RSS

Akulturasi

05 Nov

img_2283.jpg

Jamak terjadi bias dalam memahami sebuah realita. Seperti orang Jepang ketika ditanya berapa orang asing yang tinggal dalam jangka waktu lama (foreign resident), mereka menjawab kisaran 20-30%. Karena bandingannya melihat banyaknya orang asing di Shibuya dan Shinjuku. Padahal data aktual hanya sekitar 1-2% saja. Disisi lain turis yang masuk ke Jepang jumlahnya sudah mencapai 20 juta dan ditargetkan mencapai 40 juta orang per tahun di 2020. Yang menarik istilah “orang asing” pun lebih menyasar orang dari western. Padahal justru kebanyakan dari China dan Korea Selatan yang tinggal maupun berwisata ke Jepang.

Nah, dari ngobrol dan dapat info dari Sensei memang kondisi saat ini terjadi kegamangan. Kebanyakan memang welcome kok akan sebuah akulturasi budaya. Mereka sadar bahwa untuk bisa bertahan dan tetap kompetitif harus terus membuka diri dan saling memahami. Apalagi negara tetangga Korsel dan China juga makin kompetitif. Jadi kesan bahwa orang Jepang tertutup sekarang makin luntur. Bahkan dalam sebuah acara bersama petinggi sebuah Univ mengaku bahwa Jepang butuh orang asing untuk berubah. Cobalah memahami budaya Jepang dan Jepang pun berusaha memahami budaya asing dari berbagai negara.

Yang menjadi permasalahan memang hal yang baik-baik seharusnya tidak bisa dikompromikan, seperti budaya antri, sopan, disiplin dll. Beberapa permasalahan memang muncul seperti menerobos antrian. Kami pernah mengalaminya di stasiun. Dan memang bukan dilakukan orang Jepang, tapi dilakukan oleh rombongan turis asing. Sehingga harus mengalah memakai kereta selanjutnya. Mereka tidak malu tuh menyerobot antrian kami yang membawa anak 3 dan hanya memandang biasa dari pintu saat kereta berjalan. Belum lagi yang tiba-tiba meludah sembarangan di depan kami. Bukan oleh orang Jepang lagi, tapi turis dari negara tetangga.

Pun begitu, di tengah banyaknya kasus yang ada; kerja berlebihan, bunuh diri dan menurunnya daya saing, orang Jepang mudah sekali untuk berubah. Mereka generasi pembelajar yang memang menjadikan suatu kasus sebagai titik balik sebuah perbaikan. Bukankah terkadang kita memang menjadi lebih baik dari sebuah kesalahan? [hnf]

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on November 5, 2017 in umum

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: