RSS

General Check Up di Jepang

12 Mar

General Medical Ceck Up di Jepang (11)

Dalam persyaratan mendapatkan beasiswa atau mendaftar Universitas di Jepang terkadang kita mendapatkan persyaratan untuk memenuhi “Certificate of Health”. Sertifikat ini di univeritas yang saya tuju bahkan ditulis harus diperiksa oleh dokter di RS Jepang atau yang berafiliasi Jepang, misal RS rujukan di negara kita. Belum tahu juga nama-nama RS yang dimaksud, Kedubes Jepang di Indonesia yang ditanya pun tidak memberikan rekomendasi khusus. Wah, agak ribet nih kalau posisi di Indonesia. Kebetulan, saat ini posisi saya di Jepang. Berarti mudah harusnya? Nggak juga ternyata. Komunikasi yang tidak nyambung, alias petugas RS yang hanya bisa bahasa Jepang dan saya tidak mengerti bahasa Jepang menyebabkan penggalian informasi pada survey lokasi general check-up (GCU) di awal gagal mendapatkan informasi yang berarti.

Awalnya ke klinik di kampus Kyodai deket clock tower, namun disana untuk GCU hanya dilakukan di awal ajaran baru, yaitu di April dan Oktober. Saya pun tidak punya catatan medis disini karena di Oktober kemarin tidak dapat undangan untuk GCU sebagaimana teman-teman yang sudah masuk master maupun Phd. Disisi lain, memang berkas yang disodorkan lebih lengkap dan harus ada pemeriksaan tambahan. Intinya justru saya direkomendasikan ke RS lainnya.

Oke deh, sama om Beni, ditemani ke RS Kyodai dan ternyata sempet bingung juga karena tadi itu keterbatasan bahasa. Ternyata mereka punya cara menjawab unik, yaitu mengeluarkan kertas dalam bahasa Inggris dengan jawaban yes-no. Setelah sekitar 3-5 kali menjawab, intinya kami diantar ke loket khusus. Nah, disitu ada yang bisa bahasa Inggris dan kami dijelaskan bahwa asuransi tidak bisa digunakan, ya logislah karena kondisi sehat dan minta surat keterangan sehat. Biaya diperkirakan sampai 20.000 yen sudah termasuk pembayaran 5000 yen untuk kartu pasien selama 6 bulan. Jadi selama 6 bulan periksa tidak perlu mendaftar lagi. Itupun pihak RS minta surat rujukan dari klinik. Intinya agak ribet.

Berbekal tidak jelasnya informasi, hari berikutnya saya cobalah nanya ke staff office di Ohbaku International House. Dan ternyata dia mau membantu mengkomunikasikan ke Uji Hospital yang jaraknya hanya 15 menit jalan kaki dari apartemen. Singkat cerita setelah cerita apa saja yang dibutuhkan (sebagaimana yang tercantum di form “Certificate of Health”), dipesanlah waktunya 2 pekan kemudian di hari Rabu. Hari dan tanggal itu dipilih karena dokter di tempat tersebut lengkap mulai dari THT, Paru dan pemeriksaan medis lainnya dan yang terpenting yang bertugas hari tersebut bisa berbahasa Inggris. Walau begitu, alangkah baiknya jika hari H pemeriksaan GCU, ada teman yang bisa bahasa Jepang.

Karena gak mau merepotkan orang lain, berangkatlah saya sendirian. Dan benar, petugas di resepsionis bingung maksud saya. Untunglah ada catatan dalam bahasa jepang yang saya sertakan dan nomor telepon Ohbaku International House. Tidak lama kemudian dimulailah beberapa pemeriksaan. Mulai dari pengambilan sampel darah, air seni, rontgen dada, berat badan, tinggi badan, pemeriksaan THT, pemeriksaan mata dan buta warna dan diakhiri wawancara. Dokternya sudah sepuh namun banyak memberi nasihat. Yang menarik adalah ketika dari sekian item, ada 1 yang dia tidak dapat datanya. Dimintalah saya ambil darah lagi dan menunggu hasil analisa. Dokter tersebut tidak mau mengira-ngira.

Setelah sampel saya diambil, saya pun duduk menunggu di ruangan yang pagi tadi rame, sekarang sudah kosong. Disini setelah jam 12 siang, pasien sudah sepi. Dokter yang lain, kemungkinan pengurus rumah sakit mendatangi saya pas di ruang tunggu itu dan minta maaf atas ketidaknyamanan ini. Wuih jadi nggak enak, padahal bagi saya sih biasa saja, pelayanannya saya rasa dah baik. saya pun menunggu 1 jam untuk keluarnya analisa darah yang ke-2 dan dipanggil interview lagi. Selama 1 jam menunggu itu, 2x perawat lainnya juga datang minta maaf. Duh, malah aku yang nggak enak nih. Salting! Hehe.

Alhamdulillah secara umum sehat, ada beberapa pertanyaan yang memang perlu dijawab detail dan dijelaskan misal beliau menebak bahwa saya di Indonesia tinggal di daerah dataran tinggi. Trus disarankan untuk banyak makan sayuran dan buah-buahan. Maklum, di Indonesia gak terlalu suka, disini mau ga mau banyak makan itu karena lebih mudah didapatkan dan jelas halal. Semenjak itu sering beli jus 100% walau agak mahal harganya. Total waktu pemeriksaan 3 jam dan hasil langsung bisa dibawa pulang. Biaya yang dikeluarkan yaitu 13.170 yen.

Zainuri Hanif

 

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on March 12, 2016 in Jepang

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: