RSS

Hilang Rasa Kepedulian Kita

26 Mar

Membenarkan tindak merusak dari siapa pun pihak, tentu keliru. Tetapi asal menyalahkan, mungkin lebih keliru. Yang paling keliru, jika hilang kepedulian. Hilang rasa adil dan usaha menegakkan kebenaran. Ini negeri berisi insan-insan paling mampu memaknai hidup dalam senyum bahagia;  betapapun beratnya. Tetapi ia bisa rusak oleh khianat dan dusta.

 

pemimpin kemana, rakyat kemana?_by: google image

Seorang penduduk datang kepada Khalifah Ali RA. mempertanyakan mengapa pada zaman Khalifah Abu Bakar RA., Umar RA., Utsman RA., keadaan aman damai tenang sejahtera. Sementara pada zaman Ali RA., rusuh dan ribut terus di mana-mana. Jawaban Ali sangat jitu, “Pada zaman Khalifah Abu Bakar RA., Umar RA., dan Utsman RA., rakyatnya semua seperti Ali RA. Sabar dan mengerti kondisi. Sementara pada zaman Khalifah Ali RA., rakyatnya semua seperti kamu. Mudah marah dan tak mau mengerti keadaan.”

Saat ini yang banyak masyarakat lakukan adalah mencibir, menghujat, memperolok dan berkeluh-kesah atas carut marutnya negeri ini. Mereka lupa bahwa kebanyakan anggota DPR yang mereka caci, atau bupati, walikota yang dibenci bahkan presiden dan jajarannya sekalipun yang tidak memuaskan adalah hasil proses politik yang dia berperan disitu. Ada juga yang beralasan karena dia golput, tidak memilih sehingga merasa bebas berpendapat. Padahal, golput itu sama saja dengan membiarkan semuanya terjadi dan akhirnya menyalahkan atas ketidakberdayaannya.

Contoh kasus tentang simulator SIM yang menjerat Jenderal Polisi. Banyak dari kita yang ikut memperolok kasus ini, namun lupa sebagian dari kita mungkin masih ada yang mengurus SIM dengan tidak benar. Menyuap petugas agar proses pembuatan surat dipermudah. Sebagian kita masih berkendara seenaknya, membuang ludah dan sampah dari jendela mobil, dan menyuap polisi saat ditilang. Lha kok masih berharap bahwa negeri ini bebas korupsi? Pemimpin itu bisa jadi puncak dari kejahatan atau kesalahan kolektif kita. Kita salah di kelas teri, dia salah di kelas kakap. Representasi kita.

Membongkar Masalah

Akar dari banyak persoalan yang sangat kompleks ini awalnya adalah hilang rasa kepedulian kita. Hilang rasa risih dan semangat menegakkan kebenaran. Kita bisa mulai dari ranah yang kita bisa. Bahkan karyawan banyak yang kemudian punya prinsip “taat pada atasan” tanpa kemudian menyaring ini perintah sesuai aturan atau tidak. Ini halal atau haram? Yang akhirnya dikemudian hari terjerumus bersama menangung beban dosa. Seperti staff yang disuruh mengatur pengadaan dan mark up harga, ketika atasannya ketahuan, semua kroninya akan menerima konsekuensi juga. Bukankah kasus korupsi yang ditangani KPK kebanyakan bawahan terkena dulu baru menyusul atasan. Seperti logika ketika menghabiskan bubur panas itu.

Biarlah orang menganggap kita keras karena bicara halal dan haram yang penting kita selamat dunia akherat. Bukankah agama kita (Islam) juga menyuruh kita bertakwa, yang anak SD pun tahu maknanya, melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya.

Pemimpin dan kita yang mau diajak kolaborasi dalam melakukan kejahatan, bahkan menutupinya dengan kebohongan dan konspirasi, hidupnya tidak akan tenang. Sedikit saja ada yang mengusik atau bahkan tidak sengaja menyinggung akan bereaksi berlebihan. Sikapnya bisa menjadi arogan, sadis dan bengis. Efeknya, ketika amanah itu selesai, dia akan dikenang sebagai orang jahat yang bisanya mewarisi masalah, bukannya prestasi yang patut dibanggakan. Orang malas untuk sekedar silaturrahim ke rumahnya dan berurusan dengan dia. Kebanggaan dan penghormatan orang kepada dia hilang seiring dengan dicabutnya jabatan yang dia pegang. Yang ada hanyalah penyesalan.

Warisan masalah itu karena sebagian dari kita mau membantunya membuat masalah. Akhirnya pemimpin setelahnya menanggung beban lebih berat dari yang seharusnya. Pemimpin itu punya kuasa pengaruh, daya tarik dan penggerak orang di bawahnya. Jika ia baik maka akan memberi pengaruh kebaikan pula, begitupun sebaliknya. Jika jahat, dan mengajak berkomplot kroni-kroninya maka pengaruhnya juga akan hebat. Inilah yang disebut pemimpin jahat dan merusak (syarrul ri’ail huthamah) sebagaimana dinyatakan Nabi Muhammad SAW.

Hukum yang Memilih

Hukum Indonesia masih tebang pilih. Saya tertarik logika Taufiqurrahman Ruki mantan Ketua KPK ketika saya mahasiswa dulu menjawab mengapa KPK tebang pilih? Jawaban beliau, korupsi itu bagaikan hutan lebat. Nah, KPK hanya dibekali 1 kapak bukan beberapa mesin gergaji. Mau tidak mau KPK melakukan tebang pilih. Pilih pohon yang besar, pilih yang menaungi pohon-pohon korupsi di sekitarnya. Okey, bolehlah dengan keterbatasan KPK sekarang hal itu menjadi alasan. Penegak hokum tidak hanya KPK, bagaimana dengan polisi, pengadilan dan kejaksaan? Saat ini tidak bisa diharapkan. Apalagi Inspektorat Jenderal di Kementerian masing-masing yang terkesan masih berusaha melindungi dan mau diajak kompromi. Pejabat yang korupsi di internal bukannya diberi tindakan tegas tapi dilindungi atau ditegur saja. Akhirnya kejadian berulang dan berulang.

Ada aduan tidak ditindaklanjuti. Ada bukti pelanggaran tutup mata. Padahal bawahan yang melapor penyimpangan yang dilakukan atasannya sangat rawan intimidasi, rawan dicelakai dan difitnah balik. Kita seakan lupa akan pesan Rasulullah, “Kehancuran umat sebelum kalian, karena jika orang-orang elite di antara mereka mencuri, tidak diapa-apakan tetapi kalau orang kecil mencuri, hukum ditimpakan benar-benar.”

 

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on March 26, 2013 in Opini

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: