RSS

Category Archives: Opini

Revolusi Hijau dan Gambia, Negara Kecil yang Mayoritas Muslim di Afrika

ga-map

Dikusi ringan dengan teman-teman disini, terutama dari Afrika memberikan informasi baru yang sangat menarik. Di sela kami mengerjakan tugas kelompok ()Rural Development Program, IEAS) membahas tentang kegagalan revolusi hijau di Afrika, ada teman Afrika lain yang menyahut tentang Gambia, negara yang berpenduduk 2 juta orang yang mayoritas muslim (95%) dan hampir saja tidak terlihat di peta benua Afrika. Saat mendengar pun, awalnya dikira Zambia. Maklum, belum pernah dengar negara ini. Negara yang bagaikan lidah jika Senegal (negara tetangganya) diibaratkan sebagai mulutnya karena areanya yang memanjang mengikuti sungai. Langsung saja googling dan mencari tahu apa Gambia itu? Subhanallah, ternyata memang ada. Semoga negara ini mampu terus menerapkan ajaran dan sunnah Muhammad SAW.

Sebagaimana negara Asia, banyak negara Afrika yang merdeka dari konolisasi bangsa Eropa. Dan saat ini masih mengalami masalah serius mengenai demokrasi dan kepemimpinan di negaranya. Konflik yang berkepanjangan, perang sipil dan kudeta menjadi berita langganan dari daerah ini. Kegagalan revolusi di Afrika memang kompleks, salah satunya karena situasi politik ekonomi yang tidak stabil sehingga pembangunan tidak berkelanjutan. Apalagi jika sudah menerapkan pertanian modern. Ketergantungan kepada teknologi, pupuk dan benih sangat tinggi. Dan tentunya hubungan perdagangan dengan negara lain tidak boleh putus, Sekali sebuah negara memutuskan untuk mengadopsi pertanian modern, maka akan sangat sulit untuk mundur ke belakang, kembali ke pertanian tradisional.

Negara Gambia ini 70% penduduknya bekerja di sektor pertanian. Kegagalan panen pun masih terjadi, walau arealnya dilewati sungai besar. Terakhir terjadi pada tahun 2011 dan 2013 yang meningkatkan kemiskinan, malnutrisi dan kekurangan pangan. Mayoritas penduduknya yaitu 60% berusia di bawah 25 tahun, sebuah peluang besar untuk angkatan kerja dan produktifitas tentunya.

gambia_orthographic_projection_with_inset-svgSebab lain dari kegagalan revolusi hijau karena kondisi benua Afrika yang tandus. Umumnya air sangat sulit didapat, padahal tanaman mutlak untuk mendapatkan air. Disisi lain, formulasi dosis pemupukan yang dianjurkan sama dengan Asia menjadi persoalan tersendiri. Mahalnya input; benih unggul, pupuk dan pestisida membuat petani di sana angkat tangan karena akses mereka terhadap pendanaan sangat terbatas.

Disisi lain, menghadapi populasi dunia yang makin meningkat hingga diperkirakan 9 Milyar pada 2050, beberapa pendapat menganggap Afrika menjadi salah satu solusinya. Dengan meningkatkan double produktivitas di daerah itu, maka 50% kebutuhan pangan dunia akan terpenuhi. Tentunya aplikasinya tidak semudah itu. Konflik berkepanjangan menjadi hal mendasar yang harus diselesaikan dahulu. Opini saya pribadi, tentunya jika negara barat tidak ikut campur masalah di Afrika dan TImur Tengah, konflik di daerah ini akan cepat surut. Tapi maukah mereka?

 

Tokyo, 6 Desember 2016

 

photo; Wikipedia

 
Leave a comment

Posted by on December 6, 2016 in info, Jepang, Opini

 

Tags: , ,

Membaca: Hobi atau Wajib?

“Sebaiknya engkau mempunyai tempat khusus di rumahmu untuk menyendiri. Disana engkau bisa membaca bukumu dan menikmati indahnya petualangan pikiranmu.”
(Nasehat Ibnul Jauzi kepada orang ‘alim dan pencari ilmu, Shaid al-Khatir, hal. 318)

Book Off JepangSaya masih menganggap membaca itu adalah hobi. Ketika ada orang bertanya, hobimu apa? Biasanya saya jawab; “membaca dan travelling, ohya ditambah nonton bola.” Mau menjawab main bola kok ya malu, dah jarang sekali main bola, lebih banyak nontonnya. Nah, jawaban hobi membaca ternyata disalahkan teman saya, dia berargumen jawaban saya tidak tepat.

Bagi dia membaca itu adalah kebutuhan pokok seperti makan atau minum. Kan jawabannya gak benar kalau ditanya hobimu apa? jawabnya; “hobiku makan dan minum.” Padahal kegiatan itu keniscayaan untuk hidup. Orang lapar pasti mencari makanan dan ketika haus mencari minuman. Variannya boleh saja makanan sate, gudeg, padang, dll. Tapi jawaban kalau hobi makan itu tidak pas. Membaca adalah kebutuhan hidup kita. Pintu masuk sebuah ilmu, pintu gerbang kemajuan dan kebangkitan zaman. Islam sangat menganjurkan umatnya untuk membaca.

Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by on February 23, 2016 in Opini

 

Tags: ,

Lompatlah atau Tetap Tinggal di Kapal

Change - Make Decision - Arasiyama - zainuri.wordpress

“Do nothing, and nothing happens. Life is about decisions.
You either make them or they’re made for you, but you can’t avoid them.”
― Mhairi McFarlane ―

Pernahkah di posisi terjepit dan harus mengambil keputusan? Saya kira setiap kita pasti pernah dalam keadaan harus mengambil sebuah keputusan sulit. Akan sangat mudah mengambil keputusan jika instrumen pendukung itu lengkap; data yang akurat, opsi-opsi yang jelas dan kemungkinan keberhasilan pada sebuah pilihan tertentu. Namun, seringkali yang terjadi sebaliknya. Kita diminta memilih dua atau lebih pilihan yang di luar nalar, tidak bisa diprediksi, mengawang-awang. Kebanyakan akhirnya memilih tidak memilih atau tetap pada pilihan awal, takut keluar dari zona nyaman.

Saya pernah mengalami salah satu peristiwa yang membuat galau, keluar dari perusahaan lama saat itu, Medco Agro tahun 2008. Sebelumnya dalam proses rekruitmen pernah sampai wawancara akhir di Indofood (Tanjung Priok) dan Astra Agro (Kelapa Gading). Dalam posisi fresh graduate, idealisme masih tinggi, akhirnya wawancara di perusahaan itu tidak mencapai titik temu. Ketika wawancara terakhir di Medco Agro, dengan penempatan di Kalimantan tepatnya di Kotawaringin Barat, Kalteng saya memutuskan untuk menyanggupi tantangan yang ada.

Namun hanya sekitar 3-4 bulan saya disitu. Saya memilih keluar dari perusahaan ini, walau berat rasanya. Pekerjaan pengganti belum ada, ditambah ada rasa bersalah kepada orang tua, malu sekali tidak bisa survive. Tapi keputusan sudah bulat, ini bukan masa depan saya! Akhirnya keluar dengan baik-baik sebagaimana masuk dengan baik-baik juga. Tepat beberapa hari kemudian ada email masuk dari mailing list alumni yang memberikan info rekruitmen Kementan. Sebenarnya PNS bukan impian saya, tapi Ibu meminta untuk dicoba, akhirnya saya coba ikut test dan diterimalah, saya tekuni pekerjaan ini sampai sekarang. Mungkin ini jalannya dari Allah yang harus saya lalui, walau saat itu tidak tahu, tidak terbayang sama sekal, bahkan terasa gelap.

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on December 27, 2015 in Opini

 

Tags: , , , ,

Buanglah Taruhlah Sampah pada Tempatnya

Sampah menjadi masalah kita semua. Limbah yang biasa kita hasilkan ini bisa menjadi musibah, bisa pula menjadi peluang. Setidaknya, itu bergantung pada manusia sendiri. Apakah mampu melalaikannya atau memanfaatkannya.

Sekarang ini orang yang bukan petugas sampah dan ia memungut sampah justru diolok-olok. Pernah Herry Zudianto yang saat itu menjabat walikota Jogja memungut gumpalan kertas yang berserakan dan menaruhnya di tempat sampah. Salah satu PNS di Balai Kota yang tidak tahu bahwa yang memungut sampah itu sang walikota berseloroh, “Oalah pak… kurang gawean wae… sampah kok dijupuki.”~ Oalah pak… Kurang kerjaan saja…. sampah kok diambili.” Betapa terkejutnya ternyata yang diejek adalah sang walikota. Makanya kang Herry lebih suka istilah taruhlah sampah pada tempatnya. Karena jika dibuang kesannya seenaknya. Kan sudah ada tempat yang disediakan, nah taruhlah disitu.

Di berbagai wilayah sering kita jumpai CSR sebuah perusahaan industri yang memasang papan nama bahwa daerah sekitar tersebut sampahnya sudah terkelola dengan manajemen yang baik. Di media pun begitu, berbagai ajang penghargaan seperti “otonomi award” diberikan kepada daerah yang mampu menginspirasi dalam mengelola sampahnya.

Nah, jauh disana begitu inspiratif? Bagaimana dengan lingkungan sekitar kita? Saya yang sekarang ini tinggal di Kota Wisata Batu mengapresiasi langkah “pasukan kuning” yang disebar Pemkot di titik-titik strategis dan sepanjang jalan raya. Jalan raya yang selama ini kotor, tidak terawat dan sampah berserakan dimana-mana (sebagian ulah pengendara mobil yang tolol membuang sampah keluar jendela) sekarang ini di pagi hari tampak bersih dan nyaman di pandang. Nah, kebersihan ini perlu ditingkatkan sampai ke gang-gang kampung dan tempat tinggal masyarakat Kota Batu.

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on January 10, 2014 in Opini

 

Tags: ,

Sistem, Birokrasi, dan Regulasi…

Birokrasi Indonesia memang harus terus berbenah. Betapa tidak, sudah lebih dari 15 tahun pasca reformasi, masih saja banyak lubang menganga di birokrasi pemerintahan. Korupsi, arogansi dan kebobrokan pun terkesan makin parah. Belum kelar menulis tentang birokrasi, hari ini membaca opini bagus di Kompas tentang birokrasi. Birokrasi yang baik dibangun dengan sistem bukan dengan figur. Berikut artikel lengkapnya… selamat membaca ^_^


Sistem, Birokrasi, dan Regulasi…

Pembenahan sistem seharusnya menjadi pekerjaan penting untuk menata ulang pengelolaan negara. Penyelenggaraan negara yang lebih mengandalkan figur pemimpin hanya menjadi “obat sakit kepala” yang mampu bertahan sesaat. Tak pernah menyembuhkan untuk jangka waktu panjang. Contohnya, banyak inisiatif bagus yang bermunculan di sejumlah daerah sejak era otonomi daerah kini mungkin tinggal kenangan. Mengapa?

Masalahnya adalah sejumlah best practices yang dihasilkan dengan pendekatan inkremental tersebut lebih mengandalkan pada inisiatif pemimpin setempat. Ada beberapa daerah di tingkat kabupaten/kota yang memperlihatkan prestasi baik. Sebut saja Kabupaten Jembrana, Kabupaten Lamongan, Kota Blitar, Kota Solo, atau yang sekarang ini tengah naik daun, semisal Provinsi DKI Jakarta dan Kota Surabaya.

Itulah pelajaran berharga dan penting dalam sejarah tata kelola pemerintahan. Namun, contoh baik dari daerah yang sempat memperlihatkan prestasi tersebut memang tidak lepas dari figur pemimpinnya.

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on December 27, 2013 in Opini

 

Tags: , , ,

Memilih Diam (dulu) baru Memihak

pic@prinyourpajamas.com

memilih yang berbeda itu mudah, namun kadang kita dihadapkan pada pilihan serupa tapi tak sama. (pic@prinyourpajamas.com)

Mudah sekali sekarang ini untuk mengungkapkan ide, gagasan, uneg-uneg, umpatan dan tentu juga ungkapan pujian dan apresiasi. Media sosial membuat yang dulu jauh menjadi dekat. Bahkan sekarang cengan “colek” di twitter seorang pejabat selevel gubernur dan menteri pun bisa memberikan tanggapan dari pertanyaan yang kita ajukan. Dan begitu senangnya kita jika tanggapan dari “colekan” kita itu positif.

Yang kadang tidak disadari, orang yang paling melek IT, suka update berita, dialah korban paling potensial terhadap berita yang tidak jelas dan sering diforward. Terkadang saking bersemangatnya, dengan didorong oleh “mencari dukungan”, berita yang pro dan membela opininya diforward begitu saja tanpa cek ricek. Padahal dalam dunia intelejen, banyak jebakan batman dalam berbagai isu media itu. Carut marut politik sekarang ini berimbas pula pada media yang membuat tidak berimbang dan objektif. Peristiwa yang sama bisa dimaknai berbeda.

Noam Chomski, dengan menyitir kisah zaman pertengahan dengan bagus mengisahkan percakapan armada pasukan laut dengan bajak laut. Bajak laut yang tertangkap ngotot tidak mau ditangkap oleh armada kerajaan. Inilah yang dikatakannya: “Kenapa saya yang kecil disebut perampok, sementara Anda yang mengambil upeti dalam jumlah besar disebut pahlawan.” Kisah ini menunjukkan ilustrasi bahwa peristiwa intinya sama, tapi dimaknai secara berbeda. Sekelompok yang berkuasa, zaman dulu bisa dalam bentuk kerajaan berhak menentukan upeti semaunya dan menerapkannya walau masyarakat keberatan dan menolak.

Berikut kisah konkrit yang lain, Pada tanggal 1 September 1983 pesawat pembom Soviet menembak jatuh pesawat penumpang Korea 007 sehingga menewaskan 269 penumpangnya. Pada tanggal 3 Juli 1988, pesawat penjelajah Amerika, Vincenes, menembak jatuh pesawat penumpang Iran 655 yang melintas di atas Teluk dan mengakibatkan 290 penumpang tewas. Kedua peristiwa tersebut sama, hanya berbeda pelakunya. Yang pertama Soviet dan yang kedua Amerika. Ternyata peristiwa yang sama-sama tersebut digambarkan secara berbeda dalam liputan pers Amerika. Peristiwa tertembaknya pesawat penumpang Korea oleh Soviet digambarkan sebagai suatu pembunuhan atau serangan udara. Tetapi ketika memberitakan jatuhnya pesawat sipil Iran yang ditembak Amerika pers Amerika menggambarkannya sebagai kecelakaan, tragedi bukan pembunuhan sebagaimana tuduhan yang diberikan kepada Soviet. Peristiwa yang sama dapat dikonstruksi secara berbeda dengan menggunakan frame yang berbeda. (Robert M. Entman, “Framing US Coverage of International News: Contrast in Narative of the KAL and Iran Air Incident”, Journal of Communication, Vo.41 No.4 1991 hal 6-27).

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on December 10, 2013 in Opini

 

Tags: , , ,

Barang “Asing” di Sekitar Kita

BJ Habibie benar, bahwa menjadi manusia itu tidak bisa lepas dari perdagangan antar sesama manusia. Istilah ngetrendnya sekarang adalah globalisasi. Ada barang yang bisa kita produksi dan ada barang yang harus kita beli dari orang lain. Tidak mungkin satu pihak menjadi produsen dalam semua hal. Begitu pula dalam berbangsa dan bernegara dengan komoditas perdagangan yang lebih luas.

Namun, tidakkah kita prihatin bahwa begitu banyak barang asing yang mengelilingi kita saat ini? Padahal pabriknya, bahan baku dan pekerjanya ada di Indonesia dan orang Indonesia sendiri yang mengoperasionalkan pabrik itu. Begitu mudahnya saham mayoritas lepas ke tangan asing.

Sejak bangun tidur, kita minum air. Jika di kondisi bepergian maka ada berbagai pilihan air kemasan yang ditawarkan untuk diminum. Merk paling dikenal adalah Aqua. Aqua 74% sahamnya milik Danone perusahaan Prancis. Teh sariwangi 100% milik Unilever Inggris atau susu SGM buat anak-anak (Sari Husada yang 82% sahamnya dikuasai Numico Belanda).

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on November 28, 2013 in Opini

 

Tags: ,

Jalan Keluar, Apakah Harus Impor Kedelai?

Dialog antara Jusuf Kalla, Suswono (Menteri Pertanian), Bayu Krisnamurti (Wakil Mendag), dan Sutarto Ali Muso (Kelapa Bulog) pada acara JK (Jalan Keluar) tentang impor kedelai memberikan pemahaman baru mengenai posisi komoditas penting ini.

Bayu Krisnamurti memberikan sebuah gambaran bagaimana posisi perdagangan kedelai internasional yang saat ini terguncang oleh permintaan impor China yang mencapai 60 juta ton ke Amerika Serikat (AS). Bandingkan dengan Indonesia yang mengimpor kisaran 1 juta ton. Otomatis AS lebih memprioritaskan China, bahkan memberi harga khusus daripada Indonesia.

Sebagaimana usulan yang pernah muncul pada daging sapi yang mewacanakan BUMN diminta membeli lahan peternakan 1 juta hektar di Australia dan menjadikannya stock dalam negeri, untuk kedelai-pun diminta BULOG punya gudang yang mendekati produsen di negara AS misalnya. Malaysia sudah melakukan hal ini. Jika kemudian pasar dalam negeri aman, maka stock di gudang itu langsung dijual ke pasar Internasional tanpa harus menanggung ongkos transportasi yang besar.

Read the rest of this entry »

 
2 Comments

Posted by on September 3, 2013 in Opini

 

Tags: ,

Nyata dan Semu

Nyata dan semu itu beda, meski kini terasa sulit dibedakan. Awalnya,  ketika kita menyerahkan sumber informasi pada media, indera kita memang bertambah jangkauannya. Tetapi, kita kemudian kehilangan kejernihan. Fakta tidak lagi realitas pertama, tetapi realitas kesekian hasil bentukan. Apa yang kemudian kita kenal sebagai representasi pada sejatinya selalu menyimpan dsitorsi.

Kita tiba-tiba tersadar atau banyak juga yang belum, betapa perhatian  kita diarahkan. Kita ‘dipaksa’ menikmati informasi yang tak sepenuhnya kita butuhkan. Ruang privat kita disambangi begitu saja tanpa permisi, tanpa filter oleh televisi. Kita tak hanya ‘dipaksa’ menyimak satu peristiwa, tetapi juga ‘dipaksa’ menerima satu sudut pandang.

Nyata dan semu itu tidak sama tetapi batasnya menjadi kabur oleh kecenderungan berpikir kita. Batas antara nyata dan semu mestinya ada, tetapi seringkali kabur oleh permainan logika. Seperti kudeta di Mesir yang oleh kaum sekuler-liberal dibungkus dengan istilah “penyelamatan” dari kelompok oposisi yang ingin mendominasi pemerintahan. Berbagai alasan yang itu terbukti fitnah dibungkus sedemikian rupa mampu menyihir publik yang tidak kritis.

Beruntung, pada zaman sekarang ini media tidak hanya didominasi elit tertentu, perlahan tapi pasti media sosial  yang mempunyai sisi keunggulan update dan citizen jurnalism mampu mengimbangi dan memberi fakta lain yang sengaja dibuang dan  dipinggirkan.

Batas antara nyata dan semu mungkin terasa semakin kabur. Tetapi kita sadar keduanya sangatlah berbeda. Terlebih jika kita sisakan sedikit akal sehat dan hati nurani. #tarbawi

 
Leave a comment

Posted by on August 7, 2013 in Opini

 

Tags: ,

Kekecewaan

 “Jika kita ikhlas belajar dari kekecewaan kecil, kita tidak akan dipaksa merasakan pedihnya kekecewaan besar.” ― Mario Teguh

Topik “kecewa” memang jarang dibahas daripada motivasi untuk sukses. Kekecewaan selalu mengiringi kita yang punya berbagai keinginan yang hendak diwujudkan. Layaknya suka cita, ia bagai dua sisi mata uang yang senantiasa ada. Kita perlu mengelola kekecewaan agar mampu mengelolanya yang datang silih berganti. Jangan sampai pula kekecewaan terhadap orang lain justru berandil besar pada kegagalan kita meraih kebahagiaan, dan semoga dengan mengelola kekecewaan kita justru mampu menjadikannya sebagai batu loncatan meraih sukses.

Menurut kamus Webster, kekecewaan adalah perasaan yang terjadi karena menginginkan sesuatu namun tidak mendapatkannya. Mengharapkan sesuatu namun tidak terkabul. Beberapa contoh sikap kecewa yaitu:

  1. Kisah film Korea City Hunter mengupas bagaimana dendam karena kecewa dikhianati pemerintah Korea Selatan membuat Jin Pyo bertekad membalas kematian “tim 21” yang ditugaskan untuk membuat kekacauan di Pyongyang (Korea Utara) setelah peristiwa sejarah yang disebut “pemboman Rangoon” (juga dikenal sebagai insiden Rangoon). Insiden pemboman ini menewaskan pejabat Korea Selatan. Misi membunuh para pejabat Korea Utara sukses namun ia dan timnya dikhianati negaranya sendiri karena intrik politik yang dilakukan “dewan lima”. Mereka memutuskan untuk membunuh semua tim untuk menghilangkan jejak demi dukungan AS.  Semua mati kecuali ia seorang. Kekecewaan itu akhirnya dilampiaskan dengan usaha pembunuhan “dewan lima” yang diantara mereka telah menjadi Presiden Korea Selatan dan jajaran elitnya. Read the rest of this entry »
 
Leave a comment

Posted by on July 23, 2013 in Opini

 

Tags: ,

 
%d bloggers like this: