s in control is what I found
I think I’ll try this time around!

And no one really feels the path I seek, and
No one’s going to care as much as me, and
No one seems to know our history, and
Stories are told for the world to see!

And maybe I’ll find the path I seek tonight
Let it be! Only God really knows what’s right!
Maybe, I’ll find the path I seek tonight
Let it be! Only God really knows I tried!

Reaf: https://www.youtube.com/watch?v=BKhSicFDNws

Song

 
1 Comment

Posted by on April 16, 2018 in Picture

 

Tags: , , , , , , , ,

Tama Zoo

 

Setelah sempat tertunda hampir sebulan, akhirnya sekolahan Fadhil memutuskan pergi juga ke Tama Zoo, Kebun Binatang terbesar di Tokyo. Luasnya 52 ha atau 4x lipat Ueno Zoo yang terkenal dengan koleksi pandannya itu. Kalau dibandingkan, Tama Zoo lebih mirip gembiraloka kebun binatang di Yogyakarta. Saking luasnya, ada areal yang belum dimanfaatkan untuk koleksi satwa.

Harus ada di lokasi jam 9.00 membuat kami lumayan gedubrakan di paginya. Apalagi kepastian saya ikut baru jam 7.00 pagi setelah memberanikan diri email izin ke Sensei untuk tidak mengikuti seminar pekanan. Untunglah diijinkan. Lega rasanya pergi dengan hati riang gembira. Sampai lokasi ternyata tidak sendirian, Keluarga pak Alim juga hadir lengkap. Namun, orang Jepang sendiri (orang tua temannya Fadhil) banyak yang hanya berangkat sendiri. Kalau kami ya memanfaatkan momentum. Kapan lagi bisa kesini bareng-bareng. Hehe.

Setiap bulan selalu ada program keluar, entah itu ke museum, taman maupun tempat wisata seperti kebun binatang ini. Anak-anak diajak berjalan dan mengenal hewan selama 3 jam, atau dari jam 9-12. Isitrahat makan bekal sekitar satu jam. Selepas itu acara ditutup dan bebas. Orang tua dipersilahkan menemani anak-anaknya berkeliling di lokasi favorit.

Sebenarnya pengin segera pulang, pikiran sudah ke tugas yang menumpuk. Namun saat anak-anak beli minuman, tidak sengaja melihat peta Tama Zoo. Lha kok ada insectarium yang hanya 200 meter saja dari lokasi kami berdiri di depan gerbang pintu keluar. Ya kita sempatkan saja menengok. Ternyata memang lokasi ini asyik, banyak kupu-kupu berterbangan.

Secara umum, kebun binatang ini sama dengan kebun binatang yang ada di Indonesia. Yang membedakan hanya disini banyak lokasi tempat duduk untuk makan bekal. Kalau tidak sehari penuh berasa rugi. Kami pun tanpa terasa menghabiskan waktu sampai Kebun Binatang ini tutup yaitu jam 16.30 (Bulan Nopember).

Tokyo, 18 November 2017

 

 
Leave a comment

Posted by on November 18, 2017 in umum

 

Tags: , , ,

National Astronomical Observatory of Japan

Sejak kecil, saya senang akan benda astronomi. Apalagi ketika langit cerah dan nampak berbagai rasi bintang. Walau yang kupaham hanya rasi bintang layang-layang di sebelah selatan. Tidak tahu kenapa membayangkan luar angkasa itu selalu asyik, daya imainasinya berkembang kemana-mana. Apalagi ditambah tayangan film Saint Saiya dengan karakter utamanya Pegasus Seiya, Athena, Dragon Shiryu, Phoenix, Hyoga dan Andromeda, dst. Film Saint Saiya ini dulu selalu dinanti tayangnya selain Ksatria Baja Hitam. Dengan Film Saint Saiya itu, wawasan tentang zodiac dan cerita mitos Yunani mudah dipahami.

Untuk tahu lebih banyak astronomi akhirnya hanya menggantungkan tayangan televisi yang entah tayang kapan, koran yang juga tidak rutin beli dan buku-buku luar angkasa di sekolah. Selain itu tidak ada fasilitas memadai. Museum di Yogyakarta saat itu tentang astronomi juga tidak seperti sekarang ini, dimana ada taman pintar dan berbagai museum menarik lainnya. Kalau mau tahu benar ya harus ke Bosscha Lembang. Jauhhh! Pengetahuan tentang bintang dan luar angkasa memang bisa kita dapatkan lengkap di tempat ini. Bagaimana dengan tempat lainnya, bisa jadi sekarang sudah banyak, perlu dilacak lagi nih…

NAOJ: National Astronomical Observatory of Japan

Kali ini saya ingin sedikit mengupas observatory di Jepang yang beberapa hari lalu sempat kami kunjungi. Lokasinya kebetulan tidak begitu jauh dari tempat tinggal, jadi bisa dijangkau dengan sepeda. Awalnya sih iseng-iseng, cari tempat wisata dekat yang terjangkau dengan sepeda dan menarik. Dan beruntung, banyak sekali lokasi menarik disini. Setidaknya ada 2 lokasi untuk yang berhubungan dengan observatorium dan astronomi yaitu di Kyodonomori Museum dan di NAOJ ini. Langsung saja lokasi ini menjadi tujuan akhir pekan. Setelah tertunda beberapa bulan, akhirnya berkesempatan kesini. Walau estimasi bisa ditempuh hanya 30 menit, namun kami menempuh selama 1 jam, maklum mampir-mampir beli onigiri.

Mengapa ke NAOJ?

Pertama, NAOJ adalah lembaga penelitian berkelas dunia. Markas NAOJ terletak di Mitaka Campus di Mitaka, Tokyo. Sebagai lembaga penelitian yang terbuka untuk umum, NAOJ menjadi tuan rumah acara reguler dan open house tahunan sebagai bagian dari promosi penelitian astronomi Jepang. Sayang jika kesempatan untuk mengenalnya dilewatkan, tentunya menjadi pengalaman berharga juga buat anak-anak. Kedua, terjangkau lokasinya. Bahkan pemberhentian bus tepat berada di depan gerbang lokasi ini. Ketiga, Free alias masuk areal ini tidak dipungut biaya. Kita hanya perlu lapor ke petugas di pintu masuk untuk mendapatkan sticker pengunjung. Ketiga, suasananya sejuk dan menyegarkan, juga ramah anak. Walau perlu diperhatikan ada areal yang boleh dan tidak boleh dikunjungi. Hal ini karena lokasi ini sebenarnya masih aktif digunakan untuk kampus dan riset. Dan keempat, dokumentasinya sangat bagus. Lokasi paling favorit yaitu Observatory History Museum yang lantai 2-nya terdapat teropong raksasa dan lanta 1-nya banyak foto menarik aset NAOJ di seluruh dunia.

Pada era perang Jepang – Rusia selama tahun 1904 (era Meiji 37) sampai tahun 1905 (era Meiji 38), kondisi Jepang saat itu tidak memungkinkan untuk melakukan relokasi Observatorium Astronomi Tokyo. Jepang menanggung biaya perang yang besar. Upaya untuk memindahkan Observatorium Astronomi Tokyo ke Mitaka dimulai lagi dari tahun 1914 (era Taisho 3), namun kemajuannya sangat lambat. Pada tanggal 1 September 1923 (era Taisho 12), Observatorium Astronomi Tokyo di Azabu-iigura mengalami bencana besar akibat Gempa Besar Kanto. Beruntung, beberapa instrumen pengamatan seperti transit Repsold pun mampu lolos dari kerusakan. Momentum ini digunakan untuk menggalakkan kembali relokasi ke Mitaka Tokyo Astronomical Observatory.

Kubah Teleskop 65 cm (Observatory History Museum), bangunan yang paling lengkap yang bisa kami kunjungi dan memuat banyak informasi perkembangan penelitian astromoni di Jepang dirancang oleh Departemen Fasilitas Universitas Kekaisaran Tokyo dan dibangun oleh Yoshihei Nakamura pada tahun 1926. Telescope refractor yang dipakai berukuran 65 cm dibuat oleh Carl Zeiss di Jerman dan memiliki aperture terbesar di antara teleskop refraktor di Jepang. Setelah selesai pada tahun 1929, digunakan untuk berbagai pengamatan sebagai teleskop aperture terbesar sampai reflektor teleskop 188 cm di Observatorium Astrofisika Okayama dibangun pada tahun 1960. Pada tahun 1998 teleskop ini dipensiunkan, namun dengan bagian yang masih lengkap sebetulnya masih bisa digunakan lagi sewaktu-waktu.

Hambatan terbesar untuk menikmati tempat ini yaitu kendala bahasa. Hampir semua staf hanya bisa berbahasa Jepang saja. Dianjurkan memang mengajak teman yang bisa berbahasa Jepang agar semua ilmu bisa terserap. Satu-satunya yang mempermudah kami ketika berkunjung ke tempat ini karena telah membuka dulu website sebelumnya. Leaflet juga lumayan membantu dan bisa kita minta yang berbahasa Inggris. Ketika mengunjungi Solar Tower Telescope yang dikenal sebagai “Einstein Tower” karena struktur bangunan yang sama seperti Observatorium Astrofisika Potsdam di pinggiran kota Berlin, kami merasa salut akan dedikasi para petugasnya. Walau tahu dan sudah kami beritahu bahwa penguasaan bahasa Jepang kami terbatas, mereka tetap saja dengan antusias menjelaskan detail fungsi dari Eisntein Tower ini dan bagaimana kinerjanya. Akhirnya kami memang mengerti karena mereka mempraktekkan cara kerja alat itu dan menunjukkan hasil pembiasan warna seperti warna pelangi. Setidaknya ada lima tingkat tangga dengan tingkat kecureman tinggi untuk mencapai puncak teleskop.

Melihat lokasi lainnya yang sangat menarik, ingin rasanya mengunjungi observatory di tempat lainnya. Namun membayangkan bagaimana berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun bertugas di tempat terpencil untuk pengamatan ini tentunya hanya orang-orang dengan mental dan hoby tinggi yang bisa melakukannya. Mereka bertugas untuk kemajuan ilmu pengetahuan. Kita bisa menikmati hasilnya baik secara langsung maupun tidak langsung.

Tokyo, 17 November 2017

 

 
Leave a comment

Posted by on November 17, 2017 in Activity, Jepang, Perjalanan

 

Tags: , , , , ,

Surga Bunga di Jindai Botanical Garden

Horee…akhirnya bisa jalan-jalan ke taman lagi. Sudah sebulan lebih sejak lahiran kemarin, kami memang sudah berencana mengunjungi taman-taman sekitar tempat tinggal. Ya anggap aja ini liburan mudik, hehe. Walau cuaca panas dan gerah karena jarangnya angin bertiup, aktivitas luar ruangan seperti ini perlu untuk anak-anak dan tentunya kami juga.

Tempat liburan kesukaanku lebih ke alam, maka kali ini kami putuskan main ke taman bunga. Sudah lama pengin ke lokasi ini. Dengan naik bus dan kereta dan sedikit jalan kaki tentunya, akhirnya sampai juga ke “Jindai Botanical Garden”, lokasinya masih di Tokyo, tepatnya di Chofu, kalau dengan kereta semi express arah Shinjuku cukup 1 stasiun saja dari Fuchu, kota kami tinggal. Biaya masuknya 500 yen per orang. Kami datang berlima, namun hanya dihitung berdua, anak-anak free.

Ada dua taman yang seperti ini yang sudah kukunjungi dan semuanya menarik yaitu Kyoto Botanical Garden dan Shinjuku Park. Semuanya memiliki koleksi tanaman tropis dalam rumah kaca yang luar biasa besar. Selain koleksinya cukup lengkap, terawat dengan sangat baik. Jindai Botanical Garden luasnya 42 hektar yang terbagi menjadi 30 blok berdasarkan spesies tanaman. Terdapat 100.000 pohon dan semak yang terdiri dari 4500 spesies. Taman mawarnya terbesar di Tokyo dan terkenal juga dengan pohon plum dan cherry yang mekar di musim semi. Nah, kalau datang di bulan apapun pasti ada kok bunga yang mekar, karena ada kalender bunganya. Jadi jangan khawatir ga ada objek menarik.

Namun bunga unggulan yaitu mawar hanya mekar di bulan Mei – Juli, puncaknya pada 9-31 Mei. Bunga di Greenhouse yaitu orchid, tuberous begonia dan water lily bisa dijumpai hampir sepanjang tahun. Di musim panas ini, lokasi greenhouse menjadi tempat favorit kami karena sangat sejuk. Lumayan bisa ngadem. Fadhil yang awalnya uring-uringan karena kepanasan dan minta plosotan akhirnya sumringah juga. Layaknya menemukan “harta karun”, ia sangat enjoy di area ini. Ternyata di luar ia gerah, kepanasan. Areal seperti ini di Indonesia bisa ditemui di Kebun LIPI yang ada di Bogor, Bali dan Purwodadi. Yang terakhir ini sebenarnya dekat Malang, moga kelak bisa mengunjungi dan menikmati keindahannya. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on July 8, 2017 in Jepang, Perjalanan

 

Tags: , , , , ,

Fuchunomori Park (Tokyo)

Pertama kali melewati taman Fuchunomori ini dari sisi selatan sudah takjub. Waow, taman ini lengkap fasilitasnya. Fuchunomori Seni Teater bangunannya indah dan sekitarnya hijau. Jika berjalan ke utara, maka akan nampak berbagai fasilitas seperti area olahraga, joging, baseball, tenis, sepak bola, taman bermain,area barbeque, area terbuka dan ada pula Museum Seni Fuchu. Detail ada disini.

Taman ini awalnya merupakan bekas pangkalan militer AS setelah perang dunia kedua. Daerah sekitarnya memang terdapat bekas pangkalan udara dan saat ini beberapa pesawat jet dipajang di dekat gerbang bekas pangkalan di sisi kanan taman ini. Mengingat kebutuhan akan perbaikan lingkungan warga, maka bekas pangkalan ini dikembangkan menjadi taman, fasilitas olahraga, dan pusat evakuasi ketika terjadi bencana.

Sepanjang 300 meter, di taman terdapat pohon sakura yang tentunya akan indah saat awal musim semi. Di sekitar Fuchunomori park juga terdapat 8 patung seniman terkemuka. Salah satunya adalah patung Anne & Michele yang sama Fasya dikira mbak-mbak sedang ngobrol karena keduanya berambut panjang. Japanese Garden tampaknya menarik, namun biasanya bagus saat musim gugur dan musim semi. Kami pun belum terlalu mengeksplor Japanese Garden ini.

Pada saat kami ke sini bersama anak-anak, yaitu di akhir musim gugur, yang nampak adalah pohon kering. Pun begitu, taman ini tetaplah indah. Taman bermain dan hamparan rumput menjadi area menarik untuk bermain. Saat wekdays, taman ini pun sering dipakai rombongan anak-anak TK bermain. Jangan sampai lupa membawa cemilan dan bento ketika main disini. Waktu 4 jam pun bagi anak-anak terasa begitu cepat.

Pada saat akhir pekan, taman ini lebih ramai. Ada yang bermain layang-layang, lempar bola, bulu tangkis dan berlatih sepak bola. Fadhil dan Aisyah lebih memilih bermain di playground anak dan bermain gelembung. Karena musim gugur, air yang mengalir hanyalah di air mancur dan air terjun pojok perempatan.

Tokyo, 25 Maret 2017

 
Leave a comment

Posted by on March 25, 2017 in Activity, Jepang

 

Tags: , , , , , ,

Koganei Park (Tokyo)

Akhir pekan adalah waktu yang cocok buat refreshing sekeluarga. Setelah “ndekem” di ruangan selama 1 pekan tentunya anak-anak merasa bosan dan ingin refreshing. Nah. tempat termurah dan nyaman untuk melewatkan waktu bersama disini yaitu di taman yang banyak tersedia di Tokyo. Kali ini kami mengunjungi Koganei Park. Taman ini letaknya di utara Stasiun Musashi atau Higashi Koganei, sekitar 30 menit dari lokasi kontrakan kami menggunakan bus.

Koganei Park ini luasnya 79 hektar atau 1,5 kali luas Ueno Park. Taman ini lengkap fasilitasnya. Selain hamparan rumput, terdapat pula playground anak-anak, areal sepatu roda dan skiteboard, lapangan baseball, lapangan anjing, areal seluncur, gedung panahan, lapangan tenis, area barbeque, area sepeda, dll.

Lokasi yang paling disukai Fadhil dan Aisyah yaitu playground, dimana terdapat perosotan aneka macam, termasuk yang besar yang bisa digunakan pula oleh orang tua. Sayangnya ketika kemarin kami kesana, debunya sangat mengganggu. Area ini tampaknya menjadi favorit banyak keluarga, apalagi akhir pekan, peminatnya sangat banyak.

Taman ini memang sangat komplit, ada fasilitas meluncur dari rumput sintetis, sayangnya kami tidak mempunyai alat seluncur itu sehingga anak-anak pun hanya bisa melongo dan beberapa kali merengek minta untuk meluncur. “Kapan-kapan ya Nak, kalau sudah punya papan seluncurnya kita main bareng-bareng.” Untungnya dari atas nampak gundukan putih, dimana antriannya lumayan panjang. Kayaknya menarik tuh. Anak-anak pun bisa jot-jotan di arena itu.

Ketika kami mendekat, ternyata dibatasi setiap anak maksimal 10 menit. Alas kaki termasuk kaos kaki harus dilepas agar anak tidak tergelincir. Petugas pun menghitung banyaknya anak yang masuk, kurang lebih 30-50 anak. Memang sih kalau tidak dibatasi permainan ini menjadi tidak nyaman dan anak-anak pun akan saling bertabrakan.

Taman yang terbuka dan gratis seperti ini sangat bagus untuk tempat refreshing. Tidak perlu jauh-jauh memang, Setiap kota biasanya punya 1 taman besar dan banyak lagi taman ukuran sedang. Karena kali ini hanya survei, ke depan akan berkunjung lagi sejak pagi tentunya. Sasaran yang dituju adalah playground anak.

This slideshow requires JavaScript.

 
Leave a comment

Posted by on March 25, 2017 in Activity, Jepang

 

Tags: , , , , , , ,

Nobel Prize Dialogue Tokyo 2017

noble-prize-dialogue-tokyo-2017-zainurihanifAhad, 26 Februari 2017 bersama rombongan teman-teman PPI Nokodai kami mengikuti acara Nobel Prize Dialogue Tokyo 2017 di Tokyo International Forum. Acara ini adalah event yang diselenggarakan oleh Japan Society for the Promotion of Science (JSPS). Acara ini diadakan untuk menyebar pengetahuan tentang prestasi nobel dan merangsang minat dalam ilmu pengetahuan, sastra dan perdamaian. Tema yang diambil pun sangat menarik, yaitu “The Future of Intelligence.” Dialog kali ini mengeksplorasi topik dari lima pemenang nobel dan para ahli terkenal dunia.

Acara ini free, kami hanya perlu untuk registrasi 2 bulan sebelumnya dan saat hari-H menunjukkan print out lembar registrasi. Tepat pukul 08.00 JST registrasi dibuka dan antrian yang mengular pun segera berpindah dari meja registrasi di B1F Lobby Galery ke lantai atas B7. Ternyata banyak juga teman-teman Indonesia yang datang di acara ini, wajahnya tidak asing, apalagi kalau sudah terdengar bicara bahasa Indonesia. Beberapa bahkan dari luar Tokyo seperti Kyoto.

Hidup di kota besar seperti Tokyo tentunya tidak menjadi pilihan sebagian mahasiswa. Alasan utamanya biasanya karena padatnya penduduk (yang implikasinya ke ruwetnya jalur kereta, dst) dan juga biaya hidup yang mahal. Namun, sebagian yang lain justru memilih hidup di kota besar karena mudahnya berbagai akses fasilitas seperti makanan halal dan juga berbagai event internasional seperti seminar, pameran maupun event sebagaimana noble prize dialogue kali ini.

Bagi teman-teman yang belum berkesempatan hadir bisa mengaksesnya melalui Youtube https://www.youtube.com/user/NobelWeekDialogue. Acara ini diselenggarakan 2 tahun sekali dan tahun sebelumnya bisa juga diakses di link tersebut.

Kesan saya ikut dalam acara ini yaitu panitia terlihat sangat profesional, semua jadwal berlangsung dengan tepat waktu dan fasilitas peserta sangat memadai. Video streaming juga berkualitas sangat bagus. Peserta juga diberikan alat translater yang bisa dipakai 2 bahasa, bahasa Jepang dan Inggris. Yang perlu ditambahkan yaitu peta toilet di setiap lantai karena ketika masa rehat, antrian di toilet dekat acara sangat panjang. Peta yang terpampang di booklet hanya di sekitar lokasi acara saja. Kalo dari penyelenggaraan kuberi bintang 5 dari 5.

Acara seperti ini sangat menarik, karena sebagai peneliti kita tidak hanya didorong untuk mendalami keilmuwan kita, namun perlu untuk mempelajari bidang lainnya. Terkadang ide dan inspirasi didapat dari mempelajari bidang yang tidak berhubungan sama sekali dengan keilmuwan yang selama ini kita tekuni. Dan ketika menyimak ide-ide panelis, mereka sangat visioner. Melakukan sesuatu hal yang di luar nalar. Seperti bagaimana mengukur gelombang gravitasi dengan membandingkan pengukuran dengan membangun stasiun riset di gurun dan membandingkan dengan partikel atom yang diperbesar sampai jutaan kali.

Semoga ke depan bisa mengikuti acara serupa. Begitu juga dengan teman-teman. Insya Allah banyak manfaatnya.

photo; dokumen pribadi dan FB @nobleprize

Tokyo, 27 Februari 2017

 

 
Leave a comment

Posted by on February 27, 2017 in Activity, Jepang

 

Tags: , , ,

 
%d bloggers like this: