RSS

Perubahan

22 Feb

 

“Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.”
― Nelson Mandela ―

Kita selalu menuntut adanya perubahan, menuntut lingkungan kita dan segala persoalan dunia ini terselesaikan dan menuju arah lebih baik lagi. Namun sering lupa bahwa cara untuk merubah dunia yang paling mudah adalah memulai merubah diri sendiri. Manusia yang mau survive dituntut untuk terus belajar dan memperbaiki diri. Maka tak heran jika sekarang ini muncul berbagai training untuk pengembangan diri. Institusi pemerintahan, perusahaan dan lembaga non profit senantiasa meningkatkan kapasitas karyawannya melalui berbagai pelatihan dan diklat agar senantiasa meningkat kompetensinya.

Kata Einstein, “Kita tidak bisa memecahkan masalah-masalah baru dengan cara-cara lama”. Pembaharuan kompetensi saja tidak cukup, Rhenald Khasali menganggap bahwa pola pikir juga perlu diubah. Seringkali kita terperangkap dengan solusi masa lalu. Membandingkan persoalan sekarang dengan solusi dari masa lalu tidaklah mengapa. Namun, jangan sampai terperangkap pada kehidupan masa lalu. Menurut Manfred Kets De Vries (1988), salah satu penghalang bagi manusia untuk memperbarui diri adalah karena kita selalu merupakan produk masa lalu.

Perubahan paling fundamental bisa dimulai dari pendidikan. Anak-anak adalah peniru ulung. Jika sejak dini nilai-nilai karakter yang kuat ditanamkan, maka ketika dewasa nilai-nilai baik yang ditanamkan itu akan menjadi pedoman hidupnya. Untuk hal kecil saja, misalnya buang sampah dari kendaraan, masih banyak diantara kita yang melakukannya. Belum lagi menyerobot antrian, berkendara di jalan dengan tidak tertib, dll.

Tidak bisa dipungkiri, perubahan pasti menimbulkan disharmoni, kritik dan bahkan konflik. Walaupun itu bukan menjadi tujuan dari perubahan, semua konflik itu harus diantisipasi. Kenyamanan yang terganggu adalah faktor utama. Orang lama ada yang tidak mau berubah walaupun ada peluang untuk mencapai keadaan yang lebih baik lagi bagi semua. Dalam anggapannya, tawaran hasil dari perubahan itu masih berupa target dan beresiko. Kurt Lewin menyatakan bahwa perubahan besar memerlukan tahap pencairan karena “orang-orang yang berpikiran lama” ingin mempertahankan kekuasaan wewenang dan rasa nyamannya.

Dalam setiap perubahan diperlukan percakapan, diskusi dan sosialisasi. Bahasa dan cara-cara yang kita pakai dalam berkomunikasi akan menentukan komunitas, hubungan, peradaban, dan masa depan dan keberhasilan sebuah perubahan yang kita usung. Kita harus memilih apakah akan terus mempertahankan budaya saling menyalahkan (culture of blame) dengan saling menunjuk hidung, mengorek aib dan mempermalukan orang lain. Kita punya pilihan apakah akan selalu berfokus pada apa yang tidak bisa dikerjakan orang lain, atau budaya saling menghargai (culture of appreciating), dan fokus pada apa yang bisa kita kerjakan bersama.

Bongkar kebiasan lama! Ganti dengan yang lebih produktif!

 

 

z@in – Ciawi, 22/02/2015.
Dalam masa pelatihan, sebuah renungan untuk lebih baik.
Ayo berubah Nif…kamu bisa! ^_^

 

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on February 22, 2015 in Renungan

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: