RSS

Zakat Profesi : Antara Penentang dan Pendukung

07 Aug

ZAKAT PROFESI : ANTARA PENENTANG DAN PENDUKUNG

by : Ahmad Sarwat

Keberadaan zakat profesi sejak awal memang selalu menjadi kontroversi di kalangan ulama. Ini sebuah realita yang tidak bisa ditolak, karena nyata-nyata perbedaan itu ada. Lalu siapa saja yang ikut menentang dan yang mendukung, mari kita simak tulisan berikut ini :

1. Kalangan Yang Tidak Menerima Zakat Profesi

Di antara kalangan yang tidak setuju dengan adanya zakat profesi, terdiri para tokoh ulama di masa modern dan juga beberapa lembaga fatwa yang terkenal.

A. Dr. Wahbah Az-Zuhaili

Ketika Penulis melakukan wawancara langsung dengan ulama besar Suriah ini, beliau menjawab bahwa zakat itu ibadah mahdhah, dimana pelaksanaannya membutuh dalil-dalil yang qath’i. Sehingga kita tidak boleh mengarang sendiri masalah zakat ini.

Zakat profesi tidak pernah dikenal sebelumnya di dalam khazanah fiqih klasik, bahkan juga tidak pernah ada di masa Rasulullah SAW dan para shahabat, sampai belasan abad kemudian.

B. Syeikh Bin Baz,

Ulama yang pernah menjadi mufti kerajaan Saudi Arabia ini pernah berfatwa :

“Zakat gaji yang berupa uang, perlu diperinci: Bila gaji telah ia terima, lalu berlalu satu tahun dan telah mencapai satu nishab, maka wajib dizakati. Adapun bila gajinya kurang dari satu nishab, atau belum berlalu satu tahun, bahkan ia belanjakan sebelumnya, maka tidak wajib di zakati.”

C. Syeikh Muhammad bin Shaleh Al Utsaimin

Pendapat serupa juga ditegaskan oleh Syeikh Muhammad bin Shaleh Al Utsaimin, salah seorang ulama di Kerajaan Saudi Arabia.

“Tentang zakat gaji bulanan hasil profesi. Apabila gaji bulanan yang diterima oleh seseorang setiap bulannya dinafkahkan untuk memenuhi hajatnya sehingga tidak ada yang tersisa sampai bulan berikutnya, maka tidak ada zakatnya.

Karena di antara syarat wajibnya zakat pada suatu harta (uang) adalah sempurnanya haul yang harus dilewati oleh nishab harta (uang) itu.

Jika seseorang menyimpan uangnya, misalnya setengah gajinya dinafkahkan dan setengahnya disimpan, maka wajib atasnya untuk mengeluarkan zakat harta (uang) yang disimpannya setiap kali sempurna haulnya.” .

D. Hai’atu Kibaril Ulama

Fatwa serupa juga telah diedarkan oleh Anggota Tetap Komite Fatwa Kerajaan Saudi Arabia, berikut fatwanya:

“Sebagaimana yang telah diketahui bersama bahwa di antara harta yang wajib dizakati adalah emas dan perak (mata uang). Dan di antara syarat wajibnya zakat pada emas dan perak (uang) adalah berlalunya satu tahun sejak kepemilikan uang tersebut.

Mengingat hal itu, maka zakat diwajibkan pada gaji pegawai yang berhasil ditabungkan dan telah mencapai satu nishab, baik gaji itu sendiri telah mencapai satu nishab atau dengan digabungkan dengan uangnya yang lain dan telah berlalu satu tahun.

Tidak dibenarkan untuk menyamakan gaji dengan hasil bumi; karena persyaratan haul (berlalu satu tahun sejak kepemilikan uang) telah ditetapkan dalam dalil, maka tidak boleh ada qiyas.

Berdasarkan itu semua, maka zakat tidak wajib pada tabungan gaji pegawai hingga berlalu satu tahun (haul).”

E. Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama

Kajian Bahtsul Masail yang menjadi suara NU secara umum berpendapat bahwa tidak ada zakat profesi. Yang mereka wajibkan adalah zakat perdagangan.

F. Dewan Hisbah Persis

Dewan Hisbah Persis juga tidak menerima keberadaan zakat profesi, karena zakat dalam pandangan mereka termasuk ibadah mahdhah. Yang mereka berlakukan adalah zakat jual-beli atau perdagangan.

G. Muktamar Zakat di Kuwait

Dalam Muktamar zakat pada tahun 1984 H di Kuwait, masalah zakat profesi telah dibahas pada saat itu, lalu para peserta membuat kesimpulan:

“Zakat gaji dan profesi termasuk harta yang sangat potensial bagi kekuatan manusia untuk hal-hal yang bermanfaat, seperti gaji pekerja dan pegawai, dokter, arsitek dan sebagainya”.

“Profesi jenis ini menurut mayoritas anggota muktamar tidak ada zakatnya ketika menerima gaji, namun digabungkan dengan harta-harta lain miliknya sehingga mencapai nishob dan haul lalu mengeluarkan zakat untuk semuanya ketika mencapai nishab”.

“Adapun gaji yang diterima di tengah-tengah haul (setelah nishob) maka dizakati di akhir haul sekalipun belum sempurna satu tahun penuh. Dan gaji yang diterima sebelum nishob maka dimulai penghitungan haulnya sejak mencapai nishob lalu wajib mengeluarkan zakat ketika sudah mencapai haul. Adapun kadar zakatnya adalah 2,5% setiap tahun”.

 

2. Kalangan Yang Mendukung Zakat Profesi

Ada banyak hujjah yang mendasari kenapa para ulama dan juga lembaga fatwa di atas tidak menerima keberadaan zakat profesi. Kalau kita sebutkan satu per satu, susunannya sebagai berikut :

A. Dr. Yusuf Al-Qaradawi

Tidak bisa dipungkiri bahwa Dr. Yusuf Al-Qaradawi adalah salah satu icon yang paling mempopulerkan zakat profesi. Beliau membahas masalah ini dalam buku beliau Fiqh Zakat yang merupakan disertasi beliau di Universitas Al-Azhar, dalam bab زكاة كسب العمل و المـهن الحرة (zakat hasil pekerjaan dan profesi) .

Sesungguhnya beliau bukan orang yang pertama kali membahas masalah ini. Jauh sebelumnya sudah ada tokoh-tokoh ulama seperti Abdurrahman Hasan, Syeikh Muhammad Abu Zahrah, dan juga ulama besar lainnya seperti Abdulwahhab Khalaf.

Namun karena kitab Fiqhuz-Zakah itulah maka sosok Al-Qaradawi lebih dikenal sebagai rujukan utama dalam masalah zakat profesi.

Inti pemikiran beliau, bahwa penghasilan atau profesi wajib dikeluarkan zakatnya pada saat diterima, jika sampai pada nishab setelah dikurangi hutang. Dan zakat profesi bisa dikeluarkan harian, mingguan, atau bulanan.

Dan sebenarnya disitulah letak titik masalahnya. Sebab sebagaimana kita ketahui, bahwa diantara syarat-syarat harta yang wajib dizakati, selain zakat pertanian dan barang tambang (rikaz), harus ada masa kepemilikan selama satu tahun, yang dikenal dengan istilah haul.

Sementara Al-Qaradawi dan juga para pendukung zakat profesi berkeinginan agar gaji dan pemasukan dari berbagai profesi itu wajib dibayarkan meski belum dimiliki selama satu haul.

B. Dr. Abdul Wahhab Khalaf dan Syeikh Abu Zarhah

Dalam kitab Fiqhuzzakah, Al-Qaradawi tegas menyebutkan bahwa pendapatnya yang mendukung zakat profesi bukan pendapat yang pertama. Sebelumnya sudah ada tokoh ulama Mesir yang mendukung zakat profesi, yaitu Abdul Wahhab Khalaf dan Abu Zahrah.

Abdul Wahab adalah seorang ulama besar di Mesir (1888-1906), dikenal sebagai ahli hadits, ahli ushul fiqih dan juga ahli fiqih. Salah satu karya utama beliau adalah kitab Ushul Fiqih, Ahkam Al-Ahwal Asy-Syakhshiyah, Al-Waqfu wa Al-Mawarits, As-Siyasah Asy-Syar’iyah, dan juga dalam masalah tafsir, Nur min Al-Islam.

Tokoh ulama lain yang disebut oleh Al-Qaradawi adalah guru beliau sendiri, yaitu Syeikh Muhammad Abu Zahrah (1898- 1974).

Beliau adalah sosok ulama yang terkenal dengan pemikirannya yang luas dan merdeka, serta banyak melakukan perjalanan ke luar negeri melihat realitas kehidupan manusia.

Tulisan beliau tidak kurang dari 30 judul buku, salah satunya yang terbesar adalah Mukjizat al-Kubra al-Quran”. Buku ini merupakan mukadimah dalam beliau mengarang tafsir al-Quran.

Namun tafsir ini tidak sempat disempurnakan karena beliau meninggal dunia terlebih dahulu. Buku lainnya adalah Tarikh Al-Madzahib Al-Islamiyah, Al-‘Uqubah fi Al-Fiqh Al-Islami, Al-Jarimah fi Al-Fiqh Al-Islami,

C. Majelis Tarjih Muhammadiyah

Musyawarah Nasional Tarjih XXV yang berlangsung pada tanggal 3 – 6 Rabiul Akhir 1421 H bertepatan dengan tanggal 5 – 8 Juli 2000 M bertempat di Pondok Gede Jakarta Timur dan dihadiri oleh anggota Tarjih Pusat.

Lembaga ini pada intinya berpendapat bahwa Zakat Profesi hukumnya wajib. Sedangkan nisabnya setara dengan 85 gram emas 24 karat. Ada pun kadarnya sebesar 2,5 %

D. Majelis Ulama Indonesia (MUI)

MUI memandang bahwa setiap pendapatan wajib dikeluarkan zakatnya, seperti gaji, honorarium, upah, jasa, dan lain-lain yang diperoleh dengan cara halal. Baik pendapatan itu bersifat rutin seperti pejabat negara, pegawai atau karyawan, maupun tidak rutin seperti dokter, pengacara,konsultan, dan sejenisnya, serta pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan bebas lainnya.

Bila syarat terpenuhi yaitu telah mencapai nishab dalam satu tahun, yakni senilai emas 85 gram, maka zakat wajib dikeluarkan. Kadar zakat penghasilan menurut MUI adalah adalah 2,5%.

E. Dr. Didin Hafidhudin

Di Indonesia, salah satu icon zakat profesi yang cukup terkenal adalah Dr. Didin Hafidhuddin, sebagamana naskah disertasi doktor yang diajukannya.

Guru Besar IPB dan Ketua Umum BAZNAS ini mencoba mendefinisikan profesi ialah setiap keahlian atau pekerjaan apapun yang halal, baik yang dilakukan sendiri maupun yang terkait dengan pihak lain, seperti seorang pegawai atau karyawan.

Didin memberikan mekanisme pengambilan hukum zakat profesi dengan menggali pada teks al-Quran, dan dengan menggunakan metode qiyas.

F. Dr. Quraisy Syihab

Quraish Shihab juga termasuk yang menudukung wajibnya zakat profesi. Hal itu bisa kita baca dari tulisannya antara lain : Menjawab pertanyaan 100 tentang keIslaman yang patut anda ketahui.

_

 

BERBAGAI KERANCUAN ZAKAT PROFESI

by : Ahmad Sarwat

Meski banyak pihak yang mendukung adanya zakat profesi, namun bukan berarti sesama pendukung zakat profesi selalu sama pendapatnya. Justru ketika membuat aturan dan ketentuan dalam zakat profesi, perbedaan pendapat di antara sesama pendukung malah nampak jelas terlihat. Mulai dari pembahasan awal hingga akhir, perbedaan itu muncul di sepanjang anatomi zakat profesi.

Setidaknya ada empat hal utama yang seringkali diperdebatkan oleh para pendukung zakat profesi, antara lain :

1. Dipotong Dulu Atau Tidak

Di kalangan ulama yang mendukung zakat profesi, berkembang dua pendapat yang berbeda dalam hal sumber zakat, yaitu apakah begitu terima gaji dan honor langsung dipotong untuk zakat, ataukah dikurangi terlebih dahulu dengan pengeluaran-pengeluaran tertentu, baru kemudian dikeluarkan zakatnya?

a. Langsung Dikeluarkan Sebelum Ada Potongan

Pendapat pertama adalah kalangan yang memandang zakat itu langsung dikeluarkan begitu terima gaji, tanpa memandang ada atau tidaknya pemotongan atau pengeluaran demi kebutuhan mendasar.

Dan dalam prakteknya, metode seperti ini tidak beda dengan pajak penghasilan, dimana pajak penghasilan itu dilakukan dengan cara langsung memotong dari gaji bahkan sebelum diserahkan kepada pemiliknya.

Sebagian lembaga zakat ada juga yang melakukan cara ini dengan bekerja sama dengan pihak managemen. Sehingga gaji yang diterima secara otomatis sudah dikurangi dengan zakat. Dan gaji yang diterima itu kemudian sudah tidak perlu dikeluarkan lagi zakatnya karena memang sudah langsung dipotong untuk zakat.

b. Zakat dari Sisa Uang Gaji

Pendapat kedua adalah kalangan yang masih memperhatikan masalah kebutuhan pokok seseorang. Sehingga zakat yang wajib dikeluarkan tidak dihitung berdasarkan pemasukan kotor, melainkan setelah dikurangi dengan kebutuhan pokok seseorang. Setelah itu, barulah dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5 % dari pemasukan bersihnya.

Metode ini mengacu kepada ketetapan tentang harta yang wajib dizakatkan, yaitu bila telah melebihi al-hajah al-ashliyah, atau kebutuhan paling mendasar bagi seseorang.

c. Jalan Tengah Qaradawi

Ulama besar abad ini, Dr. Yusuf Al-Qaradawi dalam kitabnya, Fiqhuz-Zakah, menuliskan perbedaan pendapat ini dengan mengemukakan dalil dari kedua belah pihak. Ternyata kedua belah pihak sama-sama punya dalil dan argumen yang sulit dipatahkan, sehingga beliau memberikan jalan keluar dari sisi kasus per kasus.

Menurut beliau, bila pendapatan seseorang sangat besar dan kebutuhan dasarnya sudah sangat tercukupi, wajar bila dia mengeluarkan zakat 2,5 % langsung dari pemasukan kotornya.

Sebaliknya, bila pemasukan seseorang tidak terlalu besar, sementara kewajiban untuk memenuhi nafkah keluarganya lumayan besar, maka tidak mengapa bila dia menunaikan dulu segala kewajiban nafkahnya sesuai dengan standar kebutuhan dasar, setelah itu sisa pemasukannya dizakatkan sebesar 2,5 % kepada amil zakat.

Kedua pendapat ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Buat mereka yang pemasukannya kecil dan sumber penghidupannya hanya tergantung dari situ, sedangkan tanggungannya lumayan besar, maka pendapat pertama lebih sesuai untuknya. Pendapat kedua lebih sesuai bagi mereka yang memiliki banyak sumber penghasilan dan rata-rata tingkat pendapatannya besar sedangkan tanggungan pokoknya tidak terlalu besar.

 

2. Perbedaan Dalam Menentukan Nisab

Para ulama pendukung zakat profesi terpecah pendapatnya ketika menetapkan nishab atau batas minimal harta. Sebagian berpendapat bahwa zakat profesi tidak mengenal nishab. Jadi berapa pun harta yang diterima, semua terkena kewajiban untuk berzakat.

Namun sebagian lainnya berpendapat bahwa tidak semua penghasilan itu wajib dizakatkan. Hanya yang memenuhi nishab saja yang wajib dizakatkan.

Tetapi sesama pendukung nisab pun masih ada lagi perbedaan. Sebagian pendukung mengaitkan nishab zakat profesi dengan nisab zakat pertanian, tetapi tidak sedikit yang menggunakan nishab zakat emas.

a. Nishab Zakat Pertanian

Kalau kita ikuti pendapat yang menggunakan nishab zakat pertanian, maka minimal seharga panen yang 5 watsaq, sebagaimana hadits berikut :

لَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسَةِ أَوْسَاقٍ مِنْ تَمْرٍ وَلاَ حَبٍّ صَدَقَةٌ

Hasil tanaman kurma dan habbah (gandum) yang kurang dari 5 wasaq tidak ada kewajiban shadaqahnya (zakat). (HR. Muslim dan Ahmad)

Di masa Rasululllah SAW, watsaq itu digunakan untuk mengukur berat suatu makanan. Jadi watsaq itu adalah satuan ukuran berat. Satu watsaq itu sama dengan 60 shaa’. Jadi 5 wasaq itu sama dengan 5 x 60 = 300 shaa’.

Dr. Wahbah Az-Zuhaili ketika mengukur nisab zakat pertanian menyebutkan bahwa 300 shaa’ itu sama dengan 653 kg. Maka para petani yang pada saat melakukan panen, hasilnya di bawah dari 653 Kg, tidak wajib mengeluarkan zakat.

Kalau harga beras Rp. 2.500 per kilogram, maka 653 x Rp. 2.500 = Rp. 1.632.500,-. Nisab ini akan sangat bergantung kepada harga beras yang dimakan oleh seseorang.

Nishab ini adalah jumlah pemasukan dalam satu tahun. Artinya bila penghasilan seseorang dikumpulkan dalam satu tahun bersih setelah dipotong dengan kebutuhan pokok dan jumlahnya mencapai Rp. 1.632.500,- maka dia sudah wajib mengeluarkan zakat profesinya. Ini bila mengacu pada pendapat pertama.

Dan bila mengacu kepada pendapat kedua, maka penghasilannya itu dihitung secara kotor tanpa dikurangi dengan kebutuhan pokoknya. Bila jumlahnya dalam setahun mencapai Rp. 1.632.500,-, maka wajiblah mengeluarkan zakat.

b. Nishab Emas

Sebagian pendukung zakat profesi menggunakan nishab emas, yaitu bila pemasukan seseorang setara dengan nilai harga 85 gram emas. Aslinya menurut Jumhur ulama bahwa nishab zakat emas adalah 20 mitsqal, sebagaimana disebutkan di dalam hadits Nabi SAW :

لَيْسَ فِي أَقَل مِنْ عِشْرِينَ مِثْقَالاً مِنَ الذَّهَبِ وَلاَ فِي أَقَل مِنْ مِائَتَيْ دِرْهَمٍ صَدَقَةٌ

Emas yang kurang dari 20 mitsqal dan perak yang kurang dari 200 dirhma tidak ada kewajiban zakat atasnya. (HR.Ad-Daruquthny)

Mitsqal adalah nama satuan berat yang dipakai di masa Rasulullah SAW. Berat emas 1 mitsqal setara dengan 1 3/7 dirham, setara juga dengan 100 buah bulir biji gandum, dan juga setara dengan 4,25 gram.

Dengan demikian, dengan mudah bisa dihitung bahwa nishab zakat emas adalah 20 mitsqal dikali 4,25 gram, sama dengan 85 gram.

Kalau kita pinjam pendapat ini, maka aturan zakat profesi menjadi berlaku hanya pada mereka yang gajinya senilai 85 gram emas dalam setahun.

Seandainya harga emas yang berlaku saat itu adalah 500 ribu per gram, maka nishab zakat profesi dalam pendapat ini menjadi 42,5 juta rupiah. Sebenarnya disini pun para pendukung zakat ini berbeda pendapat, yaitu apakah 42,5 juta ini gaji sebulan atau setahun.

Kalau pakai pendapat bahwa 42,5 juta itu nishab untuk gaji sebulan, maka mereka yang gajinya di bawah itu jelas tidak wajib mengeluarkan zakat profesi. Alasannya karena hartanya tidak cukup nishab.

Namun dalam kenyataanya, kebanyakan para pendukung zakat profesi berpendapat bahwa nishab sebesaar 42,5 juta adalah gaji selama setahun. Maka orang yang gajinya 42,5 juta dibagi 12 bulan, yaitu 3.5 jutaan sudah wajib membayar zakat profesi.

3. Perbedaan Dalam Nilai yang Dikeluarkan

Para pendukung zakat profesi berbeda pendapat dalam besaran yang wajib dikeluarkan. Sebagian perpendapat 2,5%, tetapi ada juga yang 5%, 10% bahkan sampai 20%.

a. Dua Setengah Persen (2,5%)

Mereka yang mendukung besar nilai zakat yang harus dibayarkan adalah 2,5% kebanyakan mengacu kepada zakat emas dan perak serta zakat urudhut-tijarah.

Namun pendapat ini tidak sepi dari kritik, karena dianggap agak mencla-mencle. Sebab kebanyakan dari yang menggunakan angka 2,5% ini ketika menetapkan nishab dengan nishab zakat tanaman yang 5% atau 10%.

Akan tetapi kenapa giliran mengeluarkan nilai harta yang dizakati, tiba-tiba pindah ke selain zakat pertanian.

b. Lima Persen (5%)

Mereka yang menggunakan angka 5% berpendapat bahwa zakat profesi identik dengan zakat pertanian, yaitu besar harta yang dikeluarkan adalah 5%.

Kenapa bukan 10%?

Jawabnya karena 5% dalam zakat pertanian itu bila dia harus bersusah payah menyirami sawahnya. Dan pekerjaan yang digeluti oleh seorang karyawan mirip dengan petani yang setiap hari ke sawah untuk menyiraminya. Oleh karena itu zakatnya lebih dekat ke angka 5%.

c. Sepuluh Persen (10%)

Mereka yang berpendapat zakatnya 10% punya pendapat yang beda, yaitu karyawan itu lebih sering mendapatkan gaji buta. Kerja atau tidak kerja, yang penting asal mengisi absen, pasti digaji. Dan itu diibaratkan dengan sawah yang tidak harus disirami air, tetap akan memberikan hasil panen.

Para PNS yang tidak punya kerjaan, kecuali hanya minum-minum, ngobrol, main catur, main game atau rapat-rapat yang tidak perlu, lebih dekat perumpaannya dengan petani yang duduk santai tapi tumbuhannya tetap memberikan panen.

Oleh karena itu kelompok ini lebih cenderung menetapkan nilai zakatnya 10%.

d. Dua Puluh Persen (20%)

Kadang pegawai itu mendapatkan hadiah, bonus, gaji bulan ke-13, bahkan tunjangan ini dan itu. Ada beberapa kalangan yang mengiqiyaskan semua hal itu sebagai harta rikaz. Dan besaran zakat harta rikaz mencapai 20%, sebagaimana hadits berikut :

Dasarnya sebagaimana sabda Rasulullah SAW

وَفِي الرِّكَازِ الْخُمُسُ

Zakat rikaz adalah seperlima (HR.Bukhari)

Maka mereka yang berpendapat zakat profesi adalah 20% umumnya mengqiyaskan bonus dan hadiah sebagai rikaz, yang zakatnya 20%.

4. Perbedaan Dalam Waktu Pembayaran Zakat

Perbedaan pendapat yang juga berkembang di tengah para pendukung zakat profesi dalam masalah waktu pembayaran.

Sebagian kalangan menyebutkan bahwa membayarnya tiap gajian, sementara yang lain berpendapat bahwa membayarnya tiap tahun sekali.

a. Tiap Gajian

Mereka yang berpendapat bahwa zakat profesi dibayarkan pada setiap gajian melandaskan pendapat mereka kepada zakat pertanian.

Hal itu semata-mata karena gaji dan honor itu memang lebih dekat qiyasnya kepada zakat pertanian, yang mana zakatnya langsung dibayarkan pada saat panen. Maka zakat profesi dibayarkan pada saat menerima hasil.

b. Tiap Tahun

Sementara sebagian kalangan yang lain malah berpendapat bahwa zakat profesi dibayarkan setiap tahun, dan terserah mau dibayarkan pada bulan apa.

Sebagian dari mereka ada yang berpendapat bahwa boleh saja dipilih untuk dibayarkan pada bulan Ramadhan. Hal itu semata-mata karena alasan biar lebih mudah mengingatnya, karena biasanya tiap bulan Ramadhan orang ramai membayar zakat.

Dasar pendapat itu karena mengikuti zakat mal yang waktu pembayarannya tiap tahun, atau mengikuti haul.

_

 

HUJJAH PARA PENENTANG DAN PENDUKUNG ZAKAT

by Ahmad Sarwat

Baik pihak yang tidak setuju dengan keberadaan zakat profesi maupun pihak yang mendukungnya, sama-sama punya dalil dan argumentasi yang sulit untuk dipatahkan begitu saja. Mari kita dalami lebih jauh, dalil apa saja yang mereka kemukakan.

1. Dalil Para Penentang

Para penentang keberadaan zakat profesi adalah para ulama bahkan dari segi jumlah, dimana kalau dibandingkan dengan jumlah ulama yang mendukung, jumlah mereka jauh lebih banyak, karena merupakan representasi dari pendapat umumnya para ulama sepanjang zaman.

Para penentang zakat profesi ketika menolak keberadaannya umumnya selain selain lewat mempertanyakan dalil, juga mengkritik teknis pelaksanaannya yang rancu.

a. Zakat Ibadah Mahdhah

Dalil yang paling sering dikemukakan oleh mereka yang menentang keberadaan zakat profesi adalah bahwa zakat merupakan ibadah mahdhah, dimana segala ketentuan dan aturannya ditetapkan oleh Allah SWT lewat pensyariatan dari Rasulullah SAW.

Kalau ada dalil yang pasti, maka barulah zakat itu dikeluarkan, sebaliknya bila tidak ada dalilnya, maka zakat tidak boleh direkayasa.

b. Tidak Ada Nash dari Al-Quran dan As-Sunnah

Prinsipnya, selama tidak ada nash dari Rasulullah SAW, maka kita tidak punya wewenang untuk membuat jenis zakat baru. Meski demikian, para ulama ini bukan ingin menghalangi orang yang ingin bersedekah atau infaq. Hanya yang perlu dipahami, mereka menolak bila hal itu dimasukkan ke dalam bab zakat, sebab zakat itu punya banyak aturan dan konsekuensi.

Sedangkan bila para artis, atlet, dokter, lawyer atau pegawai itu ingin menyisihkan gajinya sebesar 2,5 % per bulan, tentu bukan hal yang diharamkan, sebaliknya justru sangat dianjurkan. Namun janganlah ketentuan itu dijadikan sebagai aturan baku dalam bab zakat.

Sebab bila tidak, maka semua orang yang bergaji akan berdosa karena meninggalkan kewajiban agama dan salah satu dari rukun Islam. Sedangkan bila hal itu hanya dimasukkan ke dalam bab infaq sunnah, tentu akan lebih ringan dan tidak menimbulkan konsekuensi hukum yang merepotkan.

c. Tidak Pernah Ada Sepanjang 14 Abad

Selama nyaris 14 abad ini tidak ada satu pun ulama yang berupaya melakukan ‘penciptaan’ jenis zakat baru. Padahal sudah beribu bahkan beratus ribu kitab fiqih ditulis oleh para ulama, baik yang merupakan kitab fiqih dari empat mazhab atau pun yang independen.

Namun tidak ada satu pun dari para ulama sepanjang 14 abad ini yang menuliskan bab khusus tentang zakat profesi di dalam kitab mereka.

Bukan karena tidak melihat perkembangan zaman, namun karena mereka memandang bahwa masalah zakat bukan semata-mata mengacu kepada rasa keadilan.

Tetapi yang lebih penting dari itu, zakat adalah sebuah ibadah yang tidak terlepas dari ritual. Sehingga jenis kekayaaan apa saja yang wajib dizakatkan, harus mengacu kepada nash yang shahih dan kuat dari Rasulullah SAW. Dan tidak boleh hanya didasarkan pada sekedar sebuah ijtihad belaka.

d. Aturannya Rancu

Di antara dalil yang sering digunakan oleh para penentang zakat profesi adalah dari segi aturan. Maksudnya bukti bahwa zakat profesi itu sebenarnya tidak pernah disyariatkan adalah kita menemukan faktwa bahwa para ulama rancu ketika menetapkan aturan.

Ada yang dari gaji kotor tapi ada yang menghitung dari gaji bersih. Ada yang nisabnya mengacu kepada zakat pertanian, tetapi sebagian mengacu kepada zakat emas.

Prosentasi yang dikeluarkan pun sering berbeda, antara 2,5 hingga 20 persen.

Pendekya, saking rancunya aturan main, sehingga kalau kita bertanya kepada lima ulama yang berbeda, jawabannya akan kita temukan bisa berjumlah sepuluh macam.

2. Dalil Para Pendukung

a. Asas Keadilan dan Realitas

Zakat profesi sebenarnya bukanlah zakat yang disepakati keberadaannya oleh semua ulama. Hal ini lantaran di masa lalu, para ulama tidak memandang profesi dan gaji seseorang sebagai bagian dari bentuk kekayaan yang mewajibkan zakat.

Karena umumnya di masa lalu, belum ada sistem kepegawaian yang bergaji tinggi, kalau pun ada orang yang bekerja dan mendapat gaji, umumnya merupakan upah sebagai pembantu dan pekerjaan-pekerjaan sejenis yang rendah upahnya.

Di masa lalu, orang yang kaya identik dengan peternak, petani, pedagang, pemilik emas dan lainnya. Sedangkan seseorang yang bekerja pada orang lain dan menerima upah, umumnya hanyalah pembantu dengan gaji seadanya. Sehingga di masa itu tidak terbayangkan bila ada seorang pekerja yang menerima upah bisa menjadi seorang kaya.

Namun zaman memang telah berubah. Orang kaya tidak lagi selalu identik dengan petani, peternak dan pedagang belaka. Di masa sekarang ini, profesi jenis tertentu akan memberikan nilai nominal pemasukan yang puluhan bahkan ratusan kali dari hasil yang diterima seorang petani kecil.

Sebagai ilustrasi, profesi seperti lawyer (pengacara) kondang di masa kini bisa dengan sangat cepatnya memberikan pemasukan ratusan juta bahkan milyaran rupiah, cukup dengan sekali kontrak.

Demikian juga dengan artis atau pemain film kelas atas, nilai kontraknya bisa untuk membeli tanah satu desa. Seorang pemain sepak bola di klub-klub Eropa akan menerima bayaran sangat mahal dari klub yang mengontraknya, untuk satu masa waktu tertentu.

Bahkan seorang dokter spesialis dalam satu hari bisa menangani berpuluh pasien dengan nilai total pemasukan yang lumayan besar.

Sulit untuk mengatakan bahwa orang-orang dengan pemasukan uang sebesar itu bebas tidak bayar zakat, sementara petani dan peternak di desa-desa miskin yang tertinggal justru wajib bayar zakat. Maka wajah keadilan syariat Islam tidak nampak.

b. Tidak Harus Dimiliki Selama Satu Haul

Para pendukung zakat profesi ini berpendapat bahwa untuk membayar zakat tidak harus selalu menunggu setahun. Dalam pandangan mereka syarat kepemelikan selama setahun itu tidak didasari dengan hadits yang qath’i.

c. Intinya Orang Kaya Wajib Berzakat

Argumen yang sulit dibantah dari kalangan pendukung zakat profesi adalah bahwa yang diwajibkan untuk membayar adalah orang kaya dan mampu. Adapun profesinya apa, tidak menjadi ukuran. Yang penting kantongnya tebal.

Kalau di masa Nabi SAW yang jadi orang kaya adalah pedagang, peternak atau petani, sementara orang yang bekerja pada orang lain dengan mendapat upah, rata-rata adalah orang miskin. Maka wajar kalau pekerja yang diupah tidak bayar zakat, karena mereka termasuk orang miskin.

Sementara di masa sekarang ini, keadaannya terbalik. Petani dan peternak, apalagi di negeri kita, rata-rata hidup miskin. Sedangkan pegawai justru rata-rata hidup lebih makmur sejahtera. Maka akan menjadi sangat tidak masuk akal kalau mereka yang miskin diwajibkan berzakat, sementara mereka yang jauh lebih sejahtera malah tidak dibebankan zakat.

Jadi menurut para pendukung zakat profesi, tidak ada yang berubah dalam hukum bahwa orang yang kaya tetap wajib berzakat. Tinggal masalahnya, zaman telah mengubah siapakah orang kaya itu.

(habis)

 sumber: tulisan dari notes FB ust. Ahmad Sarwat

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on August 7, 2012 in info

 

Tags: , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: