RSS

Gotong Royong Membuat Kompos Daun

10 Jan
dokumentasi panitia

dokumentasi panitia

Jepang memiliki cara tersendiri untuk melestarikan hutan dan pertanian. Sebagaimana wilayah di Indonesia, sebagian besar wilayah Jepang sangat cocok untuk lahan pertanian. Masyarakat di pedesaan mengembangkan tradisi yang unik dalam rangka memenuhi kebutuhan pupuk yaitu dengan mengumpulkan daun-daun yang berjatuhan di musim gugur. Kali ini kami mendapat kesempatan diajak Oikawa Sensei membuat kompos dari daun bersama Yanase Community di daerah Tokorozawa, Saitama.

Divisi pertanian dari Pemerintah Kota Tokorozawa menginisiasi acara pembuatan compos dari dari daun gugur di hutan sekunder. Daerah pertanian yang tidak jauh dari Tokyo metropolitan ini, dikenal sebagai penghasil bayam, talas, lobak dan ubi. Kualitas pertanian yang dihasilkan disini diakui dan diterima secara luas di pasar. Sekitar 60 orang bergabung dalam acara ini. Mayoritas sudah berusia, pun begitu mereka sangat energik. Beberapa pemuda tampak pula turun dan membantu. Dekan Graduate School of Agriculture TUAT dan Walikota Tokorozawa menandatangani MoU untuk 5 tahun kerja sama untuk meningkatkan daya saing komoditas pertanian di wilayah ini, khususnya talas. Maka kesempatan ini kami gunakan pula untuk memantau tanaman penelitian tersebut.

Konsep Satoyama

Jepang sedang berjuang untuk menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi yang cepat dengan perlindungan dan warisan budaya dan alamnya yang kaya. Modernisasi telah menyebabkan berbagai cara baru pertanian dilakukan oleh masyarakat Jepang. Mulai dari penggunaan alat mekanisasi modern, konstruksi bendungan dan irigasi dan ekspansi kebutuhan perumahan. Hal ini menyebabkan berkurangnya daerah pertanian secara menyuluruh dan banyak spesies tanaman, mamalia, reptil amfibi dan ikan tawar menyusut.Tentunya jangka panjangnya kerugian juga buat manusia.

Mereka cepat belajar dan berbenah, apalagi selama ini mempunyai konsep Satoyama, sebuah konsep yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara urbanisasi dan konservasi alam. Satoyama berasal dari kata ‘sato’ (desa atau kampung) dan ‘yama’ (gunung, hutan, padang rumput). Targetnya yaitu untuk membangun keberadaan lahan yang merupakan perpaduan harmoni antara manusia dengan alam. Dalam arti luas Satoyama berarti campuran dari hutan, sawah basah, lahan budidaya, padang rumput, sungai, kolam dan irigasi parit yang mengelilingi sebuah pertanian Jepang. Dalam era Edo (1603-1867) sekitar lima hektar satoyama diperlukan untuk mendukung setiap keluarga petani yang terdiri tujuh atau delapan orang.

Kompos Daun

Petani berusaha membuat pupuk sendiri dengan memanfaatkan hutan sekitar. Kali ini mereka gotong royong membantu mengumpulkan dedaunan kering dari garu berbahan bambu. Karena dikerjakan banyak orang, tidak sampai 2 jam satu area seluas lapangan bola sudah terkumpul dedaunan keringnya. Daun kering ini kemudian dipadatkan dengan diinjak-injak, selanjutnya ditutup dengan jaring agar tidak bertebaran lagi terhembus oleh angin. Apakah dikasih larutan apa tambahan bahan tertentu? Ternyata tidak. Kompos ini baru akan digunakan 1,5 tahun lagi. Yaitu melewati musim dingin selanjutnya dan digunakan pada waktu musim semi. Di sebelahnya tampak kompos yang hampir jadi dimana dedaunan menjadi tanah kembali namun kaya akan bahan organik. Berbagai serangga akan hidup dan menguraikan dedaunan yang tertimbun.

Awal ketika datang, kami diberi pengarahan terlebih dahulu. Dan Oikawa Sensei menterjemahkan kepada kami maksud dan tatacara untuk mengumpulkan daun untuk kompos ini. Walau saat itu suhu satu derajat celcius, dengan banyak gerak ternyata badan menjadi hangat, bahkan berkeringat. Peluit panjang dibunyikan sebagai penanda istirahat dan kami semua dipersilahkan mengambil teh atau kopi hangat beserta camilan. Keramahtamahan ini mengingatkan kerja bakti atau gotong royong di kampung. Gotong royong seperti ini masih kental di daerah pedesaan. Dan berkumpul dengan banyak orang seperti ini sangat menyenangkan.

Kami pun sempat diajak berpindah ke areal lainnya karena di lokasi pertama sudah selesai. Dan sebagaimana sebelumnya, dedaunan itu dikumpulkan dan ditaruh di atas matras plastik untuk kemudian dikumpulkan di lokasi penampungan. Setelah semuanya selesai, kami pun diajak makan bersama. Menunya adalah semua produk petani setempat dan organik. Dari tampilannya sangat menarik dan rasanya juga enak. Karena ini menu sayuran, tentunya saya santap sampai habis, Insya Allah Halal. Selagi makan tak lupa kami ngobrol, terutama Khom teman dari Kamboja sudah lancar bahasa Jepangnya jadi sangat menikmati obrolan itu. Kami pun berkesempatan mengunjungi greenhouse dan melihat tanaman stroberi yang rasanya manis. Stroberi termanis yang pernah saya rasakan selama ini.

Tokyo, 10 Januari 2017

 
Leave a comment

Posted by on January 10, 2017 in Jepang

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: