RSS

Category Archives: Puisi

Sajak Seorang Tua untuk Istrinya

roti cinta buatan istriku

Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kau kenangkan encokmu
kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang
Dan juga masa depan kita
yang hampir rampung
dan dengan lega akan kita lunaskan.

Kita tidaklah sendiri
dan terasing dengan nasib kita
Karena soalnya adalah hukum sejarah kehidupan.
Suka duka kita bukanlah istimewa
kerna setiap orang mengalaminya.

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
Hidup adalah untuk mengolah hidup
bekerja membalik tanah
memasuki rahasia langit dan samodra,
serta mencipta dan mengukir dunia.

…..

WS. Rendra, Sajak-sajak sepatu tua, 1972

 
1 Comment

Posted by on April 17, 2012 in Puisi

 

Tujuh Teguran – Kahlil Gibran

Oleh Kahlil Gibran

Kutegur jiwaku tujuh kali!

Kali pertama: ketika aku mencoba lebih unggul
dengan tak adil memanfaatkan orang yang lemah

Kali kedua: ketika aku berpura-pura pincang
di depan mereka yang lumpuh

Kali ketiga: ketika diberi pilihan,
aku memilih yang mudah bukan yang sukar

Kali keempat: ketika aku membuat satu kesalahan
kuhibur diriku dengan kesalahan-kesalahan orang lain

Kali kelima: ketika aku lemah karena takut
lalu mengaku diriku tabah dan sabar

Kali keenam: ketika aku mengenakan pakaian pelindung
untuk menghindarkan lumpur Kehidupan

Kali ketujuh: saat aku tegak bernyanyi memuji Tuhan
dan menganggap bernyanyi itu adalah satu kebajikan

__

Diterjemahkan oleh Arman Duval dari ‘Mirrors of The Soul’ (Castle Books)

 
Leave a comment

Posted by on October 23, 2011 in Puisi

 

Tags: ,

Aku Mencintaimu

Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

— Sapardi Djoko Damono (Hujan Bulan Juni)

 
Leave a comment

Posted by on July 12, 2011 in Puisi, Renungan

 

Tags:

Kerendahan Hati-Taufiq Ismail

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,
yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang
memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten
tentu harus ada awak kapalnya….
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi
rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu….
Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri..

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on April 13, 2011 in Puisi, Renungan

 

Tags: , ,

Back to Masjid

Masjid-masjid itu telah lama sepi. Mahasiswa islam heroik memakmurkan kampus dan jalanan. Namun di masjid, mereka seakan orang asing yang tidak kenal dan dikenali saudaranya. Eksekutif muda memenuhi relung-relung dunia. Mereka memilih hotel-hotel berbintang atau rumah megah, atau villa mewah sebagai habitat, bahkan saat beribadah atau mengkaji Islam.

Masjid-masjid itu telah lama sepi. Menjamurnya sekian partai-partai Islam tidak menyentuh kehidupannya. Para kader dakwah tersedot sidang-sidang rekayasa sosial politik. Majelis-majelis dzikir dan ilmu kian jauh tertinggalkan. Tersisa hanya beberapa bapak tua yang setia menghitung hari hidupnya.

Masjid-masjid itu telah lama sepi. Syiar Islam berpindah ke sekretariat-sekretariat, mal-mal, dan cafe-cafe. Mesjid seolah sekedar tempat berteduh, tidur, dan mandi, para musafir. Ia menjadi kuno dan dibiarkan berwajah suram, kuyu dan terlantar.

Masjid-masjid itu telah lama sepi. Laksana tubuh, jantung masyarakat kian kritis. Dan –naudzubillah-gema adzan semakin berangsur sunyi…

Al Izzah

 
Leave a comment

Posted by on April 8, 2011 in Puisi, Renungan

 

Tags: , ,

Jangan-Jangan Aku Juga Maling

Semakin lama, kita semakin gerah dengan kondisi kita yang ruwet,  penegakan hukum yang amburadul. Dan berbagai intrik para birokrat dan pemimpin negeri ini. Lalu kepada siapa kita menambatkan harapan? Setidaknya puisi Taufiq Ismail yang sangat kritis kita ini memberikan kita sebuah renungan dan pengingat agar kita tidak menjadi bagian masalah tanpa kita sadari….

***

Jangan-Jangan Aku Juga Maling

Oleh Taufiq Ismail

Kita hampir paripurna menjadi bangsa porak-poranda, terbungkuk dibebani hutang dan merayap melata sengsara di dunia. Penganggur 40 juta orang, anak-anak tak bisa bersekolah 11 juta murid, pecandu narkoba 6 juta anak muda, pengungsi perang saudara 1 juta orang, VCD koitus beredar 20 juta keping, kriminalitas merebat di setiap tikungan jalan dan beban hutang di bahu 1600 trilyun rupiahnya.

Pergelangan tangan dan kaki Indonesia diborgol di ruang tamu Kantor Pegadaian Jagat Raya, dan di punggung kita dicap sablon besar-besar Tahanan IMF dan Penunggak Bank Dunia. Kita sudah jadi bangsa kuli dan babu, menjual tenaga dengan upah paling murah sejagat raya. Ketika TKW-TKI itu pergi lihatlah mereka bersukacita antri penuh harapan dan angan-angan di pelabuhan dan bandara, ketika pulang lihat mereka berdukacita karena majikan mungkir tidak membayar gaji, banyak yang disiksa malah diperkosa dan pada jam pertama mendarat di negeri sendiri diperas pula.

Negeri kita tidak merdeka lagi, kita sudah jadi negeri jajahan kembali. Selamat datang dalam zaman kolonialisme baru, saudaraku. Dulu penjajah kita satu negara, kini penjajah multi-kolonialis banyak bangsa. Mereka berdasi sutra, ramah-tamah luarbiasa dan banyak senyumnya. Makin banyak kita meminjam uang, makin gembira karena leher kita makin mudah dipatahkannya.

Di negeri kita ini, prospek industri bagus sekali. Berbagai format perindustrian, sangat menjanjikan, begitu laporan penelitian. Nomor satu paling wahid, sangat tinggi dalam evaluasi, dari depannya penuh janji, adalah industri korupsi. Apalagi di negeri kita lama sudah tidak jelas batas halal dan haram, ibarat membentang benang hitam di hutan kelam jam satu malam. Bergerak ke kiri ketabrak copet, bergerak ke kanan kesenggol jambret, jalan di depan dikuasai maling, jalan di belakang penuh tukang peras, yang di atas tukang tindas. Untuk bisa bertahan berakal waras saja di Indonesia, sudah untung.

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on January 19, 2011 in Puisi

 

Tags: , , ,

Harapan Kepada Pemuda


Aku harapkan pemuda inilah yang akan sanggup
membangunkan zaman yang baru
memperbaru kekuatan iman
menjalankan pelita hidayat
menyebarkan ajaran khatamul-anbiya’
menancapkan di tengah medan pokok ajaran Ibrahim
Api ini akan hidup kembali dan membakar
jangan mengeluh jua , hai orang yang mengadu
Jangan putus asa , melihat lengang kebunmu
Cahaya pagi telah terhampar bersih
Dan kembang-kembang telah menyebar harum narwastu

Khilafatul-Ard akan diserahkan kembali ke tanganmu
Bersedialah dari sekarang
Tegaklah untuk menetapkan engkau ada
Denganmulah Nur Tauhid akan disempurnakan kembali
Engkaulah minyak atar itu , meskipun masih tersimpan dalam
kuntum yang akan mekar

Tegaklah, dan pikullah amanat ini atas pundakmu
Hembuslah panas nafasmu di atas kebun ini
Agar harum-harum narwastu meliputi segala
Dan janganlah dipilih hidup ini bagai nyanyian ombak
hanya berbunyi ketika terhempas di pantai
Tetapi jadilah kamu air-bah , mengubah dunia dengan amalmu

Kipaskan sayap mu di seluruh ufuk
Sinarilah zaman dengan nur imanmu
Kirimkan cahaya dengan kuat yakinmu
Patrikan segala dengan nama Muhammad

{Puisinya  Mohammad Iqbal yang diterjemahkan secara bebas oleh M.Natsir}

sumber


 
Leave a comment

Posted by on November 5, 2010 in Puisi

 

Tags: , ,

Di Basrah

Oleh: Mustofa Bisri

irak basrahUntuk ali jabbar dan usman awam

Inilah basrah…
tanah batu putih..
tak pernah berhenti memerah..
tak pernah lelah dijarah sejarah..

Inilah basrah…
pejuang badar bernama utbah
membangun kota ini atas perintah umar al faruq sang khalifah
Entah mantra apa yg dibaca ketika meletakkan batu pertama
Sehingga kemudian setiap jengkal tanahnya..
Tak henti-hentinya merekam nuansa seribu satu cerita

Basrah yg marah.. basrah yg merah..
basrah yg ramah.. basrah yg pasrah..
Read the rest of this entry »

 
2 Comments

Posted by on August 27, 2010 in Puisi

 

Tags: , ,

Sepucuk Surat BJ Habibie untuk Istri

Surat Bj Habibie..(dedicated to semua pasangan diseluruh dunia_cobalah untuk setia)

sebenarnya ini bukan tentang kematianmu..
bukan itu…

karena aku tau bahwa semua yang ada..
pasti menjadi tiada pada akhirnya…
DAN KEMATIAN ADALAH SESUATU YANG PASTI..
dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi…
aku sangat tahu itu..

tapi yang membuat aku tersentak sedemikian hebat
adalah kenyataan bahwa
KEMATIAN BENAR_BENAR DAPAT MEMUTUSKAN KEBAHGIAAN DALAM DIRI SESEORANG
sekejap saja
lalu rasanya mampu membuatku nelangsa setengah mati…
hatiku seperti tak ditempatnya
dan tubuhku serasa kosong melompong…
hilang isi

kau tau sayang…
rasanya seperti angin yang tibatiba hilang berganti kemarau
gersang…

pada airmata yang jatuh kali ini,,
aku selipkan salam perpisahan panjang..

pada kesetiaan yang telah kau ukir…
pada kenangan pahit manis selama kau ada..
aku bukan hendak mengeluh,,
tapi rasanya terlalu sebentar kau disini

mereka mengira akulah kekasih yang baik bagimu sayang..
tanpa mereka sadari,
bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik..
mana mungkin aku setia..
padahal memang kecenderunganku adalah mendua…
tapi kau ajarkan aku kesetiaan..
sehingga aku setia,,
kau ajarkan aku arti cinta,,
sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini

selamat jalan,,
kau dari-NYA..
dan akan kembali kepada-NYa
kau dulu tiada untukku,
dan sekarang kembali tiada..

selamat jalan sayang…
cahaya mataku,,,
penyejuk jiwaku..

selamat jalan..
calon bidadari surgaku..



 
3 Comments

Posted by on June 8, 2010 in Puisi

 

Tags: ,

Pikiranmu, Pikiranku

pikiran dan waktu

Pikiranmu adalah sebatang pohon yang mengakar di tanah tradisi dan cabangnya tumbuh dalam kekuatan tanpa henti.

Pikiranku adalah awan yang berarak di angkasa. Ia mengubah diri menjadi butir-butir yang ketika jatuh, membentuk sungai yang melantunkan jalan ke samudra. Kemudian ia naik lagi ke langit menjadi uap.

Pikiranmu adalah batang pohon yang kokoh, tiada badai dan topan mampu menggoyahkan.

Pikiranku adalah dedaunan gemulai, yang mengayun ke segala arah dan menemukan kegembiraan dalam setiap ayunan.

Pikiranmu adalah dogma kuno yang tak mampu mengubahmu dan engkau pun tak mampu mengubahnya.
Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by on April 21, 2010 in Puisi

 

Tags: , ,

 
%d bloggers like this: