RSS

Category Archives: Perjalanan

National Astronomical Observatory of Japan

Sejak kecil, saya senang akan benda astronomi. Apalagi ketika langit cerah dan nampak berbagai rasi bintang. Walau yang kupaham hanya rasi bintang layang-layang di sebelah selatan. Tidak tahu kenapa membayangkan luar angkasa itu selalu asyik, daya imainasinya berkembang kemana-mana. Apalagi ditambah tayangan film Saint Saiya dengan karakter utamanya Pegasus Seiya, Athena, Dragon Shiryu, Phoenix, Hyoga dan Andromeda, dst. Film Saint Saiya ini dulu selalu dinanti tayangnya selain Ksatria Baja Hitam. Dengan Film Saint Saiya itu, wawasan tentang zodiac dan cerita mitos Yunani mudah dipahami.

Untuk tahu lebih banyak astronomi akhirnya hanya menggantungkan tayangan televisi yang entah tayang kapan, koran yang juga tidak rutin beli dan buku-buku luar angkasa di sekolah. Selain itu tidak ada fasilitas memadai. Museum di Yogyakarta saat itu tentang astronomi juga tidak seperti sekarang ini, dimana ada taman pintar dan berbagai museum menarik lainnya. Kalau mau tahu benar ya harus ke Bosscha Lembang. Jauhhh! Pengetahuan tentang bintang dan luar angkasa memang bisa kita dapatkan lengkap di tempat ini. Bagaimana dengan tempat lainnya, bisa jadi sekarang sudah banyak, perlu dilacak lagi nih…

NAOJ: National Astronomical Observatory of Japan

Kali ini saya ingin sedikit mengupas observatory di Jepang yang beberapa hari lalu sempat kami kunjungi. Lokasinya kebetulan tidak begitu jauh dari tempat tinggal, jadi bisa dijangkau dengan sepeda. Awalnya sih iseng-iseng, cari tempat wisata dekat yang terjangkau dengan sepeda dan menarik. Dan beruntung, banyak sekali lokasi menarik disini. Setidaknya ada 2 lokasi untuk yang berhubungan dengan observatorium dan astronomi yaitu di Kyodonomori Museum dan di NAOJ ini. Langsung saja lokasi ini menjadi tujuan akhir pekan. Setelah tertunda beberapa bulan, akhirnya berkesempatan kesini. Walau estimasi bisa ditempuh hanya 30 menit, namun kami menempuh selama 1 jam, maklum mampir-mampir beli onigiri.

Mengapa ke NAOJ?

Pertama, NAOJ adalah lembaga penelitian berkelas dunia. Markas NAOJ terletak di Mitaka Campus di Mitaka, Tokyo. Sebagai lembaga penelitian yang terbuka untuk umum, NAOJ menjadi tuan rumah acara reguler dan open house tahunan sebagai bagian dari promosi penelitian astronomi Jepang. Sayang jika kesempatan untuk mengenalnya dilewatkan, tentunya menjadi pengalaman berharga juga buat anak-anak. Kedua, terjangkau lokasinya. Bahkan pemberhentian bus tepat berada di depan gerbang lokasi ini. Ketiga, Free alias masuk areal ini tidak dipungut biaya. Kita hanya perlu lapor ke petugas di pintu masuk untuk mendapatkan sticker pengunjung. Ketiga, suasananya sejuk dan menyegarkan, juga ramah anak. Walau perlu diperhatikan ada areal yang boleh dan tidak boleh dikunjungi. Hal ini karena lokasi ini sebenarnya masih aktif digunakan untuk kampus dan riset. Dan keempat, dokumentasinya sangat bagus. Lokasi paling favorit yaitu Observatory History Museum yang lantai 2-nya terdapat teropong raksasa dan lanta 1-nya banyak foto menarik aset NAOJ di seluruh dunia.

Pada era perang Jepang – Rusia selama tahun 1904 (era Meiji 37) sampai tahun 1905 (era Meiji 38), kondisi Jepang saat itu tidak memungkinkan untuk melakukan relokasi Observatorium Astronomi Tokyo. Jepang menanggung biaya perang yang besar. Upaya untuk memindahkan Observatorium Astronomi Tokyo ke Mitaka dimulai lagi dari tahun 1914 (era Taisho 3), namun kemajuannya sangat lambat. Pada tanggal 1 September 1923 (era Taisho 12), Observatorium Astronomi Tokyo di Azabu-iigura mengalami bencana besar akibat Gempa Besar Kanto. Beruntung, beberapa instrumen pengamatan seperti transit Repsold pun mampu lolos dari kerusakan. Momentum ini digunakan untuk menggalakkan kembali relokasi ke Mitaka Tokyo Astronomical Observatory.

Kubah Teleskop 65 cm (Observatory History Museum), bangunan yang paling lengkap yang bisa kami kunjungi dan memuat banyak informasi perkembangan penelitian astromoni di Jepang dirancang oleh Departemen Fasilitas Universitas Kekaisaran Tokyo dan dibangun oleh Yoshihei Nakamura pada tahun 1926. Telescope refractor yang dipakai berukuran 65 cm dibuat oleh Carl Zeiss di Jerman dan memiliki aperture terbesar di antara teleskop refraktor di Jepang. Setelah selesai pada tahun 1929, digunakan untuk berbagai pengamatan sebagai teleskop aperture terbesar sampai reflektor teleskop 188 cm di Observatorium Astrofisika Okayama dibangun pada tahun 1960. Pada tahun 1998 teleskop ini dipensiunkan, namun dengan bagian yang masih lengkap sebetulnya masih bisa digunakan lagi sewaktu-waktu.

Hambatan terbesar untuk menikmati tempat ini yaitu kendala bahasa. Hampir semua staf hanya bisa berbahasa Jepang saja. Dianjurkan memang mengajak teman yang bisa berbahasa Jepang agar semua ilmu bisa terserap. Satu-satunya yang mempermudah kami ketika berkunjung ke tempat ini karena telah membuka dulu website sebelumnya. Leaflet juga lumayan membantu dan bisa kita minta yang berbahasa Inggris. Ketika mengunjungi Solar Tower Telescope yang dikenal sebagai “Einstein Tower” karena struktur bangunan yang sama seperti Observatorium Astrofisika Potsdam di pinggiran kota Berlin, kami merasa salut akan dedikasi para petugasnya. Walau tahu dan sudah kami beritahu bahwa penguasaan bahasa Jepang kami terbatas, mereka tetap saja dengan antusias menjelaskan detail fungsi dari Eisntein Tower ini dan bagaimana kinerjanya. Akhirnya kami memang mengerti karena mereka mempraktekkan cara kerja alat itu dan menunjukkan hasil pembiasan warna seperti warna pelangi. Setidaknya ada lima tingkat tangga dengan tingkat kecureman tinggi untuk mencapai puncak teleskop.

Melihat lokasi lainnya yang sangat menarik, ingin rasanya mengunjungi observatory di tempat lainnya. Namun membayangkan bagaimana berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun bertugas di tempat terpencil untuk pengamatan ini tentunya hanya orang-orang dengan mental dan hoby tinggi yang bisa melakukannya. Mereka bertugas untuk kemajuan ilmu pengetahuan. Kita bisa menikmati hasilnya baik secara langsung maupun tidak langsung.

Tokyo, 17 November 2017

 

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on November 17, 2017 in Activity, Jepang, Perjalanan

 

Tags: , , , , ,

Meiji Jingu Flowers

These flowers were given by the chrysanthemum flower groups, whose relationship with MEIJI JINGU run deep to celebrate the festival of MEIJI JINGU.

The chrysanthemum flower is a perennial plant that has a long tradition in Japan. It was largely improved about 300 years ago and became a flower of appreciation.

There are many kinds of chrysanthemum flowers. There are white, yellow, pink and red variations of the flower, whose size too, may vary from large to small.

They need so much water that it is necessary to water them twice a day, in the morning and the evening. Much effort is needed to cultivate the flower. The shape of the chrysanthemum represents the Imperial Family.

 
Leave a comment

Posted by on November 4, 2017 in Activity, Jepang, Perjalanan

 

Tags: , ,

Surga Bunga di Jindai Botanical Garden

Horee…akhirnya bisa jalan-jalan ke taman lagi. Sudah sebulan lebih sejak lahiran kemarin, kami memang sudah berencana mengunjungi taman-taman sekitar tempat tinggal. Ya anggap aja ini liburan mudik, hehe. Walau cuaca panas dan gerah karena jarangnya angin bertiup, aktivitas luar ruangan seperti ini perlu untuk anak-anak dan tentunya kami juga.

Tempat liburan kesukaanku lebih ke alam, maka kali ini kami putuskan main ke taman bunga. Sudah lama pengin ke lokasi ini. Dengan naik bus dan kereta dan sedikit jalan kaki tentunya, akhirnya sampai juga ke “Jindai Botanical Garden”, lokasinya masih di Tokyo, tepatnya di Chofu, kalau dengan kereta semi express arah Shinjuku cukup 1 stasiun saja dari Fuchu, kota kami tinggal. Biaya masuknya 500 yen per orang. Kami datang berlima, namun hanya dihitung berdua, anak-anak free.

Ada dua taman yang seperti ini yang sudah kukunjungi dan semuanya menarik yaitu Kyoto Botanical Garden dan Shinjuku Park. Semuanya memiliki koleksi tanaman tropis dalam rumah kaca yang luar biasa besar. Selain koleksinya cukup lengkap, terawat dengan sangat baik. Jindai Botanical Garden luasnya 42 hektar yang terbagi menjadi 30 blok berdasarkan spesies tanaman. Terdapat 100.000 pohon dan semak yang terdiri dari 4500 spesies. Taman mawarnya terbesar di Tokyo dan terkenal juga dengan pohon plum dan cherry yang mekar di musim semi. Nah, kalau datang di bulan apapun pasti ada kok bunga yang mekar, karena ada kalender bunganya. Jadi jangan khawatir ga ada objek menarik.

Namun bunga unggulan yaitu mawar hanya mekar di bulan Mei – Juli, puncaknya pada 9-31 Mei. Bunga di Greenhouse yaitu orchid, tuberous begonia dan water lily bisa dijumpai hampir sepanjang tahun. Di musim panas ini, lokasi greenhouse menjadi tempat favorit kami karena sangat sejuk. Lumayan bisa ngadem. Fadhil yang awalnya uring-uringan karena kepanasan dan minta plosotan akhirnya sumringah juga. Layaknya menemukan “harta karun”, ia sangat enjoy di area ini. Ternyata di luar ia gerah, kepanasan. Areal seperti ini di Indonesia bisa ditemui di Kebun LIPI yang ada di Bogor, Bali dan Purwodadi. Yang terakhir ini sebenarnya dekat Malang, moga kelak bisa mengunjungi dan menikmati keindahannya. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on July 8, 2017 in Jepang, Perjalanan

 

Tags: , , , , ,

Memberi Pengertian Anak

fasya-fadhil-aisyah

Nggak jadi beli es cream, magnet kulkas pun jadi penghibur.  ^_^

Yang paling menantang ketika mengajak anak jalan-jalan yaitu ketika mereka ingin sesuatu, es krim dan snack misalnya, kita harus mengalihkan perhatian mereka. Berbagai makanan dan olahan di Jepang, benar-benar dikemas dengan penampilan cantik tersaji membuat siapapun ingin mencoba. Tampilannya lucu, unik dan menggemaskan! Jangankan anak-anak, orang dewasa pun menginginkannya. Tidak semua halal, pun begitu tidak semua haram. Ketika tidak ada logo halal, ingredient perlu diperhatikan. Jika tidak mengandung yang haram, misal emulsifier dari kedelai, Insya Allah aman dikonsumsi.

Kebanyakan makanan di Jepang tidak bisa dikonsumsi karena mengandung bahan yang terlarang. Bagi anak-anak memberi pengertian itu susah-susah gampang. Apalagi jika sudah begitu merengeknya. Belok kanan, eh ketemu foodcourt. Belok kiri, eh ada godaan lagi, toko mainan yang aduhai kerennya. Ya, untungnya anak-anak kami bisa diberi pengertian walau pengalihannya perlu waktu cukup lama. Caranya ya dibelikan magnet yang lucu ataupun dengan pengalihan lainnya.

Ya, kita tentunya tak ingin anak-anak yang selama ini kita jaga dari makan makanan haram, justru menjadi tidak terkendali makanannya di negeri perantauan dan akan semakin berat nantinya mengajari agama.

Dongeng dari buku cerita dan kartun Dodo Syamil sangat membantu memberi pengertian pemahaman yang mudah dimengerti oleh anak. Semoga yang membuat media tersebut dilimpahi banyak keberkahan, ilmu yang terus mengalir. Meski kami meihatnya dari upload seseorang si youtube.

Insya Allah, hidup ini ujian. Jalani saja sebaik-baiknya. Dan untuk kau Nak… Semoga terus tumbuh menjadi anak sholih dan menjadi pembela agama Islam. Kelak, kami sebagai ayah-bundamu butuh doa-doa dan pembelaanmu di akherat. – with Yanuk

View on Path

 
4 Comments

Posted by on February 1, 2017 in Perjalanan, umum

 

Tags: ,

Waktu

Dari bayang-bayang jendela itu, tampak berbagai aktivitas kesibukan warga Kota. Ada yang berlari, tapi lebih banyak yang berjalan terburu. Semuanya tampak mengejar waktu. Waktu adalah kehidupan. Sebagian waktu lebih berharga dari sebagian waktu lainnya.

Diantara gambaran terindah Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam mengenai nilai waktu adalah sabdanya, “Setiap kali fajar menyingsing, maka hari berseru, ‘ Wahai manusia, aku adalah makhluk yang baru, menjadi saksi atas amalmu, maka ambillah bekal dariku, karena aku tidak akan kembali hingga hari kiamat ”

“Kereta api tidak pernah keluar dari jalurnya. Ia selalu berpijak pada relnya.”

Kita pun selalu diingatkan akan tujuan utama kita di dunia, memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Jangan sampai dimanfaatkan untuk selain yang mampu mengantarkan kita pada tujuan utama kita, akherat. Teguran-teguran kecil senantiasa diberikan agar kita kembali ke jalurnya. Kecuali sudah keterlaluan, maka berbuatlah sesukamu, pandangan dan kesenangan dunia justru akan dibuka dan semakin melenakanmu.

Umar radhiyallahu ‘anhu berdoa kepada Allah agar diberikan keberkahan waktu dan kebaikannya. Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser di hari kiamat sehingga Allah bertanya kepadanya tentang umur yang ia habis kan, tentang harta darimana ia mendapatkannya dan untuk apa ia membelanjakannya? – with Yanuk

View on Path

 
Leave a comment

Posted by on January 29, 2017 in Perjalanan, Renungan, umum

 

Tags: ,

Nishi Honganji dan Kembarannya

salah satu gerbang Nishi Honganji di Jalan Horikawa

salah satu gerbang Nishi Honganji di Jalan Horikawa

Awalnya tidak ada rencana khusus akan mendatangi 2 kuil ini, namun mulai tertarik ketika melihat di peta World Herritage Site yang ada di Kyoto Station, yaitu tertera Nishi Honganji yang lokasinya tidak jauh dari stasiun ini. Setelah melihat di Gmaps, ternyata lokasi Nishi Honganji dekat dengan Ayam ya atau kalau dari Kyoto Station hanya 10-15 menit berjalan kaki. Ohya, Ayam ya ini adalah ramen favorit teman-teman muslim, khususnya Indonesia dan Malaysia.

Nishi Honganji didirikan pada tahun 1591 oleh Toyotomi Hideyoshi. Menurut sejarahnya, setelah Ishiyama Honganji di Osaka dihancurkan oleh Oda Nobunaga karena perseteruan politik, Nishi Honganji ini menjadi pusatnya Honganji temple dari sekte Jodo-Shin dengan 10.000 subtemple di seluruh Jepang dan 200 temple di luar negeri.

Sebelumnya saya pernah lewat dan menyaksikan dari bus saja, bangunan Nishi Honganji ini bukan temple biasa. Selain besarnya bangunan, ornamennya yang indah, lokasinya pun strategis. Ketika berkunjung ke lokasi ini, saat itu sedang ada seperti pelantikan biksu-biksu. Sudah sampai sini, sayang dong kalau tidak masuk bangunannya. Dan memang bangunan di ruang utama sangat luas, dan bisa menampung ratusan orang. Tapi ya itu, saya nggak kuat lama-lama, bau dupanya nggak nguati. Hehe.  Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on March 19, 2016 in Jepang, Perjalanan

 

Tags: ,

Sepanjang Ohbaku Demachiyanagi

in Kyoto on Keihan

in Kyoto on Keihan

Setelah 5 bulan, baru sekarang ini sempat menulis perjalanan dari Ohbaku Station ke Demachiyanagi Station (出町柳駅 Demachiyanagi-eki). Perjalanan yang membuat saya sedikit mengenal sistem kereta api di sini. Sebenarnya terbersit pindah ke daerah yang lebih dekat dengan kampus di Yoshida, namun menimbang disini lebih murah dan menambah pengalaman, maka masa research student 6 bulan saya tekadkan memilih tinggal disini. Teman-teman di wilayah Uji Campus juga sangat kompak, seneng bisa ngumpul bareng mereka, apalagi pas makan-makan, hehe. Ohya, penulisan Ohbaku dan Obaku disini berlaku semua, saya lihat mereka menggunakan itu di berbagai petunjuk jalan maupun alamat rumah.

Jarak dari apartemen di Ohbaku International House (OIH) maupun Uji International House (UIH) dan kampus Kyoto University di Yoshida Campus jika normal bisa ditempuh selama 1 jam. Umumnya jika berjalan agak nyantai bisa kita tempuh selama 1,5 jam sekali jalan. Temen-teman yang tinggal di sekitar Uji Campus yang akan ke Yoshida Campus pasti melewati rute ini. Teman saya, Bambang Niko yang kuliah Food Science Uji Campus harus mengambil mata kuliah yang ada di Yoshida kampus, jadilah setiap pekan rutin ke sana. Saya sendiri yang tinggal di OIH setiap hari pulang pergi melewati rute ini.

Read the rest of this entry »

 
4 Comments

Posted by on February 27, 2016 in Jepang, Perjalanan

 

Tags: , ,

Situs Warisan Dunia, Shirakawa-go

Sirakawa-go Situs Warisan Dunia (22)Mengakhiri musim dingin, PPI Kyoto Shiga mengadakan piknik bersama ke Desa Shirakawa. Kegiatan ini berawal dari diskusi ringan di group “Line” di mana banyak teman-teman yang menginginkan liburan bersama menikmati salju. Maklum, tahun ini salju di Kyoto dan sekitarnya memang tidak terlalu lebat dibanding tahun lalu. Kegiatan yang berlangsung pada 20 Februari 2016 diikuti lebih dari 90 peserta dengan 2 bus.

Desa yang unik dan terpelosok ini masuk dalam situs warisan dunia UNESCO. Untuk sampai wilayah ini, kita harus melewati beberapa terowongan yang lumayan panjang. Kelebihan jalan disini walau berbukit-bukit, orang Jepang lebih memilih membuat terowongan menembus bukit daripada mengikuti alur bukit yang bergelombang. Desa Shirakawa yang lebih dikenal dengan sebutan Shirakawa-go ini terletak d lembah sungai Shokawa di Prefektur Gifu dan perbatasan dengan Prefektur Toyama. Wilayah ini berada di utara Kyoto dan masih di Pulau utama Jepang yaitu Honshu, sekitar 4 jam perjalanan.

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on February 22, 2016 in Jepang, Perjalanan

 

Tags: , , , ,

Takaragaike

20160102_150958Bangunan Kyoto International Conference Center (国立京都国際会館 Kokuritsu Kyōto Kokusai Kaikan) tampak gagah berdiri di wilayah Takaragaike. Namun, kali ini kami bukan ke situ untuk ikut conference, tapi menikmati suasana sore di Taman Takaragaike. 🙂

Sekilas Sejarah Takaragaike

Takaragaike sebenarnya adalah waduk irigasi seluas 1,5 km dengan berbagai pohon alami dan bukit-bukit yang mengelilingi. Padang rumput yang hijau menarik banyak pengunjung. Anak-anak bermain kesana-kemari berusaha menerbangkan layang-layang. Lokasi ini banyak ditumbuhi pohon ceri dan plum dan ramai di musim semi.

Pada tahun 1961, pembangunan Kyoto International Conference Center diputuskan, dan setelah itu banyak fasilitas dibangun seperti Hutan Istirahat dan relaksasi (Ikoi no Mori), Hutan Burung Liar (Yachou no Mori) dan Hutan Cherry Blossoms (Sakura no Mori). Saat ini, meliputi area Takaragaike Park kurang lebih 62,7 hektar.

Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by on January 3, 2016 in Jepang, Perjalanan

 

Tags: , ,

The Kyoto University Museum

Kyoto University Museum - zainuri.wordpress (5)

Dekat, sering dilewati, namun tak jarang pula diabaikan. Itulah kondisi museum pada umumnya. Padahal museum sarana yang baik untuk memberikan sebuah pembelajaran bagi anak-anak dan remaja, demikian pula masyarakat umum. Di beberapa negara, tampak bahwa museum menjadi sarana edukatif yang menarik. Sampai ada filmnya juga kan?

Kyoto University Museum letaknya di dekat perempatan Hyakumanben dan masih di Yoshida campuss. Beberapa langkah dari bus stop atau di seberang Cafetaria Renais. Museum ini memiliki koleksi bahan-bahan sejarah yang berkaitan dengan sejarah alam, budaya dan teknologi. Museum ini buka setiap hari kecuali Senin dan Selasa dari jam 9.30 pagi sampai 16.30 sore. Tiket masuknya adalah 200 yen untuk pelajar SD-SMP, 300 yen untuk SMA dan mahasiswa, 400 yen untuk umum dan gratis bagi yang bisa menunjukkan kartu mahasiswa Kyoto University.

Kyoto University Museum mengelola dan mengembangkan berbagai koleksi yang merupakan penelitian dan arsip universitas. Awalnya saya kira isinya tentang sejarah Universitas Kyoto saja, seperti bangunan dan perkembangannya, ternyata isinya lebih lengkap dari sekedar itu. Yang paling menarik adalah di lantai paling atas yaitu suasana hutan tropis, salah satunya di Pulau Kalimantan. Ada layar besar yang kemudian memberikan suasana layaknya hutan hujan tropis disertai suara hujan dan kilat yang menyambar. Beberapa koleksi serangga juga ada disini.

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on December 7, 2015 in Activity, Jepang, Perjalanan

 

Tags: ,

 
%d bloggers like this: