RSS

Author Archives: zainurihanif

Tama Zoo

 

Setelah sempat tertunda hampir sebulan, akhirnya sekolahan Fadhil memutuskan pergi juga ke Tama Zoo, Kebun Binatang terbesar di Tokyo. Luasnya 52 ha atau 4x lipat Ueno Zoo yang terkenal dengan koleksi pandannya itu. Kalau dibandingkan, Tama Zoo lebih mirip gembiraloka kebun binatang di Yogyakarta. Saking luasnya, ada areal yang belum dimanfaatkan untuk koleksi satwa.

Harus ada di lokasi jam 9.00 membuat kami lumayan gedubrakan di paginya. Apalagi kepastian saya ikut baru jam 7.00 pagi setelah memberanikan diri email izin ke Sensei untuk tidak mengikuti seminar pekanan. Untunglah diijinkan. Lega rasanya pergi dengan hati riang gembira. Sampai lokasi ternyata tidak sendirian, Keluarga pak Alim juga hadir lengkap. Namun, orang Jepang sendiri (orang tua temannya Fadhil) banyak yang hanya berangkat sendiri. Kalau kami ya memanfaatkan momentum. Kapan lagi bisa kesini bareng-bareng. Hehe.

Setiap bulan selalu ada program keluar, entah itu ke museum, taman maupun tempat wisata seperti kebun binatang ini. Anak-anak diajak berjalan dan mengenal hewan selama 3 jam, atau dari jam 9-12. Isitrahat makan bekal sekitar satu jam. Selepas itu acara ditutup dan bebas. Orang tua dipersilahkan menemani anak-anaknya berkeliling di lokasi favorit.

Sebenarnya pengin segera pulang, pikiran sudah ke tugas yang menumpuk. Namun saat anak-anak beli minuman, tidak sengaja melihat peta Tama Zoo. Lha kok ada insectarium yang hanya 200 meter saja dari lokasi kami berdiri di depan gerbang pintu keluar. Ya kita sempatkan saja menengok. Ternyata memang lokasi ini asyik, banyak kupu-kupu berterbangan.

Secara umum, kebun binatang ini sama dengan kebun binatang yang ada di Indonesia. Yang membedakan hanya disini banyak lokasi tempat duduk untuk makan bekal. Kalau tidak sehari penuh berasa rugi. Kami pun tanpa terasa menghabiskan waktu sampai Kebun Binatang ini tutup yaitu jam 16.30 (Bulan Nopember).

Tokyo, 18 November 2017

 

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on November 18, 2017 in umum

 

Tags: , , ,

National Astronomical Observatory of Japan

Sejak kecil, saya senang akan benda astronomi. Apalagi ketika langit cerah dan nampak berbagai rasi bintang. Walau yang kupaham hanya rasi bintang layang-layang di sebelah selatan. Tidak tahu kenapa membayangkan luar angkasa itu selalu asyik, daya imainasinya berkembang kemana-mana. Apalagi ditambah tayangan film Saint Saiya dengan karakter utamanya Pegasus Seiya, Athena, Dragon Shiryu, Phoenix, Hyoga dan Andromeda, dst. Film Saint Saiya ini dulu selalu dinanti tayangnya selain Ksatria Baja Hitam. Dengan Film Saint Saiya itu, wawasan tentang zodiac dan cerita mitos Yunani mudah dipahami.

Untuk tahu lebih banyak astronomi akhirnya hanya menggantungkan tayangan televisi yang entah tayang kapan, koran yang juga tidak rutin beli dan buku-buku luar angkasa di sekolah. Selain itu tidak ada fasilitas memadai. Museum di Yogyakarta saat itu tentang astronomi juga tidak seperti sekarang ini, dimana ada taman pintar dan berbagai museum menarik lainnya. Kalau mau tahu benar ya harus ke Bosscha Lembang. Jauhhh! Pengetahuan tentang bintang dan luar angkasa memang bisa kita dapatkan lengkap di tempat ini. Bagaimana dengan tempat lainnya, bisa jadi sekarang sudah banyak, perlu dilacak lagi nih…

NAOJ: National Astronomical Observatory of Japan

Kali ini saya ingin sedikit mengupas observatory di Jepang yang beberapa hari lalu sempat kami kunjungi. Lokasinya kebetulan tidak begitu jauh dari tempat tinggal, jadi bisa dijangkau dengan sepeda. Awalnya sih iseng-iseng, cari tempat wisata dekat yang terjangkau dengan sepeda dan menarik. Dan beruntung, banyak sekali lokasi menarik disini. Setidaknya ada 2 lokasi untuk yang berhubungan dengan observatorium dan astronomi yaitu di Kyodonomori Museum dan di NAOJ ini. Langsung saja lokasi ini menjadi tujuan akhir pekan. Setelah tertunda beberapa bulan, akhirnya berkesempatan kesini. Walau estimasi bisa ditempuh hanya 30 menit, namun kami menempuh selama 1 jam, maklum mampir-mampir beli onigiri.

Mengapa ke NAOJ?

Pertama, NAOJ adalah lembaga penelitian berkelas dunia. Markas NAOJ terletak di Mitaka Campus di Mitaka, Tokyo. Sebagai lembaga penelitian yang terbuka untuk umum, NAOJ menjadi tuan rumah acara reguler dan open house tahunan sebagai bagian dari promosi penelitian astronomi Jepang. Sayang jika kesempatan untuk mengenalnya dilewatkan, tentunya menjadi pengalaman berharga juga buat anak-anak. Kedua, terjangkau lokasinya. Bahkan pemberhentian bus tepat berada di depan gerbang lokasi ini. Ketiga, Free alias masuk areal ini tidak dipungut biaya. Kita hanya perlu lapor ke petugas di pintu masuk untuk mendapatkan sticker pengunjung. Ketiga, suasananya sejuk dan menyegarkan, juga ramah anak. Walau perlu diperhatikan ada areal yang boleh dan tidak boleh dikunjungi. Hal ini karena lokasi ini sebenarnya masih aktif digunakan untuk kampus dan riset. Dan keempat, dokumentasinya sangat bagus. Lokasi paling favorit yaitu Observatory History Museum yang lantai 2-nya terdapat teropong raksasa dan lanta 1-nya banyak foto menarik aset NAOJ di seluruh dunia.

Pada era perang Jepang – Rusia selama tahun 1904 (era Meiji 37) sampai tahun 1905 (era Meiji 38), kondisi Jepang saat itu tidak memungkinkan untuk melakukan relokasi Observatorium Astronomi Tokyo. Jepang menanggung biaya perang yang besar. Upaya untuk memindahkan Observatorium Astronomi Tokyo ke Mitaka dimulai lagi dari tahun 1914 (era Taisho 3), namun kemajuannya sangat lambat. Pada tanggal 1 September 1923 (era Taisho 12), Observatorium Astronomi Tokyo di Azabu-iigura mengalami bencana besar akibat Gempa Besar Kanto. Beruntung, beberapa instrumen pengamatan seperti transit Repsold pun mampu lolos dari kerusakan. Momentum ini digunakan untuk menggalakkan kembali relokasi ke Mitaka Tokyo Astronomical Observatory.

Kubah Teleskop 65 cm (Observatory History Museum), bangunan yang paling lengkap yang bisa kami kunjungi dan memuat banyak informasi perkembangan penelitian astromoni di Jepang dirancang oleh Departemen Fasilitas Universitas Kekaisaran Tokyo dan dibangun oleh Yoshihei Nakamura pada tahun 1926. Telescope refractor yang dipakai berukuran 65 cm dibuat oleh Carl Zeiss di Jerman dan memiliki aperture terbesar di antara teleskop refraktor di Jepang. Setelah selesai pada tahun 1929, digunakan untuk berbagai pengamatan sebagai teleskop aperture terbesar sampai reflektor teleskop 188 cm di Observatorium Astrofisika Okayama dibangun pada tahun 1960. Pada tahun 1998 teleskop ini dipensiunkan, namun dengan bagian yang masih lengkap sebetulnya masih bisa digunakan lagi sewaktu-waktu.

Hambatan terbesar untuk menikmati tempat ini yaitu kendala bahasa. Hampir semua staf hanya bisa berbahasa Jepang saja. Dianjurkan memang mengajak teman yang bisa berbahasa Jepang agar semua ilmu bisa terserap. Satu-satunya yang mempermudah kami ketika berkunjung ke tempat ini karena telah membuka dulu website sebelumnya. Leaflet juga lumayan membantu dan bisa kita minta yang berbahasa Inggris. Ketika mengunjungi Solar Tower Telescope yang dikenal sebagai “Einstein Tower” karena struktur bangunan yang sama seperti Observatorium Astrofisika Potsdam di pinggiran kota Berlin, kami merasa salut akan dedikasi para petugasnya. Walau tahu dan sudah kami beritahu bahwa penguasaan bahasa Jepang kami terbatas, mereka tetap saja dengan antusias menjelaskan detail fungsi dari Eisntein Tower ini dan bagaimana kinerjanya. Akhirnya kami memang mengerti karena mereka mempraktekkan cara kerja alat itu dan menunjukkan hasil pembiasan warna seperti warna pelangi. Setidaknya ada lima tingkat tangga dengan tingkat kecureman tinggi untuk mencapai puncak teleskop.

Melihat lokasi lainnya yang sangat menarik, ingin rasanya mengunjungi observatory di tempat lainnya. Namun membayangkan bagaimana berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun bertugas di tempat terpencil untuk pengamatan ini tentunya hanya orang-orang dengan mental dan hoby tinggi yang bisa melakukannya. Mereka bertugas untuk kemajuan ilmu pengetahuan. Kita bisa menikmati hasilnya baik secara langsung maupun tidak langsung.

Tokyo, 17 November 2017

 

 
Leave a comment

Posted by on November 17, 2017 in Activity, Jepang, Perjalanan

 

Tags: , , , , ,

Hikmah Silaturrahim

Seharian kemarin mendapat pengalaman menarik menemani Sensei presentasi di Tsukuba University. Tampaknya ini kelas Forestry dan bersinggungan dengan Rural Development Policy and Planning yang diampu oleh Prof. Masuda. Sensei kami dari Tokyo University of Agriculture and Technology diundang sebagai dosen tamu dan diminta presentasi tentang “Introduction of Japanese agroforestry in the Brazilian Amazon to West African Cocoa Farms (by Prof. Yamada)” dan topik kedua tentang “Challenges of Charcoal Application for Sustainable Agriculture in Southeast Asia (by Assc. Prof. Oikawa)”. Kelas yang berisi lebih dari 40 mahasiswa internasional ini berlangsung aktif. Apalagi membahas mengenai sustainable agroforestry per oasis negara.

Diskusi berlanjut di meja makan. Apalagi temen-temen dari Ghana ingin berbagi secara langsung perkembangan negaranya yang menjadi salah satu negara tujuan riset. Saat ini Cocoa yang menjadi andalan ekspor negaranya memang sedang menurun. Namun ternyata mereka telah melakukan banyak upaya untuk meningkatkan kembali produktifitasnya, salah satunya dengan grafting. Bahkan lembaga risetnya, (kalau kita ya Puslit Kakao) sudah menggandeng banyak pihak termasuk FAO untuk meningkatkan program pemberdayaan penduduk lokal. Penduduk lokal tidak mau pohon yang sudah berumur lebih dari 25 tahun itu dibongkar, alasannya karena jika dibongkar hak guna langsung hilang. Tentunya masalah sosial yang spesifik membuat berbagai program yang sukses di daerah lain harus disesuaikan keadaan setempat. Yang unik lagi ternyata komoditas kakao di Ghana tidak ditangani Kementerian Pertanian, tapi Kementerian Keuangan. Ini tantangan tersendiri di birokrasinya.

Teman-teman Tsukuba dari negara lainnya juga sharing tentang pengembangan berbagai program pemberdayaan masyarakat di negaranya. Prof. Masuda yang mengundang Sensei kami ternyata bisa berbahasa Indonesia. Lancar sebagaimana Oikawa Sensei. Wah jadi malu, hehe. Sampai sekarang saya nggak bisa Bahasa Jepang. Beliau kenal dengan beberapa dosen Kehutanan UGM yang menjadi partnernya. Tahu juga sekelumit tentang Indonesia.

Selepas makan, agenda selanjutnya adalah berkunjung ke kediaman Emeritus Prof. Shioya (general agronomist) yang kebetulan rumahnya di Tsukuba dan kali ini pimpinan departemen IEAS Fujii-sensei and Kawabata-sensei bergabung. Emeritus Prof Shioya ini sebelumnya adalah professor TUAT dan pensiun pada usia 63 dan sekarang di usia 77 tahun sekarang ini masih produktif menulis di berbagai koran lokal dan juga journal. Karya-karya yang baru saja terbit beberapa bulan ini dengan bangganya ditunjukkan ke kami. Dan seperti pesan Sensei kami sebelumnya di mobil, beliau akan dengan antusias bertanya dan menanyai kalian terutama mengenai regional development dan isu terbaru. Maka kami berempat dari Indonesia, Malaysia, Kamboja dan Ghana pun ditanyai satu persatu. Serasa giliran presentasi. Haha.

Namun dari 3 jam berbincang dengan beliau, kami tentunya lebih banyak mendengar daripada bicara. Kesempatan yang baik tentunya untuk menimba banyak ilmu. Beliau bercerita tentang tempat kelahirannya di Fukhushima dan dampak nuklir bagi pertanian sampai saat ini. Begitu juga dengan ketergantungan impor Jepang atas komoditi gandum dari AS. Sebagaimana diketahui, Jepang memang berhasil melakukan diversivikasi dari 100 sekian kg beras per kapita saat ini menjadi 60 kg per kapita. Awalnya petani senang menanam gandum, namun produktifitas 3 ton per ha tidak mampu bersaing dengan gandum AS yang 7 ton per Ha. Prof. Shioya saat itu mampu menghasilkan teknologi gandum sehingga panen mencapai 7 ton per ha namun ketika ditawarkan ke pemerintah lokal, tawarannya tidak terlalu dilirik. Ditambah kebijakan nasional yang tidak mendukung petani gandum. Jadilah saat ini ketergantungan terhadap gandum impor sangat besar. Dan masalah inipun akan melanda negara lain yang ingin diversivikasi pangan. Program berhasil namun berdampak lain yaitu matinya petani gandum lokal. Sebuah kebijakan yang diambil perlu ditimbang benar untung ruginya dalam jangka panjang, termasuk antisipasi masalah tak terduga. Sharing yang menarik.

Kopi dan teh hangat pun telah empat cangkir saya habiskan, begitu juga dengan lainnya. Soalnya begitu habis langsung diganti cangkir lainnya oleh tuan rumah. Hampir semuanya kemudian permisi ke toilet secara bergiliran, tanda untuk pamit juga. Hehe. Kalau diteruskan beliau tampaknya nggak akan berhenti bicara dalam waktu yang singkat.

Walau usia sudah 77 tahun dan ketika berjalan harus dibantu tongkat, secara fisik masih sehat dan pikirannya sangat jernih. Begitu juga dengan istrinya yang pensiunan guru TK, masih bugar. Jadi berandai-andai, bisakah kita besok kalau pensiun didatangi oleh juniornya (teman-teman kita) dan berbagi seperti ini? Tentunya bergantung dengan apa yang kita lakukan saat ini. Jika hubungan baik dengan banyak orang dijaga, kontribusi terasa nyata, siapa sih yang tidak mau terus menyambung silaturrahim? Ah, jadi ingat guru-guru dan dosenku, rasanya sudah lama nggak main juga bersama teman-teman. (hnf)

 

Tokyo, 10 November 2017

 
Leave a comment

Posted by on November 10, 2017 in Activity, Jepang

 

Tags: , , ,

Akulturasi

img_2283.jpg

Jamak terjadi bias dalam memahami sebuah realita. Seperti orang Jepang ketika ditanya berapa orang asing yang tinggal dalam jangka waktu lama (foreign resident), mereka menjawab kisaran 20-30%. Karena bandingannya melihat banyaknya orang asing di Shibuya dan Shinjuku. Padahal data aktual hanya sekitar 1-2% saja. Disisi lain turis yang masuk ke Jepang jumlahnya sudah mencapai 20 juta dan ditargetkan mencapai 40 juta orang per tahun di 2020. Yang menarik istilah “orang asing” pun lebih menyasar orang dari western. Padahal justru kebanyakan dari China dan Korea Selatan yang tinggal maupun berwisata ke Jepang.

Nah, dari ngobrol dan dapat info dari Sensei memang kondisi saat ini terjadi kegamangan. Kebanyakan memang welcome kok akan sebuah akulturasi budaya. Mereka sadar bahwa untuk bisa bertahan dan tetap kompetitif harus terus membuka diri dan saling memahami. Apalagi negara tetangga Korsel dan China juga makin kompetitif. Jadi kesan bahwa orang Jepang tertutup sekarang makin luntur. Bahkan dalam sebuah acara bersama petinggi sebuah Univ mengaku bahwa Jepang butuh orang asing untuk berubah. Cobalah memahami budaya Jepang dan Jepang pun berusaha memahami budaya asing dari berbagai negara.

Yang menjadi permasalahan memang hal yang baik-baik seharusnya tidak bisa dikompromikan, seperti budaya antri, sopan, disiplin dll. Beberapa permasalahan memang muncul seperti menerobos antrian. Kami pernah mengalaminya di stasiun. Dan memang bukan dilakukan orang Jepang, tapi dilakukan oleh rombongan turis asing. Sehingga harus mengalah memakai kereta selanjutnya. Mereka tidak malu tuh menyerobot antrian kami yang membawa anak 3 dan hanya memandang biasa dari pintu saat kereta berjalan. Belum lagi yang tiba-tiba meludah sembarangan di depan kami. Bukan oleh orang Jepang lagi, tapi turis dari negara tetangga.

Pun begitu, di tengah banyaknya kasus yang ada; kerja berlebihan, bunuh diri dan menurunnya daya saing, orang Jepang mudah sekali untuk berubah. Mereka generasi pembelajar yang memang menjadikan suatu kasus sebagai titik balik sebuah perbaikan. Bukankah terkadang kita memang menjadi lebih baik dari sebuah kesalahan? [hnf]

 
Leave a comment

Posted by on November 5, 2017 in umum

 

Meiji Jingu Flowers

These flowers were given by the chrysanthemum flower groups, whose relationship with MEIJI JINGU run deep to celebrate the festival of MEIJI JINGU.

The chrysanthemum flower is a perennial plant that has a long tradition in Japan. It was largely improved about 300 years ago and became a flower of appreciation.

There are many kinds of chrysanthemum flowers. There are white, yellow, pink and red variations of the flower, whose size too, may vary from large to small.

They need so much water that it is necessary to water them twice a day, in the morning and the evening. Much effort is needed to cultivate the flower. The shape of the chrysanthemum represents the Imperial Family.

 
Leave a comment

Posted by on November 4, 2017 in Activity, Jepang, Perjalanan

 

Tags: , ,

Buku Bacaan

img_1765

Aktifitas membaca harusnya menjadi kebiasaan yang baik yang perlu dibiasakan sejak dini ke anak-anak. Di Jogja ada “Rumah Baca” yang digagas Mas Ganjar. Ketika ke Jogja kemarin sempat silaturrahim dan bertemu lulusan S3 dari Inggris pegiat FLP ini. Sepintas kekaguman pun muncul, bisa nggak ya besok pulang dari sekolah di luar negeri membawa sesuatu yang bermanfaat bukan hanya untuk diri sendiri dan keluarga saja? Tentunya tidak harus sama persis, namun dalam bentuk lain. Sampai sekarang masih belum kebayang tuh… hehe.

Ngomongin “Rumah Baca” tidak lepas dari koleksi buku. Disini kami tidak kesulitas menemukan buku berkualitas, khususnya buat anak-anak. Tinggal pergi saja ke toko buku second BookOff, buku bergambar untuk anak banyak bisa dengan mudah ditemui. Kebanyakan memang nihongo, namun ada juga yang berbahasa Inggris walau sangat terbatas dan harganya berlipat. Membeli banyak buku bacaan Nihongo untuk saat ini memang tidak menjadi prioritas, anak-anak perlu media yang nyaman dan tentunya terjangkau kantong kami juga.

img_1751.jpg

Untunglah tak jauh dari tempat kami tinggal sekarang ini ada Fuchu City Library yang setiap hari kami lewati ketika mengantar si-sulung ke sekolah. Dan kesempatan ke-3 kalinya kami mampir disitu anak-anak mulai nyaman. Petugas pun memberikan penjelasan dengan ramah sehingga kami pun lebih paham mengenai seluk beluk perpustakaan ini dan sistemnya.

Berlokasi di gedung 5 lantai, fasilitas perpustakaan sendiri letaknya di lantai 3,4 dan 5. Corner kids yang berisi buku anak-anak terdapat di lantai 3. Ada ruang baca lesehannya juga. Kamar mandi khusus anak juga tersedia disini. Setiap lantai mempunyai longue untuk sejenak istirahat dengan makan dan minum. Tersedia pula vending machine dengan pilihan kopi hangat atau minuman kaleng dingin. Buku khusus bahasa Inggris ada di lantai 3 (rak khusus anak) dan lantai 4 dekat dengan Vienna section.

Vienna section ini ruangan khusus mengenai koleksi dari Eropa khususnya Vienna karena dulu merupakan program kerjasama dengan distrik Hernals, Wina. Bagian ini memuat bahan-bahan (buku, CD) dari kota tersebut yang merupakan kota persahabatan Fuchu. Ruang ini menyediakan suasana yang menyenangkan untuk mengalami seni, sejarah, budaya dan lingkungan alam Wina melalui materi ini. Fasilitas untuk mendengarkan CD juga tersedia.

Pengalaman Aisyah pertama kali ke sini agak rewel. Baru saja datang sudah minta pulang, laper katanya. Padahal sebelum mengantar kakaknya, sudah makan. Maklum, musim dingin memang membuat perut cepet memproses makanan, jadinya mudah lapar. Sambil menunggu Bundanya yang sedang membereskan berkas di Fuchu city hall, kami memilih minuman hangat banana yang lumayan menghangatkan dan mengganjal perut. Selain menghabiskan waktu di perpustakaan, besok pengin mencoba pinjam buku. Lumayan, sekali pinjam bisa 10 buku selama 2 pekan. Amunisi yang baik untuk berdiam di dalam rumah selama musim dingin. [hnf]

 
Leave a comment

Posted by on November 3, 2017 in Activity, Tingkah Polah Anak

 

108 Milyar dan Padang Mahsyar

Tak sengaja menemukan artikel di National Geographic dan mencoba mencocokkannya dengan PRB (Population Reference Bureau), angka yang ditampilkan sama. Artikel yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1995 dan diperbarui pada tahun 2002 menampilkan angka 108 Milyar manusia yang pernah hidup di bumi ini. Dan yang sekarang ini hidup di bumi ini yaitu 7 Milyar dan diperkirakan akan bertambah menjadi 9 Milyar pada 2050. Jumlah yang pastinya akan memicu banyak permasalahan skala dunia jika tidak tertangani dengan baik: kelaparan, konflik sosial, pemerataan pembangunan, dll.

Pendekatan semi ilmiah ini menggunakan asumsi pertumbuhan populasi konstan pada periode tertentu. Periode 8000 SM ke 1 AD adalah kunci untuk menentukan besarnya jumlah manusia. Pada awal zaman bertani, sekitar tahun 8000 SM populasi dunia berada pada angka 5 juta, angka yang diberikan oleh PBB.
Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on August 1, 2017 in umum

 

Laporan Kelahiran Anak di Jepang

Pasca kelahiran anak di Jepang, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait administrasinya. Jauh hari sebelum anak ke-3 kami Fatih lahir, beberapa teman telah memberi masukan untuk segera lapor kelahiran anak ke kantor pemerintah kota setempat (shiyakusho). Batasnya 14 hari setelah melahirkan dan kemudian dilanjutkan dengan ke imigrasi Jepang untuk mendapatkan residence card (visa) sehingga secara legal sudah sah tinggal di Jepang mengikuti batas visa orang tuanya. Sedangkan laporan ke KBRI bisa dilakukan setelah laporan ke pemerintah kota setempat selesai dan residence card didapatkan.

Laporan ke Shiyakusho (maksimal H+14 kelahiran)

Karena istri melahirkan secara caesar, dokter meminta untuk istirahat 10 hari di rumah sakit. Walaupun beberapa hari setelah melahirkan sudah bisa berjalan dan merasa sehat, istirahat selama 10 hari ini memberikan kesempatan Bunda untuk pulih benar. Di Malang, saat kelahiran anak ke-2 dengan caesar, pada hari ke-3 sudah boleh pulang ke rumah. Namun ternyata untuk melakukan aktivitas sehari-hari (memasak, beres-beres rumah, dll), perut masih terasa nyeri. Ya, kita ambil sisi positifnya, pertimbangan dokter ada benarnya.

Karena 10 hari di rumah sakit, maka surat keterangan lahir dari rumah sakit dikeluarkan ketika pulang. Otomatis waktu yang tersisa tinggal 4 hari. Alhamdulillah, urusan di shiyakusho beres. Sayangnya saya lupa tidak memfotokopi surat dari rumah sakit tersebut karena ternyata surat itu tidak dikembalikan alias disimpan mereka. Jangan lupa bawa boshitecho (buku panduan ibu dan anak) dan kartu asuransi orangtua. Setelah beres langsung urus juga asuransi kesehatan dan tunjangan anak. Kalau di Fuchu city Tokyo, bisa diurus di lantai 5. Read the rest of this entry »

 
2 Comments

Posted by on July 20, 2017 in Jepang

 

Tags: , , , , , , , ,

Surga Bunga di Jindai Botanical Garden

Horee…akhirnya bisa jalan-jalan ke taman lagi. Sudah sebulan lebih sejak lahiran kemarin, kami memang sudah berencana mengunjungi taman-taman sekitar tempat tinggal. Ya anggap aja ini liburan mudik, hehe. Walau cuaca panas dan gerah karena jarangnya angin bertiup, aktivitas luar ruangan seperti ini perlu untuk anak-anak dan tentunya kami juga.

Tempat liburan kesukaanku lebih ke alam, maka kali ini kami putuskan main ke taman bunga. Sudah lama pengin ke lokasi ini. Dengan naik bus dan kereta dan sedikit jalan kaki tentunya, akhirnya sampai juga ke “Jindai Botanical Garden”, lokasinya masih di Tokyo, tepatnya di Chofu, kalau dengan kereta semi express arah Shinjuku cukup 1 stasiun saja dari Fuchu, kota kami tinggal. Biaya masuknya 500 yen per orang. Kami datang berlima, namun hanya dihitung berdua, anak-anak free.

Ada dua taman yang seperti ini yang sudah kukunjungi dan semuanya menarik yaitu Kyoto Botanical Garden dan Shinjuku Park. Semuanya memiliki koleksi tanaman tropis dalam rumah kaca yang luar biasa besar. Selain koleksinya cukup lengkap, terawat dengan sangat baik. Jindai Botanical Garden luasnya 42 hektar yang terbagi menjadi 30 blok berdasarkan spesies tanaman. Terdapat 100.000 pohon dan semak yang terdiri dari 4500 spesies. Taman mawarnya terbesar di Tokyo dan terkenal juga dengan pohon plum dan cherry yang mekar di musim semi. Nah, kalau datang di bulan apapun pasti ada kok bunga yang mekar, karena ada kalender bunganya. Jadi jangan khawatir ga ada objek menarik.

Namun bunga unggulan yaitu mawar hanya mekar di bulan Mei – Juli, puncaknya pada 9-31 Mei. Bunga di Greenhouse yaitu orchid, tuberous begonia dan water lily bisa dijumpai hampir sepanjang tahun. Di musim panas ini, lokasi greenhouse menjadi tempat favorit kami karena sangat sejuk. Lumayan bisa ngadem. Fadhil yang awalnya uring-uringan karena kepanasan dan minta plosotan akhirnya sumringah juga. Layaknya menemukan “harta karun”, ia sangat enjoy di area ini. Ternyata di luar ia gerah, kepanasan. Areal seperti ini di Indonesia bisa ditemui di Kebun LIPI yang ada di Bogor, Bali dan Purwodadi. Yang terakhir ini sebenarnya dekat Malang, moga kelak bisa mengunjungi dan menikmati keindahannya. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on July 8, 2017 in Jepang, Perjalanan

 

Tags: , , , , ,

Happy Ramadhan!

 

“O you who have believed, decreed upon you is fasting as it was decreed upon those before you that you may become righteous”
(Al-Quran 2:183)

Bagaikan bunga sakura, Ramadhan yang kedatangannya setahun sekali sangat dinanti. Namun, Ramadhan tentunya jauh lebih baik dari dunia dan seisinya. Aura bulan suci ini sungguh menggetarkan, peluang pahala berlimpah. Semoga kita bisa menjalani Ramadhan 1438 H ini lebih baik dari sebelumnya, tidak berlalu begitu saja. Mari raih keutamaannya. Marhaban ya Ramadhan.

 
Leave a comment

Posted by on May 26, 2017 in umum

 

Tags:

 
%d bloggers like this: