RSS

Nobar Bulan Terbelah di Langit Amerika

11 Feb
Bulan Terbelah di Langit Amerika - poster

photo: hanumrais.com

Ketika ditanya oleh Hanum (Acha Septrias), “sejak kapan melepas hijab?” Azima Hussein (Rianti Cartwright) menjawab, “Aku cinta Islam. Tetapi aku kehilangan kebanggaan terhadap Islam!” seru  sambil melepas wignya dan ternyata dia masih memakai hijab ketat untuk melindungi rambut aslinya.

Bagi saya, bagian ini adalah yang paling menyentuh di semua sesi film “Bulan Terbelah di Langit Amerika.” Kalimat yang pas untuk menggambarkan bagaimana tantangan seorang muslim yang menjadi minoritas dan sedang disorot tajam karena dianggap (dilabeli) menjadi biang kekacauan dunia. Lihat saja di media mainstreams internasional baik cetak maupun elektronik, isu kekerasan Islam laris manis dan terus digoreng menjadi santapan sehari-hari.

Untuk review film ini, anda dapat membaca di banyak blog, salah satu yang menurut saya lengkap disini. Nah, tulisan di blog ini lebih banyak membahas isi talkshow dan apa yang bisa kita lakukan sebagai muslim untuk memperjuangkan nilai-nilai Islam sebagai agama Rahmatan Lil ‘Alamin.

Kami mendapatkan kesempatan istimewa untuk nonton bareng bersama penulisnya langsung yaitu Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra. Adalah PPI Kyoto Shiga yang menyelenggarakan acara nonton bareng “Bulan Terbelah di Langit Amerika” pada Ahad siang, 7 Februari 2016 di Uji Campus, Kyoto University. Acara ini dihadiri setidaknya 60 anggota PPI Kyoto Shiga dan sekitarnya. Terima kasih pada mas Himmi, mas Paw-paw, mba Azza dan semua teman-teman yang memfasilitasi acara ini.

Sesi yang menarik adalah sesi talkshow dengan penulisnya. Sang moderator, Gilang mampu membawa suasana talkshow cair dengan berbagai pertanyaan di awal sesi sehingga kami pun mendapatkan gambaran lebih luas tentang latar belakang, tujuan dan misi film ini.

Apakah ada pro kontra tentang film ini? Rangga yang juga sebagai dosen Manajemen Ekonomi dan Bisnis di UGM ini mengakui pasti ada. Sebaik apapun berusaha membuat, komentar baik dan negatif itu pasti ada. Apalagi tema yang diangkat tentang terorisme 2001 yang sampai sekarang dampak dan kontroversinya masih terasa. Namun yang terpenting adalah bagaimana kita berperan menjadi muslim yang tetap bangga atas identitasnya dan terus berbuat sesuatu. Tidak hanya diam dan sibuk dengan aktivitas diri sendiri.

Lebih lanjut Hanum menceritakan, salah satu pendorong dibuatnya film 99 cahaya di Eropa dan bulan terbelah di langit Amerika ini adalah pengalaman pribadinya ketika hidup di Austria bersama sang suami. Sebagai seorang muslimah tentunya identitas itu nampak jelas dengan jilbab (hijab) yang dipakai sehari-hari. Ada yang mencoba menyesuaikan diri dengan mengikuti apa kata orang-orang di sekitarnya dan akhirnya makin jauh dengan Islam. Misalnya dengan melepas hijab, minum khamr, makan yang haram, dll. Ada pula yang memilih terus berjuang dan akhirnya survive. Ia justru mampu menjelaskan dan memancarkan akhlaq muslim kepada orang non Islam. Iman yang baik itu harus memancar. Bagai cahaya yang menjadi penerang di kegelapan. Akhlaq yang terpuji memancar dari iman yang kuat.

Sebagai film yang diadopsi dari novel, tentunya banyak kompromi dan penyesuaian di sana-sini. Saya jadi teringat ketika Habiburrahman El Shirazy yang akrab disapa Kang Abik ini mengangkat novelnya Ayat-ayat Cinta ke layar lebar. Saya sendiri pun merasa filmnya jauh dari novelnya, dan pemerannya juga kurang selektif. Ada kekecewaan tersendiri bagi pembaca. Figur tokoh-tokoh dalam novel tereduksi oleh pemeran yang kurang tepat. Ketika mengisi diskusi kajian di Masjid At-taqwa Muhammadiyah di Batu saat itu, beliau bercerita bahwa banyak kompromi yang dilakukan di film pertamanya ini. Namun untuk film selanjutnya yaitu Ketika Cinta Bertasbih, dia akan ikut menyaring sendiri pemerannya dan memilih sutradara yang sesuai dengan jiwa novelnya. Dan benar, hal itu dilakukannya meskipun pada akhirnya filmnya tidak seheboh yang pertama. Pengalaman pertama memang memberi banyak pelajaran. Demikian juga dengan film ini, semoga ke depan Hanum dan Rangga terus bisa survive dan terus muncul idealisme dari novel-novel yang kemudian diangkat di layar lebar.

Tantangan film yang memperjuangkan “nafas Islam” di Indonesia masih terkendala dengan jumlah penonton di bioskop dan maraknya pembajakan. Hanya beberapa film saja yang mampu menembus 500.000 penonton, apalagi 1 juta penonton. Jika dianggap penontonnya sedikit, dengan cepat film tersebut akan turun tayang dari layar bioskop. Film bulan terbelah di Amerika sendiri tayang selama 7 pekan dan mampu meraup 917.743 penonton dan masuk 5 besar jajaran film yang tayang pada 2015. Sebuah capaian yang bagus di tengah gempuran film Hollywood dan film Indonesia lainnya.

Bioskop Indonesia masih dipenuhi film dengan mengedepankan 3G; ghost, girls and gun. Tentunya kehadiran film-film yang terutama diangkat dari novel ini telah mampu memberi warna tersendiri. Dan sekarang ini semakin banyak film-film “bernafas Islam” yang mampu mewarnai dunia perfilman nasional. Bagi saya, film-film seperti ini patut didukung dan terus dikembangkan. Ada sebuah idealisme yang diperjuangkan. Ada sebuah nilai-nilai kebaikan yang disebarkan.

Lalu apa yang bisa kita lakukan? kita bisa memperjuangkan Islam dengan berbagi cara, beraklaq yang positif, membangun opini di media sosial maupun blog, dan berbagai hal lainnya. Meskipun itu kecil, mari kita lakukan. Sebagai pelajar di negara asing, tentu ada peluang dakwah disana, kita adalah duta-duta Islam dimanapun berada. Beban itu tidak hanya di pundak orang tertentu saja. Kini, kita semualah yang mendapat beban untuk menyampaikan risalah beliau agar semua insan mengetahuinya.

 

Zainuri Hanif
Kyoto, 9 Februari 2016

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on February 11, 2016 in Activity, Jepang

 

Tags: , ,

2 responses to “Nobar Bulan Terbelah di Langit Amerika

  1. omnduut

    March 3, 2016 at 08:48

    Aku suka film ini. Waktu itu nonton sendiri untuk “menghadiahi diri sendiri”. Tentang AAC, aku juga sepakat. 🙂

    Like

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: