RSS

Category Archives: Jepang

Anak Hilang

Sore ini kami mendapatkan pengalaman yang berharga, dan semoga tidak terjadi lagi. Biasanya hanya melihat poster atau berpapasan dengan ortu yang bahagia dipertemukan lagi dengan anaknya yang terpisah, baik di tengah keramaian maupun di stasiun. Namun, kali ini kami mengalaminya. Ya, Fadhil sempat ilang hampir 1 jam.

Bermaksud menengok istri yang sedang pemulihan persalinan, sore sehabis kuliah anak-anak kuajak menuju rumah sakit yang total waktu tempuhnya 40 menit dengan bus dan kereta, atau maksimal 1 jam bila agak ramai. Di perjalanan seolah tampak lancar, sampai di stasiun Bubaigawara, pengalaman yang tidak diinginkan itu terjadi.

Karena persimpangan stasiun dan cukup ramai, Fadhil yang awalnya kugandeng untuk masuk kereta, gandengannya terlepas. Awalnya kukira pasti mengikuti, lha tinggal dua langkah saja dari pintu kereta. Ternyata tidak!…

Sadarnya ketika sedang cari lokasi berdiri yang nyaman di dalam kereta. Tengok sana, tengok sini. Nanya sana, nanya sini tidak ada yang tahu. Foto hpku pun tak perlihatkan saat nanya ke orang-orang. Bahkan gerbong demi gerbong kucek bersama Aisyah (adiknya), hasilnya nihil. Langsung saja perkiraanku, dia ketinggalan di stasiun transit tadi.

Akhirnya di stasiun berikutnya keluar dan langsung lapor petugas. Khawatir terjadi apa-apa. Bayangan buruk pun berusaha kuenyahkan, tapi sulit ilang. Misal, diculik orang. Maklum, lha Ayahnya saja deg-degan cemas, apalagi Fadhil sendirian. Pasti celingak-celinguk gak karuan. Gak kebayang, kasihan kau Nak! Semoga tidak terjadi apa-apa.

Petugas pun menanyakan ciri detail. Beruntung sebelum berangkat sempat memfoto Fadhil dan Aisyah. Dengan mudah pun sosoknya teridentifikasi. Sekitar 20 menit kemudian, petugas pun memberi tahu bahwa ditemukan anak dengan ciri yng dimaksud. Alhamdulillah…

Read the rest of this entry »

 

Tags: , , ,

Muhammad Al Fatih

Alhamdulillah, Allahu Akbar, telah lahir anak ketiga kami, putra; “Muhammad Al Fatih” (Fatih) pada tanggal 9 Mei 2017 (12 Sya’ban 1438 H) pukul 13.33 JST dengan berat 2604gr dan panjang 50cm. Mohon doanya agar kelak anak kami dapat menjadi anak yang senantiasa cinta dan taat pada Allah dan RasulNya, berbakti kepada kedua orangtua, bermanfaat bagi sesama, soleh, sehat dan cerdas.

Zainuri Hanif & Yanuk Wulandari

Terima kasih tak terkira kepada semua teman-teman yang telah membantu menuju persalinan, terutama mba Atik Wiastiningsih, mba Atiqotun Fitriyah,Rubi Heryanto & Maya, Akebonosho crew, mas Indra Purnama Tanjung & mba Mima, temen-temen PPI Nokodai, Keluarga Muslim Fuchu Koganei dan semua pihak yang tidak bisa kami sebut satu per satu. Jazakumullah khairan Jaza’.

 
 

Fuchunomori Park (Tokyo)

Pertama kali melewati taman Fuchunomori ini dari sisi selatan sudah takjub. Waow, taman ini lengkap fasilitasnya. Fuchunomori Seni Teater bangunannya indah dan sekitarnya hijau. Jika berjalan ke utara, maka akan nampak berbagai fasilitas seperti area olahraga, joging, baseball, tenis, sepak bola, taman bermain,area barbeque, area terbuka dan ada pula Museum Seni Fuchu. Detail ada disini.

Taman ini awalnya merupakan bekas pangkalan militer AS setelah perang dunia kedua. Daerah sekitarnya memang terdapat bekas pangkalan udara dan saat ini beberapa pesawat jet dipajang di dekat gerbang bekas pangkalan di sisi kanan taman ini. Mengingat kebutuhan akan perbaikan lingkungan warga, maka bekas pangkalan ini dikembangkan menjadi taman, fasilitas olahraga, dan pusat evakuasi ketika terjadi bencana.

Sepanjang 300 meter, di taman terdapat pohon sakura yang tentunya akan indah saat awal musim semi. Di sekitar Fuchunomori park juga terdapat 8 patung seniman terkemuka. Salah satunya adalah patung Anne & Michele yang sama Fasya dikira mbak-mbak sedang ngobrol karena keduanya berambut panjang. Japanese Garden tampaknya menarik, namun biasanya bagus saat musim gugur dan musim semi. Kami pun belum terlalu mengeksplor Japanese Garden ini.

Pada saat kami ke sini bersama anak-anak, yaitu di akhir musim gugur, yang nampak adalah pohon kering. Pun begitu, taman ini tetaplah indah. Taman bermain dan hamparan rumput menjadi area menarik untuk bermain. Saat wekdays, taman ini pun sering dipakai rombongan anak-anak TK bermain. Jangan sampai lupa membawa cemilan dan bento ketika main disini. Waktu 4 jam pun bagi anak-anak terasa begitu cepat.

Pada saat akhir pekan, taman ini lebih ramai. Ada yang bermain layang-layang, lempar bola, bulu tangkis dan berlatih sepak bola. Fadhil dan Aisyah lebih memilih bermain di playground anak dan bermain gelembung. Karena musim gugur, air yang mengalir hanyalah di air mancur dan air terjun pojok perempatan.

Tokyo, 25 Maret 2017

 
Leave a comment

Posted by on March 25, 2017 in Activity, Jepang

 

Tags: , , , , , ,

Koganei Park (Tokyo)

Akhir pekan adalah waktu yang cocok buat refreshing sekeluarga. Setelah “ndekem” di ruangan selama 1 pekan tentunya anak-anak merasa bosan dan ingin refreshing. Nah. tempat termurah dan nyaman untuk melewatkan waktu bersama disini yaitu di taman yang banyak tersedia di Tokyo. Kali ini kami mengunjungi Koganei Park. Taman ini letaknya di utara Stasiun Musashi atau Higashi Koganei, sekitar 30 menit dari lokasi kontrakan kami menggunakan bus.

Koganei Park ini luasnya 79 hektar atau 1,5 kali luas Ueno Park. Taman ini lengkap fasilitasnya. Selain hamparan rumput, terdapat pula playground anak-anak, areal sepatu roda dan skiteboard, lapangan baseball, lapangan anjing, areal seluncur, gedung panahan, lapangan tenis, area barbeque, area sepeda, dll.

Lokasi yang paling disukai Fadhil dan Aisyah yaitu playground, dimana terdapat perosotan aneka macam, termasuk yang besar yang bisa digunakan pula oleh orang tua. Sayangnya ketika kemarin kami kesana, debunya sangat mengganggu. Area ini tampaknya menjadi favorit banyak keluarga, apalagi akhir pekan, peminatnya sangat banyak.

Taman ini memang sangat komplit, ada fasilitas meluncur dari rumput sintetis, sayangnya kami tidak mempunyai alat seluncur itu sehingga anak-anak pun hanya bisa melongo dan beberapa kali merengek minta untuk meluncur. “Kapan-kapan ya Nak, kalau sudah punya papan seluncurnya kita main bareng-bareng.” Untungnya dari atas nampak gundukan putih, dimana antriannya lumayan panjang. Kayaknya menarik tuh. Anak-anak pun bisa jot-jotan di arena itu.

Ketika kami mendekat, ternyata dibatasi setiap anak maksimal 10 menit. Alas kaki termasuk kaos kaki harus dilepas agar anak tidak tergelincir. Petugas pun menghitung banyaknya anak yang masuk, kurang lebih 30-50 anak. Memang sih kalau tidak dibatasi permainan ini menjadi tidak nyaman dan anak-anak pun akan saling bertabrakan.

Taman yang terbuka dan gratis seperti ini sangat bagus untuk tempat refreshing. Tidak perlu jauh-jauh memang, Setiap kota biasanya punya 1 taman besar dan banyak lagi taman ukuran sedang. Karena kali ini hanya survei, ke depan akan berkunjung lagi sejak pagi tentunya. Sasaran yang dituju adalah playground anak.

This slideshow requires JavaScript.

 
Leave a comment

Posted by on March 25, 2017 in Activity, Jepang

 

Tags: , , , , , , ,

Mengenal Stone Fruit

Apa kesan yang terlintas saat mendengar istilah “stone fruit”? Kebanyakan kita mungkin berpikir dan membayangkan buah batu yang bijinya keras dan besar. Ketika disodorkan di hadapan kita beberapa contoh buah jenis ini barulah kita kebingungan bagaimana membedakannya? Peach, nectarine, plum, aprikot, dan cherry adalah semua anggota dari genus prunus (family Rosaceae), oleh karena itu kekerabatannya dekat. Buah ini umumnya disebut sebagai stone fruits (buah batu) karena benihnya sangat besar dan keras. Mangga pun dimasukkan dalam kategori buah ini. Meskipun begitu pemahaman umum seperti ini berbeda dengan ahli botani karena tidak semua stone fruit harus berbuah besar dan tunggal karena Rasberries pun masuk kategori stone fruits.

Kita yang berada di wilayah tropis tentunya asing dengan nama-nama buah ini. Bentuknya pun bahkan tidak tahu. Berbeda dengan penduduk yang berada di daerah subtropis, aneka stone fruits justru menjadi buah unggulan. China menjadi negara produsen terbesar dimana 50% peach dan nectarine di negara ini. USA, Italy dan Spanyol menjadi negara produsen berikutnya dengan produksi lebih dari 1 juta ton per tahun. Rata-rata produktifitas lahan yang ada mencapai 20 ton/ha, namun petani yang mampu merawat dengan optimal mampu menghasilkan 40 ton/ha.

Prof. Daniele Bassi dan Prof. Antonio Ferrante, Dept. Agricultural and Environmental Science University of Milano dalam presentasinya di Tokyo University of Agriculture and Technology (TUAT) menyampaikan rencana dan apa yang sudah dicapai dalam penelitian buah peach dan apricort di Itali. Dalam uraiannya, ia telah mengoleksi ratusan plasma nutfah berbagai stone fruit di dunia. Dan ternyata selain dari China, peach dan apricort berkembang baik di Jepang. Jepang dianggap sebagai negara yang punya plasma nutfah buah dengan keragaman yang unggul. Dari penelusurannya, indukan tanaman yang didapat dari New Jersey, USA ternyata awalnya dari Jepang.

Maka kedatangannya ke Jepang termasuk dalam rangka kerjasama pertukaran material untuk breeding program. Dalam hal ini jujur saja, kita tertinggal jauh. Begitu rumitnya mekanisme untuk kerjasama dan disisi lain begitu mudahnya plasma nutdah kita keluar secara ilegal dan dimiliki peneliti lain. Kerjasama yang saling menguntungkan memang perlu digagas dan terus diupayakan, apalagi tantangan global seperti climate change, serangan hama dan penyakit yang mematikan sekarang ini tidak hanya dialami satu-dua negara saja.

Itali yang selama ini diuntungkan dengan kondisi geografis yang sangat mendukung pengembangan buah di wilayah utara negaranya saat ini perlu terus berinovasi karena kompetitor meraka di Eropa yaitu Spanyol sudah menggeser posisi Itali dalam jumlah tonase ekspor ke negara sekitarnya. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menghasilkan buah yang sesuai preferensi konsumen di masa datang. Dan hal ini tentunya tidak mudah mengingat ketatnya standar Eropa, terutama dalam keamanan pangan. Usaha meningkatkan daya simpan agar buah bisa lebih lama sampai konsumen pun terus dilakukan.

Lalu bagaimana cara membedakan jenis stone fruits tersebut? Berikut secara ringkas beberapa jenis stone fruit:

Plum

Plum terkait erat dengan buah persik dan ceri dan secara luas dimakan segar sebagai buah pencuci mulut, dimasak sebagai kolak atau selai, atau sebagai bahan kue. Eropa plum (P. domestica) dan plum Jepang (P. salicina) yang ditanam secara komersial untuk buah-buahan, dan sejumlah spesies, termasuk plum ungu-daun (P. cerasifera), digunakan sebagai tanaman hias untuk karena mengasilkan bunga dan daun yang menarik.

Plum – Encyclopedia Britannica

 

Peach

Tanaman peach berdaun kecil dimana pohonya mampu tumbuh sampai dengan ketinggian 25 sampai 30 kaki, banyak ditanam di Amerika Serikat, Eropa, dan China dan umumnya diminum dalam bentuk jus. Ada beberapa kultivar peach tumbuh di seluruh dunia yang berbeda dalam warna, ukuran dan karakteristik tumbuh berdasarkan daerah asal. Bunga peach muncul di musim semi. Secara umum, masa panen buah hampir seragam antara Mei dan September. Buahnya seukuran apel kecil, dengan diameter dan berat sekitar 130-160 gram.

Peach

 

Aprikort

Aprikot dibudidayakan hampir di seluruh dunia, terutama di Mediterania. Mereka dimakan segar atau dimasak dan diawetkan dengan pengalengan atau pengeringan. Buah ini juga banyak dibuat menjadi selai dan sering digunakan untuk perasa minuman. Aprikot merupakan sumber yang baik untuk vitamin A dan kandungan gula alaminya tinggi.

Apricot – Pinterest

Nektarine

Nectarine disebut sebagai varian genetik peach umumnya, nektarin itu kemungkinan besar domestifikasi dari Cina lebih dari 4.000 tahun yang lalu, sepintas nectarine dan peach pohonnya hampir tidak bisa dibedakan. Ciri khas yang membedakannya dengan peach adalah tidak adanya bulu-bulu halus di permukaannya. Bulu-bulu halus pada permukaan buah ini merupakan ciri khas dari peach itu sendiri. Terkadang, saat bunga peach mengalami polinasi, maka akan dihasilkan dua jenis biji, satu jenis yang akan tumbuh menjadi pohon nektarin dan jenis yang lainnya akan tumbuh menjadi pohon peach itu sendiri

© alexlukin/Fotolia

 

Cherry

Kebanyakan buah cherry tumbuh di belahan bumi utara. Ceri tidak mencakup satu jenis saja, tetapi ada beberapa, seperti P. cerasus, P. avium, dan P. emarginata. Di Jepang, cherry disukai dan bunganya disebut Sakura. Buah ceri mengandung antosianin, yaitu pigmen warna merah yang baik untuk kesehatan karena merupakan antioksidan. Selain itu, rutin mengkonsumsi buah ceri setiap hari dapat menurunkan jumlah kadar asam urat dalam tubuh, bahkan dapat menyembuhkan pirai.

@pinterest

 

Jika hanya melihat penjelasan dan gambar di atas, sekilas memang mudah membedakan, namun ketika ditampilkan berbagai varietas tersebut bersamaan, tentunya sulit untuk membedakan mana itu peach, nectarine, plum, dan aprikot. Seperti yang saya alami kemarin ketika melihat tampilan berbagai varietas di slide presentasi. Apalagi masing-masing variannya juga banyak dengan warna buah matang yang berbeda pula. Semoga bisa merasakan satu per satu, sehingga nanti mudah untuk membedakannya. 🙂

 

Tokyo, 23 Maret 2017

 
Leave a comment

Posted by on March 23, 2017 in Activity, Jepang

 

Tags: , , , , ,

Nobel Prize Dialogue Tokyo 2017

noble-prize-dialogue-tokyo-2017-zainurihanifAhad, 26 Februari 2017 bersama rombongan teman-teman PPI Nokodai kami mengikuti acara Nobel Prize Dialogue Tokyo 2017 di Tokyo International Forum. Acara ini adalah event yang diselenggarakan oleh Japan Society for the Promotion of Science (JSPS). Acara ini diadakan untuk menyebar pengetahuan tentang prestasi nobel dan merangsang minat dalam ilmu pengetahuan, sastra dan perdamaian. Tema yang diambil pun sangat menarik, yaitu “The Future of Intelligence.” Dialog kali ini mengeksplorasi topik dari lima pemenang nobel dan para ahli terkenal dunia.

Acara ini free, kami hanya perlu untuk registrasi 2 bulan sebelumnya dan saat hari-H menunjukkan print out lembar registrasi. Tepat pukul 08.00 JST registrasi dibuka dan antrian yang mengular pun segera berpindah dari meja registrasi di B1F Lobby Galery ke lantai atas B7. Ternyata banyak juga teman-teman Indonesia yang datang di acara ini, wajahnya tidak asing, apalagi kalau sudah terdengar bicara bahasa Indonesia. Beberapa bahkan dari luar Tokyo seperti Kyoto.

Hidup di kota besar seperti Tokyo tentunya tidak menjadi pilihan sebagian mahasiswa. Alasan utamanya biasanya karena padatnya penduduk (yang implikasinya ke ruwetnya jalur kereta, dst) dan juga biaya hidup yang mahal. Namun, sebagian yang lain justru memilih hidup di kota besar karena mudahnya berbagai akses fasilitas seperti makanan halal dan juga berbagai event internasional seperti seminar, pameran maupun event sebagaimana noble prize dialogue kali ini.

Bagi teman-teman yang belum berkesempatan hadir bisa mengaksesnya melalui Youtube https://www.youtube.com/user/NobelWeekDialogue. Acara ini diselenggarakan 2 tahun sekali dan tahun sebelumnya bisa juga diakses di link tersebut.

Kesan saya ikut dalam acara ini yaitu panitia terlihat sangat profesional, semua jadwal berlangsung dengan tepat waktu dan fasilitas peserta sangat memadai. Video streaming juga berkualitas sangat bagus. Peserta juga diberikan alat translater yang bisa dipakai 2 bahasa, bahasa Jepang dan Inggris. Yang perlu ditambahkan yaitu peta toilet di setiap lantai karena ketika masa rehat, antrian di toilet dekat acara sangat panjang. Peta yang terpampang di booklet hanya di sekitar lokasi acara saja. Kalo dari penyelenggaraan kuberi bintang 5 dari 5.

Acara seperti ini sangat menarik, karena sebagai peneliti kita tidak hanya didorong untuk mendalami keilmuwan kita, namun perlu untuk mempelajari bidang lainnya. Terkadang ide dan inspirasi didapat dari mempelajari bidang yang tidak berhubungan sama sekali dengan keilmuwan yang selama ini kita tekuni. Dan ketika menyimak ide-ide panelis, mereka sangat visioner. Melakukan sesuatu hal yang di luar nalar. Seperti bagaimana mengukur gelombang gravitasi dengan membandingkan pengukuran dengan membangun stasiun riset di gurun dan membandingkan dengan partikel atom yang diperbesar sampai jutaan kali.

Semoga ke depan bisa mengikuti acara serupa. Begitu juga dengan teman-teman. Insya Allah banyak manfaatnya.

photo; dokumen pribadi dan FB @nobleprize

Tokyo, 27 Februari 2017

 

 
Leave a comment

Posted by on February 27, 2017 in Activity, Jepang

 

Tags: , , ,

Gotong Royong Membuat Kompos Daun

dokumentasi panitia

dokumentasi panitia

Jepang memiliki cara tersendiri untuk melestarikan hutan dan pertanian. Sebagaimana wilayah di Indonesia, sebagian besar wilayah Jepang sangat cocok untuk lahan pertanian. Masyarakat di pedesaan mengembangkan tradisi yang unik dalam rangka memenuhi kebutuhan pupuk yaitu dengan mengumpulkan daun-daun yang berjatuhan di musim gugur. Kali ini kami mendapat kesempatan diajak Oikawa Sensei membuat kompos dari daun bersama Yanase Community di daerah Tokorozawa, Saitama.

Divisi pertanian dari Pemerintah Kota Tokorozawa menginisiasi acara pembuatan compos dari dari daun gugur di hutan sekunder. Daerah pertanian yang tidak jauh dari Tokyo metropolitan ini, dikenal sebagai penghasil bayam, talas, lobak dan ubi. Kualitas pertanian yang dihasilkan disini diakui dan diterima secara luas di pasar. Sekitar 60 orang bergabung dalam acara ini. Mayoritas sudah berusia, pun begitu mereka sangat energik. Beberapa pemuda tampak pula turun dan membantu. Dekan Graduate School of Agriculture TUAT dan Walikota Tokorozawa menandatangani MoU untuk 5 tahun kerja sama untuk meningkatkan daya saing komoditas pertanian di wilayah ini, khususnya talas. Maka kesempatan ini kami gunakan pula untuk memantau tanaman penelitian tersebut.

Konsep Satoyama

Jepang sedang berjuang untuk menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi yang cepat dengan perlindungan dan warisan budaya dan alamnya yang kaya. Modernisasi telah menyebabkan berbagai cara baru pertanian dilakukan oleh masyarakat Jepang. Mulai dari penggunaan alat mekanisasi modern, konstruksi bendungan dan irigasi dan ekspansi kebutuhan perumahan. Hal ini menyebabkan berkurangnya daerah pertanian secara menyuluruh dan banyak spesies tanaman, mamalia, reptil amfibi dan ikan tawar menyusut.Tentunya jangka panjangnya kerugian juga buat manusia.

Mereka cepat belajar dan berbenah, apalagi selama ini mempunyai konsep Satoyama, sebuah konsep yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara urbanisasi dan konservasi alam. Satoyama berasal dari kata ‘sato’ (desa atau kampung) dan ‘yama’ (gunung, hutan, padang rumput). Targetnya yaitu untuk membangun keberadaan lahan yang merupakan perpaduan harmoni antara manusia dengan alam. Dalam arti luas Satoyama berarti campuran dari hutan, sawah basah, lahan budidaya, padang rumput, sungai, kolam dan irigasi parit yang mengelilingi sebuah pertanian Jepang. Dalam era Edo (1603-1867) sekitar lima hektar satoyama diperlukan untuk mendukung setiap keluarga petani yang terdiri tujuh atau delapan orang.

Kompos Daun

Petani berusaha membuat pupuk sendiri dengan memanfaatkan hutan sekitar. Kali ini mereka gotong royong membantu mengumpulkan dedaunan kering dari garu berbahan bambu. Karena dikerjakan banyak orang, tidak sampai 2 jam satu area seluas lapangan bola sudah terkumpul dedaunan keringnya. Daun kering ini kemudian dipadatkan dengan diinjak-injak, selanjutnya ditutup dengan jaring agar tidak bertebaran lagi terhembus oleh angin. Apakah dikasih larutan apa tambahan bahan tertentu? Ternyata tidak. Kompos ini baru akan digunakan 1,5 tahun lagi. Yaitu melewati musim dingin selanjutnya dan digunakan pada waktu musim semi. Di sebelahnya tampak kompos yang hampir jadi dimana dedaunan menjadi tanah kembali namun kaya akan bahan organik. Berbagai serangga akan hidup dan menguraikan dedaunan yang tertimbun.

Awal ketika datang, kami diberi pengarahan terlebih dahulu. Dan Oikawa Sensei menterjemahkan kepada kami maksud dan tatacara untuk mengumpulkan daun untuk kompos ini. Walau saat itu suhu satu derajat celcius, dengan banyak gerak ternyata badan menjadi hangat, bahkan berkeringat. Peluit panjang dibunyikan sebagai penanda istirahat dan kami semua dipersilahkan mengambil teh atau kopi hangat beserta camilan. Keramahtamahan ini mengingatkan kerja bakti atau gotong royong di kampung. Gotong royong seperti ini masih kental di daerah pedesaan. Dan berkumpul dengan banyak orang seperti ini sangat menyenangkan.

Kami pun sempat diajak berpindah ke areal lainnya karena di lokasi pertama sudah selesai. Dan sebagaimana sebelumnya, dedaunan itu dikumpulkan dan ditaruh di atas matras plastik untuk kemudian dikumpulkan di lokasi penampungan. Setelah semuanya selesai, kami pun diajak makan bersama. Menunya adalah semua produk petani setempat dan organik. Dari tampilannya sangat menarik dan rasanya juga enak. Karena ini menu sayuran, tentunya saya santap sampai habis, Insya Allah Halal. Selagi makan tak lupa kami ngobrol, terutama Khom teman dari Kamboja sudah lancar bahasa Jepangnya jadi sangat menikmati obrolan itu. Kami pun berkesempatan mengunjungi greenhouse dan melihat tanaman stroberi yang rasanya manis. Stroberi termanis yang pernah saya rasakan selama ini.

Tokyo, 10 Januari 2017

 
Leave a comment

Posted by on January 10, 2017 in Jepang

 

Tags: , ,

Catatan Akhir Tahun

tokyo-tower

Kita tak bisa mengatur waktu, tapi kita bisa mengatur prioritas

Beberapa menit lagi sudah bertemu hari baru di tahun 2017. Apa saja capaian selama ini? Semoga evaluasi di tahun 2016 ini lebih baik dari tahun sebelumnya. Dan tahun selanjutnya lebih baik dan baik lagi. Apakah ada resolusi khusus? Hmm.. tentu tapi tidak semuluk-muluk sebelumnya, tapi ada yang harus diperbaiki. Disini saya lebih realistis dalam satu hal dan ingin mencapai target lain yang lebih ambisius dari sebelumnya. Yang paling menjadi catatan tahun ini adalah proses berangkat ke Jepang kembali per Oktober 2016 setelah di Maret 2016 kemarin kembali ke Indonesia dari Kyoto. Saat ini sebagaimana ibukota Kyoto pindah ke Tokyo, saya pun mengikutinya juga, pindah belajar dari Kyoto ke Tokyo. Hehe.

Sebelum berangkat ke Jepang untuk melanjutkan study master, ada banyak kendala dan tantangannya. Selain proses administrasi yang membuat harap-harap cemas karena bisa terganjal sewaktu-waktu sebagaimana yang dialami beberapa teman, ada banyak persiapan yang dirasa kurang matang. Penguasaan bahasa jelas, masih perlu banyak belajar. Bisanya cuma bilang “haik… haik.., iek dan arigatou doank.” Kalau ditanya penggemar Manga atau tidak? Jawabannya jelas, level menengah. Sadar masih biasa aja tuh menggembari manga Jepang, masih kalah jauh dari beberapa teman yang mengikuti banyak manga, gila untuk mengikuti serinya dan tahu banyak kisah Jepang. Favoritku masih Doraemon, Dragon Ball dan Conan. Komik jadul banget ya? hehe. Tahukah penyanyi top jepang? Trend di Jepang? Nah yang ini apalagi. Nggak mudeng!

Lalu apa yang membuat tertarik ke Jepang? salah satunya adalah kerja keras, prinsip Kaizen yang kukagumi dari dosen-dosen di Teknologi Pertanian UGM yang memang banyak lulusan Jepang cukup memberi pengaruh tentang info dan motivasi untuk berlajar ke Negeri Sakura. Dan yang menarik, beliau dosen kami ini objektif memberikan informasi. Tidak hanya sisi baiknya saja tapi ada juga sisi kelamnya juga, artinya jatuh bangunnya beliau dengan suasana belajar dan budaya Jepang. Jadi kita lebih mendapatkan gambaran utuh. Dan Alhamdulillah, sekarang ini diberi kesempatan untuk belajar disini.

Tidak mudah mengajak keluarga ke Jepang, apalagi biaya hidup cukup besar. Beberapa teman dengan berbagai kendalanya, misal pasangan yang bekerja, sekolah anak, dan berbagai alasan khusus lainnya akhirnya memutuskan untuk tidak mengajak keluarga. Saya tahu, ini pun bukan pilihan ideal bagi meraka tapi semoga menjadi pilihan terbaik baginya. Siapa sih yang tidak mau bersama keluarga? Nah di saat seperti ini saya juga sedang berjuang mengajak keluarga tingga bersama di Tokyo, Insya Allah bulan depan kami bisa berkumpul bersama. Semoga Allah mudahkan. Ada teman yang sudah siap semua; COE, tempat tinggal family room, sepeda buat istri, dan tiga tiket pesawat dari negaranya ke sini terancam batal dan hangus tiketnya karena tiba-tiba Sensei melarang untuk mengajak keluarga. Bahkan ketika berusaha dilobi malah diberi embel-embel peringatan keras untuk tidak melanggarnya. Tentunya ini tantangan tersendiri yang berbeda tiap orang.

Sekolah di luar negeri memang memberi tantangan berbeda. Permasalahannya lebih kompleks karena selain tranfer ilmu dengan bahasa yang berbeda, hal teknis tidak terduga kadang muncul. Apalagi menghadapi kakunya sistem di Jepang. Dan disinilah memang kita diuji dengan berbagai masalah yang bisa jadi tidak ditemui di Indonesia terutama ketika beasiswa telat cairnya. Hehe. Nilai nominal yang harus ditanggung sudah puluhan juta, bahkan ada yang ratusan juta untuk yang di Eropa. Alhamdulillah selalu ada solusi dari teman-teman Indonesia lainnya (PPI, KMII, dll).

Ohya, beberapa waktu lalu berkesempatan juga berbagai ilmu dengan senior yang sudah lebih dari 15 tahun menjadi asisten profesor di Tokyo University of Agriculture and Technology (TUAT). Kapan-kapan moga bisa membuat resumenya dan upload disini. Yang pasti bangga bisa mengikuti sharing session dengan beliau yang difasilitasi temen-temen PPI Nokodai. Banyak juga ternyata orang Indonesia berprestasi dan berkarya nyata di luar negeri.

Kedepan harus terus belajar membagi waktu. Belajar di negeri Sakura memang unik, kita harus siap dengan pola dan gaya belajar disini yang kadang memang tidak mengenal waktu. Awalnya Bushido atau semangat kerja keras yang diwariskan secara turun-temurun menjadi dambaan. Namun beberapa pihak menyadari bahwa kerja keras saja tidak cukup, kerja dengan waktu yang efisien ternyata lebih produktif. Dan soal mengevaluasi diri, orang Jepang sudah menyadari ini dan mulai melakukan perubahan. Beberapa sensei yang belajar dari negara Barat sudah berusaha untuk mengubah pola itu, namun umumnya memang masih belajar dari pagi-larut malam di laboratorium. Istilah nge-Lab disini bukan hanya jikken (eksperimen) dengan alat-alat laboratorium namun lebih luas lagi, termasuk membuat laporan dan berkutat dengan komputer di student room.

Akhirnya, yuks buat tahun depan lebih baik lagi! Belajar lebih keras lagi dan efisien. Tentunya bisa membersamai keluarga. Karena kerja harus diimbangi dengan kebersamaan dengan keluarga. Bersama keluargalah kita akan miniti jalan bersama ke surga, Insya Allah.

unnamed

Maunya gak setuju, tapi kok tampaknya benar… 😀 Harus diseimbangkan lagi nih…

 

Tokyo, 31 Desember 2016

 
Leave a comment

Posted by on December 31, 2016 in Jepang, Kisah

 

Tags: , , , ,

Kelengkapan Membuat COE Jepang

img_6241

Certificate of Eligibility Japan, COE keluarga sudah jadi, Alhamdulillah

Bagi kita yang mencanangkan ambil studi ke Jepang, biasanya salah satu pertimbangannya memilih Jepang karena di negeri ini sangat ramah dengan keluarga dan pendidikannya bagus. Kebersamaan dengan keluarga bagi saya pribadi adalah sebuah hal yang harus diupayakan. Akan lebih bermakna jika beasiswa yang kita dapatkan manfaatnya tidak hanya untuk kita penerima saja, tapi bisa juga “dinikmati” untuk keluarga. Keluarga turut merasakan beasiswa dengan pengalaman di luar negeri dan juga pendidikan yang bisa didapatkan. Dan yang pasti perkembangan sang anak terus bisa kita bersamai bersama istri.

Tidak mudah untuk mengajak keluarga bersamman ketika kita berangkat pertama kali. Biasanya tantangannya adalah karena belum mendapatkan tempat tinggal yang layak untuk keluarga, karena apartemen yang fix di awal adalah single room dan yang paling penting adalah sulitnya mendapat COE karena itemnya banyak. Ada beberapa sensei yang mau menjamin dan menguruskan COE untuk si penerima beasiswa dan keluarganya, yang seperti ini patut dicoba dulu. Namun umumnya diminta berangkat dulu dan setelah itu (sekitar 3 bulan) keluarga bisa menyusul.

Jalan yang ditempuh untuk mengajak keluarga ada 3 yaitu;

Pertama, langsung berangkat dengan COE lengkap sebagaimana contoh kasus di atas. Sensei atau universitas membantu untuk menguruskan sehingga COE bisa terbit bersamaan dan amanlah berangkat ke Jepang. Begitu mendarat di Airport lansung bisa mendapatkan Residence Card sesuai waktu studi yang tertera. Kedua, langsung berangkat dengan visa kunjungan dan begitu datang langsung mengurus COE. Cara ini sangat riskan, namun ada teman yang sukses melakukannya. Syaratnya memang semua akomodasi di tempat tujuan sudah beres. Dan yang ketiga, mengurus COE keluarga setelah datang di Jepang. Cara ini yang sangat umum ditempuh oleh mahasiswa karena resiko bisa lebih diprediksi dan tentunya lebih nyaman untuk keluarga. Selisihnya paling cepat sekitar 2 bulan dari kedatangan kita.

Kali ini saya akan berbagi informasi mengenai bagaimana mendapatkan COE di Jepang, karena sudah saya lakukan dan buktikan sendiri, dan sukses tanpa revisi, oleh karena itu saya share ke temen-teman. Jalur yang saya tempuh adalah yang ketiga, dimana saya memilih datang duluan dan mempersiapkan segala sesuatu disini selama 1 bulan pertama dan kemudian mengurus COE di Tokyo Regional Immigration Bureau Tachikawa Branch Office. Saya masukkan berkas Senin tanggal 31 Oktober 2016 dan COE saya terima pada Selasa, 6 Desember 2016 atau proses berlangsung selama 5 pekan. Ada yang cukup 3 pekan saja dapat COE, tergantung memang dengan banyaknya aplikasi yang masuk saat itu.

Berikut persyaratan COE untuk mengundang keluarga ke Jepang;

  1. Application Form (masing-masing).
  2. Fotocopy dan terjemahan surat nikah (terjemahkan dalam bahasa Jepang, tidak perlu penerjemah bersertifikat).
  3. Fotocopy dan terjemahan akta lahir (masing-masing), untuk syarat ini juga terjemahkan dalam bahasa Jepang, tidak perlu penerjemah bersertifikat)
  4. Form Letter of Guarantee (masing-masing)
  5. Fotocopy Paspor (masing-masing termasuk paspor kita).
  6. Fotocopy dan asli Resident Card (zairyu).
  7. Amplop A5 dan perangko 392 Yen (jika berkas lebih dari 1, misal saya kemarin 3 bekas, cukup 1 aja amplop beserta perangkonya, perangko 392 yen ditempelkan di amplopnya, tuliskan alamat di Jepang). Perangko bisa dibeli di kantor pos atau kombini.
  8. Pasfoto 3×4 sebanyak 1 lembar (masing-masing), ditempel di berkas pengajuan.
  9. Surat Enrollment letter dari Kampus (tinggal print di mesin yang ada di kampus, bisa pilih bahasa Jepang atau Inggris, saya print yang bahasa Jepang).
  10. Sponsor letter atau keterangan bahwa mendapatkan beasiswa (dan besaran monthly allowance jika ada).
  11. Fotokopi Kartu Keluarga (KK) dan terjemahkan dalam bahasa Inggris.
  12. Fotokopi saldo terakhir buku tabungan. Tidak ada harus sekian Yen. Saat itu di buku tabungan saya hanya ada 290 Yen karena kiriman belum masuk, dan ternyata tidak masalah (COE tetap keluar) karena mungkin lebih dilihat sponsor letter beasiswa itu.
  13. Fotokopi dan asli Surat Juminhyo dari Kuyakusho. (Difoto-kopi untuk masing-masing), aslinya bisa disimpan. Biayanya cetaknya 250 yen, ditunggu sebentar jadi. Beberapa teman malah sudah punya sejak pendaftaran alamat apato resident card.

Beberapa file syarat COE bisa di-download disini. Link web resmi Imigrasi Jepang disini.

Syarat di atas saya ikuti dan alhamdulillah lancar. Teman dari negara lain sampai memakai penerjemah yang bersertifikat, selain mahal, sebenarnya hal ini tidak perlu. Cukup kita saja yang menterjemahkan dan menandatanganinya. Berkas terjemahan selalu lampiri dengan fotokopian dari berkas asli. Karena pengajuan COE ini masing-masing, maka cek lagi untuk tiap anggota keluarga lengkap semua itemnya. Semoga sukses! Jika dalam 1 pekan tidak ada surat ke mailbox kita untuk melengkapi berkas, perlu bersyukur, berarti berkas yang dikumpulkan kemarin lengkap dan sudah diproses. COE akan jadi 3 pekan sampai 2 bulan.

Ada teman yang aplly COE namun lama ga jadi-jadi, dan karena kedatangan keluarga sudah tidak bisa ditunda lagi, ia langsung pulang ke Indonesia untuk menempuh jalan kedua. Jadi dari pilihan kedua seperti penjelasan sebelumnya, mau beralih ke yang pertama. Ternyata ketika pulang ke Indonesia, COE datang ke alamat rumahnya di Jepang. Ketika kembali ke Jepang dan ingin mengurus COE, prosedur menjadi rumit. Harusnya COE yang sudah diperoleh dipakai ketika hendak keluar airport di Jepang, namun kemarin masuk ke Jepang dengan visa kunjungan. Proses perpindahan status itu menjadi lebih berliku. Jadi COE memang diurus ketika yang bersangkutan belum masuk Jepang. Alhamdulillah, bisa diselesaikan dengan baik dan mendapat resident card, dan keluarga tidak perlu kembali ke Indonesia. Tentunya menguras energi juga meloby peraturan Jepang yang terkenal kaku, kadang tergantung kebijaksanaan petugas lapang. Hikmahnya untuk temen-temen semua, bersabarlah dengan proses yang sudah dipilih dan ditempuh.

Terima kasih kepada pak Ali dan mas Arie Wahyu yang memberikan detail syarat-syarat ini. Insya Allah keluarga kami segera berkumpul sebagaimana keluarga kalian yang sudah berkumpul.

Tokyo, 24 Desember 2016

 
Leave a comment

Posted by on December 24, 2016 in Jepang, umum

 

Tags: , , , , , ,

Agro-innovation Jepang 2016

agro-innovation-japan

Tokyo adalah pusat dari salah satu kawasan terbesar di dunia. Tokyo, kota yang masuk kawasan Kanto ini menjadi kawasan terpadat di Jepang dengan kota lainnya yaitu Yokohama, Kawasaki, Saitama dan Chiba. Tokyo merupakan pusat kegiatan ekonomi dan konsumen yang dinamis. Setengah dari perusahaan Jepang publik berkantor pusat di Tokyo, bersama dengan sejumlah besar perusahaan modal ventura dan UKM dengan teknologi yang unik.

Berawal dari informasi teman, kami akhirnya tertarik juga untuk mendatangi Agro-innovation 2016, sebuah pameran profesional yang menampilkan teknologi dan produk terdepan bisnis pertanian di Jepang. Event-event besar di Jepang banyak diadakan di Tokyo, sebuah keberuntungan bagi para pelajar-mahasiswa yang kuliah di wilayah ini. Tentunya ini menjadi kelebihan tersendiri di tengah hiruk pikuk dan padatnya transportasi. Sarana refreshing yang sangat bermanfaat dan menambah ilmu.

Tokyo Big Sight di Odaiba menjadi lokasi expo yang meliputi produksi pertanian, pengolahan, grading, logistik dan berbagai teknologi unggulan pertanian lainnya. Hari terakhir ini tidak seramai yang dibayangkan, disisi lain ini menjadi keuntungan kami bisa melihat stand satu per satu. Sayangnya keterbatasan bahasa menyebabkan ilmu tidak tertransfer semua. Hmmm… perlu belajar lagi nih Nihongo. Beberapa stand penelitinya bisa menjelaskan dengan baik dalam bahasa Inggris, kesempatan yang tidak boleh kami lewatkan.

Salah satu stand yang menarik yaitu stand yang menyajikan info tentang i-Farming. Bukan karena kami dapat payung gratis disitu, hehe. tapi juga infonya memang up to date tentang penggunaan satelit di bidang pertanian. Wakamori yang menjadi senior manager Space Research Business Group Japan Manned Space System Corporation (JMSSC) menjelaskan bagaimana data dari satelit digunakan sebagai layanan informasi pertanian, layanan informasi meteorologi da layanan informasi bencana. Status budidaya tanaman dapat diakses melalui smartphone dan dapat di-update setiap 10 hari sekali.

Hal lainnya yang dipamerkan adalah teknologi tentang hidroponik, packaging, grading, pertanian organik, desain rangka rumah kasa, lampu LED untuk penerangan tanaman, dome house dan juga ada diskusi atau workshop. Ohya, tiket masuknya seharga 3000 yen, namun gratis jika kita membawa formulir dan 2 business card. Di lokasi ini juga banyak expo lainnya yang bisa dikunjungi. Ke depan moga berbagai event menarik serupa bisa dikunjungi. Kesempatan seperti ini harus dimanfaatkan. Dan ada baiknya memang ajak teman yang lancar bahasa Jepangnya agar interaksi lebih maksimal. 🙂

Tokyo, 20 Desember 2016

 
Leave a comment

Posted by on December 20, 2016 in Jepang

 

Tags: , , ,

 
%d bloggers like this: