RSS

National Astronomical Observatory of Japan

17 Nov

Sejak kecil, saya senang akan benda astronomi. Apalagi ketika langit cerah dan nampak berbagai rasi bintang. Walau yang kupaham hanya rasi bintang layang-layang di sebelah selatan. Tidak tahu kenapa membayangkan luar angkasa itu selalu asyik, daya imainasinya berkembang kemana-mana. Apalagi ditambah tayangan film Saint Saiya dengan karakter utamanya Pegasus Seiya, Athena, Dragon Shiryu, Phoenix, Hyoga dan Andromeda, dst. Film Saint Saiya ini dulu selalu dinanti tayangnya selain Ksatria Baja Hitam. Dengan Film Saint Saiya itu, wawasan tentang zodiac dan cerita mitos Yunani mudah dipahami.

Untuk tahu lebih banyak astronomi akhirnya hanya menggantungkan tayangan televisi yang entah tayang kapan, koran yang juga tidak rutin beli dan buku-buku luar angkasa di sekolah. Selain itu tidak ada fasilitas memadai. Museum di Yogyakarta saat itu tentang astronomi juga tidak seperti sekarang ini, dimana ada taman pintar dan berbagai museum menarik lainnya. Kalau mau tahu benar ya harus ke Bosscha Lembang. Jauhhh! Pengetahuan tentang bintang dan luar angkasa memang bisa kita dapatkan lengkap di tempat ini. Bagaimana dengan tempat lainnya, bisa jadi sekarang sudah banyak, perlu dilacak lagi nih…

NAOJ: National Astronomical Observatory of Japan

Kali ini saya ingin sedikit mengupas observatory di Jepang yang beberapa hari lalu sempat kami kunjungi. Lokasinya kebetulan tidak begitu jauh dari tempat tinggal, jadi bisa dijangkau dengan sepeda. Awalnya sih iseng-iseng, cari tempat wisata dekat yang terjangkau dengan sepeda dan menarik. Dan beruntung, banyak sekali lokasi menarik disini. Setidaknya ada 2 lokasi untuk yang berhubungan dengan observatorium dan astronomi yaitu di Kyodonomori Museum dan di NAOJ ini. Langsung saja lokasi ini menjadi tujuan akhir pekan. Setelah tertunda beberapa bulan, akhirnya berkesempatan kesini. Walau estimasi bisa ditempuh hanya 30 menit, namun kami menempuh selama 1 jam, maklum mampir-mampir beli onigiri.

Mengapa ke NAOJ?

Pertama, NAOJ adalah lembaga penelitian berkelas dunia. Markas NAOJ terletak di Mitaka Campus di Mitaka, Tokyo. Sebagai lembaga penelitian yang terbuka untuk umum, NAOJ menjadi tuan rumah acara reguler dan open house tahunan sebagai bagian dari promosi penelitian astronomi Jepang. Sayang jika kesempatan untuk mengenalnya dilewatkan, tentunya menjadi pengalaman berharga juga buat anak-anak. Kedua, terjangkau lokasinya. Bahkan pemberhentian bus tepat berada di depan gerbang lokasi ini. Ketiga, Free alias masuk areal ini tidak dipungut biaya. Kita hanya perlu lapor ke petugas di pintu masuk untuk mendapatkan sticker pengunjung. Ketiga, suasananya sejuk dan menyegarkan, juga ramah anak. Walau perlu diperhatikan ada areal yang boleh dan tidak boleh dikunjungi. Hal ini karena lokasi ini sebenarnya masih aktif digunakan untuk kampus dan riset. Dan keempat, dokumentasinya sangat bagus. Lokasi paling favorit yaitu Observatory History Museum yang lantai 2-nya terdapat teropong raksasa dan lanta 1-nya banyak foto menarik aset NAOJ di seluruh dunia.

Pada era perang Jepang – Rusia selama tahun 1904 (era Meiji 37) sampai tahun 1905 (era Meiji 38), kondisi Jepang saat itu tidak memungkinkan untuk melakukan relokasi Observatorium Astronomi Tokyo. Jepang menanggung biaya perang yang besar. Upaya untuk memindahkan Observatorium Astronomi Tokyo ke Mitaka dimulai lagi dari tahun 1914 (era Taisho 3), namun kemajuannya sangat lambat. Pada tanggal 1 September 1923 (era Taisho 12), Observatorium Astronomi Tokyo di Azabu-iigura mengalami bencana besar akibat Gempa Besar Kanto. Beruntung, beberapa instrumen pengamatan seperti transit Repsold pun mampu lolos dari kerusakan. Momentum ini digunakan untuk menggalakkan kembali relokasi ke Mitaka Tokyo Astronomical Observatory.

Kubah Teleskop 65 cm (Observatory History Museum), bangunan yang paling lengkap yang bisa kami kunjungi dan memuat banyak informasi perkembangan penelitian astromoni di Jepang dirancang oleh Departemen Fasilitas Universitas Kekaisaran Tokyo dan dibangun oleh Yoshihei Nakamura pada tahun 1926. Telescope refractor yang dipakai berukuran 65 cm dibuat oleh Carl Zeiss di Jerman dan memiliki aperture terbesar di antara teleskop refraktor di Jepang. Setelah selesai pada tahun 1929, digunakan untuk berbagai pengamatan sebagai teleskop aperture terbesar sampai reflektor teleskop 188 cm di Observatorium Astrofisika Okayama dibangun pada tahun 1960. Pada tahun 1998 teleskop ini dipensiunkan, namun dengan bagian yang masih lengkap sebetulnya masih bisa digunakan lagi sewaktu-waktu.

Hambatan terbesar untuk menikmati tempat ini yaitu kendala bahasa. Hampir semua staf hanya bisa berbahasa Jepang saja. Dianjurkan memang mengajak teman yang bisa berbahasa Jepang agar semua ilmu bisa terserap. Satu-satunya yang mempermudah kami ketika berkunjung ke tempat ini karena telah membuka dulu website sebelumnya. Leaflet juga lumayan membantu dan bisa kita minta yang berbahasa Inggris. Ketika mengunjungi Solar Tower Telescope yang dikenal sebagai “Einstein Tower” karena struktur bangunan yang sama seperti Observatorium Astrofisika Potsdam di pinggiran kota Berlin, kami merasa salut akan dedikasi para petugasnya. Walau tahu dan sudah kami beritahu bahwa penguasaan bahasa Jepang kami terbatas, mereka tetap saja dengan antusias menjelaskan detail fungsi dari Eisntein Tower ini dan bagaimana kinerjanya. Akhirnya kami memang mengerti karena mereka mempraktekkan cara kerja alat itu dan menunjukkan hasil pembiasan warna seperti warna pelangi. Setidaknya ada lima tingkat tangga dengan tingkat kecureman tinggi untuk mencapai puncak teleskop.

Melihat lokasi lainnya yang sangat menarik, ingin rasanya mengunjungi observatory di tempat lainnya. Namun membayangkan bagaimana berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun bertugas di tempat terpencil untuk pengamatan ini tentunya hanya orang-orang dengan mental dan hoby tinggi yang bisa melakukannya. Mereka bertugas untuk kemajuan ilmu pengetahuan. Kita bisa menikmati hasilnya baik secara langsung maupun tidak langsung.

Tokyo, 17 November 2017

 

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on November 17, 2017 in Activity, Jepang, Perjalanan

 

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: