RSS

Author Archives: zainurihanif

Jenguk Bayi, Membuat Kita Banyak Bersyukur

Alhamdulillah, Ramadhan terakhir kemarin di negeri sakura, kami isi dengan berbagai macam aktivitas bermanfaat. Pagi sampai sore saya di kampus, istri beraktivitas dengan teman-temannya ke pasar kota Fuchu. Sebelum malam kumpul-kumpul takbiran, mumpung cuaca cerah, agenda nengok bayi pun langsung kami eksekusi. Selama sepekan ini memang hujan terus. Di Jepang, bulan Juni memang bulannya hujan. Maka membaca puisi hujan bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono terasa sangat pas. hehe.

Jarum jam menunjuk angka 4 sore, dan kami bersepeda ke Tokyo Municipal Tama General Medical Care Center tempat di mana bayinya Rubi dan Maya dilahirkan beberapa hari yang lalu. Perjalanan sangat menyenangkan karena jalan untuk bersepeda sangat lebar, jadi cocok juga buat Fadhil yang masih perlu memperlancar gaya bersepedanya. Fadhil baru bisa bersepeda sekitar dua bulan yang lalu, pertengahan Ramadhan dengan mempersering belajar sendiri habis pulang sekolah.

Jika melahirkan normal, cukup menginap lima hari saja, jika harus dioperasi seperti kasus istri, harus menginap sampai sepuluh hari. Maka kedatangan teman dan keluarga terdekat yang mejenguk sangat berarti. Apalagi di negeri rantauan! Setidaknya, itu yang kami rasakan. Rasa kesepian yang istri rasakan saat itu sangat berkurang dengan kedatangan teman-teman yang menjenguk di rumah sakit dan mendukung penuh proses penyembuhan, dan tentunya kedatangan Fadhil Aisyah yang selalu kuajak setiap sore sekedar menyapa saat itu membuat Bundanya makin sering tersenyum. Sampai akhirnya kami punya pengalaman yang tidak akan terlupakan saat Fadhil hilang. Rasa capek, cuaca hujan selama perjalanan dan keinginan segera bertemu buah hati terkadang membuat kita hilang konsentrasi sekejap. Tantangan bagi mahasiswa adalah jadwal kesibukan kampus dan pertemuan dengan supervisor yang kadang bisa berubah sewaktu-waktu. Denga pernah mengalami memang kita akan merasa lebih berempati.

Kita foto gini di sebelah gerombolan anak SD yang sedang pulang sekolah melongo. Nih keluarga kok suka photo-photo ya? (pikirnya) apa asyiknya? 😀

Setelah bersepeda selama setengah jam, akhirnya kami sampai. Rumah sakitnya sangat bagus, lebih dekat jaraknya dari tempat tinggal kami di Fuchu daripada Inagi Hospital tempat anak ketiga kami lahir tahun lalu. Dan kesempatan ini kami gunakan pula untuk mengajak anak-anak bersilaturrahim, bersyukur pula atas berbagai kemudahan yang kami dapatkan tahun lalu ketika dengan segala keterbatasan, banyak yang menolong dan membantu. Anak-anak pun tak sabar pengin lihat dedek bayi, anaknya om Rubi dan Tante Maya. Dan ternyata di rumah sakit ini tidak seketat yang kami bayangkan. Justru lebih ketat di Inagi Hospital yang ketika anak masuk harus dicek temperatur dan diberi gelang di pergelangan tangan.

Yang menarik dari rumah sakit ini adalah adanya swalayan Lawson di lantai 1 sehingga berbagai kebutuhan bisa dibeli dengan mudah. Tempat duduk banyak tersedia dan ada juga meja makan tersendiri untuk pengunjung. Kami pun berbuka dengan membeli onigiri dan minuman ringan disini dan selepas sholat Maghrib bergegas pulang. Kalau mendatangi undangan walimah, kadang kita teringat akan peristiwa akad nikah yang dulu dilaksanakan. Nah, kalau nengok bayi, begitu juga. Mengingatkan kita akan semua memori perjuangan kala itu. Dan memang itulah salah satu fungsi silaturrahim, mempererat persaudaraan dan membuat kita banyak bersyukur dan bersyukur.

Tokyo, 17 Juni 2018
Zainuri Hanif

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on June 17, 2018 in Activity, Jepang

 

Tags: , , , ,

Lebaran ini Banyak yang Harus Kita Syukuri.


Apa yang diingat ketika lebaran? Setiap kita tentunya punya kenangan yang berbeda. Bagi kami yang paling berkesan yaitu perasaan haru, bahagia, rindu bisa berkumpul dengan keluarga besar yang jika tidak di hari lebaran, hampir mustahil bisa bertatap muka semuanya. Biasanya sehabis sholat Ied kemudian silaturrahim ke tetangga dan sanak kerabat. Bisa kumpul dengan trah keluarga besar, mengunjungi pesantren di Munthilan tempat keluarga mbah Kung, atau ke Lempuyangan tempat keluarga Mbah Ti. Sampai gara-gara ada keluarga simbah yang pelihara monyet dan kita sulit menghapal namanya, seringkali mudahnya kita sebut, “Ayo silaturrahim ke Mbah Munyuk!”.

Alhamdulillah, dua kali lebaran disini mendapatkan suasana yang ramah dari saudara seiman. Banyak hal yang patut disyukuri. Suasana terawih pun akan kami kangeni. Tidak terasa sebulan cepat berlalu. Tahun ini Fadhil mulai belajar tertib shalat terawih yang biasanya berakhir sampai jam 22.00 dan membuatnya sering tidur larut malam. Tantangannya ya  bangun pagi untuk sekolah penuh perjuangan. Semoga kelak kau ingat ya Nak dan membuatmu lebih rajin lagi ibadah.

Jamaah ikhwan. Saudara muslim se-Fuchu dan sekitarnya banyak juga yang lebih memilih sholat disini.

Kalau tahun lalu kami sholat Ied di SRIT-Masjid Indonesia Tokyo dan mendatangi KBRI Tokyo, kali ini kami memilih di dekat kontrakan, yaitu di Lumiere atau Fuchu Library yang masih di Fuchu, sebuah kabupaten di Propinsi Tokyo kalo di Indonesia. Bedanya disini kami tidak bisa leluasa silaturrahim seperti biasanya di Indonesia karena memang tidak liburan. Meskipun hanya sebentar, karena setelah sholat Ied kita tidak harus ngampus lagi dan meeting dengan supervisor. Toh begitu, Ramadhan dan lebaran kali ini lebih berarti. Penyebabnya? ya, banyak hal 😉.

Terima kasih kepada “Keluarga Sengencho” yang bermurah hati menjamu kita semua.

 

 

 
Leave a comment

Posted by on June 16, 2018 in Activity, Jepang

 

Tags: , , , ,

Seminar Tanpa Prosiding, Apa yang Kita Dapatkan?

Sederhana, tanpa banyak atribut dan tanpa kompromi dalam masalah waktu, itulah kesan yang kudapat kala mengikuti konferensi tahunan Agricultural Economics Society of Japan (AESJ). Ini adalah kedua kalinya saya mengikuti AESJ setelah tahun lalu di Chiba University, kali ini dilakukan di Hokkaido University.

Berbeda dengan konferensi dan seminar yang dilakukan di Indonesia, seminar di luar negeri umumnya bukan untuk penilaian hasil riset tapi untuk evaluasi jalannya riset. Presentasi oral dan poster yang dilakukan untuk mencari masukan sebanyak-banyaknya dari kolega. Bahkan yang terbit hanya abstrak saja, bukan makalah lengkap dalam bentuk prosiding. Sehingga beberapa teman yang masih dengan konsep ikut seminar untuk publikasi, enggan mengikuti seminar jenis ini. Dengan banyaknya masukan, diskusi lebih lanjut dapat dilakukan untuk memperbaiki tulisan yang akan dikirimkan ke jurnal.

AESJ sendiri memang dikelola secara profesional. Yang bisa mendaftar presentasi di event tahunan hanyalah anggota. Untuk menjadi anggota harus membayar iuran tahunan terlebih dahulu. Untuk makalah yang akan dipresentasikan, makalah lengkap harus sudah dikirim sejak 2 bulan sebelumnya. Setelah diumumkan makalah yang lolos, 2 pekan sebelum acara berlangsung, bahan presentasi harus sudah dikirim dalam format PDF. Sehingga tidak ada lagi cerita besoknya presentasi, malam sebelumnya masih cek ricek atau bahkan membuat bahan presentasi. Sekedar mengganti satu halaman karena update keterangan dari Sensei (supervisor) pun dilarang. Yang dikirim adalah bahan final tayang. Presenter tinggal datang, dan menunggu giliran presentasi sesuai jadwalnya.

Sebelumnya, yang bisa mengirim dan masuk jurnal AESJ hanyalah yang melakukan presentasi oral, tahun ini yang presentasi poster pun juga diperbolehkan. meskipun tidak terindex scopus, banyak yang bilang bahwa untuk terbit di jurnal asosiasi ini berat, peluangnya 10-20% saja. Jurnal yang diterbitkan ada dua, dalam bahasa Jepang dan dalam bahasa Inggris. Kadang gengsi organisasi memang membuat bobot itu berbeda. Sayangnya walau terbit di jurnal ini, penilaian di Indonesia masih dianggap selevel jurnal nasional karena reviewernya dari Jepang semua, walaupun mereka juga reviewer dari berbagai jurnal bereputasi internasional.

Saya sendiri memilih presentasi oral. Presentasi oral dipilih karena sangat pas untuk ajang latihan dan mengasah kemampuan presentasi dan juga lebih praktis dibanding poster yang harus memikirkan desain, biaya cetak dan juga sama juga, persiapan presentasinya, walau waktunya setengah dari presentasi oral.

Presentasi poster yang dikemas dengan apik justru waktu diskusi lebih banyak dan lebih akrab.

 

Lalu apa yang unik dengan pertemuan seperti AESJ ini?

Pertama, jika dibandingkan dengan seminar pada umumnya, dekorasi, cetakan buku dan kartu nama sangat biasa. Namun peneliti di bidang economic agriculture di seluruh Jepang sangat berminat untuk datang mengikuti simposium di hari pertama maupun presentasi di hari kedua. Hal ini karena semua profesor top di bidang ekonomi pertanian Jepang berkumpul disini. Asosiasi ini paling tua dan paling besar, baru kemudian disusul asosiasi lebih spesifik seperti Farm Management, Rural Development, dll yang anggotanya lebih spesifik lagi. Sayangnya memang acara utama dalam bahasa Jepang, sehingga saya perlu sering-sering bertanya teman sebelah agar paham mengenai garis besar pembicaraannya. Sedangkan presentasi oral maupun poster setengahnya dilakukan dalam bahasa Inggris.

Kedua, dengan mengikuti acara seperti ini kita menjadi tahu tema apa yang sekarang update dan sedang menarik diteliti oleh kampus lainnya. Untuk tema rural development misalnya, banyak juga ternyata mahasiswa PhD di Jepang yang menjalankan proyek di benua Afrika. Sebelumnya, di Amerika pun, tema penelitian tentang Afrika juga mendapat perhatian di pertemuan tahunan Agricultural & Applied Economics Association. Afrika dianggap memiliki potensi besar yang belum tergarap maksimal menghadapi 10 Milyar manusia di 2050. Apalagi prediksi UN, pertumbuhan terbesar populasi dunia muncul di benua ini.

Ketiga, komentar yang diberikan memang out of the box, tidak terprediksi sebelumnya dan tidak menjatuhkan. Justru yang terasa adalah memberikan saran sehingga sering setelah batas waktu presentasi habis, presenter akan mendatangi penanya (yang biasanya profesor) untuk berdiskusi lebih lanjut sambil bertukar kartu nama.

Keempat, bagi yang akan melanjutkan ke jenjang berikutnya, pertemuan seperti ini sangat layak digunakan untuk mencari tahu calon Sensei berikutnya dari apa yang dipresentasikan oleh yang bersangkutan maupun mahasiswa yang dibimbingnya (baik master maupun PhD).

Kelima, sesi poster justru mendapatkan perhatian lebih karena memang diberi waktu khusus. Ada penghargaan khusus yaitu “best presentation award.” Awalnya tim penilai akan mendatangi setiap poster dan pemilik poster diberi waktu 10 menit menjelaskan posternya, 7 menit presentasi dan 3 menit tanya jawab. Baru setelah itu, para peserta dan presenter di ruang presentasi oral yang kemarin jumlahnya 8 venue (setiap venue sekitar 10 presenter) diberi waktu khusus 1,5 jam untuk mendatangi sesi poster sebelum melanjutkan ke sesi presentasi oral berikutnya. Jika di ruang presentasi oral peserta terbagi dan berpindah-pindah, di sesi ini justru diskusi terlaksana dengan antusias.

Bersama Yamaura Sensei di depan patung Nitobe Inazō, Wakil Sekretaris Jenderal Liga Bangsa-Bangsa dari 1919 hingga 1926 dan Ia terkenal karena menulis “Bushido; Soul of Japan” (1900).

 

Adakah yang kurang dari penyelenggaraannya?

Ada. Bagi mahasiswa master dan PhD khususnya, kesempatan pertemuan tahunan ini menjadi ajang yang sangat baik untuk menambah relasi dan pengetahuan. Alangkah lebih baik jika ada study tournya yang bisa dilakukan di hari ketiga. Misal mendatangi riset unggulan di kampus yang bersangkutan maupun ke objek menarik; seperti kelompok tani maupun daerah pertanian unggulan. Sebenarnya di Hokkaido kemarin ingin tahu bagaimana masyarakat etnis Ainu misalnya menjalankan aktivitas pertaniannya setelah sebelumnya bergantung pada laut dan harus berubah menjadi petani akibat kebijakan pendudukan dari warga pulau Honshu. Sayangnya waktu sangat terbatas dan belum tahu kemana harus mencari info lebih detail.

Untuk variasi acara tampaknya penyelenggarakan berbagai seminar, konferensi dan sejenisnya di Indonesia dan negara lainnya sudah jauh lebih menarik daripada di Jepang. Disini terlalu serius, harusnya tidak melulu hanya terpaku pada aktivitas di meja dan ruangan. Seminar memang dibuat untuk saling tukar ide dan gagasan dan juga tempat refreshing. Itulah mengapa lokasinya biasanya dipilih yang populer dan menarik untuk liburan.

Kedatangan di Sapporo Hokkaido ini tentunya sangat berkesan bagi saya pribadi karena bertepatan dengan bulan Ramadhan dan bisa silaturrahim dengan muslim di Masjid Sapporo saat berbuka dan tarawih. Lebih lengkapnya di tulisan yang berikutnya ya. Insya Allah.

 

Zainuri Hanif
Tokyo, 30 Mei 2018

 
Leave a comment

Posted by on May 30, 2018 in Activity, Jepang

 

Tags: , , , , , ,

Aktivitas Ramadhan di Jepang

Wallpaper di Fuchu Library (Lumiere)

Bagi kami sekeluarga, tahun ini Ramadhan ke-2 di Tokyo, Jepang. Rasanya memang bulan Ramadhan selalu spesial, bukan hanya karena sahur dan berbukanya saja, tapi bayangan mengenai aktivitas Ramadhan masa kecil yang sangat menyenangkan selalu berbekas: mulai dari TPA dan ta’jilan, sholat tarawih dan jaburan, lomba-lomba Islami, takbiran dan suasana lebarannya. Tahun ini, berbeda dari tahun kemarin, dengan usia Fatih sudah 1 tahun, tentunya akan lebih memudahkan kami untuk lebih aktif lagi mengikuti berbagai agenda Ramadhan di Tokyo dan sekitarnya. Bagaimanapun, dengan kondisi yang terbatas, kami ingin memberikan pengalaman Ramadhan berkesan bagi anak-anak.

Selama bulan Ramadhan ini, banyak agenda yang sudah disiapkan oleh Keluarga Masyarakat Islam Indonesia (KMII). Ustadz terbaik dari Indonesia yang sudah disyurokan sejak bulan-bulan sebelumnya, bergantian sepekan penuh mengisi kajian di Masjid Indonesia Tokyo (MIT). Agenda besar yaitu tablig akbar diselenggarakan setiap Ahad. Dan ada juga ikhtikaf di sepuluh hari terakhir.

KMII merupakan organisasi dakwah Islam di Jepang yang dimotori oleh masyarakat islam Indonesia yang tinggal di Jepang. Kepengurusan KMII bersifat terbuka bagi setiap masyarakat Islam Indonesia mulai dari staf KBRI, masyarakat Islam yang bekerja di Jepang, pelajar, sampai dengan Ibu rumah tangga. Banyak organisasi yang mendukung kegiatan KMII mulai dari Muhammadiyah, NU, Trainee (IPTIJ), Perawat (IPMI), Todai Muslim, Muslim Fuchu Koganei, Midori, FKMIT, KAMMI, Fahima, FGA, PMIJ, Forkita, Promia, Mudai, dll.

Dalam keseharian, tentunya aktivitas Ramadhan seperti sholat tarawih bisa saja dilakukan di MIT atau mencari lokasi yang lebih dekat dengan lokasi tinggal. Di sekitar tempat tinggal kami, Alhamdulillah ada komunitas muslim yang menyelenggarakan sholat terawih di Fuchu Library yang dikoordinir oleh Fuchu Muslim Community. Sholat terawih diselenggarakan mulai pukul 20.30 – 22.00 sebanyak 23 rakaat tanpa ceramah. Kami hanya perlu bersepeda 10 menit dari kontrakan ke Fuchu Library. Lokasinya juga sangat bersih dan nyaman.

Untuk buka bersama, komunitas muslim Indonesia disini, Muslim Fuchu Koganei juga menyelenggarakan setiap Sabtu. Dan tentunya ini menjadi ajang silaturrahim yang dikangeni teman-teman. Dan berita baiknya, per 1 Ramadhan kemarin (17 Mei 2018), kampus kami di Nokodai (TUAT) memfasilitasi multipurpose room yang bisa kami gunakan untuk sholat berjamaah. Alhamdulillah. Semoga aktivitas selama Ramadhan 1439 H ini lebih berarti dari tahun-tahun sebelumnya.

 

Hanif
Tokyo, 19 Mei 2018.

 
Leave a comment

Posted by on May 18, 2018 in Jepang, Kisah

 

Tags: , , , ,

“The Path”

Cherry blossom (Koganei Park, Tokyo)

Swing across the seven skies
They say a pure heart never lies
The words you learned were never heard
It’s time to think and wonder why

The stars above will always be
A shining guide for us to see
And when I doubt, I’ll have no doubt
But still I wonder why

Digging through our pages past
Wondering how the truth will last
God’s in control is what I found
I think I’ll try this time around!

And no one really feels the path I seek, and
No one’s going to care as much as me, and
No one seems to know our history, and
Stories are told for the world to see!

And maybe I’ll find the path I seek tonight
Let it be! Only God really knows what’s right!
Maybe, I’ll find the path I seek tonight
Let it be! Only God really knows I tried!

Reaf: https://www.youtube.com/watch?v=BKhSicFDNws

Song

 
1 Comment

Posted by on April 16, 2018 in Picture

 

Tags: , , , , , , , ,

Isu Hangat Pangan Dunia

“The Future of Food” tema yang diangkat dalam Nobel Prize Dialogue Tokyo 2018 menjadi acara yang menarik bagi kami, selain karena background kami di pertanian, tentunya kesempatan yang sangat berharga mendengar dan belajar dengan pakarnya langsung; penerima nobel prize dan para ahli di bidangnya mengenai isu paling hangat pangan dunia.

Sesi yang berjalan tidak ada pembicara yang merasa bahwa bidangnya paling penting atau paling perlu mendapat perhatian lebih. Level mereka sudah sampai kolaborasi dan lebih menjelasakan isu terhangat secara akademis. Misalnya permasalahan mengenai akses pangan (supply-value chain), kesehatan, air dan sistem irigasi, inovasi dalam varietas baru, climate change dan sustainability.

Dalam penerapan solusinya memang pemerintah secara politik nantinya pasti ada prioritas penyelesain masalah. Dan itu bisa diukur sejauh mana sebuah masalah diselesaikan paling besar dampaknya terhadap sektor lain. Seringkali memang solusi secara scientific sangat berbeda dengan keputusan politik yang diambil. Namun masalah politik tidak dibahas kali ini.

Antara 9 dan 10 milyar

Beberapa tahun lalu, gencar banyak artikel dan penelitian menyebut angka 9 Milyar manusia di 2050 dan dampaknya terhadap pangan dan energi. Namun saat ini yang sering terdengar adalah angka 10 Milyar populasi manusia di planet ini di tahun 2050 dan berbagai tantangannya. Hans Rosling bahkan memprediksi umat manusia tidak akan lebih dari 11 Milyar di bumi ini. Perubahan angka prakiraan dari 9 ke 10 Milyar dalam waktu dekat tentunya menarik untuk lebih dikaji. Mengapa dalam waktu dekat, prediksi Lembaga internasional bisa berubah? Apa ada temuan atau faktor baru yang sebelumnya tidak terprediksi?

Bicara masalah populasi yang padat, tidak bisa lepas dari akses air. Air juga berkolerasi erat dengan pangan karena industri pangan butuh akses air yang sehat untuk mengolah produknya. Petani juga membutuhkan akses air dalam bertanam. Disisi lain, sektor lainnya terkadang mempunyai akses yang lebih luas untuk memompa permukaan air tanah sehingga menghilangkan akses penduduk sekitar. Sebanyak 2,5% air dunia yang bisa dikonsumsi ini pun sekarang menjadi barang langka. Permasalahan air sekarang (yaitu; quality, quantity, satibility and access) tidak merata di setiap wilayah.

Japanese Space Food

Jepang sudah mulai ikut mengembangkan makanan untuk di luar angkasa. Jika sebelumnya makanan yang terhidang hanya versi USA dan Rusia, sekarang ini 31 makanan Jepang yang diproduksi oleh 15 perusahaan. Apakah bisnis penjelajahan luar angkasa yang digagas Elon Musk menarik minat banyak perusahaan itu? Entahlah. Yang pasti JAXA (Japan Aerospace Exploration Agency) berasalan mengembangkannya untuk memberikan selera tradisional dan lokal bagi astronot di luar angkasa.

Dengan banyaknya kejadian bencana seperti gempa bumi, maka akses terhadap pangan akan sangat terhambat. Japanase Space Food ternyata juga dapat digunakan untuk efisiensi diet dengan terpenuhinya kebutuhan kalori minimal bagi kita yang masih di bumi. Mereka berangan-angan bahwa Japanese Space Food akan menjadi bagian dari ketentuan wajib barang darurat yang harus tersedia (disiapkan). Penelitian saat ini membuktikan bahwa asupan sodium yang meningkat akan mempercepat pengeroposan tulang. Yang dikembangkan kemudian makanan dengan kandungan garam sesuai dengan rasa yang lezat sehingga akan meringankan penyakit gaya hidup seperti tekanan darah tinggi, diabetes dan memfasilitasi diet bagi orang tua.

Robotik di dunia pertanian, cocokkah di terapkan?

Dengan ketimpangan kondisi setiap negara, solusi dan perspektif akan berbeda pula. Di saat negara berkembang berpikir mengenai isu menarik minat generasi muda untuk menggeluti bidang pertanian, negara maju sudah berpikir mengenai instalasi robot sebagai pengganti tenaga manusia. Tampaknya mereka sudah pasrah terhadap isu generasi muda tersebut dan lebih tertarik ke sisi efisiensi. Simon Pearson, prof Agri-Food technology yang mendalami mengenai penerapan agri teknologi termasuk sistem robot, otomatisasi dan keamanan pangan memberikan sudut pandang berbeda. Di Amerika, kebijakan Trump yang ketat terhadap para imigran membuat dunia pertanian di Amerika kesulitas mendapatkan tenaga kerja murah dari Meksiko dan negara sekitarnya. Isu ini tidak mendapatkan perhatian sebelumnya, namun dunia politik punya dampak besar pada dunia usaha. Penggunaan robot menjadi alternatif dan peluang yang sangat menarik bagi pelaku usaha agar lebih efisien.

Ketika salah satu peserta bertanya mengenai berapa lama robot bisa diterapkan di dunia pertanian? Yuriko Kato dengan optimistis menjawab, “5 tahun akan bisa diterapkan di negara maju”. Mengapa optimis? “Karena saya yang mengembangkan”. Jawaban yang lugas dan tentunya penuh percaya diri. Namun, ada catatan penting yang diungkapkan, bahwa selama 5 tahun ini mengembangkan mekanisasi pertanian dan menggunakan robot, petani Jepang pun masih banyak yang menolak. Jika sudah berjalan memang robot efisien, namun di skala instalasi perlu modal yang besar. Memang benar, petani buah seperti apel atau jeruk perlu merubah sejak awal cara budidaya mereka sehingga ranting dan tangkai tumbuh dalam satu baris dan sejajar sehingga memudahkan robot untuk bergerak. Jika kondisi tanaman masih seperti sekarang ini, robot tidak efektif digunakan. Di tanaman anggur hal ini sudah bisa dengan mudah disesuaikan.

Pengembangan yang sudah bisa dilakukan dengan cepat yaitu vertical farming, dan tanaman yang dibudidayakan adalah sayuran. Untuk yang lainnya perlu terus dikaji lebih mendalam. Ini salah satu topik yang hangat di dunia penelitian.

Zainuri Hanif
Tokyo, 13 Maret 2018

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on March 13, 2018 in Activity, Jepang, Riset

 

Tags: ,

Tama Zoo

 

Setelah sempat tertunda hampir sebulan, akhirnya sekolahan Fadhil memutuskan pergi juga ke Tama Zoo, Kebun Binatang terbesar di Tokyo. Luasnya 52 ha atau 4x lipat Ueno Zoo yang terkenal dengan koleksi pandannya itu. Kalau dibandingkan, Tama Zoo lebih mirip gembiraloka kebun binatang di Yogyakarta. Saking luasnya, ada areal yang belum dimanfaatkan untuk koleksi satwa.

Harus ada di lokasi jam 9.00 membuat kami lumayan gedubrakan di paginya. Apalagi kepastian saya ikut baru jam 7.00 pagi setelah memberanikan diri email izin ke Sensei untuk tidak mengikuti seminar pekanan. Untunglah diijinkan. Lega rasanya pergi dengan hati riang gembira. Sampai lokasi ternyata tidak sendirian, Keluarga pak Alim juga hadir lengkap. Namun, orang Jepang sendiri (orang tua temannya Fadhil) banyak yang hanya berangkat sendiri. Kalau kami ya memanfaatkan momentum. Kapan lagi bisa kesini bareng-bareng. Hehe.

Setiap bulan selalu ada program keluar, entah itu ke museum, taman maupun tempat wisata seperti kebun binatang ini. Anak-anak diajak berjalan dan mengenal hewan selama 3 jam, atau dari jam 9-12. Isitrahat makan bekal sekitar satu jam. Selepas itu acara ditutup dan bebas. Orang tua dipersilahkan menemani anak-anaknya berkeliling di lokasi favorit.

Sebenarnya pengin segera pulang, pikiran sudah ke tugas yang menumpuk. Namun saat anak-anak beli minuman, tidak sengaja melihat peta Tama Zoo. Lha kok ada insectarium yang hanya 200 meter saja dari lokasi kami berdiri di depan gerbang pintu keluar. Ya kita sempatkan saja menengok. Ternyata memang lokasi ini asyik, banyak kupu-kupu berterbangan.

Secara umum, kebun binatang ini sama dengan kebun binatang yang ada di Indonesia. Yang membedakan hanya disini banyak lokasi tempat duduk untuk makan bekal. Kalau tidak sehari penuh berasa rugi. Kami pun tanpa terasa menghabiskan waktu sampai Kebun Binatang ini tutup yaitu jam 16.30 (Bulan Nopember).

Tokyo, 18 November 2017

 

 
Leave a comment

Posted by on November 18, 2017 in umum

 

Tags: , , ,

National Astronomical Observatory of Japan

Sejak kecil, saya senang akan benda astronomi. Apalagi ketika langit cerah dan nampak berbagai rasi bintang. Walau yang kupaham hanya rasi bintang layang-layang di sebelah selatan. Tidak tahu kenapa membayangkan luar angkasa itu selalu asyik, daya imainasinya berkembang kemana-mana. Apalagi ditambah tayangan film Saint Saiya dengan karakter utamanya Pegasus Seiya, Athena, Dragon Shiryu, Phoenix, Hyoga dan Andromeda, dst. Film Saint Saiya ini dulu selalu dinanti tayangnya selain Ksatria Baja Hitam. Dengan Film Saint Saiya itu, wawasan tentang zodiac dan cerita mitos Yunani mudah dipahami.

Untuk tahu lebih banyak astronomi akhirnya hanya menggantungkan tayangan televisi yang entah tayang kapan, koran yang juga tidak rutin beli dan buku-buku luar angkasa di sekolah. Selain itu tidak ada fasilitas memadai. Museum di Yogyakarta saat itu tentang astronomi juga tidak seperti sekarang ini, dimana ada taman pintar dan berbagai museum menarik lainnya. Kalau mau tahu benar ya harus ke Bosscha Lembang. Jauhhh! Pengetahuan tentang bintang dan luar angkasa memang bisa kita dapatkan lengkap di tempat ini. Bagaimana dengan tempat lainnya, bisa jadi sekarang sudah banyak, perlu dilacak lagi nih…

NAOJ: National Astronomical Observatory of Japan

Kali ini saya ingin sedikit mengupas observatory di Jepang yang beberapa hari lalu sempat kami kunjungi. Lokasinya kebetulan tidak begitu jauh dari tempat tinggal, jadi bisa dijangkau dengan sepeda. Awalnya sih iseng-iseng, cari tempat wisata dekat yang terjangkau dengan sepeda dan menarik. Dan beruntung, banyak sekali lokasi menarik disini. Setidaknya ada 2 lokasi untuk yang berhubungan dengan observatorium dan astronomi yaitu di Kyodonomori Museum dan di NAOJ ini. Langsung saja lokasi ini menjadi tujuan akhir pekan. Setelah tertunda beberapa bulan, akhirnya berkesempatan kesini. Walau estimasi bisa ditempuh hanya 30 menit, namun kami menempuh selama 1 jam, maklum mampir-mampir beli onigiri.

Mengapa ke NAOJ?

Pertama, NAOJ adalah lembaga penelitian berkelas dunia. Markas NAOJ terletak di Mitaka Campus di Mitaka, Tokyo. Sebagai lembaga penelitian yang terbuka untuk umum, NAOJ menjadi tuan rumah acara reguler dan open house tahunan sebagai bagian dari promosi penelitian astronomi Jepang. Sayang jika kesempatan untuk mengenalnya dilewatkan, tentunya menjadi pengalaman berharga juga buat anak-anak. Kedua, terjangkau lokasinya. Bahkan pemberhentian bus tepat berada di depan gerbang lokasi ini. Ketiga, Free alias masuk areal ini tidak dipungut biaya. Kita hanya perlu lapor ke petugas di pintu masuk untuk mendapatkan sticker pengunjung. Ketiga, suasananya sejuk dan menyegarkan, juga ramah anak. Walau perlu diperhatikan ada areal yang boleh dan tidak boleh dikunjungi. Hal ini karena lokasi ini sebenarnya masih aktif digunakan untuk kampus dan riset. Dan keempat, dokumentasinya sangat bagus. Lokasi paling favorit yaitu Observatory History Museum yang lantai 2-nya terdapat teropong raksasa dan lanta 1-nya banyak foto menarik aset NAOJ di seluruh dunia.

Pada era perang Jepang – Rusia selama tahun 1904 (era Meiji 37) sampai tahun 1905 (era Meiji 38), kondisi Jepang saat itu tidak memungkinkan untuk melakukan relokasi Observatorium Astronomi Tokyo. Jepang menanggung biaya perang yang besar. Upaya untuk memindahkan Observatorium Astronomi Tokyo ke Mitaka dimulai lagi dari tahun 1914 (era Taisho 3), namun kemajuannya sangat lambat. Pada tanggal 1 September 1923 (era Taisho 12), Observatorium Astronomi Tokyo di Azabu-iigura mengalami bencana besar akibat Gempa Besar Kanto. Beruntung, beberapa instrumen pengamatan seperti transit Repsold pun mampu lolos dari kerusakan. Momentum ini digunakan untuk menggalakkan kembali relokasi ke Mitaka Tokyo Astronomical Observatory.

Kubah Teleskop 65 cm (Observatory History Museum), bangunan yang paling lengkap yang bisa kami kunjungi dan memuat banyak informasi perkembangan penelitian astromoni di Jepang dirancang oleh Departemen Fasilitas Universitas Kekaisaran Tokyo dan dibangun oleh Yoshihei Nakamura pada tahun 1926. Telescope refractor yang dipakai berukuran 65 cm dibuat oleh Carl Zeiss di Jerman dan memiliki aperture terbesar di antara teleskop refraktor di Jepang. Setelah selesai pada tahun 1929, digunakan untuk berbagai pengamatan sebagai teleskop aperture terbesar sampai reflektor teleskop 188 cm di Observatorium Astrofisika Okayama dibangun pada tahun 1960. Pada tahun 1998 teleskop ini dipensiunkan, namun dengan bagian yang masih lengkap sebetulnya masih bisa digunakan lagi sewaktu-waktu.

Hambatan terbesar untuk menikmati tempat ini yaitu kendala bahasa. Hampir semua staf hanya bisa berbahasa Jepang saja. Dianjurkan memang mengajak teman yang bisa berbahasa Jepang agar semua ilmu bisa terserap. Satu-satunya yang mempermudah kami ketika berkunjung ke tempat ini karena telah membuka dulu website sebelumnya. Leaflet juga lumayan membantu dan bisa kita minta yang berbahasa Inggris. Ketika mengunjungi Solar Tower Telescope yang dikenal sebagai “Einstein Tower” karena struktur bangunan yang sama seperti Observatorium Astrofisika Potsdam di pinggiran kota Berlin, kami merasa salut akan dedikasi para petugasnya. Walau tahu dan sudah kami beritahu bahwa penguasaan bahasa Jepang kami terbatas, mereka tetap saja dengan antusias menjelaskan detail fungsi dari Eisntein Tower ini dan bagaimana kinerjanya. Akhirnya kami memang mengerti karena mereka mempraktekkan cara kerja alat itu dan menunjukkan hasil pembiasan warna seperti warna pelangi. Setidaknya ada lima tingkat tangga dengan tingkat kecureman tinggi untuk mencapai puncak teleskop.

Melihat lokasi lainnya yang sangat menarik, ingin rasanya mengunjungi observatory di tempat lainnya. Namun membayangkan bagaimana berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun bertugas di tempat terpencil untuk pengamatan ini tentunya hanya orang-orang dengan mental dan hoby tinggi yang bisa melakukannya. Mereka bertugas untuk kemajuan ilmu pengetahuan. Kita bisa menikmati hasilnya baik secara langsung maupun tidak langsung.

Tokyo, 17 November 2017

 

 
Leave a comment

Posted by on November 17, 2017 in Activity, Jepang, Perjalanan

 

Tags: , , , , ,

Hikmah Silaturrahim

Seharian kemarin mendapat pengalaman menarik menemani Sensei presentasi di Tsukuba University. Tampaknya ini kelas Forestry dan bersinggungan dengan Rural Development Policy and Planning yang diampu oleh Prof. Masuda. Sensei kami dari Tokyo University of Agriculture and Technology diundang sebagai dosen tamu dan diminta presentasi tentang “Introduction of Japanese agroforestry in the Brazilian Amazon to West African Cocoa Farms (by Prof. Yamada)” dan topik kedua tentang “Challenges of Charcoal Application for Sustainable Agriculture in Southeast Asia (by Assc. Prof. Oikawa)”. Kelas yang berisi lebih dari 40 mahasiswa internasional ini berlangsung aktif. Apalagi membahas mengenai sustainable agroforestry per oasis negara.

Diskusi berlanjut di meja makan. Apalagi temen-temen dari Ghana ingin berbagi secara langsung perkembangan negaranya yang menjadi salah satu negara tujuan riset. Saat ini Cocoa yang menjadi andalan ekspor negaranya memang sedang menurun. Namun ternyata mereka telah melakukan banyak upaya untuk meningkatkan kembali produktifitasnya, salah satunya dengan grafting. Bahkan lembaga risetnya, (kalau kita ya Puslit Kakao) sudah menggandeng banyak pihak termasuk FAO untuk meningkatkan program pemberdayaan penduduk lokal. Penduduk lokal tidak mau pohon yang sudah berumur lebih dari 25 tahun itu dibongkar, alasannya karena jika dibongkar hak guna langsung hilang. Tentunya masalah sosial yang spesifik membuat berbagai program yang sukses di daerah lain harus disesuaikan keadaan setempat. Yang unik lagi ternyata komoditas kakao di Ghana tidak ditangani Kementerian Pertanian, tapi Kementerian Keuangan. Ini tantangan tersendiri di birokrasinya.

Teman-teman Tsukuba dari negara lainnya juga sharing tentang pengembangan berbagai program pemberdayaan masyarakat di negaranya. Prof. Masuda yang mengundang Sensei kami ternyata bisa berbahasa Indonesia. Lancar sebagaimana Oikawa Sensei. Wah jadi malu, hehe. Sampai sekarang saya nggak bisa Bahasa Jepang. Beliau kenal dengan beberapa dosen Kehutanan UGM yang menjadi partnernya. Tahu juga sekelumit tentang Indonesia.

Selepas makan, agenda selanjutnya adalah berkunjung ke kediaman Emeritus Prof. Shioya (general agronomist) yang kebetulan rumahnya di Tsukuba dan kali ini pimpinan departemen IEAS Fujii-sensei and Kawabata-sensei bergabung. Emeritus Prof Shioya ini sebelumnya adalah professor TUAT dan pensiun pada usia 63 dan sekarang di usia 77 tahun sekarang ini masih produktif menulis di berbagai koran lokal dan juga journal. Karya-karya yang baru saja terbit beberapa bulan ini dengan bangganya ditunjukkan ke kami. Dan seperti pesan Sensei kami sebelumnya di mobil, beliau akan dengan antusias bertanya dan menanyai kalian terutama mengenai regional development dan isu terbaru. Maka kami berempat dari Indonesia, Malaysia, Kamboja dan Ghana pun ditanyai satu persatu. Serasa giliran presentasi. Haha.

Namun dari 3 jam berbincang dengan beliau, kami tentunya lebih banyak mendengar daripada bicara. Kesempatan yang baik tentunya untuk menimba banyak ilmu. Beliau bercerita tentang tempat kelahirannya di Fukhushima dan dampak nuklir bagi pertanian sampai saat ini. Begitu juga dengan ketergantungan impor Jepang atas komoditi gandum dari AS. Sebagaimana diketahui, Jepang memang berhasil melakukan diversivikasi dari 100 sekian kg beras per kapita saat ini menjadi 60 kg per kapita. Awalnya petani senang menanam gandum, namun produktifitas 3 ton per ha tidak mampu bersaing dengan gandum AS yang 7 ton per Ha. Prof. Shioya saat itu mampu menghasilkan teknologi gandum sehingga panen mencapai 7 ton per ha namun ketika ditawarkan ke pemerintah lokal, tawarannya tidak terlalu dilirik. Ditambah kebijakan nasional yang tidak mendukung petani gandum. Jadilah saat ini ketergantungan terhadap gandum impor sangat besar. Dan masalah inipun akan melanda negara lain yang ingin diversivikasi pangan. Program berhasil namun berdampak lain yaitu matinya petani gandum lokal. Sebuah kebijakan yang diambil perlu ditimbang benar untung ruginya dalam jangka panjang, termasuk antisipasi masalah tak terduga. Sharing yang menarik.

Kopi dan teh hangat pun telah empat cangkir saya habiskan, begitu juga dengan lainnya. Soalnya begitu habis langsung diganti cangkir lainnya oleh tuan rumah. Hampir semuanya kemudian permisi ke toilet secara bergiliran, tanda untuk pamit juga. Hehe. Kalau diteruskan beliau tampaknya nggak akan berhenti bicara dalam waktu yang singkat.

Walau usia sudah 77 tahun dan ketika berjalan harus dibantu tongkat, secara fisik masih sehat dan pikirannya sangat jernih. Begitu juga dengan istrinya yang pensiunan guru TK, masih bugar. Jadi berandai-andai, bisakah kita besok kalau pensiun didatangi oleh juniornya (teman-teman kita) dan berbagi seperti ini? Tentunya bergantung dengan apa yang kita lakukan saat ini. Jika hubungan baik dengan banyak orang dijaga, kontribusi terasa nyata, siapa sih yang tidak mau terus menyambung silaturrahim? Ah, jadi ingat guru-guru dan dosenku, rasanya sudah lama nggak main juga bersama teman-teman. (hnf)

 

Tokyo, 10 November 2017

 
Leave a comment

Posted by on November 10, 2017 in Activity, Jepang

 

Tags: , , ,

Akulturasi

img_2283.jpg

Jamak terjadi bias dalam memahami sebuah realita. Seperti orang Jepang ketika ditanya berapa orang asing yang tinggal dalam jangka waktu lama (foreign resident), mereka menjawab kisaran 20-30%. Karena bandingannya melihat banyaknya orang asing di Shibuya dan Shinjuku. Padahal data aktual hanya sekitar 1-2% saja. Disisi lain turis yang masuk ke Jepang jumlahnya sudah mencapai 20 juta dan ditargetkan mencapai 40 juta orang per tahun di 2020. Yang menarik istilah “orang asing” pun lebih menyasar orang dari western. Padahal justru kebanyakan dari China dan Korea Selatan yang tinggal maupun berwisata ke Jepang.

Nah, dari ngobrol dan dapat info dari Sensei memang kondisi saat ini terjadi kegamangan. Kebanyakan memang welcome kok akan sebuah akulturasi budaya. Mereka sadar bahwa untuk bisa bertahan dan tetap kompetitif harus terus membuka diri dan saling memahami. Apalagi negara tetangga Korsel dan China juga makin kompetitif. Jadi kesan bahwa orang Jepang tertutup sekarang makin luntur. Bahkan dalam sebuah acara bersama petinggi sebuah Univ mengaku bahwa Jepang butuh orang asing untuk berubah. Cobalah memahami budaya Jepang dan Jepang pun berusaha memahami budaya asing dari berbagai negara.

Yang menjadi permasalahan memang hal yang baik-baik seharusnya tidak bisa dikompromikan, seperti budaya antri, sopan, disiplin dll. Beberapa permasalahan memang muncul seperti menerobos antrian. Kami pernah mengalaminya di stasiun. Dan memang bukan dilakukan orang Jepang, tapi dilakukan oleh rombongan turis asing. Sehingga harus mengalah memakai kereta selanjutnya. Mereka tidak malu tuh menyerobot antrian kami yang membawa anak 3 dan hanya memandang biasa dari pintu saat kereta berjalan. Belum lagi yang tiba-tiba meludah sembarangan di depan kami. Bukan oleh orang Jepang lagi, tapi turis dari negara tetangga.

Pun begitu, di tengah banyaknya kasus yang ada; kerja berlebihan, bunuh diri dan menurunnya daya saing, orang Jepang mudah sekali untuk berubah. Mereka generasi pembelajar yang memang menjadikan suatu kasus sebagai titik balik sebuah perbaikan. Bukankah terkadang kita memang menjadi lebih baik dari sebuah kesalahan? [hnf]

 
Leave a comment

Posted by on November 5, 2017 in umum

 
 
%d bloggers like this: