RSS

Jenguk Bayi, Membuat Kita Banyak Bersyukur

17 Jun

Alhamdulillah, Ramadhan terakhir kemarin di negeri sakura, kami isi dengan berbagai macam aktivitas bermanfaat. Pagi sampai sore saya di kampus, istri beraktivitas dengan teman-temannya ke pasar kota Fuchu. Sebelum malam kumpul-kumpul takbiran, mumpung cuaca cerah, agenda nengok bayi pun langsung kami eksekusi. Selama sepekan ini memang hujan terus. Di Jepang, bulan Juni memang bulannya hujan. Maka membaca puisi hujan bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono terasa sangat pas. hehe.

Jarum jam menunjuk angka 4 sore, dan kami bersepeda ke Tokyo Municipal Tama General Medical Care Center tempat di mana bayinya Rubi dan Maya dilahirkan beberapa hari yang lalu. Perjalanan sangat menyenangkan karena jalan untuk bersepeda sangat lebar, jadi cocok juga buat Fadhil yang masih perlu memperlancar gaya bersepedanya. Fadhil baru bisa bersepeda sekitar dua bulan yang lalu, pertengahan Ramadhan dengan mempersering belajar sendiri habis pulang sekolah.

Jika melahirkan normal, cukup menginap lima hari saja, jika harus dioperasi seperti kasus istri, harus menginap sampai sepuluh hari. Maka kedatangan teman dan keluarga terdekat yang mejenguk sangat berarti. Apalagi di negeri rantauan! Setidaknya, itu yang kami rasakan. Rasa kesepian yang istri rasakan saat itu sangat berkurang dengan kedatangan teman-teman yang menjenguk di rumah sakit dan mendukung penuh proses penyembuhan, dan tentunya kedatangan Fadhil Aisyah yang selalu kuajak setiap sore sekedar menyapa saat itu membuat Bundanya makin sering tersenyum. Sampai akhirnya kami punya pengalaman yang tidak akan terlupakan saat Fadhil hilang. Rasa capek, cuaca hujan selama perjalanan dan keinginan segera bertemu buah hati terkadang membuat kita hilang konsentrasi sekejap. Tantangan bagi mahasiswa adalah jadwal kesibukan kampus dan pertemuan dengan supervisor yang kadang bisa berubah sewaktu-waktu. Denga pernah mengalami memang kita akan merasa lebih berempati.

Kita foto gini di sebelah gerombolan anak SD yang sedang pulang sekolah melongo. Nih keluarga kok suka photo-photo ya? (pikirnya) apa asyiknya? 😀

Setelah bersepeda selama setengah jam, akhirnya kami sampai. Rumah sakitnya sangat bagus, lebih dekat jaraknya dari tempat tinggal kami di Fuchu daripada Inagi Hospital tempat anak ketiga kami lahir tahun lalu. Dan kesempatan ini kami gunakan pula untuk mengajak anak-anak bersilaturrahim, bersyukur pula atas berbagai kemudahan yang kami dapatkan tahun lalu ketika dengan segala keterbatasan, banyak yang menolong dan membantu. Anak-anak pun tak sabar pengin lihat dedek bayi, anaknya om Rubi dan Tante Maya. Dan ternyata di rumah sakit ini tidak seketat yang kami bayangkan. Justru lebih ketat di Inagi Hospital yang ketika anak masuk harus dicek temperatur dan diberi gelang di pergelangan tangan.

Yang menarik dari rumah sakit ini adalah adanya swalayan Lawson di lantai 1 sehingga berbagai kebutuhan bisa dibeli dengan mudah. Tempat duduk banyak tersedia dan ada juga meja makan tersendiri untuk pengunjung. Kami pun berbuka dengan membeli onigiri dan minuman ringan disini dan selepas sholat Maghrib bergegas pulang. Kalau mendatangi undangan walimah, kadang kita teringat akan peristiwa akad nikah yang dulu dilaksanakan. Nah, kalau nengok bayi, begitu juga. Mengingatkan kita akan semua memori perjuangan kala itu. Dan memang itulah salah satu fungsi silaturrahim, mempererat persaudaraan dan membuat kita banyak bersyukur dan bersyukur.

Tokyo, 17 Juni 2018
Zainuri Hanif

 
Leave a comment

Posted by on June 17, 2018 in Activity, Jepang

 

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: