RSS

Category Archives: Activity

National Astronomical Observatory of Japan

Sejak kecil, saya senang akan benda astronomi. Apalagi ketika langit cerah dan nampak berbagai rasi bintang. Walau yang kupaham hanya rasi bintang layang-layang di sebelah selatan. Tidak tahu kenapa membayangkan luar angkasa itu selalu asyik, daya imainasinya berkembang kemana-mana. Apalagi ditambah tayangan film Saint Saiya dengan karakter utamanya Pegasus Seiya, Athena, Dragon Shiryu, Phoenix, Hyoga dan Andromeda, dst. Film Saint Saiya ini dulu selalu dinanti tayangnya selain Ksatria Baja Hitam. Dengan Film Saint Saiya itu, wawasan tentang zodiac dan cerita mitos Yunani mudah dipahami.

Untuk tahu lebih banyak astronomi akhirnya hanya menggantungkan tayangan televisi yang entah tayang kapan, koran yang juga tidak rutin beli dan buku-buku luar angkasa di sekolah. Selain itu tidak ada fasilitas memadai. Museum di Yogyakarta saat itu tentang astronomi juga tidak seperti sekarang ini, dimana ada taman pintar dan berbagai museum menarik lainnya. Kalau mau tahu benar ya harus ke Bosscha Lembang. Jauhhh! Pengetahuan tentang bintang dan luar angkasa memang bisa kita dapatkan lengkap di tempat ini. Bagaimana dengan tempat lainnya, bisa jadi sekarang sudah banyak, perlu dilacak lagi nih…

NAOJ: National Astronomical Observatory of Japan

Kali ini saya ingin sedikit mengupas observatory di Jepang yang beberapa hari lalu sempat kami kunjungi. Lokasinya kebetulan tidak begitu jauh dari tempat tinggal, jadi bisa dijangkau dengan sepeda. Awalnya sih iseng-iseng, cari tempat wisata dekat yang terjangkau dengan sepeda dan menarik. Dan beruntung, banyak sekali lokasi menarik disini. Setidaknya ada 2 lokasi untuk yang berhubungan dengan observatorium dan astronomi yaitu di Kyodonomori Museum dan di NAOJ ini. Langsung saja lokasi ini menjadi tujuan akhir pekan. Setelah tertunda beberapa bulan, akhirnya berkesempatan kesini. Walau estimasi bisa ditempuh hanya 30 menit, namun kami menempuh selama 1 jam, maklum mampir-mampir beli onigiri.

Mengapa ke NAOJ?

Pertama, NAOJ adalah lembaga penelitian berkelas dunia. Markas NAOJ terletak di Mitaka Campus di Mitaka, Tokyo. Sebagai lembaga penelitian yang terbuka untuk umum, NAOJ menjadi tuan rumah acara reguler dan open house tahunan sebagai bagian dari promosi penelitian astronomi Jepang. Sayang jika kesempatan untuk mengenalnya dilewatkan, tentunya menjadi pengalaman berharga juga buat anak-anak. Kedua, terjangkau lokasinya. Bahkan pemberhentian bus tepat berada di depan gerbang lokasi ini. Ketiga, Free alias masuk areal ini tidak dipungut biaya. Kita hanya perlu lapor ke petugas di pintu masuk untuk mendapatkan sticker pengunjung. Ketiga, suasananya sejuk dan menyegarkan, juga ramah anak. Walau perlu diperhatikan ada areal yang boleh dan tidak boleh dikunjungi. Hal ini karena lokasi ini sebenarnya masih aktif digunakan untuk kampus dan riset. Dan keempat, dokumentasinya sangat bagus. Lokasi paling favorit yaitu Observatory History Museum yang lantai 2-nya terdapat teropong raksasa dan lanta 1-nya banyak foto menarik aset NAOJ di seluruh dunia.

Pada era perang Jepang – Rusia selama tahun 1904 (era Meiji 37) sampai tahun 1905 (era Meiji 38), kondisi Jepang saat itu tidak memungkinkan untuk melakukan relokasi Observatorium Astronomi Tokyo. Jepang menanggung biaya perang yang besar. Upaya untuk memindahkan Observatorium Astronomi Tokyo ke Mitaka dimulai lagi dari tahun 1914 (era Taisho 3), namun kemajuannya sangat lambat. Pada tanggal 1 September 1923 (era Taisho 12), Observatorium Astronomi Tokyo di Azabu-iigura mengalami bencana besar akibat Gempa Besar Kanto. Beruntung, beberapa instrumen pengamatan seperti transit Repsold pun mampu lolos dari kerusakan. Momentum ini digunakan untuk menggalakkan kembali relokasi ke Mitaka Tokyo Astronomical Observatory.

Kubah Teleskop 65 cm (Observatory History Museum), bangunan yang paling lengkap yang bisa kami kunjungi dan memuat banyak informasi perkembangan penelitian astromoni di Jepang dirancang oleh Departemen Fasilitas Universitas Kekaisaran Tokyo dan dibangun oleh Yoshihei Nakamura pada tahun 1926. Telescope refractor yang dipakai berukuran 65 cm dibuat oleh Carl Zeiss di Jerman dan memiliki aperture terbesar di antara teleskop refraktor di Jepang. Setelah selesai pada tahun 1929, digunakan untuk berbagai pengamatan sebagai teleskop aperture terbesar sampai reflektor teleskop 188 cm di Observatorium Astrofisika Okayama dibangun pada tahun 1960. Pada tahun 1998 teleskop ini dipensiunkan, namun dengan bagian yang masih lengkap sebetulnya masih bisa digunakan lagi sewaktu-waktu.

Hambatan terbesar untuk menikmati tempat ini yaitu kendala bahasa. Hampir semua staf hanya bisa berbahasa Jepang saja. Dianjurkan memang mengajak teman yang bisa berbahasa Jepang agar semua ilmu bisa terserap. Satu-satunya yang mempermudah kami ketika berkunjung ke tempat ini karena telah membuka dulu website sebelumnya. Leaflet juga lumayan membantu dan bisa kita minta yang berbahasa Inggris. Ketika mengunjungi Solar Tower Telescope yang dikenal sebagai “Einstein Tower” karena struktur bangunan yang sama seperti Observatorium Astrofisika Potsdam di pinggiran kota Berlin, kami merasa salut akan dedikasi para petugasnya. Walau tahu dan sudah kami beritahu bahwa penguasaan bahasa Jepang kami terbatas, mereka tetap saja dengan antusias menjelaskan detail fungsi dari Eisntein Tower ini dan bagaimana kinerjanya. Akhirnya kami memang mengerti karena mereka mempraktekkan cara kerja alat itu dan menunjukkan hasil pembiasan warna seperti warna pelangi. Setidaknya ada lima tingkat tangga dengan tingkat kecureman tinggi untuk mencapai puncak teleskop.

Melihat lokasi lainnya yang sangat menarik, ingin rasanya mengunjungi observatory di tempat lainnya. Namun membayangkan bagaimana berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun bertugas di tempat terpencil untuk pengamatan ini tentunya hanya orang-orang dengan mental dan hoby tinggi yang bisa melakukannya. Mereka bertugas untuk kemajuan ilmu pengetahuan. Kita bisa menikmati hasilnya baik secara langsung maupun tidak langsung.

Tokyo, 17 November 2017

 

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on November 17, 2017 in Activity, Jepang, Perjalanan

 

Tags: , , , , ,

Hikmah Silaturrahim

Seharian kemarin mendapat pengalaman menarik menemani Sensei presentasi di Tsukuba University. Tampaknya ini kelas Forestry dan bersinggungan dengan Rural Development Policy and Planning yang diampu oleh Prof. Masuda. Sensei kami dari Tokyo University of Agriculture and Technology diundang sebagai dosen tamu dan diminta presentasi tentang “Introduction of Japanese agroforestry in the Brazilian Amazon to West African Cocoa Farms (by Prof. Yamada)” dan topik kedua tentang “Challenges of Charcoal Application for Sustainable Agriculture in Southeast Asia (by Assc. Prof. Oikawa)”. Kelas yang berisi lebih dari 40 mahasiswa internasional ini berlangsung aktif. Apalagi membahas mengenai sustainable agroforestry per oasis negara.

Diskusi berlanjut di meja makan. Apalagi temen-temen dari Ghana ingin berbagi secara langsung perkembangan negaranya yang menjadi salah satu negara tujuan riset. Saat ini Cocoa yang menjadi andalan ekspor negaranya memang sedang menurun. Namun ternyata mereka telah melakukan banyak upaya untuk meningkatkan kembali produktifitasnya, salah satunya dengan grafting. Bahkan lembaga risetnya, (kalau kita ya Puslit Kakao) sudah menggandeng banyak pihak termasuk FAO untuk meningkatkan program pemberdayaan penduduk lokal. Penduduk lokal tidak mau pohon yang sudah berumur lebih dari 25 tahun itu dibongkar, alasannya karena jika dibongkar hak guna langsung hilang. Tentunya masalah sosial yang spesifik membuat berbagai program yang sukses di daerah lain harus disesuaikan keadaan setempat. Yang unik lagi ternyata komoditas kakao di Ghana tidak ditangani Kementerian Pertanian, tapi Kementerian Keuangan. Ini tantangan tersendiri di birokrasinya.

Teman-teman Tsukuba dari negara lainnya juga sharing tentang pengembangan berbagai program pemberdayaan masyarakat di negaranya. Prof. Masuda yang mengundang Sensei kami ternyata bisa berbahasa Indonesia. Lancar sebagaimana Oikawa Sensei. Wah jadi malu, hehe. Sampai sekarang saya nggak bisa Bahasa Jepang. Beliau kenal dengan beberapa dosen Kehutanan UGM yang menjadi partnernya. Tahu juga sekelumit tentang Indonesia.

Selepas makan, agenda selanjutnya adalah berkunjung ke kediaman Emeritus Prof. Shioya (general agronomist) yang kebetulan rumahnya di Tsukuba dan kali ini pimpinan departemen IEAS Fujii-sensei and Kawabata-sensei bergabung. Emeritus Prof Shioya ini sebelumnya adalah professor TUAT dan pensiun pada usia 63 dan sekarang di usia 77 tahun sekarang ini masih produktif menulis di berbagai koran lokal dan juga journal. Karya-karya yang baru saja terbit beberapa bulan ini dengan bangganya ditunjukkan ke kami. Dan seperti pesan Sensei kami sebelumnya di mobil, beliau akan dengan antusias bertanya dan menanyai kalian terutama mengenai regional development dan isu terbaru. Maka kami berempat dari Indonesia, Malaysia, Kamboja dan Ghana pun ditanyai satu persatu. Serasa giliran presentasi. Haha.

Namun dari 3 jam berbincang dengan beliau, kami tentunya lebih banyak mendengar daripada bicara. Kesempatan yang baik tentunya untuk menimba banyak ilmu. Beliau bercerita tentang tempat kelahirannya di Fukhushima dan dampak nuklir bagi pertanian sampai saat ini. Begitu juga dengan ketergantungan impor Jepang atas komoditi gandum dari AS. Sebagaimana diketahui, Jepang memang berhasil melakukan diversivikasi dari 100 sekian kg beras per kapita saat ini menjadi 60 kg per kapita. Awalnya petani senang menanam gandum, namun produktifitas 3 ton per ha tidak mampu bersaing dengan gandum AS yang 7 ton per Ha. Prof. Shioya saat itu mampu menghasilkan teknologi gandum sehingga panen mencapai 7 ton per ha namun ketika ditawarkan ke pemerintah lokal, tawarannya tidak terlalu dilirik. Ditambah kebijakan nasional yang tidak mendukung petani gandum. Jadilah saat ini ketergantungan terhadap gandum impor sangat besar. Dan masalah inipun akan melanda negara lain yang ingin diversivikasi pangan. Program berhasil namun berdampak lain yaitu matinya petani gandum lokal. Sebuah kebijakan yang diambil perlu ditimbang benar untung ruginya dalam jangka panjang, termasuk antisipasi masalah tak terduga. Sharing yang menarik.

Kopi dan teh hangat pun telah empat cangkir saya habiskan, begitu juga dengan lainnya. Soalnya begitu habis langsung diganti cangkir lainnya oleh tuan rumah. Hampir semuanya kemudian permisi ke toilet secara bergiliran, tanda untuk pamit juga. Hehe. Kalau diteruskan beliau tampaknya nggak akan berhenti bicara dalam waktu yang singkat.

Walau usia sudah 77 tahun dan ketika berjalan harus dibantu tongkat, secara fisik masih sehat dan pikirannya sangat jernih. Begitu juga dengan istrinya yang pensiunan guru TK, masih bugar. Jadi berandai-andai, bisakah kita besok kalau pensiun didatangi oleh juniornya (teman-teman kita) dan berbagi seperti ini? Tentunya bergantung dengan apa yang kita lakukan saat ini. Jika hubungan baik dengan banyak orang dijaga, kontribusi terasa nyata, siapa sih yang tidak mau terus menyambung silaturrahim? Ah, jadi ingat guru-guru dan dosenku, rasanya sudah lama nggak main juga bersama teman-teman. (hnf)

 

Tokyo, 10 November 2017

 
Leave a comment

Posted by on November 10, 2017 in Activity, Jepang

 

Tags: , , ,

Meiji Jingu Flowers

These flowers were given by the chrysanthemum flower groups, whose relationship with MEIJI JINGU run deep to celebrate the festival of MEIJI JINGU.

The chrysanthemum flower is a perennial plant that has a long tradition in Japan. It was largely improved about 300 years ago and became a flower of appreciation.

There are many kinds of chrysanthemum flowers. There are white, yellow, pink and red variations of the flower, whose size too, may vary from large to small.

They need so much water that it is necessary to water them twice a day, in the morning and the evening. Much effort is needed to cultivate the flower. The shape of the chrysanthemum represents the Imperial Family.

 
Leave a comment

Posted by on November 4, 2017 in Activity, Jepang, Perjalanan

 

Tags: , ,

Buku Bacaan

img_1765

Aktifitas membaca harusnya menjadi kebiasaan yang baik yang perlu dibiasakan sejak dini ke anak-anak. Di Jogja ada “Rumah Baca” yang digagas Mas Ganjar. Ketika ke Jogja kemarin sempat silaturrahim dan bertemu lulusan S3 dari Inggris pegiat FLP ini. Sepintas kekaguman pun muncul, bisa nggak ya besok pulang dari sekolah di luar negeri membawa sesuatu yang bermanfaat bukan hanya untuk diri sendiri dan keluarga saja? Tentunya tidak harus sama persis, namun dalam bentuk lain. Sampai sekarang masih belum kebayang tuh… hehe.

Ngomongin “Rumah Baca” tidak lepas dari koleksi buku. Disini kami tidak kesulitas menemukan buku berkualitas, khususnya buat anak-anak. Tinggal pergi saja ke toko buku second BookOff, buku bergambar untuk anak banyak bisa dengan mudah ditemui. Kebanyakan memang nihongo, namun ada juga yang berbahasa Inggris walau sangat terbatas dan harganya berlipat. Membeli banyak buku bacaan Nihongo untuk saat ini memang tidak menjadi prioritas, anak-anak perlu media yang nyaman dan tentunya terjangkau kantong kami juga.

img_1751.jpg

Untunglah tak jauh dari tempat kami tinggal sekarang ini ada Fuchu City Library yang setiap hari kami lewati ketika mengantar si-sulung ke sekolah. Dan kesempatan ke-3 kalinya kami mampir disitu anak-anak mulai nyaman. Petugas pun memberikan penjelasan dengan ramah sehingga kami pun lebih paham mengenai seluk beluk perpustakaan ini dan sistemnya.

Berlokasi di gedung 5 lantai, fasilitas perpustakaan sendiri letaknya di lantai 3,4 dan 5. Corner kids yang berisi buku anak-anak terdapat di lantai 3. Ada ruang baca lesehannya juga. Kamar mandi khusus anak juga tersedia disini. Setiap lantai mempunyai longue untuk sejenak istirahat dengan makan dan minum. Tersedia pula vending machine dengan pilihan kopi hangat atau minuman kaleng dingin. Buku khusus bahasa Inggris ada di lantai 3 (rak khusus anak) dan lantai 4 dekat dengan Vienna section.

Vienna section ini ruangan khusus mengenai koleksi dari Eropa khususnya Vienna karena dulu merupakan program kerjasama dengan distrik Hernals, Wina. Bagian ini memuat bahan-bahan (buku, CD) dari kota tersebut yang merupakan kota persahabatan Fuchu. Ruang ini menyediakan suasana yang menyenangkan untuk mengalami seni, sejarah, budaya dan lingkungan alam Wina melalui materi ini. Fasilitas untuk mendengarkan CD juga tersedia.

Pengalaman Aisyah pertama kali ke sini agak rewel. Baru saja datang sudah minta pulang, laper katanya. Padahal sebelum mengantar kakaknya, sudah makan. Maklum, musim dingin memang membuat perut cepet memproses makanan, jadinya mudah lapar. Sambil menunggu Bundanya yang sedang membereskan berkas di Fuchu city hall, kami memilih minuman hangat banana yang lumayan menghangatkan dan mengganjal perut. Selain menghabiskan waktu di perpustakaan, besok pengin mencoba pinjam buku. Lumayan, sekali pinjam bisa 10 buku selama 2 pekan. Amunisi yang baik untuk berdiam di dalam rumah selama musim dingin. [hnf]

 
Leave a comment

Posted by on November 3, 2017 in Activity, Tingkah Polah Anak

 

Anak Hilang

Sore ini kami mendapatkan pengalaman yang berharga, dan semoga tidak terjadi lagi. Biasanya hanya melihat poster atau berpapasan dengan ortu yang bahagia dipertemukan lagi dengan anaknya yang terpisah, baik di tengah keramaian maupun di stasiun. Namun, kali ini kami mengalaminya. Ya, Fadhil sempat ilang hampir 1 jam.

Bermaksud menengok istri yang sedang pemulihan persalinan, sore sehabis kuliah anak-anak kuajak menuju rumah sakit yang total waktu tempuhnya 40 menit dengan bus dan kereta, atau maksimal 1 jam bila agak ramai. Di perjalanan seolah tampak lancar, sampai di stasiun Bubaigawara, pengalaman yang tidak diinginkan itu terjadi.

Karena persimpangan stasiun dan cukup ramai, Fadhil yang awalnya kugandeng untuk masuk kereta, gandengannya terlepas. Awalnya kukira pasti mengikuti, lha tinggal dua langkah saja dari pintu kereta. Ternyata tidak!…

Sadarnya ketika sedang cari lokasi berdiri yang nyaman di dalam kereta. Tengok sana, tengok sini. Nanya sana, nanya sini tidak ada yang tahu. Foto hpku pun tak perlihatkan saat nanya ke orang-orang. Bahkan gerbong demi gerbong kucek bersama Aisyah (adiknya), hasilnya nihil. Langsung saja perkiraanku, dia ketinggalan di stasiun transit tadi.

Akhirnya di stasiun berikutnya keluar dan langsung lapor petugas. Khawatir terjadi apa-apa. Bayangan buruk pun berusaha kuenyahkan, tapi sulit ilang. Misal, diculik orang. Maklum, lha Ayahnya saja deg-degan cemas, apalagi Fadhil sendirian. Pasti celingak-celinguk gak karuan. Gak kebayang, kasihan kau Nak! Semoga tidak terjadi apa-apa.

Petugas pun menanyakan ciri detail. Beruntung sebelum berangkat sempat memfoto Fadhil dan Aisyah. Dengan mudah pun sosoknya teridentifikasi. Sekitar 20 menit kemudian, petugas pun memberi tahu bahwa ditemukan anak dengan ciri yng dimaksud. Alhamdulillah…

Read the rest of this entry »

 

Tags: , , ,

Fuchunomori Park (Tokyo)

Pertama kali melewati taman Fuchunomori ini dari sisi selatan sudah takjub. Waow, taman ini lengkap fasilitasnya. Fuchunomori Seni Teater bangunannya indah dan sekitarnya hijau. Jika berjalan ke utara, maka akan nampak berbagai fasilitas seperti area olahraga, joging, baseball, tenis, sepak bola, taman bermain,area barbeque, area terbuka dan ada pula Museum Seni Fuchu. Detail ada disini.

Taman ini awalnya merupakan bekas pangkalan militer AS setelah perang dunia kedua. Daerah sekitarnya memang terdapat bekas pangkalan udara dan saat ini beberapa pesawat jet dipajang di dekat gerbang bekas pangkalan di sisi kanan taman ini. Mengingat kebutuhan akan perbaikan lingkungan warga, maka bekas pangkalan ini dikembangkan menjadi taman, fasilitas olahraga, dan pusat evakuasi ketika terjadi bencana.

Sepanjang 300 meter, di taman terdapat pohon sakura yang tentunya akan indah saat awal musim semi. Di sekitar Fuchunomori park juga terdapat 8 patung seniman terkemuka. Salah satunya adalah patung Anne & Michele yang sama Fasya dikira mbak-mbak sedang ngobrol karena keduanya berambut panjang. Japanese Garden tampaknya menarik, namun biasanya bagus saat musim gugur dan musim semi. Kami pun belum terlalu mengeksplor Japanese Garden ini.

Pada saat kami ke sini bersama anak-anak, yaitu di akhir musim gugur, yang nampak adalah pohon kering. Pun begitu, taman ini tetaplah indah. Taman bermain dan hamparan rumput menjadi area menarik untuk bermain. Saat wekdays, taman ini pun sering dipakai rombongan anak-anak TK bermain. Jangan sampai lupa membawa cemilan dan bento ketika main disini. Waktu 4 jam pun bagi anak-anak terasa begitu cepat.

Pada saat akhir pekan, taman ini lebih ramai. Ada yang bermain layang-layang, lempar bola, bulu tangkis dan berlatih sepak bola. Fadhil dan Aisyah lebih memilih bermain di playground anak dan bermain gelembung. Karena musim gugur, air yang mengalir hanyalah di air mancur dan air terjun pojok perempatan.

Tokyo, 25 Maret 2017

 
Leave a comment

Posted by on March 25, 2017 in Activity, Jepang

 

Tags: , , , , , ,

Koganei Park (Tokyo)

Akhir pekan adalah waktu yang cocok buat refreshing sekeluarga. Setelah “ndekem” di ruangan selama 1 pekan tentunya anak-anak merasa bosan dan ingin refreshing. Nah. tempat termurah dan nyaman untuk melewatkan waktu bersama disini yaitu di taman yang banyak tersedia di Tokyo. Kali ini kami mengunjungi Koganei Park. Taman ini letaknya di utara Stasiun Musashi atau Higashi Koganei, sekitar 30 menit dari lokasi kontrakan kami menggunakan bus.

Koganei Park ini luasnya 79 hektar atau 1,5 kali luas Ueno Park. Taman ini lengkap fasilitasnya. Selain hamparan rumput, terdapat pula playground anak-anak, areal sepatu roda dan skiteboard, lapangan baseball, lapangan anjing, areal seluncur, gedung panahan, lapangan tenis, area barbeque, area sepeda, dll.

Lokasi yang paling disukai Fadhil dan Aisyah yaitu playground, dimana terdapat perosotan aneka macam, termasuk yang besar yang bisa digunakan pula oleh orang tua. Sayangnya ketika kemarin kami kesana, debunya sangat mengganggu. Area ini tampaknya menjadi favorit banyak keluarga, apalagi akhir pekan, peminatnya sangat banyak.

Taman ini memang sangat komplit, ada fasilitas meluncur dari rumput sintetis, sayangnya kami tidak mempunyai alat seluncur itu sehingga anak-anak pun hanya bisa melongo dan beberapa kali merengek minta untuk meluncur. “Kapan-kapan ya Nak, kalau sudah punya papan seluncurnya kita main bareng-bareng.” Untungnya dari atas nampak gundukan putih, dimana antriannya lumayan panjang. Kayaknya menarik tuh. Anak-anak pun bisa jot-jotan di arena itu.

Ketika kami mendekat, ternyata dibatasi setiap anak maksimal 10 menit. Alas kaki termasuk kaos kaki harus dilepas agar anak tidak tergelincir. Petugas pun menghitung banyaknya anak yang masuk, kurang lebih 30-50 anak. Memang sih kalau tidak dibatasi permainan ini menjadi tidak nyaman dan anak-anak pun akan saling bertabrakan.

Taman yang terbuka dan gratis seperti ini sangat bagus untuk tempat refreshing. Tidak perlu jauh-jauh memang, Setiap kota biasanya punya 1 taman besar dan banyak lagi taman ukuran sedang. Karena kali ini hanya survei, ke depan akan berkunjung lagi sejak pagi tentunya. Sasaran yang dituju adalah playground anak.

This slideshow requires JavaScript.

 
Leave a comment

Posted by on March 25, 2017 in Activity, Jepang

 

Tags: , , , , , , ,

Mengenal Stone Fruit

Apa kesan yang terlintas saat mendengar istilah “stone fruit”? Kebanyakan kita mungkin berpikir dan membayangkan buah batu yang bijinya keras dan besar. Ketika disodorkan di hadapan kita beberapa contoh buah jenis ini barulah kita kebingungan bagaimana membedakannya? Peach, nectarine, plum, aprikot, dan cherry adalah semua anggota dari genus prunus (family Rosaceae), oleh karena itu kekerabatannya dekat. Buah ini umumnya disebut sebagai stone fruits (buah batu) karena benihnya sangat besar dan keras. Mangga pun dimasukkan dalam kategori buah ini. Meskipun begitu pemahaman umum seperti ini berbeda dengan ahli botani karena tidak semua stone fruit harus berbuah besar dan tunggal karena Rasberries pun masuk kategori stone fruits.

Kita yang berada di wilayah tropis tentunya asing dengan nama-nama buah ini. Bentuknya pun bahkan tidak tahu. Berbeda dengan penduduk yang berada di daerah subtropis, aneka stone fruits justru menjadi buah unggulan. China menjadi negara produsen terbesar dimana 50% peach dan nectarine di negara ini. USA, Italy dan Spanyol menjadi negara produsen berikutnya dengan produksi lebih dari 1 juta ton per tahun. Rata-rata produktifitas lahan yang ada mencapai 20 ton/ha, namun petani yang mampu merawat dengan optimal mampu menghasilkan 40 ton/ha.

Prof. Daniele Bassi dan Prof. Antonio Ferrante, Dept. Agricultural and Environmental Science University of Milano dalam presentasinya di Tokyo University of Agriculture and Technology (TUAT) menyampaikan rencana dan apa yang sudah dicapai dalam penelitian buah peach dan apricort di Itali. Dalam uraiannya, ia telah mengoleksi ratusan plasma nutfah berbagai stone fruit di dunia. Dan ternyata selain dari China, peach dan apricort berkembang baik di Jepang. Jepang dianggap sebagai negara yang punya plasma nutfah buah dengan keragaman yang unggul. Dari penelusurannya, indukan tanaman yang didapat dari New Jersey, USA ternyata awalnya dari Jepang.

Maka kedatangannya ke Jepang termasuk dalam rangka kerjasama pertukaran material untuk breeding program. Dalam hal ini jujur saja, kita tertinggal jauh. Begitu rumitnya mekanisme untuk kerjasama dan disisi lain begitu mudahnya plasma nutdah kita keluar secara ilegal dan dimiliki peneliti lain. Kerjasama yang saling menguntungkan memang perlu digagas dan terus diupayakan, apalagi tantangan global seperti climate change, serangan hama dan penyakit yang mematikan sekarang ini tidak hanya dialami satu-dua negara saja.

Itali yang selama ini diuntungkan dengan kondisi geografis yang sangat mendukung pengembangan buah di wilayah utara negaranya saat ini perlu terus berinovasi karena kompetitor meraka di Eropa yaitu Spanyol sudah menggeser posisi Itali dalam jumlah tonase ekspor ke negara sekitarnya. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menghasilkan buah yang sesuai preferensi konsumen di masa datang. Dan hal ini tentunya tidak mudah mengingat ketatnya standar Eropa, terutama dalam keamanan pangan. Usaha meningkatkan daya simpan agar buah bisa lebih lama sampai konsumen pun terus dilakukan.

Lalu bagaimana cara membedakan jenis stone fruits tersebut? Berikut secara ringkas beberapa jenis stone fruit:

Plum

Plum terkait erat dengan buah persik dan ceri dan secara luas dimakan segar sebagai buah pencuci mulut, dimasak sebagai kolak atau selai, atau sebagai bahan kue. Eropa plum (P. domestica) dan plum Jepang (P. salicina) yang ditanam secara komersial untuk buah-buahan, dan sejumlah spesies, termasuk plum ungu-daun (P. cerasifera), digunakan sebagai tanaman hias untuk karena mengasilkan bunga dan daun yang menarik.

Plum – Encyclopedia Britannica

 

Peach

Tanaman peach berdaun kecil dimana pohonya mampu tumbuh sampai dengan ketinggian 25 sampai 30 kaki, banyak ditanam di Amerika Serikat, Eropa, dan China dan umumnya diminum dalam bentuk jus. Ada beberapa kultivar peach tumbuh di seluruh dunia yang berbeda dalam warna, ukuran dan karakteristik tumbuh berdasarkan daerah asal. Bunga peach muncul di musim semi. Secara umum, masa panen buah hampir seragam antara Mei dan September. Buahnya seukuran apel kecil, dengan diameter dan berat sekitar 130-160 gram.

Peach

 

Aprikort

Aprikot dibudidayakan hampir di seluruh dunia, terutama di Mediterania. Mereka dimakan segar atau dimasak dan diawetkan dengan pengalengan atau pengeringan. Buah ini juga banyak dibuat menjadi selai dan sering digunakan untuk perasa minuman. Aprikot merupakan sumber yang baik untuk vitamin A dan kandungan gula alaminya tinggi.

Apricot – Pinterest

Nektarine

Nectarine disebut sebagai varian genetik peach umumnya, nektarin itu kemungkinan besar domestifikasi dari Cina lebih dari 4.000 tahun yang lalu, sepintas nectarine dan peach pohonnya hampir tidak bisa dibedakan. Ciri khas yang membedakannya dengan peach adalah tidak adanya bulu-bulu halus di permukaannya. Bulu-bulu halus pada permukaan buah ini merupakan ciri khas dari peach itu sendiri. Terkadang, saat bunga peach mengalami polinasi, maka akan dihasilkan dua jenis biji, satu jenis yang akan tumbuh menjadi pohon nektarin dan jenis yang lainnya akan tumbuh menjadi pohon peach itu sendiri

© alexlukin/Fotolia

 

Cherry

Kebanyakan buah cherry tumbuh di belahan bumi utara. Ceri tidak mencakup satu jenis saja, tetapi ada beberapa, seperti P. cerasus, P. avium, dan P. emarginata. Di Jepang, cherry disukai dan bunganya disebut Sakura. Buah ceri mengandung antosianin, yaitu pigmen warna merah yang baik untuk kesehatan karena merupakan antioksidan. Selain itu, rutin mengkonsumsi buah ceri setiap hari dapat menurunkan jumlah kadar asam urat dalam tubuh, bahkan dapat menyembuhkan pirai.

@pinterest

 

Jika hanya melihat penjelasan dan gambar di atas, sekilas memang mudah membedakan, namun ketika ditampilkan berbagai varietas tersebut bersamaan, tentunya sulit untuk membedakan mana itu peach, nectarine, plum, dan aprikot. Seperti yang saya alami kemarin ketika melihat tampilan berbagai varietas di slide presentasi. Apalagi masing-masing variannya juga banyak dengan warna buah matang yang berbeda pula. Semoga bisa merasakan satu per satu, sehingga nanti mudah untuk membedakannya. 🙂

 

Tokyo, 23 Maret 2017

 
Leave a comment

Posted by on March 23, 2017 in Activity, Jepang

 

Tags: , , , , ,

Belajar Antre


Ada banyak hak yang dijaga ketika kita mau antre. Siapa yang duluan, dia lebih berhak untuk memperoleh haknya, dalam membeli maupun duduk menggunakan fasilitas publik, dll. Namun begitu, prioritas tetep diberikan kepada orang tua, ibu hamil dan anak-anak ketika naik bus maupun kereta, sehingga yang di belakang dan membutuhkan tetap nyaman.

Fadhil dan Aisyah pun sedang belajar antre. Seringkali bertanya ngapain sih harus berbaris? Untuk hal ini kami pun mudah memberi pengertian. Namun ada fenomena yg unik yang kami juga sulit mengerti, dimana disini orang rela antre 1 jam sebelum toko buka maupun untuk makan rela berdiri lama mengular untuk menunggu gilirannya. Awal-awal memang sulit karena maunya duluan masuk bus, masuk kereta, masuk lift dan macam-macam aktifitas, mereka maunya serba pertama. Namun perlahan tapi pasti, anak-anak mulai mengerti.

Dengan antre semua lebih nyaman, selamat dan juga anak belajar untuk menghargai sebuah usaha; jika mau duluan ya datang dulu dengan persiapan lebih awal. Anakpun merasa bahwa orang lain juga penting. Rasa malu pun akan tumbuh jika merampas hak orang lain.

Ada banyak hal yang bisa dipelajari, dan pelajaran hidup antre sejak dini ini memang akan bermanfaat kelak, bahwa manfaat antre itu menjaga banyak hak dan agar semua hak tertunaikan dengan baik, kita wajib untuk ikut etika baik yg dijunjung masyarakat sekitar. Toh, kita juga ingin dihargai kan? 😊

Tokyo, 17 Maret 2017

 
Leave a comment

Posted by on March 17, 2017 in Activity, umum

 

Nobel Prize Dialogue Tokyo 2017

noble-prize-dialogue-tokyo-2017-zainurihanifAhad, 26 Februari 2017 bersama rombongan teman-teman PPI Nokodai kami mengikuti acara Nobel Prize Dialogue Tokyo 2017 di Tokyo International Forum. Acara ini adalah event yang diselenggarakan oleh Japan Society for the Promotion of Science (JSPS). Acara ini diadakan untuk menyebar pengetahuan tentang prestasi nobel dan merangsang minat dalam ilmu pengetahuan, sastra dan perdamaian. Tema yang diambil pun sangat menarik, yaitu “The Future of Intelligence.” Dialog kali ini mengeksplorasi topik dari lima pemenang nobel dan para ahli terkenal dunia.

Acara ini free, kami hanya perlu untuk registrasi 2 bulan sebelumnya dan saat hari-H menunjukkan print out lembar registrasi. Tepat pukul 08.00 JST registrasi dibuka dan antrian yang mengular pun segera berpindah dari meja registrasi di B1F Lobby Galery ke lantai atas B7. Ternyata banyak juga teman-teman Indonesia yang datang di acara ini, wajahnya tidak asing, apalagi kalau sudah terdengar bicara bahasa Indonesia. Beberapa bahkan dari luar Tokyo seperti Kyoto.

Hidup di kota besar seperti Tokyo tentunya tidak menjadi pilihan sebagian mahasiswa. Alasan utamanya biasanya karena padatnya penduduk (yang implikasinya ke ruwetnya jalur kereta, dst) dan juga biaya hidup yang mahal. Namun, sebagian yang lain justru memilih hidup di kota besar karena mudahnya berbagai akses fasilitas seperti makanan halal dan juga berbagai event internasional seperti seminar, pameran maupun event sebagaimana noble prize dialogue kali ini.

Bagi teman-teman yang belum berkesempatan hadir bisa mengaksesnya melalui Youtube https://www.youtube.com/user/NobelWeekDialogue. Acara ini diselenggarakan 2 tahun sekali dan tahun sebelumnya bisa juga diakses di link tersebut.

Kesan saya ikut dalam acara ini yaitu panitia terlihat sangat profesional, semua jadwal berlangsung dengan tepat waktu dan fasilitas peserta sangat memadai. Video streaming juga berkualitas sangat bagus. Peserta juga diberikan alat translater yang bisa dipakai 2 bahasa, bahasa Jepang dan Inggris. Yang perlu ditambahkan yaitu peta toilet di setiap lantai karena ketika masa rehat, antrian di toilet dekat acara sangat panjang. Peta yang terpampang di booklet hanya di sekitar lokasi acara saja. Kalo dari penyelenggaraan kuberi bintang 5 dari 5.

Acara seperti ini sangat menarik, karena sebagai peneliti kita tidak hanya didorong untuk mendalami keilmuwan kita, namun perlu untuk mempelajari bidang lainnya. Terkadang ide dan inspirasi didapat dari mempelajari bidang yang tidak berhubungan sama sekali dengan keilmuwan yang selama ini kita tekuni. Dan ketika menyimak ide-ide panelis, mereka sangat visioner. Melakukan sesuatu hal yang di luar nalar. Seperti bagaimana mengukur gelombang gravitasi dengan membandingkan pengukuran dengan membangun stasiun riset di gurun dan membandingkan dengan partikel atom yang diperbesar sampai jutaan kali.

Semoga ke depan bisa mengikuti acara serupa. Begitu juga dengan teman-teman. Insya Allah banyak manfaatnya.

photo; dokumen pribadi dan FB @nobleprize

Tokyo, 27 Februari 2017

 

 
Leave a comment

Posted by on February 27, 2017 in Activity, Jepang

 

Tags: , , ,

 
%d bloggers like this: