RSS

Category Archives: Activity

Anak Hilang

Sore ini kami mendapatkan pengalaman yang berharga, dan semoga tidak terjadi lagi. Biasanya hanya melihat poster atau berpapasan dengan ortu yang bahagia dipertemukan lagi dengan anaknya yang terpisah, baik di tengah keramaian maupun di stasiun. Namun, kali ini kami mengalaminya. Ya, Fadhil sempat ilang hampir 1 jam.

Bermaksud menengok istri yang sedang pemulihan persalinan, sore sehabis kuliah anak-anak kuajak menuju rumah sakit yang total waktu tempuhnya 40 menit dengan bus dan kereta, atau maksimal 1 jam bila agak ramai. Di perjalanan seolah tampak lancar, sampai di stasiun Bubaigawara, pengalaman yang tidak diinginkan itu terjadi.

Karena persimpangan stasiun dan cukup ramai, Fadhil yang awalnya kugandeng untuk masuk kereta, gandengannya terlepas. Awalnya kukira pasti mengikuti, lha tinggal dua langkah saja dari pintu kereta. Ternyata tidak!…

Sadarnya ketika sedang cari lokasi berdiri yang nyaman di dalam kereta. Tengok sana, tengok sini. Nanya sana, nanya sini tidak ada yang tahu. Foto hpku pun tak perlihatkan saat nanya ke orang-orang. Bahkan gerbong demi gerbong kucek bersama Aisyah (adiknya), hasilnya nihil. Langsung saja perkiraanku, dia ketinggalan di stasiun transit tadi.

Akhirnya di stasiun berikutnya keluar dan langsung lapor petugas. Khawatir terjadi apa-apa. Bayangan buruk pun berusaha kuenyahkan, tapi sulit ilang. Misal, diculik orang. Maklum, lha Ayahnya saja deg-degan cemas, apalagi Fadhil sendirian. Pasti celingak-celinguk gak karuan. Gak kebayang, kasihan kau Nak! Semoga tidak terjadi apa-apa.

Petugas pun menanyakan ciri detail. Beruntung sebelum berangkat sempat memfoto Fadhil dan Aisyah. Dengan mudah pun sosoknya teridentifikasi. Sekitar 20 menit kemudian, petugas pun memberi tahu bahwa ditemukan anak dengan ciri yng dimaksud. Alhamdulillah…

Read the rest of this entry »

 

Tags: , , ,

Fuchunomori Park (Tokyo)

Pertama kali melewati taman Fuchunomori ini dari sisi selatan sudah takjub. Waow, taman ini lengkap fasilitasnya. Fuchunomori Seni Teater bangunannya indah dan sekitarnya hijau. Jika berjalan ke utara, maka akan nampak berbagai fasilitas seperti area olahraga, joging, baseball, tenis, sepak bola, taman bermain,area barbeque, area terbuka dan ada pula Museum Seni Fuchu. Detail ada disini.

Taman ini awalnya merupakan bekas pangkalan militer AS setelah perang dunia kedua. Daerah sekitarnya memang terdapat bekas pangkalan udara dan saat ini beberapa pesawat jet dipajang di dekat gerbang bekas pangkalan di sisi kanan taman ini. Mengingat kebutuhan akan perbaikan lingkungan warga, maka bekas pangkalan ini dikembangkan menjadi taman, fasilitas olahraga, dan pusat evakuasi ketika terjadi bencana.

Sepanjang 300 meter, di taman terdapat pohon sakura yang tentunya akan indah saat awal musim semi. Di sekitar Fuchunomori park juga terdapat 8 patung seniman terkemuka. Salah satunya adalah patung Anne & Michele yang sama Fasya dikira mbak-mbak sedang ngobrol karena keduanya berambut panjang. Japanese Garden tampaknya menarik, namun biasanya bagus saat musim gugur dan musim semi. Kami pun belum terlalu mengeksplor Japanese Garden ini.

Pada saat kami ke sini bersama anak-anak, yaitu di akhir musim gugur, yang nampak adalah pohon kering. Pun begitu, taman ini tetaplah indah. Taman bermain dan hamparan rumput menjadi area menarik untuk bermain. Saat wekdays, taman ini pun sering dipakai rombongan anak-anak TK bermain. Jangan sampai lupa membawa cemilan dan bento ketika main disini. Waktu 4 jam pun bagi anak-anak terasa begitu cepat.

Pada saat akhir pekan, taman ini lebih ramai. Ada yang bermain layang-layang, lempar bola, bulu tangkis dan berlatih sepak bola. Fadhil dan Aisyah lebih memilih bermain di playground anak dan bermain gelembung. Karena musim gugur, air yang mengalir hanyalah di air mancur dan air terjun pojok perempatan.

Tokyo, 25 Maret 2017

 
Leave a comment

Posted by on March 25, 2017 in Activity, Jepang

 

Tags: , , , , , ,

Koganei Park (Tokyo)

Akhir pekan adalah waktu yang cocok buat refreshing sekeluarga. Setelah “ndekem” di ruangan selama 1 pekan tentunya anak-anak merasa bosan dan ingin refreshing. Nah. tempat termurah dan nyaman untuk melewatkan waktu bersama disini yaitu di taman yang banyak tersedia di Tokyo. Kali ini kami mengunjungi Koganei Park. Taman ini letaknya di utara Stasiun Musashi atau Higashi Koganei, sekitar 30 menit dari lokasi kontrakan kami menggunakan bus.

Koganei Park ini luasnya 79 hektar atau 1,5 kali luas Ueno Park. Taman ini lengkap fasilitasnya. Selain hamparan rumput, terdapat pula playground anak-anak, areal sepatu roda dan skiteboard, lapangan baseball, lapangan anjing, areal seluncur, gedung panahan, lapangan tenis, area barbeque, area sepeda, dll.

Lokasi yang paling disukai Fadhil dan Aisyah yaitu playground, dimana terdapat perosotan aneka macam, termasuk yang besar yang bisa digunakan pula oleh orang tua. Sayangnya ketika kemarin kami kesana, debunya sangat mengganggu. Area ini tampaknya menjadi favorit banyak keluarga, apalagi akhir pekan, peminatnya sangat banyak.

Taman ini memang sangat komplit, ada fasilitas meluncur dari rumput sintetis, sayangnya kami tidak mempunyai alat seluncur itu sehingga anak-anak pun hanya bisa melongo dan beberapa kali merengek minta untuk meluncur. “Kapan-kapan ya Nak, kalau sudah punya papan seluncurnya kita main bareng-bareng.” Untungnya dari atas nampak gundukan putih, dimana antriannya lumayan panjang. Kayaknya menarik tuh. Anak-anak pun bisa jot-jotan di arena itu.

Ketika kami mendekat, ternyata dibatasi setiap anak maksimal 10 menit. Alas kaki termasuk kaos kaki harus dilepas agar anak tidak tergelincir. Petugas pun menghitung banyaknya anak yang masuk, kurang lebih 30-50 anak. Memang sih kalau tidak dibatasi permainan ini menjadi tidak nyaman dan anak-anak pun akan saling bertabrakan.

Taman yang terbuka dan gratis seperti ini sangat bagus untuk tempat refreshing. Tidak perlu jauh-jauh memang, Setiap kota biasanya punya 1 taman besar dan banyak lagi taman ukuran sedang. Karena kali ini hanya survei, ke depan akan berkunjung lagi sejak pagi tentunya. Sasaran yang dituju adalah playground anak.

This slideshow requires JavaScript.

 
Leave a comment

Posted by on March 25, 2017 in Activity, Jepang

 

Tags: , , , , , , ,

Mengenal Stone Fruit

Apa kesan yang terlintas saat mendengar istilah “stone fruit”? Kebanyakan kita mungkin berpikir dan membayangkan buah batu yang bijinya keras dan besar. Ketika disodorkan di hadapan kita beberapa contoh buah jenis ini barulah kita kebingungan bagaimana membedakannya? Peach, nectarine, plum, aprikot, dan cherry adalah semua anggota dari genus prunus (family Rosaceae), oleh karena itu kekerabatannya dekat. Buah ini umumnya disebut sebagai stone fruits (buah batu) karena benihnya sangat besar dan keras. Mangga pun dimasukkan dalam kategori buah ini. Meskipun begitu pemahaman umum seperti ini berbeda dengan ahli botani karena tidak semua stone fruit harus berbuah besar dan tunggal karena Rasberries pun masuk kategori stone fruits.

Kita yang berada di wilayah tropis tentunya asing dengan nama-nama buah ini. Bentuknya pun bahkan tidak tahu. Berbeda dengan penduduk yang berada di daerah subtropis, aneka stone fruits justru menjadi buah unggulan. China menjadi negara produsen terbesar dimana 50% peach dan nectarine di negara ini. USA, Italy dan Spanyol menjadi negara produsen berikutnya dengan produksi lebih dari 1 juta ton per tahun. Rata-rata produktifitas lahan yang ada mencapai 20 ton/ha, namun petani yang mampu merawat dengan optimal mampu menghasilkan 40 ton/ha.

Prof. Daniele Bassi dan Prof. Antonio Ferrante, Dept. Agricultural and Environmental Science University of Milano dalam presentasinya di Tokyo University of Agriculture and Technology (TUAT) menyampaikan rencana dan apa yang sudah dicapai dalam penelitian buah peach dan apricort di Itali. Dalam uraiannya, ia telah mengoleksi ratusan plasma nutfah berbagai stone fruit di dunia. Dan ternyata selain dari China, peach dan apricort berkembang baik di Jepang. Jepang dianggap sebagai negara yang punya plasma nutfah buah dengan keragaman yang unggul. Dari penelusurannya, indukan tanaman yang didapat dari New Jersey, USA ternyata awalnya dari Jepang.

Maka kedatangannya ke Jepang termasuk dalam rangka kerjasama pertukaran material untuk breeding program. Dalam hal ini jujur saja, kita tertinggal jauh. Begitu rumitnya mekanisme untuk kerjasama dan disisi lain begitu mudahnya plasma nutdah kita keluar secara ilegal dan dimiliki peneliti lain. Kerjasama yang saling menguntungkan memang perlu digagas dan terus diupayakan, apalagi tantangan global seperti climate change, serangan hama dan penyakit yang mematikan sekarang ini tidak hanya dialami satu-dua negara saja.

Itali yang selama ini diuntungkan dengan kondisi geografis yang sangat mendukung pengembangan buah di wilayah utara negaranya saat ini perlu terus berinovasi karena kompetitor meraka di Eropa yaitu Spanyol sudah menggeser posisi Itali dalam jumlah tonase ekspor ke negara sekitarnya. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menghasilkan buah yang sesuai preferensi konsumen di masa datang. Dan hal ini tentunya tidak mudah mengingat ketatnya standar Eropa, terutama dalam keamanan pangan. Usaha meningkatkan daya simpan agar buah bisa lebih lama sampai konsumen pun terus dilakukan.

Lalu bagaimana cara membedakan jenis stone fruits tersebut? Berikut secara ringkas beberapa jenis stone fruit:

Plum

Plum terkait erat dengan buah persik dan ceri dan secara luas dimakan segar sebagai buah pencuci mulut, dimasak sebagai kolak atau selai, atau sebagai bahan kue. Eropa plum (P. domestica) dan plum Jepang (P. salicina) yang ditanam secara komersial untuk buah-buahan, dan sejumlah spesies, termasuk plum ungu-daun (P. cerasifera), digunakan sebagai tanaman hias untuk karena mengasilkan bunga dan daun yang menarik.

Plum – Encyclopedia Britannica

 

Peach

Tanaman peach berdaun kecil dimana pohonya mampu tumbuh sampai dengan ketinggian 25 sampai 30 kaki, banyak ditanam di Amerika Serikat, Eropa, dan China dan umumnya diminum dalam bentuk jus. Ada beberapa kultivar peach tumbuh di seluruh dunia yang berbeda dalam warna, ukuran dan karakteristik tumbuh berdasarkan daerah asal. Bunga peach muncul di musim semi. Secara umum, masa panen buah hampir seragam antara Mei dan September. Buahnya seukuran apel kecil, dengan diameter dan berat sekitar 130-160 gram.

Peach

 

Aprikort

Aprikot dibudidayakan hampir di seluruh dunia, terutama di Mediterania. Mereka dimakan segar atau dimasak dan diawetkan dengan pengalengan atau pengeringan. Buah ini juga banyak dibuat menjadi selai dan sering digunakan untuk perasa minuman. Aprikot merupakan sumber yang baik untuk vitamin A dan kandungan gula alaminya tinggi.

Apricot – Pinterest

Nektarine

Nectarine disebut sebagai varian genetik peach umumnya, nektarin itu kemungkinan besar domestifikasi dari Cina lebih dari 4.000 tahun yang lalu, sepintas nectarine dan peach pohonnya hampir tidak bisa dibedakan. Ciri khas yang membedakannya dengan peach adalah tidak adanya bulu-bulu halus di permukaannya. Bulu-bulu halus pada permukaan buah ini merupakan ciri khas dari peach itu sendiri. Terkadang, saat bunga peach mengalami polinasi, maka akan dihasilkan dua jenis biji, satu jenis yang akan tumbuh menjadi pohon nektarin dan jenis yang lainnya akan tumbuh menjadi pohon peach itu sendiri

© alexlukin/Fotolia

 

Cherry

Kebanyakan buah cherry tumbuh di belahan bumi utara. Ceri tidak mencakup satu jenis saja, tetapi ada beberapa, seperti P. cerasus, P. avium, dan P. emarginata. Di Jepang, cherry disukai dan bunganya disebut Sakura. Buah ceri mengandung antosianin, yaitu pigmen warna merah yang baik untuk kesehatan karena merupakan antioksidan. Selain itu, rutin mengkonsumsi buah ceri setiap hari dapat menurunkan jumlah kadar asam urat dalam tubuh, bahkan dapat menyembuhkan pirai.

@pinterest

 

Jika hanya melihat penjelasan dan gambar di atas, sekilas memang mudah membedakan, namun ketika ditampilkan berbagai varietas tersebut bersamaan, tentunya sulit untuk membedakan mana itu peach, nectarine, plum, dan aprikot. Seperti yang saya alami kemarin ketika melihat tampilan berbagai varietas di slide presentasi. Apalagi masing-masing variannya juga banyak dengan warna buah matang yang berbeda pula. Semoga bisa merasakan satu per satu, sehingga nanti mudah untuk membedakannya. 🙂

 

Tokyo, 23 Maret 2017

 
Leave a comment

Posted by on March 23, 2017 in Activity, Jepang

 

Tags: , , , , ,

Belajar Antre


Ada banyak hak yang dijaga ketika kita mau antre. Siapa yang duluan, dia lebih berhak untuk memperoleh haknya, dalam membeli maupun duduk menggunakan fasilitas publik, dll. Namun begitu, prioritas tetep diberikan kepada orang tua, ibu hamil dan anak-anak ketika naik bus maupun kereta, sehingga yang di belakang dan membutuhkan tetap nyaman.

Fadhil dan Aisyah pun sedang belajar antre. Seringkali bertanya ngapain sih harus berbaris? Untuk hal ini kami pun mudah memberi pengertian. Namun ada fenomena yg unik yang kami juga sulit mengerti, dimana disini orang rela antre 1 jam sebelum toko buka maupun untuk makan rela berdiri lama mengular untuk menunggu gilirannya. Awal-awal memang sulit karena maunya duluan masuk bus, masuk kereta, masuk lift dan macam-macam aktifitas, mereka maunya serba pertama. Namun perlahan tapi pasti, anak-anak mulai mengerti.

Dengan antre semua lebih nyaman, selamat dan juga anak belajar untuk menghargai sebuah usaha; jika mau duluan ya datang dulu dengan persiapan lebih awal. Anakpun merasa bahwa orang lain juga penting. Rasa malu pun akan tumbuh jika merampas hak orang lain.

Ada banyak hal yang bisa dipelajari, dan pelajaran hidup antre sejak dini ini memang akan bermanfaat kelak, bahwa manfaat antre itu menjaga banyak hak dan agar semua hak tertunaikan dengan baik, kita wajib untuk ikut etika baik yg dijunjung masyarakat sekitar. Toh, kita juga ingin dihargai kan? 😊

Tokyo, 17 Maret 2017

 
Leave a comment

Posted by on March 17, 2017 in Activity, umum

 

Nobel Prize Dialogue Tokyo 2017

noble-prize-dialogue-tokyo-2017-zainurihanifAhad, 26 Februari 2017 bersama rombongan teman-teman PPI Nokodai kami mengikuti acara Nobel Prize Dialogue Tokyo 2017 di Tokyo International Forum. Acara ini adalah event yang diselenggarakan oleh Japan Society for the Promotion of Science (JSPS). Acara ini diadakan untuk menyebar pengetahuan tentang prestasi nobel dan merangsang minat dalam ilmu pengetahuan, sastra dan perdamaian. Tema yang diambil pun sangat menarik, yaitu “The Future of Intelligence.” Dialog kali ini mengeksplorasi topik dari lima pemenang nobel dan para ahli terkenal dunia.

Acara ini free, kami hanya perlu untuk registrasi 2 bulan sebelumnya dan saat hari-H menunjukkan print out lembar registrasi. Tepat pukul 08.00 JST registrasi dibuka dan antrian yang mengular pun segera berpindah dari meja registrasi di B1F Lobby Galery ke lantai atas B7. Ternyata banyak juga teman-teman Indonesia yang datang di acara ini, wajahnya tidak asing, apalagi kalau sudah terdengar bicara bahasa Indonesia. Beberapa bahkan dari luar Tokyo seperti Kyoto.

Hidup di kota besar seperti Tokyo tentunya tidak menjadi pilihan sebagian mahasiswa. Alasan utamanya biasanya karena padatnya penduduk (yang implikasinya ke ruwetnya jalur kereta, dst) dan juga biaya hidup yang mahal. Namun, sebagian yang lain justru memilih hidup di kota besar karena mudahnya berbagai akses fasilitas seperti makanan halal dan juga berbagai event internasional seperti seminar, pameran maupun event sebagaimana noble prize dialogue kali ini.

Bagi teman-teman yang belum berkesempatan hadir bisa mengaksesnya melalui Youtube https://www.youtube.com/user/NobelWeekDialogue. Acara ini diselenggarakan 2 tahun sekali dan tahun sebelumnya bisa juga diakses di link tersebut.

Kesan saya ikut dalam acara ini yaitu panitia terlihat sangat profesional, semua jadwal berlangsung dengan tepat waktu dan fasilitas peserta sangat memadai. Video streaming juga berkualitas sangat bagus. Peserta juga diberikan alat translater yang bisa dipakai 2 bahasa, bahasa Jepang dan Inggris. Yang perlu ditambahkan yaitu peta toilet di setiap lantai karena ketika masa rehat, antrian di toilet dekat acara sangat panjang. Peta yang terpampang di booklet hanya di sekitar lokasi acara saja. Kalo dari penyelenggaraan kuberi bintang 5 dari 5.

Acara seperti ini sangat menarik, karena sebagai peneliti kita tidak hanya didorong untuk mendalami keilmuwan kita, namun perlu untuk mempelajari bidang lainnya. Terkadang ide dan inspirasi didapat dari mempelajari bidang yang tidak berhubungan sama sekali dengan keilmuwan yang selama ini kita tekuni. Dan ketika menyimak ide-ide panelis, mereka sangat visioner. Melakukan sesuatu hal yang di luar nalar. Seperti bagaimana mengukur gelombang gravitasi dengan membandingkan pengukuran dengan membangun stasiun riset di gurun dan membandingkan dengan partikel atom yang diperbesar sampai jutaan kali.

Semoga ke depan bisa mengikuti acara serupa. Begitu juga dengan teman-teman. Insya Allah banyak manfaatnya.

photo; dokumen pribadi dan FB @nobleprize

Tokyo, 27 Februari 2017

 

 
Leave a comment

Posted by on February 27, 2017 in Activity, Jepang

 

Tags: , , ,

#Tokyo4Aleppo

Aleppo before war. -source; Wikimedia

Aleppo before war. -source; Wikimedia

“Beruntunglah negeri Syam. Sahabat bertanya: mengapa?
Jawab Nabi saw: Malaikat rahmat membentangkan sayapnya di atas negeri Syam.”
(HR. Imam Ahmad)

Kita yang hidup di negeri yang aman seringkali melupakan berbagai nikmat yang telah Allah berikan. Waktu seolah berlalu begitu saja, kejadiannya hampir sama; rutinitas bangun pagi, ke kantor atau kampus, makan, meeting, pulang dan bermain bersama anak-anak, kadang sedikit menyempatkan membaca Qur’an (itupun kalau ingat) dan tidur lagi. Rutinitas yang berulang dan berulang.

Lengah, malas dan lemahnya iman ditegur dengan kejadian yang menimpa saudara kita di negeri lainnya. Selepas Rohingya, baru-baru ini eskalasi kekerasan di Syam, khususnya di Aleppo meningkat dan bombardir bom menyisakan kisah pilu. Terlalu pilu untuk menjadi tontonan sehingga beberapa video share teman-teman terpaksa di-skip karena diri ini sudah tidak mampu lagi untuk menonton adanya kebiadaban yang terjadi.

Teknologi telah memudahkan kita mengakses informasi sehingga kejadian nan jauh disana bisa kita saksikan di detik yang sama. Kejadian yang terekam di depan mata semua orang. Lalu kemanakah pihak yang selama ini mengaku aktivis atau peduli kemanusiaan? Mungkin saja peristiwa lebih sadis terjadi di berbagai tempat. Apapun itu, naif jika mengharap mereka berbuat sesuatu, kitalah seharusnya berbuat sesuatu.

Syam merupakan benteng umat Islam saat terjadinya malhamah kubro (perang dahsyat akhir zaman). Akhir zaman dengan berbagai tandanya sudah banyak terjadi. Apakah Syam sekarang ini adalah tanda akhir zaman sebelum kiamat, wallahualam. Yang pasti sekarang ini terus dan semakin meningkat dan tidak menutup kemungkinan akan menjadi perang dunia ke-3. Kita hanya diminta untuk ikhtiar mempersiapan hari pertanggungjawaban di hadapan Allah kelak. Apa yang sudah kita perbuat? Mereka yang disana sudah menjadi syuhada dan memperoleh janji Allah akan surga, sedangkan kita?

Kita patut untuk introspeksi, lambatnya kita dalam berbuat karena bisa jadi kadar iman kita yang memang makin menipis. Umat yang belum bangkit ini kontribusi kita juga. Namun, saat ini di negeri Indonesia gerakan kebangkitan itu terasa menggeliat, energinya menular bahkan sampai lintas negara, lintas benua. Allah memberikan kesadaran dari peristiwa yang tidak disangka. Dan semoga gelombang kebangkitan itu terus menggelinding.

Tokyo, We Stand For Aleppo

Tokyo, We Stand For Aleppo, Allahuakbar. (KMII.doc)

Teman-teman di Jepang yang tergabung di Keluarga Masyarakat Islam Indonesia (KMII) Jepang menginisiasi aksi solidaritas yang dikemas dalam kajian, doa, penggalangan dana dan pernyataan sikap. Paparan ust. Imron Rosyadi memberikan pencerahan apa yang terjadi disana dan yang penting yang bisa dan harus kita lakukan.

Penggalangan dana mencapai 578.000 Yen atau lebih dari Rp 60 juta rupiah, 2 buah jam tangan dan 1 gelang. Dan bisa jadi bertambah dengan penutupan penggalangan dana via rekening beberapa hari lagi. Mari terus doakan dan ringankan beban saudara kita di negeri Syam. Negeri yang Allah takdirkan nantinya munculnya para pahlawan yang menegakkan kemenangan dan kejayaan Islam.

Tokyo, 19 Desember 2016
Hanif

 

 
Leave a comment

Posted by on December 19, 2016 in Activity, Jepang

 

Tags: , , ,

Uthek-uthek EndNote (lagi)

Pelatihan EndNoteBagi kita yang bergelut dalam dunia referensi, program untuk mengelola referensi seperti EndNote, Mendeley, Zotero sangat memudahkan menata jurnal maupun e-book yang sudah kita download. Pernah sebelumnya mengikuti pelatihan EndNote yang diselenggarakan Balitbangtan saat pre-departure kemarin, karena nggak dipakai ternyata lupa. Padahal baru tahun lalu. Bahkan Mendeley sudah juga berlatih dulu sejak 2011.

Nah, karena memang program ini sangat penting, PPI Kyoto Shiga memfasilitasi pelatihan EndNote yang diikuti lebih dari 25 orang pada Sabtu, 27 Februari 2016. Jadilah sekarang ini “uthek-uthek” EndNote lagi. Khoirul Himmi selaku pengisi materi berbagi pengalamannya sejak 3 tahun lalu menggunakan EndNote. Tentunya pertanyaan mendasar adalah, apa keistimewaan EndNote ini dibandingkan yang lain dan sejauh mana manfaatnya. Shofware berbayar ini menjadi pilihan karena lebih powerfull dengan integrasi yang mengagumkan. Setidaknya saya merasa lebih mudah mengunakannya dibandingkan yang lain. Entah karena untuk Mendeley nggak terlalu saya dalami, atau memang penjelasan pengisi EndNote kali ini yang pintar promosi, haha… 😀

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on February 29, 2016 in Activity, Jepang

 

Tags:

Farewell Party

Pic. Kyoto University FB

Pic. Kyoto University FB

Kebiasaan disini, jika ada anggota lab yang baru datang maka mereka mengadakan welcome party dan yang segera pulang karena masa studi usai, atau program research student dan kunjungan yang sudah tuntas dan besok mengharuskan mereka kembali ke negara masing-masing maka mereka juga berinisiatif mengadakan farewell party.

Farewell party atau disini disebut “Oikon” umumnya dilakukan dengan membayar sendiri-sendiri. Ada yang membayar dengan dipukul rata, ada juga yang mau pulang membayar lebih kecil, sedangkan di laboratorium kami yang akan pulang tidak membayar sama sekali. Biaya per orang 3500 yen atau sekitar Rp 350.000,- dengan menu; minuman, makanan ringan cemilan, makanan beratnya nasi goreng dan spaghetti.

Persis sebagaimana welcome party, farewell party dilakukan sederhana, tidak sebagaimana pesta yang saya bayangkan ala barat dengan musik dan hingar bingarnya. Di Jepang, lebih ke sisi ngobrolnya, yang dibicarakan pun bermacam tema, mulai dari pekembangan riset, keluarga, rencana liburan, dan rencana apa yang mau dilakukan ke depan. Kalau welcome party kemarin diadakan di kampus, kali ini teman kami, Minori san yang dipercaya Sensei untuk mengkoordinir mengadakannya di sebuah cafe pinggir sungai Kamogawa, kemarin Selasa, 23 Februari 2016.

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on February 24, 2016 in Activity, Jepang

 

Tags: ,

Nobar Bulan Terbelah di Langit Amerika

Bulan Terbelah di Langit Amerika - poster

photo: hanumrais.com

Ketika ditanya oleh Hanum (Acha Septrias), “sejak kapan melepas hijab?” Azima Hussein (Rianti Cartwright) menjawab, “Aku cinta Islam. Tetapi aku kehilangan kebanggaan terhadap Islam!” seru  sambil melepas wignya dan ternyata dia masih memakai hijab ketat untuk melindungi rambut aslinya.

Bagi saya, bagian ini adalah yang paling menyentuh di semua sesi film “Bulan Terbelah di Langit Amerika.” Kalimat yang pas untuk menggambarkan bagaimana tantangan seorang muslim yang menjadi minoritas dan sedang disorot tajam karena dianggap (dilabeli) menjadi biang kekacauan dunia. Lihat saja di media mainstreams internasional baik cetak maupun elektronik, isu kekerasan Islam laris manis dan terus digoreng menjadi santapan sehari-hari.

Read the rest of this entry »

 
2 Comments

Posted by on February 11, 2016 in Activity, Jepang

 

Tags: , ,

 
%d bloggers like this: