RSS

Titipan dari Fadhil

01 Jan

Fadhil dan Aisyah

“Bunda baru ngapain?” tanya sulungku (Fadhil).
“ini nak,… Bunda baru bungkusin obat untuk dikirim ke Ayah”, jawab istriku.

Segera saja Fadhil lari ke dapur, tampaknya ia mencari sesuatu sambil melihat kesana-kemari. Dan, yups, akhirnya nemukan 1 bungkus snack kukis susu vanila, makanan ringan yang memang disiapkan untuk cemilannya di meja dapur selama ini. Dari sekian bungkus masih tersisa satu.

“Bunda..bunda… Fadhil mau ngasih ini ke Ayah, sambil masukkan di dalam kardus.”

Belum puas, ia lari lagi ke ruang tamu tempat mainannya berserakan. Dan ditemukannya 2 lembar uang mainan pecahan Rp 50 ribu. “Bunda, ini uang buat jajan Ayah ya…”

_

Ya, persiapan yang minim untuk berangkat Research Student kemarin tampaknya membuat banyak hal terlupa. Sebetulnya memang harusnya jadwal berangkat April 2016 ini, tapi ada satu dan lain hal harus dipercepat. Dua pekan persiapan berangkat kemarin tidak maksimal. Apapun itu, skenario Allah pastilah terbaik. Saat ini, kita belum tahu saja.

Alhamdulillah, teknologi sekarang ini memudahkan berkomunikasi. Setidaknya selain telponan gratis via LINE atau WA, kita sering ngobrol video via SKYPE. Namun tetap, interaksi langsung tidak tergantikan. Meskipun begitu, selama tidak memungkinkan, komunikasi sekecil apapun sangat berarti. Jangan sampe ketika pulang nanti anak kita justru bertanya, “Cari siapa om?” 😦

Pernah, Fadhil dengan polosnya bilang, “Ayah kangen nggak sama Fadhil? Kok nggak pulang-pulang?” Dan ketika pagi diajak jalan-jalan atau hendak pergi pasti nanyakan juga, “Ayah ikut kan Bunda?”

Mak cess dengernya… Sudah makin gedhe dan nalarnya mulai jalan. Biasanya, kalau tugas pun yang terakhir paling lama pergi 2 bulan. Yah, kalau nggak mengalami seperti ini, mungkin gak bisa memahami berbagai perasaan orang tua yang berpisah lama dengan anak, suami-istri atau keluarga besarnya. Makin salut atas pengorbanan teman-teman yang berpisah sekian lama dengan keluarga dan anak-anak tercinta. Terutama bagi Ibu-ibu, betapa membuncahnya rasa kangen mereka. Tidak ideal memang, tapi inilah ujian. Disisi lain, terkadang penghambatnya keterbatasan finansial, aturan pekerjaan istri atau suami, dan berbagai hal lain yang tidak bisa dikompromikan.

_

Titipan dari istri dan Fadhil kubuka dan kukirim videonya. Tampaknya Fadhil senang sekali titipannya telah sampai. Ye..yeah! Dan mungkin akan nitip lagi nanti… hehe. Makasih ya Om Dimas dan istri yang telah membawakan titipan anak kami dari Indonesia ke Jepang. Obat-obatan pun lengkap; habatussauda cair dan bubuk, madu, antangin, obat flu, dll lengkap tersedia. Juga beberapa sached sereal, dan bumbu-bumbu siap olah. Alhamdulillah. Lumayan buat modal musim dingin disini. Maklum saja, kemarin bawaannya cuma 1 koper kecil dan tas punggung, kayak piknik saja. 😈

Apa yang dilakukan sulung kami, meskipun terkesan sepele, tapi sangat bernilai. Setidaknya ia berusaha peduli dengan cara dan pemahamannya. Nak, kau makin mengingatkan betapa Ayahmu ini belum bisa dengan baik membalas segala jasa Mbah Kung dan Mbah Ti (kedua orang tua).

Titipan Untuk Ayah (2)

Mantap ini oleh-olehnya. Uang mainan buat beli mobil mainan nanti 🙂

 

Kyoto, 1 Januari 2016

 

Advertisements
 
3 Comments

Posted by on January 1, 2016 in Renungan

 

Tags: ,

3 responses to “Titipan dari Fadhil

  1. fuadsauqiii

    February 28, 2016 at 19:16

    Fadhil, menggemaskan ;))
    Dasar bocah emng masih polos banget

    Liked by 1 person

     
  2. fuadsauqiii

    February 28, 2016 at 19:17

    Fadhil lucu bang 😀
    Poloss banget ni bocah

    Liked by 1 person

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: