RSS

Saleh Individu dan Sosial

08 Aug

Menurut surah al-Hajj [22] ayat 77, seseorang yang dikatakan mendapat kemenangan ada dua, yakni mereka yang memiliki kesalehan individu seperti melakukan aktivitas shalat (rukuk dan sujud) dan saleh sosial, yakni berbuat kebaikan (amar makruf).

Kita sering lebih asyik dan merasa cukup dengan ibadah mahdhah (ibadah ritual), seperti zikir, shalat, puasa, zakat, dan haji. Dengan ibadah mahdhah itu kita berharap mendapat ketenangan, kedamaian, dan kedekatan dengan Allah SWT. Ibadah mahdhah ini harus mengantarkan kita pada dua kesalehan, yakni saleh secara individu dan saleh sosial.

Keyakinan (akidah) kita kepada Allah SWT harusnya tidak hanya mempertebal keimanan kita kepada Allah SWT saja (teosentris) yang seolah-olah tak ada hubungannya dengan kehidupan manu sia (antrophosentris) di muka bumi ini. Sehingga wajar bila banyak kaum Muslimin yang hanya memprioritaskan ibadah ritual, dan mengabaikan ibadah-ibadah sosial (ibadah ghaira mahdhah/muamalah).

Kita bisa mengambil contoh bagaimana pengamalan ibadah ritual begitu intensif dan semarak di mana-mana, namun saat yang sama perilaku menyimpang dengan syariah dilakukan juga, seperti korupsi, menipu, berbohong, dan mengambil hak orang lain.

Kita bersyukur karena kegiatan ibadah ritual itu semakin meningkat, termasuk pada bulan Ramadhan ini. Kita berharap, kesalehan individu itu bisa berdampak pada kehidupan sehari-hari, terutama dalam aktivitas sosial (hablumminnas).
Dalam surah al-Ankabut [29]: 45, Allah menegaskan bahwa shalat itu men cegah dari (perbuatan) keji dan mung kar. Secara bahasa, fakhisyah (keji) adalah perbuatan atau kejahatan yang menimbulkan aib besar. Sedang kan menurut istilah, keji ialah suatu per buatan yang melanggar susila (amoral).

Adapun kata mungkar ialah sesuatu yang disyariatkan diingkarinya, karena bertentangan dengan fitrah dan mashlahah. Shalat harus mampu menahan perilaku seseorang dari perbuatan keji dan mungkar. Karena hal itu tidak hanya berdampak kepada dirinya, tapi juga terhadap orang lain.

Orang yang menunaikan zakat juga dimaknai sekadar menggugurkan kewajiban, namun tidak dimaknai sebagai menunaikan kewajiban atau menunai kan kepedulian kepada mustahik yang membutuhkan. Jika seseorang menu nai kan dengan niat seperti ini, zakat me miliki ruh sebagai bentuk kepedulian kepada sesama.

Pelaksanaan puasa juga makin kehilangan makna karena sekadar menggugurkan kewajiban. Sekadar menahan lapar dan haus dari fajar hingga Maghrib. Tidak dimaknai sebagai upaya mengasah kepedulian kepada sesama, mengasah simpati dan empati. Sehingga puasa mampu melahirkan pribadi yang saleh secara individu dan sosial.

Haji dan umrah juga dilaksanakan berulang-ulang oleh sebagian kaum Muslimin yang mampu. Walaupun kewajiban haji hanya sekali seumur hidup, tetap saja banyak yang ingin mengulangi nya. Hal ini karena adanya kepuasan spiritual individu, dan bukan pertimbangan kemaslahatan secara umum.

Dengan memahami surah al-Hajj [22] ayat 77 di atas, sudah seharusnya semua ibadah mahdhah bisa mengantarkan kita pada kesalehan individu dan sosial.

Sumber : Republika | Oleh Naharus Surur

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on August 8, 2012 in Hikmah

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: