RSS

Jangan Gampang Berutang

27 Sep

Manusia mana yang tidak pernah berutang? Sekecil apapun, kita terlibat dalam hutang piutang. Bahkan dalam sebuah training wirausaha senantiasa digaungkan kalau usaha mau sukses ya harus berutang.

Utang sih boleh-boleh saja. Yang penting tertata dengan manajemen yang baik. Jangan sampai, saat kita mati, eh ternyata banyak hutang yang tidak tercatat dan keluarga kita juga tidak tahu akhirnya tidak bisa melunasinya. Makanya ketika menguburkan jenazah, keluarga si ahli waris tak lupa agar hadirin mengikhlaskan dosanya dan utang yang masih ditanggung segera ditagihkan kepada keluarga.

Ada hadits yang menjadi peringatan bagi kita semua. Hadits ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Abu Qatadah dari bapaknya. Telah didatangkan seseorang (yang telah mati –red) kepada Nabi SAW agar beliau menyalatinya. Maka nabi SAW bersabda: “Kalian saja yang menyalati karena kawan kalian itu: karena ia mempunya utang.”

Dalam riwayat lain disebutkan:

“Apakah kawan kalian ini mempunyai hutang? Mereka (para sahabat) menjawab, “Ya, dua dinar.” Kemudian Rasulullah SAW berjalan ke belakang seraya bersabda, “Kalian saja yang menyalati kawan kalian, “Kemudian Abu Qatadah berkata, “Aku yang akan menanggungnya (yaitu utang yang dimiliki mayit)” Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Baguslah,” Kemudian beliau menyalatinya.”

Abu Hurairah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Jiwa seorang mukmin itu terikat oleh hutangnya, sampai  hutangnya dilunasi.”

Jika hutang yang dimaksud di sini adalah hutang yang didapatkan dengan keridhaan dari pemilik/peminjamnya, lalu bagaimana dengan harta yang didapatkan dengan mengambil tanpa izin, merampas, merampok atau dengan korupsi?

Abdullah bin Amru Meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Segala dosa orang yang mati  syahid akan diampuni kecuali hutang.”

Abu Qatadah ra berkata, “Ada seorang lelaki yang datang menemui Rasulullah SAW seraya bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu seandainya aku terbunuh di jalan Allah dengan penuh kesabaran dan mengharapkan pahala di jalan Allah, selalu berada di depan dan tidak lari dari pertempuran. Apakah Allah akan mengampuni dosa-dosaku?” Rasulullah SAW menjawab, “Ya.” Ketika lelaki itu berpaling, Rasulullah SAW memanggilnya atau menyuruh seseorang untuk memanggilnya. Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Apa yang engkau katakan tadi?” Lelaki itu mengulangi pertanyaannya. Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “ya, kecuali hutang. Begitulah yang dikatakan Jibri as kepadaku.”

Dalam riwayat lain disebutkan (An Nasa’i dengan sanad hasan): “Sesungguhnya si fulan tertahan masuk surga disebabkan hutang yang masih ia miliki. Apabila kalian berkenan maka bebaskanlah dan apabila kalian berkenan biarkanlah ia mendapat azab Allah.”

Hutang itu boleh, tapi punya konsekuensinya. Konsekuensi yang dibawa sampai akherat. Maka perlu manajemen yang baik. Semoga yang sedikit ini mampu menjadi pengingat kita akan betapa seriusnya menyepelekan hutang. Bahasan selanjutnya akan mengupas tentang manajemen hutang.

 z@in_batu. 27 September 2013


 

Sumber: Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dan Adil bin Muhammad. 2006. Jangan Gampang Berutang. Aqwam. Solo

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on September 27, 2013 in Buku

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: