RSS

Revolusi Hijau dan Gambia, Negara Kecil yang Mayoritas Muslim di Afrika

06 Dec

ga-map

Dikusi ringan dengan teman-teman disini, terutama dari Afrika memberikan informasi baru yang sangat menarik. Di sela kami mengerjakan tugas kelompok ()Rural Development Program, IEAS) membahas tentang kegagalan revolusi hijau di Afrika, ada teman Afrika lain yang menyahut tentang Gambia, negara yang berpenduduk 2 juta orang yang mayoritas muslim (95%) dan hampir saja tidak terlihat di peta benua Afrika. Saat mendengar pun, awalnya dikira Zambia. Maklum, belum pernah dengar negara ini. Negara yang bagaikan lidah jika Senegal (negara tetangganya) diibaratkan sebagai mulutnya karena areanya yang memanjang mengikuti sungai. Langsung saja googling dan mencari tahu apa Gambia itu? Subhanallah, ternyata memang ada. Semoga negara ini mampu terus menerapkan ajaran dan sunnah Muhammad SAW.

Sebagaimana negara Asia, banyak negara Afrika yang merdeka dari konolisasi bangsa Eropa. Dan saat ini masih mengalami masalah serius mengenai demokrasi dan kepemimpinan di negaranya. Konflik yang berkepanjangan, perang sipil dan kudeta menjadi berita langganan dari daerah ini. Kegagalan revolusi di Afrika memang kompleks, salah satunya karena situasi politik ekonomi yang tidak stabil sehingga pembangunan tidak berkelanjutan. Apalagi jika sudah menerapkan pertanian modern. Ketergantungan kepada teknologi, pupuk dan benih sangat tinggi. Dan tentunya hubungan perdagangan dengan negara lain tidak boleh putus, Sekali sebuah negara memutuskan untuk mengadopsi pertanian modern, maka akan sangat sulit untuk mundur ke belakang, kembali ke pertanian tradisional.

Negara Gambia ini 70% penduduknya bekerja di sektor pertanian. Kegagalan panen pun masih terjadi, walau arealnya dilewati sungai besar. Terakhir terjadi pada tahun 2011 dan 2013 yang meningkatkan kemiskinan, malnutrisi dan kekurangan pangan. Mayoritas penduduknya yaitu 60% berusia di bawah 25 tahun, sebuah peluang besar untuk angkatan kerja dan produktifitas tentunya.

gambia_orthographic_projection_with_inset-svgSebab lain dari kegagalan revolusi hijau karena kondisi benua Afrika yang tandus. Umumnya air sangat sulit didapat, padahal tanaman mutlak untuk mendapatkan air. Disisi lain, formulasi dosis pemupukan yang dianjurkan sama dengan Asia menjadi persoalan tersendiri. Mahalnya input; benih unggul, pupuk dan pestisida membuat petani di sana angkat tangan karena akses mereka terhadap pendanaan sangat terbatas.

Disisi lain, menghadapi populasi dunia yang makin meningkat hingga diperkirakan 9 Milyar pada 2050, beberapa pendapat menganggap Afrika menjadi salah satu solusinya. Dengan meningkatkan double produktivitas di daerah itu, maka 50% kebutuhan pangan dunia akan terpenuhi. Tentunya aplikasinya tidak semudah itu. Konflik berkepanjangan menjadi hal mendasar yang harus diselesaikan dahulu. Opini saya pribadi, tentunya jika negara barat tidak ikut campur masalah di Afrika dan TImur Tengah, konflik di daerah ini akan cepat surut. Tapi maukah mereka?

 

Tokyo, 6 Desember 2016

 

photo; Wikipedia

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on December 6, 2016 in info, Jepang, Opini

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: