RSS

Barang “Asing” di Sekitar Kita

28 Nov

BJ Habibie benar, bahwa menjadi manusia itu tidak bisa lepas dari perdagangan antar sesama manusia. Istilah ngetrendnya sekarang adalah globalisasi. Ada barang yang bisa kita produksi dan ada barang yang harus kita beli dari orang lain. Tidak mungkin satu pihak menjadi produsen dalam semua hal. Begitu pula dalam berbangsa dan bernegara dengan komoditas perdagangan yang lebih luas.

Namun, tidakkah kita prihatin bahwa begitu banyak barang asing yang mengelilingi kita saat ini? Padahal pabriknya, bahan baku dan pekerjanya ada di Indonesia dan orang Indonesia sendiri yang mengoperasionalkan pabrik itu. Begitu mudahnya saham mayoritas lepas ke tangan asing.

Sejak bangun tidur, kita minum air. Jika di kondisi bepergian maka ada berbagai pilihan air kemasan yang ditawarkan untuk diminum. Merk paling dikenal adalah Aqua. Aqua 74% sahamnya milik Danone perusahaan Prancis. Teh sariwangi 100% milik Unilever Inggris atau susu SGM buat anak-anak (Sari Husada yang 82% sahamnya dikuasai Numico Belanda).

Ketika mandi pun berbagai produk Unilever (Inggris) banyak yang menghiasi kamar mandi mulai dari Lux, Lifebuoy, Dove, Sunsilk, Clear, Rexona dan Pepsodent. Begitu juga produk lainnya Vaseline, Rinso, Molto, Sunlight, Walls, Blue Band, Royco, Bango, dll. Program CSRnya pun termasuk sering kita jumpai di iklan TV dan sekitar kita antara lain kampanye Cuci Tangan dengan Sabun (Lifebuoy), program Edukasi kesehatan Gigi dan Mulut (Pepsodent), program Pelestarian Makanan Tradisional (Bango) serta program Memerangi Kelaparan untuk membantu anak Indonesia yang kekurangan gizi (Blue Band).

Ketika keluar untuk bepergian kita naik motor buatan Jepang (Honda, Yamaha, Kawasaki, Suzuki), dan mobil aneka merk dari Jepang, Korea atau Eropa. Begitu juga dengan bus atau transportasi umum lainnya. Saat mulai bekerja kita memakai laptop produk Jepang, Korea, China, Amerika. Bahkan AC-nya pun begitu. Handphone tidak berbeda juga semua merk luar negeri mulai dari Samsung, iPhone, Nokia, BBM, Sony, Cross, Nexian, dll. Operator mulai dari Telkomsel (35% Singapura), Indosat (65% Qatar), XL, dan 3 (Tri) saham mayoritas dimiliki asing juga. Menurut catatan Direktorat Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos Informatika Kementerian Kominfo, Telkomsel menguasai market share pelanggan 42 persen pelanggan, diikuti Indosat 16,7 persen, XL Axiata 15,9 persen, Hutchison 3 Indonesia (Tri) 5,4 persen, dan Axis Telekom Indonesia 2,1 persen.

Alfamart (75% sahamnya Carrefour), Giant dan Hero Supermarket dimiliki oleh Dairy Farm internasional, Malaysia. Circle-K, Eleven7 dari Amerika. Restoran Fast food ada McD, KFC, PizzaHut milik Amerika Serikat. Begitu juga dengan Bank Indonesia, Mayoritas bank swasta seperti BCA, Danamon, BII, dan Bank Niaga milik asing.

Alangkah besarnya negeri ini sampai-sampai berbondong-bondong pihak lain menjadikan kita sebagai pasar empuk ekspansi ekonomi mereka. Potensi kita luar biasa, yang salah adalah mereka (dan kita yang termasuk) yang mempunyai otak tumpul dalam mengelola. Daya saing kita merosot tajam, dulu 70% bahan mentah diolah dan sekarang justru sebaliknya. China dengan 1,3 Milyar penduduk juga tidak impor pangan utama. Krisis yang pernah terjadi dan membuat negaranya morat-marit membuat China sadar. Jumlah kematian selama tiga tahun (1958-1961) mencapai 14-26 juta orang. Situasi ini parah karena China mengabaikan sektor pertanian dan membuat laporan-laporan palsu mengenai data-data produksi. Belajar dari kasus tersebut, China berbenah dan sekarang ini mampu menjadi raksasa dunia karena dalam sejak 1990-an fokus pada pembangunan pertanian. Sehingga pada 2000-an mulai membuka ASEAN Free Trade Agrement dan berbagai perjanjian free trade area secara bilateral.

Kita juga masih punya kesempatan untuk berbenah. BUMN bisa menjadi lokomotif perubahan dengan menguasai kembali bidang-bidang strategis. Dan perlu lahirnya UU yang membatasi permodalan asing. Kasus UU No 13 tentang Hortikultura tahun 2010 yang mensyaratkan bahwa kepemilikan mayoritas modal perusahaan benih hortikultura harus dalam negeri (70%:30%) diprotes keras dengan ancaman “angkat kaki” oleh Monsanto dan perusahaan multinasional lainnya. Hal ini memberikan pelajaran bahwa tantangan kita berat. Konsekuensi dari kemauan untuk mandiri adalah sedikit guncangan di awal. Bila kita kuat, mereka pun akan gentar dan menurut. Mereka terus berusaha melobi para pembuat kebijakan untuk merubah UU itu. Tapi yakinlah, kita bisa berbuat sesuatu selama kita mau! [zh]


Lampiran:

UU Nomor 13 Tahun 2010 tentang Hortikultura. Penanaman Modal, Pasal 100 :

  1. Pemerintah mendorong penanaman modal dengan mengutamakan penanaman modal dalam negeri.
  2. Penanaman modal asing hanya dapat dilakukan dalam usaha besar hortikultura.
  3. Besarnya penanaman modal asing dibatasi paling banyak 30% (tiga puluh persen).
  4. Penanam modal asing sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) wajib menempatkan dana di bank dalam negeri sebesar kepemilikan modalnya.
  5. Penanam modal asing sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilarang menggunakan kredit dari bank atau lembaga keuangan milik Pemerintah dan/atau pemerintah daerah.
Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on November 28, 2013 in Opini

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: