RSS

Pengalamanku dalam Menyikapi Info Anti Vaksinasi

04 Aug

salah satu majalah yang kubeli. benarkah tuduhan ini? mari cari kebenarannya!

Sudah lama ingin menulis ini. Tapi karena energi yang dibutuhkan cukup banyak untuk mencari link-link yang sudah pernah dibaca, akhirnya baru kesampaian hari ini. Semoga apa yang saya tulis, bisa disikapi dengan baik dengan pikiran jernih. Syukur-syukur jika pembaca menyempatkan waktu lebih luang untuk membuka semua link-link yang ada karena semua saling terkait. Insya Allah cukup lengkap.

Menjelang usia kehamilan istri 6 bulan kemarin, kami mendapatkan info yang mengejutkan yaitu bahwa vaksin dan imunisasi itu haram, Imunisasi itu siasat yahudi untuk melumpuhkan generasi. Bahkan kami dipinjami tabloid yang mengupas itu, beberapa artikel tambahannya yaitu pendapat Jerry D. Gray (Sejak Lahir, Bayi dilemahkan dengan Vaksin) dan dr.Zaidul Akbar (Perlu Percepatan Syiar Thibbun Nabawi).

Informasi seperti ini membingungkan dan membuat resah. Karena begitu banyaknya teman-teman yang terpengaruh bahkan menganjurkan tidak imunisasi, ditambah sikap beberapa orang yang kami kenal yang mengambil sikap anak kedua dan berikutnya tidak diimunisasi. Jujur, info ini cukup mempengaruhi kami saat itu.  Sempat akhirnya kami memutuskan anak kami yang lahir nanti tidak akan divaksin. Apalagi beberapa media online (internet) yang didapat banyak juga yang mempertanyakan kredibilitas program pemerintah ini. Saya sebagai orang yang tidak paham dan ahli di bidang ini pun sempat ikut oleh arus deras informasi ini.

Walau kami sudah memutuskan untuk tidak melakukan imunisasi, masih saja ada yang mengganjal. Apalagi mendapat respon dari orang tua yang mempertanyakan sikap kami. Mau tidak mau harus memperdalam lagi, maunya sih mencari pembenaran akan sikap kami :melet: . Tapi yang terjadi justru sebaliknya. :hmm:

Beberapa buku kami beli dan terus mencari referensi lainnya di internet, terutama yang ilmiah. Sampai akhirnya menemukan beberapa situs yang logis menyanggah pendapat anti vaksin. Ditambah diskusi dengan pak Nanung Danardono (yang kebetulan 1 almamater di SMA 1 Jogja, beliau dosen Peternakan UGM dan LPOM MUI DIY yang sedang S3 di UK). Nah, dari diskusi dengan beliau ini, saya semakin tercerahkan dan akhirnya mantap 100% akan mengimunisasi anak saya nanti setelah lahir. Jazakallah pak Nanung. Kegalauan selama 2 bulan terjawab sudah. Di kehamilan istri yang sudah memasuki bulan ke-8 kami akhirnya berbalik mengambil sebuah keputusan. 100% mantap anak kami di-imunisasi. Bismillah.

Sangat disarankan bagi orangtua agar tetap well informed. Sebelum mengimunisasi anaknya, bertanya, membaca atau mendapatkan informasi terlebih dahulu tentang kemungkinan efek samping dan reaksi yang ditimbulkan dari sebuah vaksin serta mengetahui tindakan pertama yang harus dilakukan ketika terjadi efek samping, sangatlah penting. Tapi seringnya, meskipun ada, efek samping vaksinasi hanyalah ringan, jika pun berat umumnya tidak berhubungan langsung dengan imunisasi. Kalaupun ada hubungan dan akibatnya cukup fatal, itu terjadi hanya 1: 100.000 orang yang telah mendapatkan manfaat imunisasi.

Sayangnya jika ada kejadian fatal, media kerap meniup-niupkan dan membuatnya bombastis serta emosional, sementara ketika kasus penyakit yang bisa dicegah dengan vaksinasi mewabah dan menimbulkan kematian banyak orang, beritanya tidak dibesar-besarkan. Manfaat vaksin yang lebih besar ketimbang efek sampingnya juga sering tidak dimunculkan. Alhasil masyarakat semakin ketakutan.

Sebagai contoh, Ben Goldrace, seorang dokter dan penulis science, ( Saturday 3 October 2009, The Guardian) dalam sebuah artikelnya menceritakan bahwa 1592 artikel di google news memberitakan tentang seorang gadis yang meninggal tiba-tiba setelah mendapatkan vaksin pencegah kanker leher rahim. Namun, hanya 363 artikel yang memberitakan bahwa setelah di autopsi ternyata penyebab kematian si gadis adalah lantaran telah memiliki tumor parah di paru-parunya yang sebelumnya tak terdiagnosa. Ini menunjukkan bahwa ketidakseimbangan media dalam pemberitaan ternyata bisa turut andil dalam penyebaran rumor tak sedap tentang vaksin.

Dalam mempercayai sebuah berita, seperti kasus ini kita harus pilah-pilah mengenai referensi yang dipakai, masuk akal nggak apa yang jadi statemennya? Bagaimana pula orang-orang yang lebih ahli dari kita menyikapi ini? Dan sebagai orang Islam, ada nggak dalil qod’i yang melarang hal ini? Artikel berikut berbagi mengenai beberapa referensi yang saya anggap mencerahkan. Jika masih ada yang kurang lengkap, mari diskusi atau tanyakan pada yang ahli.

 

Istilah Imunisasi dan Vaksin

Walau sering diindetikkan sama, imunisasi dan vaksin adalah dua isitlah yang berbeda. Sebelumnya kita harus tahu istilah  imunisasi dan vaksin.

  • Imunisasi: pemindahan atau transfer antibodi [bahasa awam: daya tahan tubuh] secara pasif. Antibodi diperoleh dari komponen plasma donor yang sudah sembuh dari penyakit tertentu.
  • Vaksinasi: pemberian vaksin [antigen dari virus/bakteri] yang dapat merangsang imunitas [antibodi] dari sistem imun di dalam tubuh. Semacam memberi “infeksi ringan”.

[Pedoman Imunisasi di Indonesia hal. 7, cetakan ketiga, 2008, penerbit Depkes]

 

Gembar-gembor yang Meresahkan

Tenyata, info seperti ini gencar dilakukan oleh teman-teman saya maupun istri. Bahkan sepupu saya yang sedang hamil (anak kedua di Jogja) galau juga ketika mendapatkan informasi seperti ini, apalagi dia mendapat gempuran informasi dan undangan seminar oleh temannya di sebuah rumah sakit terkenal di Jogja walau akhirnya tempatnya diubah. “Imunisasi lumpuhkan generasi” (Pro kontra program imunisasi di Indonesia). Beritanya bisa dilihat disini “Tentang seminar anti vaksin di Jogja (Tulisan yang sama di grup RFC)” . Klaim-klaimnya pada umumnya tidak main-main, diantaranya:

  1. Imunisasi siasat Yanudi lumpuhkan generasi
  2. Tegakah sebagai orang tua membiarkan racun ditelan atau merayap di seluruh pembuluh darah dan bersarang di organ tubuh anak kesayangannya?
  3. Vaksin MMR dapat memicu autis
  4. Begitu banyak zat berbahaya di vaksin, misalnya mercury
  5. Zat haram seperti enzim babi terkandung di vaksin, dll

 

Masih Ragu, Bagaimana Menyikapinya?

Ada teman yang masih bingung dan kemudian menggunakan dalil Hadits Arbai’in no 11 yaitu:

Dari Abu Muhammad, Al Hasan bin ‘Ali bin Abu Thalib, cucu Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan kesayangan beliau radhiallahu ‘anhuma telah berkata : “Aku telah menghafal (sabda) dari Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: “Tinggalkanlah apa-apa yang meragukan kamu, bergantilah kepada apa yang tidak meragukan kamu “. (HR. Tirmidzi dan berkata Tirmidzi : Ini adalah Hadits Hasan Shahih) – [Tirmidzi no. 2520, dan An-Nasa-i no. 5711]

Kalimat “yang meragukan kamu” maksudnya tinggalkanlah sesuatu yang menjadikan kamu ragu-ragu dan bergantilah kepada hal yang tidak meragukan. Hadits ini kembali kepada pengertian Hadits keenam, yaitu sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya banyak perkara syubhat”.  Pada hadits lain disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Seseorang tidak akan mencapai derajat taqwa sebelum ia meninggalkan hal-hal yang tidak berguna karena khawatir berbuat sia-sia”.

Nah, akhirnya dia karena masih ragu (terutama karena halal-haramnya dan kandungan zat berbahaya seperti mercury), dia memutuskan anaknya tidak divaksin. Daripada resiko! begitu pikirnya. Padahal, jika mau berpikir jernih dan membandingkan dalil, logika dan argument pihak yang pro dan anti vaksin tampak begitu jelas mana yang benar dan salah. Justru dengan dia mengambil sikap seperti itu dia membahayakan anaknya dan juga anak-anak di sekitarnya. Keputusan kita bisa mematikan. Benjamin Franklin juga dulu takut mengimunisasi keluarganya untuk melawan penyakit smallpox. Namun kemudian dia menyesal ketika anak lelakinya meninggal di tahun 1736 akibat penyakit tersebut.

Untuk menyikapi hal yang dianggap masih meragukan, alangkah baik jika menggunakan dalil yang lain:

“Barangsiapa berjalan dalam rangka menuntut ilmu maka akan dimudahkan jalannya menuju surga.” (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa jalan yang pertama kali harus ditempuh untuk mencapai jannah (surga) tidak lain adalah dengan cara menuntut ilmu. Barangsiapa menempuh jalan lainnya, atau menyangka bahwa dirinya akan mendapatkan kenikmatan jannah meskipun tanpa menuntut ilmu, maka akan sia-sialah usahanya meskipun dengan susah-payah dia menjalaninya. Dan yang lebih penting, cari orang yang ahli mengenai masalah itu. Jangan hanya menunggu informasi itu datang. Bertanyalah, bertanya pada orang yang benar, jangan bertanya pada orang yang salah yang bukan ahlinya. Ketahuilah, bahwasanya disamping bersemangat, seseorang juga harus berhati-hati dalam menuntut ilmu. Karena ilmu itu tidaklah diambil kecuali dari ahlinya. Sehingga dikatakan oleh sebagian para ulama kita: “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”

Selama ini, pihak antivaks di Indonesia menjadikan bukunya Ummu Salamah, Imunisasi Dampak dan Konspirasi sebagai rujukan. Padahal, kalau memperhatikan bukunya banyak yang sudah terbantahkan.

Sosok Ummu Salamah sendiri dan cara berdiskusinya bisa dilihat disini

Skrip Lengkap Ummu Salamah Al Hajjam Di Group ASI dan Imunisasi. http://www.scribd.com/doc/99380194/Skrip-Lengkap-Ummu-Salamah-Al-Hajjam-Di-Group-ASI-Dan-Umunisasi.

 

Cara diskusinya yang emosional dan tidak ilmiah sangat tidak patut jadi rujukan. Apalagi banyak klaim dia yang terbantahkan. Pengalaman saya, untuk membaca note ini perlu setidaknya 2 jam. Tak apalah, yang penting sediakan waktu untuk keputusan yang sangat berharga. Jika masih saja menjadikan sosok USA menjadi rujukan dan orang yang patut dipercayai, ya itu pilihan anda.  Masing-masing kita menanggung resiko dan pertanggungjawaban atas sikap dan kondisi anak kita kelak di hadapan Allah. Oke?

:kiss:

Siti Fadhilah Supari mantas Menteri Kesehatan yang namanya sering dikait-kaitkan dengan gerakan anti vaksin pun angkat bicara: “Buku saya tidak membicarakan soal imunisasi. Tetapi mengapa sampai berdasarkan buku saya, mereka tidak imunisasi,” katanya. Buku itu berjudul “Saatnya Dunia Berubah, Tangan Tuhan Dibalik Virus Flu Burung”. Terkait hal itu, dia mengatakan, para orang tua diharapkan mengimunisasikan anaknya. “Harapan saya bahwa imunisasi wajib yang empat macam itu harus bagi rakyat semua,” kata dia yang saat ini menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) bidang Kesejahteraan Rakyat. (sumber : Republika)

 

Benarkah Vaksin Haram?

Untuk kesehatan anak, kita sepakat berikan ASI eksklusif, makanan pendamping ASI dengan gizi lengkap dan seimbang , kebersihan badan, makanan, minuman, pakaian, mainan, dan lingkungan. Untuk vaksinasi sendiri, banyak-banyak saja membaca, diskusi dan yakin atas keputusan diambil (apapun itu – tidak ada paksaan lho!). Yang penting mau menghargai yang beda pendapat. Pemerintah, MUI dan Ulama sendiri sampai saat ini tidak melarang vaksin.

Pada awalnya, kami juga dapet info seperti ini, bahkan kemudian membeli beberapa buku, majalah yang kontra vaksin. Banyak informasi yang mengejutkan yang selama ini belum tahu. akhirnya kami terus browsing, diskusi, cari artikel dan sampai pada sebuah kesimpulan yang 100% Insya Allah mantap menjalaninya.

Tentang VAKSIN, di DUNIA ini memang ada 2 kubu yg PRO dan KONTRA dgn vaksinasi. Masing-masing beranggapan benar. Saya justru sedih karena di antara kita ada banyak teman yg posting ikut menyalah-nyalahkan vaksinasi. Ternyata, MAAF…sumbernya dari teman yg jual obat ***. Saya tidak mempermasalahkan *** jual obat, itu bagus. Namun kalau sampai menyebarkan berita yang tidak tepat, maka akan muncul image bahwa orang Islam itu kalau jualan menghalalkan segala cara. Bahkan sampai menjelek-jelekkan pihak lain yang juga jualan produk lain. Akhirnya, image negatif akan mbalik ke Islam juga…

Temen-teman ini mengatakan bahwa :

  1. Setelah divaksin, banyak anak yang sakit. Vaksinasi membuat anak sehat jadi sakit. Benar gak ini? Logis gak ini? Kalau benar vaksinasi membuat anak jadi sakit, mestinya semua anak yang divaksin HARUS sakit semua. Kenyataannya bagaimana? Anak sakit setelah divaksin, maka perlu dilihat apakah tenaga medisnya prosedural apa tidak? Contohnya, saat divaksin, anak harus benar-benar dalam keadaan sehat. Jika kondisi daya tahan tubuhnya pas turun/tidak stabil, maka vaksinasi memang justru bisa membuat anak sakit.
  2. Anak yang divaksin lebih lemah daripada anak yang tidak divaksin. Benar gak ini? Variable yang diamati apa? Pembandingnya sama apa tidak? kita yang pernah belajar metodologi penelitian sangat paham bahwa jika 2 kelompok data tidak diperlakukan sama, maka itu tidak bisa dibandingkan. Contohnya, ketika orang membahas daging babi dan khamr, ada yang bilang kenapa orang-orang Eropa yang biasa makan babi dan minum khamr malah lebih sehat dan umurnya lebih panjang daripada orang Indonesia?  Ini menyalahi prosedur penelitian. Orang Eropa lebih sehat dan umur lebih panjang itu karena mereka biasa olah raga rutin, biasa bekerja keras, dan makan makanan yang bergizi. Tiap hari mereka minum susu dan makan keju. Lha, kalau orang Indonesia bagaimana…? Kalau mau membandingkan, mestinya kelompok orang Indonesia dan Eropa diperlakukan sama, lalu yg Eropa makan babi terus dan minum khamr terus, dan orang Indonesia tidak makan babi dan tidak minum khamr sama sekali. Nanti efek yang muncul adalah efek konsumsi babi dan khamr, bukan efek olah raga, kerja keras, minum susu, dll.

 

Fatwa Mengenai Vaksin

Bagi pihak yang mengharamkan vaksin, kita balik tantang, bisa nggak nunjukkan dalil pelarangannya? ulama siapa saja yang melarang dan mengharamkan vaksin? Ternyata, ulama-ulama besar justru membolehkan vaksin, atau minimal tidak sampai mengharamkan. Fatwa-fatwa Ulama, Keterangan Para Ustadz dan Ahli Medis di Indonesia Tentang Bolehnya Imunisasi-Vaksinasi

 

Ya Allah rahmatilah kami dengan al Qur’an. Jadikan ia imam kami, cahaya, petunjuk dan rahmat bagi kami. Ya Allah ingatkanlah kami apa yang kami lupa dan ajarkan bagi kami apa yang kami jahil. Karuniakanlah kepada kami untuk dapat membacanya sepanjang malamnya dan sepanjang siangnya. Jadikanlah ia perisai kami. Wahai Tuhan sekalian alam.

 

 

Ternyata di Zaman Rasulullah sudah ada Wabah

Di Gesamun ada file yang membahas tentang ini, Berikut salah satunya:

Dan telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya ia berkata: Aku membaca hadits Malik dari Ibnu Syihab dari ‘Abdullah bin ‘Amir bin Rabi’ah bahwa “Pada suatu ketika ‘Umar bin Khaththab pergi ke Syam. Setelah sampai di Saragh, dia mendengar bahwa wabah penyakit sedang berjangkit di Syam. Maka ‘Abdurrahman bin ‘Auf mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam telah bersabda: ‘Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, maka janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, janganlah kamu keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri darinya. ‘. Maka Umar pun kembali dari Saragh. Dan dari Ibnu Syihab dari Salim bin ‘Abdullah; bahwa umar kembali bersama orang-orang setelah mendengar hadits ‘Abdurrahman bin Auf. [Shahih Muslim Kitab 40. Salam, Bab. 1092. Tha’un thiyarah dan Perdukunan] http://id.lidwa.com/app/?k=muslim&n=4115

Nah, pendapat pak Nanung Danar Dono seperti ini:  “saya bukan ahli hadits, namun saya punya pendapat begini”:

  1. Rasulullah SAW itu utusan Allah Swt. Beliau mendapat ilham, wahyu, dan ilmu langsung dari Allah. Beliau professor dalam segala bidang. Sejarah menunjukkan bhw Baginda Rasul itu adalah pimpinan negara terbaik yg pernah ada, pimpinan keluarga yg terbaik, ayah dan suami yang terbaik, mertua yg terbaik, kakek yg terbaik, dan GURU yg terbaik.
  2. Karena beliau seorang Rasul, maka beliau mengetahui bahwa penyakit yg disebabkan oleh pathogens itu bisa menular dan menjadi outbreak (wabah). Maka beliau melarang orang utk datang ke negeri Syam karena dikhawatirkan bisa tertular. Orang yang berada di negeri Syam dilarang keluar dari negeri tsb krn BISA MENULARKAN penyakit tersebut ke orang lain di luar negeri tsb.
  3. Larangan Baginda Nabi untuk ‘melarikan diri’ itu tujuannya adalah untuk antisipasi atau pencegahan penularan penyakit. Mungkin ini bisa dianalogkan dgn pencegahan ala vaksinasi, meski korelasinya tdk terlalu dekat.

Allaahu a’lam bish-showwab

Di jaman Nabi SAW pasti sudah pernah ada kasus wabah penyakit. Jika tidak, lalu mengapa tiba-tiba Baginda Nabi bersabda tentang larangan keluar dari sebuah daerah yang terkena penyakit. Menurut saya, kalimat yang ada pada hadits tersebut “daerah yang terkena/terserang penyakit” itu sudah suuuuangat jelas menunjukkan bahwa saat itu ada WABAH.

Memang tidak keluar dari daerah wabah itu jihad, karena ia bersungguh-sungguh berusaha agar TIDAK MENULARKAN penyakit tersebut ke orang lain di daerah lain.

Tentang tertular penyakit itu QODARULLAH itu benar, namun Allah Swt juga membuat aturan tentang teknis bagaimana virus dan bakteri menular. Jangan lupa, Allah juga membuat sistem yang namanya sunatullah…yaitu AIR itu memiliki sifat membasahi dan API itu memiliki sifat bisa MEMBAKAR. Maka, secara sunatullah, kalau kertas diletakkan di atas api, maka ia akan terbakar. Allah menentukan ia terbakar (qodarullah). Namun, kalau kertas itu diletakkan jauh dari api, apa ia juga akan terbakar? Sunatullah-nya, kertas tersebut tidak akan terbakar.

Begitu pula, Allah juga menetapkan sunatullah bhw virus-virus pathogens itu bisa MENULARKAN penyakit. Semua orang yg memiliki daya tahan tubuh lemah, maka ia mudah terserang penyakit tersebut. Maka, sunatullahnya, jika seseorang berada di tempat yg disitu sedang ada wabah penyakit, jika daya tahan tubuhnya bagus, maka (insya Allah) ia tidak akan tertular. Namun, jika daya tahan tubuhnya tidak bagus (insya Allah) ia akan lebih mudah tertular. Maka itulah sebabnya mengapa ada orang yang sakit dan ada yang suvive ketika ada wabah.

Ijinkan saya (Nanung Danar Dono) membuat analog sederhana agar mudah dipahami.

Misalnya sebuah virus memiliki level virulensi (bisa menularkan penyakit) = 15

Maka, jika ASI memiliki level perlindungan = 10
Herbal menambah level perlindungan = 4
Vaksinasi menambah level perlindungan = 9,

Maka, anak yg mendapat ASI cukup dan minum herbal akan memiliki perlindungan = 10+4 = 14 level. Karena levelnya masih di bawah 15, maka kemungkinan tertular penyakitnya masih cukup besar.

Namun, jika si anak dpat ASI dan vaksinasi, maka level perlindungannya = 10+9=19. Karena levelnya di atas 15, maka ia LEBIH TERLINDUNGI.

Apalagi kalau kombinasi ASI, herbal, madu, vaksinasi, dll =10+4+9+…+…+…= >23, si anak ybs lebih terlindungi.

Namun, jika Allah berkehendak, si vaksin bermutasi, dan tingkat virulensinya meningkat jadi >25, ya sumonggo kersa Allah utk anugerahkan penyakit ini. Yg jelas, kita sudah berikhtiar semampu kita.

I wish, my simple explanation makes sense…
Allaahu a’lam bish-showwab

 

Pencegahan Penyakit di Masa Khilafah

Bagaimanapun mencegah penyakit lebih murah dari mengobati.  Gerakan “hidup sehat ala Nabi” menjadi trendy.  Rasulullah memang banyak memberi contoh kebiasaan sehari-hari untuk mencegah penyakit.  Misalnya: menjaga kebersihan; makan setelah lapar dan berhenti sebelum kenyang; lebih banyak makan buah (saat itu buah paling tersedia di Madinah adalah rutab atau kurma segar); mengisi perut dengan sepertiga makanan, sepertiga air dan sepertiga udara; kebiasaan puasa Senin-Kamis; mengonsumsi madu, susu kambing atau habatus saudah, dan sebagainya.

Bagi yang terlanjur sakit dan mencari pengobatan yang lebih murah, juga tersedia “berobat cara Nabi” alias Thibbun Nabawi, yang obatnya didominasi madu, habatus saudah dan beberapa jenis herbal.  Kadang ditambah bekam dan ruqyah.  Pengobatan ini jauh lebih murah karena praktisinya cukup ikut kursus singkat, tidak harus kuliah di fakultas kedokteran bertahun-tahun.  Profesi thabib atau hijamah ini juga relatif belum diatur, belum ada kode etik dan asosiasi profesi yang mengawasinya, sehingga tidak perlu biaya tinggi khas kapitalisme.

Namun sebagian aktivis gerakan ini dalam perjalanannya terlalu bersemangat, sehingga lalu bertendensi menolak ilmu kedokteran modern, seakan “bukan cara Nabi”.  Realitas pelayanan kesehatan modern yang saat ini sangat kapitalistik menjadi alasan untuk menuduh seluruh ilmu kedokteran modern ini sudah terkontaminasi oleh pandangan hidup Barat, sehingga harus ditolak.

Salah satu contoh adalah gerakan menolak vaksinasi.  Sambil mengutip data dampak negatif vaksinasi dari media populer Barat (yang sebenarnya kontroversial), dengan amat semangat, gerakan ini menyatakan bahwa “di masa khilafah tanpa vaksinasi juga manusia tetap sehat” atau “sebelum ada vaksinasi, tidak ada penyakit-penyakit ganas seperti kanker”.

Tentu menjadi menarik untuk melihat seperti apa pencegahan penyakit di masa Khilafah itu?

Sebelumnya perlu diketahui, bahwa vaksinasi memang sebuah teknologi dalam ilmu kedokteran yang baru ditemukan oleh Edward Jenner pada akhir abad-18 dan dipopulerkan awal abad-19.  Vaksin penemuan Jenner ini berhasil melenyapkan penyakit cacar (small pox) – bukan cacar air (varicella).  Pada abad-19, penyakit cacar ini membunuh jutaan manusia setiap tahun, termasuk rakyat Daulah Khilafah!  Namun saat itu Daulah Khilafah sudah dalam masa kemundurannya.  Andaikata Daulah Khilafah masih jaya, barangkali teknik vaksinasi justru ditemukan oleh kaum Muslimin.

Dalilnya adalah Rasulullah menunjukkan persetujuannya pada beberapa teknik pengobatan yang dikenal semasa hidupnya, seperti bekam atau meminumkan air kencing onta pada sekelompok orang Badui yang menderita demam.  Lalu ada hadits di mana Rasulullah bersabda, “Antum a’lamu umuri dunyakum” – Kalian lebih tahu urusan dunia kalian. Hadits ini sekalipun munculnya terkait dengan teknik pertanian, namun dipahami oleh generasi Muslim terdahulu juga berlaku untuk teknik pengobatan.  Itulah mengapa beberapa abad kaum Muslim memimpin dunia di bidang kedokteran, baik secara kuratif maupun preventif, baik di teknologinya maupun manajemennya.

 

 “Barangsiapa berjalan dalam rangka menuntut ilmu maka akan dimudahkan jalannya menuju surga.” (HR. Muslim)

 

Link-link yang bermanfaat Mengenai Vaksin. Wajib DIBACA ya…!!! :peace:

Ada banyak informasi di internet yang bisa dicari. Beberapa tulisan di bawah ini saya anggap cukup representatif  dan menjawab keraguan kita tentang klaim anti vaksin.  Di Indonesia, hampir semua lembaga / ormas Islam tidak mempermasalahkan vaksin. Informasi yang salah mengenai vaksin beredar melalui personal, dalam forum pengajian (halaqoh) dan berbagai interaksi bisnis atau sosial lainnya. Sikap antivaksin bukan mainstream dari gerakan Islam, baik PKS, HTI, Salafy, NU, Muhammadiyah, dll., walaupun memang sampai saat ini belum ada sikap resmi secara lembaga.

 

  • Benarkah Imunisasi Lumpuhkan Generasi? Dakwatuna yang identik dengan situs PKS juga bersikap dengan meng-upload tuisan dari Dr. Piprim B Yanuarso Sp. A(K) yang galau ketika sering mendengar atau melihat info seminar dengan judul yang membuat mata seorang dokter terbelalak. “Imunisasi lumpuhkan generasi” atau “Wahai para orangtua bekali dirimu dengan pengetahuan tentang bahaya imunisasi”. http://www.dakwatuna.com/2012/06/20922/benarkah-imunisasi-lumpuhkan-generasi/

 

  • Pencegahan Penyakit di Masa Khilafah.  Situs HTI ini kalimat kuncinya adalah: “Andaikata Daulah Khilafah masih jaya, barangkali teknik vaksinasi justru ditemukan oleh kaum Muslimin”. Penulis menganggap gerakan menolak vaksinasi telah mengutip data dampak negatif vaksinasi dari media populer Barat (yang sebenarnya kontroversial). Dengan amat semangat, gerakan ini menyatakan bahwa “di masa khilafah tanpa vaksinasi juga manusia tetap sehat” atau “sebelum ada vaksinasi, tidak ada penyakit-penyakit ganas seperti kanker”.. http://hizbut-tahrir.or.id/2011/10/19/pencegahan-penyakit-di-masa-khilafah/

 

 

  • Tanya Jawab Kehalalan Dan Keamanan Vaksin. Tulisan dari antara ini merupakan tulisan hasil wawancara dengan Dr. Soedjatmiko, SpA(K), MSi Ketua III Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia 2002-2008. Tulisan ini sudah dilihat oleh lebih dari 28.000 pembaca. Silahkan dibaca juga komentarnya dari pihak yang pro maupun yang kontra. http://www.antaranews.com/berita/292632/tanya-jawab-kehalalan-dan-keamanan-vaksin

 

  • Bahaya Menolak Imunisasi. Akhir sebuah keputusan tentu saja berpulang pada masing-masing orang. Benar, bahwa setiap manusia punya hak atas sebuah pilihan, yang harus dihargai dan tentu tidak bisa diabaikan. Namun tolong, sebelum memutuskan, pikirkan dengan matang, cek dan ricek informasi yang datang. Gunakan hati, pikiran dan akal untuk mencari yang benar, bukan sekedar ikut-ikutan atau karena pengaruh peer pressured, tekanan dari kawan dan handai taulan. Tolong digarisbawahi benar bahwa keputusan yang diambil kemudian, bukan hanya berpengaruh pada anak kita seorang, tapi juga beresiko menolong atau membahayakan anak-anak di sekitar. Ingat, keputusan kita bisa mematikan. Tegakah hati melihat anak-anak jiwanya terancam hanya karena kita gegabah dalam mengambil keputusan?File pdf bisa didownload disini http://zainfadhil.files.wordpress.com/2012/08/bahayanya-menolak-imunisasi.pdf

 

  • Buku Imunisasi, Dampak dan Konspirasi karya Ummu Salamah. Buku ini beberapa kali direkomendasikan temen untuk dibaca. Isinya mempertanyakan imunisasi yang dianggap menjerumuskan. Namun apakah benar demikian????? Di banyak diskusi di FB atau situs lain, penulis selalu mempromosikan buku ini, termasuk ketika ditanya dan terpojok dalam menjawab justru kita disuruh membeli. JANGAN DIBELI! Nanti menyesal lho! 😀 Baca dulu uraian ini sehingga kita mantap mengambil sikap.  Telaah buku ini merupakan bahan untuk Seminar tentang “Vaksinasi dan Problematika di Bidang Kesehatan. Seminar ini diadakan di Auditorium UIN Jakarta pada tanggal 14 Maret 2009. Hasil lengkap atas telaah buku Imunisasi, dampak dan konsporasi, dapat dibaca pada uraian berikut: http://zainurihanif.com/2012/07/25/telaah-buku-imunisasi-dampak-dan-konspirasi-karya-ummu-salamah/

 

  • Fakta di Balik Kampanye Hitam Anti Vaksin. Menjelaskan mengenai ilmuwan fiktif yang jadi rujukan antivaksin. Penulis mengajak kita mencari referensi yang sahih, tidak bias atau tendens, valid dan reliable.  Pertanyaannya kemudian mudah, referensi sebenarnya gampang di cari, kalau memang ada bukti mari berdebat secara ilmiah, jangan langsung percaya sama artikel yang darimana entah kemana tujuannya. Artikel ini dimuat oleh detik health. Tapi disini saya anjurkan langsung aja ke sumbernya di Kompasiana : “Bahaya Imunisasi!”, Telaah Tahap I dan artikel lanjutannya “Bahaya Imunisasi!”, Telaah Tahap II

 

Dan jangan lupa ikut di FB Groups GESAMUN. Gerakan Sadar Imunisasi. https://www.facebook.com/groups/GESAMUN/ dengan File yang terdokumentasi disini https://www.facebook.com/groups/GESAMUN/files/. Ini adalah groups yang sangat komplit membahas tentang Imunisasi. Gabung aja, dapet ilmu dan silaturrahim dengan orang-orang yang baik, bertanggungjawab dan Insya Allah bisa memberi solusi. Groups ini sangat direkomendasikan!!! *****

:megaphone:

 

Semoga bermanfaat

  :nih!:

z@in_batu – 4 Juli 2012

Advertisements
 
21 Comments

Posted by on August 4, 2012 in Artikel

 

Tags: , , , , , ,

21 responses to “Pengalamanku dalam Menyikapi Info Anti Vaksinasi

  1. indira

    November 21, 2012 at 06:46

    Tq info yg bermafaat

    Like

     
  2. zainuri

    November 21, 2012 at 08:32

    Amiin… semoga mencerahkan. yang tidak tahu menjadi tahu sehingga bisa bersikap terbaik bagi anak kita, sanak saudara kita, teman kita, dst.

    Like

     
  3. Bebe

    November 21, 2012 at 13:35

    Memang lembaga Islam harus punya sikap jelas untuk kemaslahatan ummat :22:

    :nangis3:

    Like

     
  4. koko_jatmiko

    November 21, 2012 at 17:39

    Hidup memang penuh pilihan.
    Pilih yang benar!
    Buat anak kok coba-coba

    Like

     
  5. m muchlis

    November 22, 2012 at 05:30

    Blog yang komprehensif, semoga banyak manfaat untuk semua…..

    Like

     
  6. zainuri

    November 22, 2012 at 08:49

    Amiin… terima kasih pak Muchlis atas kunjungannya. Dan terima kasih juga atas sumbangsih tulisannya…

    Like

     
  7. septina

    November 22, 2012 at 09:19

    ..sebuah proses pembelajaran….well done ^-^
    thank u for sharing with us

    Like

     
  8. akhawat

    November 23, 2012 at 18:15

    tetep aja gak percaya sama imunisasi

    Like

     
  9. Dhila

    November 24, 2012 at 07:50

    kadang kasihan sama yang masih percaya dan menolak imunisasi / vaksin. dasar dan landasan ilmiahnya gak ada. Bahkan ulama pun tidak ada yang memfatwakan haram? lalu kenapa masih mengganggap ini haram? ahli pun memberika bukti dan bantahan terhadap tuduhan vaksin. Kalau mau berislam baik, pakailah akal sehat kita dalam memilih. Demi anak kita, demi generasi penerus

    :ok:

    Like

     
  10. Sunu Wibirama

    November 26, 2012 at 15:09

    A well documented post by my best friend. Well done, bro. Kami juga awalnya perlu belajar banyak, ternyata memang ada hikmahnya…..mungkin postingan ini bisa jadi salah satu thread penting di GESAMUN, untuk para pemula, yang masih ragu tentang vaksinasi. Ayo mas Hanif, diusulkan masuk di GESAMUN saja, masukkan ke list nomer satu (istilahnya di FB : Pinned Posts). Jadi kalau ada member baru, langsung baca tulisan ini.
    Insya Allah, nanti kalau energinya sudah ada, saya juga mau nulis tentang “pengalaman berobat di Jepang”. Sangat berbeda dengan berobat di Indonesia. Kami belajar banyak di sini, karena sakit, hikmah-nya jadi tahu sistem pelayanan medis di Jepang

    Like

     
  11. zainuri

    November 27, 2012 at 10:46

    Jazakallah mas Sunu atas kunjungannya. Yups, memang kita harus terus membuka diri dan mencari informasi untuk sebuah kebanaran. Sekarang ini terlalu banyak informasi di sekitar kita dan kita harus menyaringnya. Pada mulanya, memang pengin 100% fix barus publish, tapi terlalu kompleks juga repot. Terlalu ingin banyak yang dibagi itu juga kelemahan. jadinya masukkan saja point2 penting beserta link-link terkait yang dianggap valid dan mencerahkan. Ada koreksi bisa diperbaiki, yang penting inti masalah bisa tersampaikan. Berbagi hikmah merajut ukhuwah.

    Iya mas Sunu. Ditunggu juga tuh tulisannya. Pastinya bermanfaat bagi kita yang suatu saat nanti berkesempatan menyusul sampeyan ^_^

    Like

     
  12. Endang Muji

    November 27, 2012 at 17:46

    wah bagus sekali tulisannya.

    Like

     
  13. Mbak Dukun

    November 27, 2012 at 17:57

    Sebenarnya vaksinasi itu dilarang oleh semua agama. Tuhan hanya memerintahkan karantina dalam menghilangkan penyakit.
    Ada ada ayat dalam AL Quran yang melarang vaksin . Karena itu termasuk perbuatan melampaui batas.

    Ketika Musa disuruh berlindung 40 malam. 40 malam ini dalam bahasa Latin adalah quarantine atau karantina yang artinya adalah mengurung setidaknya 40 hari.

    Ada perintah karantina dalan Al Quran dan melarang vaksin (sapi), yaitu pada QS Al Baqarah 51:

    Dan Kami janjikan Musa empat puluh malam (karantina) , kemudian kamu mengambil anak sapi (vacca/ sapi/ vaccine / vaksin / Edward Jenner) dari sesudahnya dan kalian adalah orang yang DHALIM.

    Jadi vaksin adalah DHALIM. Karena Tuhan menyeru karantina penyakit, bukan menyebarkan penyakit atau kuman yang dilemahkan.

    Baiknya komen ini jangan dihapus, karena ini ayat. Agar kita tidak menjadi DHALIM secara jamaah karena sembunyikan vaksin.
    Dan penulis jangan sembunyikan KEDZALIMAN atau memelihar KEDHALIMAN.

    Like

     
  14. zainuri

    November 28, 2012 at 05:46

    Terima kasih bu/pak Endang Muji, masih terus belajar nih… :15:

    Like

     
  15. zainuri

    November 28, 2012 at 05:56

    Mbak Dukun, anda terlalu gegabah dalam menafsirkan ayat. Hati-hati! Bahasa Arab kok ditafsirkan pakai bahasa Latin. Ya gak nyambung bung… Tafsir ulama mana yang anda tulis? Atau pendapat pribadi? Ada tafsir yang lebih baik, saya ambilkan dari blognya UII. http://ulilalbab.uii.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=52:tafsir-surat-al-baqarah-2-ayat-51-54&catid=39:tematik

    Pembahasan pada ayat 51 sampai 54 (Al Baqarah) ini juga masih menjelaskan tentang kenikmatan yang Allah berikan kepada Bani Israil yang berupa ampunan. Jadi nikmat Allah tidak hanya berupa materi saja, tetapi juga berupa ketenangan, kebahagiaan, keselamatan dan juga ampunan dari Allah.

    51. Dan (ingatlah), ketika kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sembahan) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang zalim.

    Allah mengingatkan kepada bani Israil tentang janji Allah kepada Nabi Musa untuk bertemu dengan-NYA selama empat puluh malam. Dimana empat puluh malam tersebut Nabi Musa bermunajat kepada Allah dan setelah melewati masa empat puluh malam tersebut Allah akan menganugerahinya kitab Taurat.

    Sebelumnya Nabi Musa telah mengajarkan tentang tauhid kepada kaumnya, maka sebelum meninggalkan mereka Nabi Musa berpesan;”Wahai kaumku, aku akan meninggalkan kalian selama empat puluh malam. Pada empat puluh malam tersebut Allah menjanjikan untuk memberikan kepadaku Kitab Taurat. Dan aku tidak menitipkan kepada kalian sesuatu kecuali patuhilah saudaraku, Harun.”maka pergilah nabi Musa untuk bermunajat kepada Allah. Baru ditinggal dalam jangka waktu sebentar saja, bani Israil telah menampakkan kesesatan dan kedurhakaan mereka. Sifat-sifat asli mereka muncul. Mereka mengambil patung anak sapi ( al-‘Ijlu ) sebagai sesembahan bagi mereka selain Allah.

    __

    Apa tafsirnya ada hubungannya dengan vaksin? Bagaimana Asbabun Nuzulnya? Hati-hati! Dan mungkin saya bisa diberikan alasan lain yang lebih ilmiah jika anda termasuk pendukung antivaks. Jangan memelintir ayat Al Qur’an seperti ini. << btw, komentar anda tidak saya hapus.

    Like

     
  16. Bunda Azka Shafira

    November 28, 2012 at 14:28

    Mbak Dukun jangan sembarangan. Tdk semua ayat Al Quran masih bisa dipakai pada zaman sekarang. Ayat itu cukup jadi kisah dan dongenan pada jaman dulu saja.
    Ayat tersebut dibuang dan tidak dicantumkan pada Al Quran juga tidak apa apa. Karena sdh tidak update dgn jaman sekarang.
    Jaman sekarang sudah tidak ada orang menyembah sapi spt dalam ayat tersebut. Jadi ayat tsb bisa dihapus atau ditiadakan.
    Jangan ngawur ah, belajar pada ulama yang benar.

    Like

     
  17. zainuri

    November 28, 2012 at 15:45

    @ Bunda Azka Shafira : weh, gak bisa juga bu dibuang begitu saja. :8:
    Ayat itu sampai kapanpun mengandung hikmah luar biasa. Masih ada juga kok yang menyembah macam2 (mengkultuskan) hewan di dunia ini. di India, tikus yang jadi “perantara” misalnya. Al Qur’an memberi banyak kisah agar kita bisa belajar darinya. Sejarah itu perulangan sebuah peristiwa. Kita belajar sejarah agar kita bijaksana sebelum terjadinya peristiwa :15:

    Like

     
  18. Cahya

    December 3, 2012 at 20:48

    Saya rasa informasi yang cukup inklusif seperti ini perlu dibaca oleh para orang tua maupun calon orang tua. Karena salah persepsi masalah imunisasi antara manfaat dan dampaknya bisa mengecoh siapa saja yang kurang mendapatkan informasi, bahkan golongan terpelajar sekalipun.

    Like

     
  19. soleh

    October 11, 2013 at 09:09

    alhamdulillah ana sangat tercerahkan dengan tulisan ini
    memang sebelumnya ana sendiri sempat agak ragu, khususnya dalam beberapa tahun terakhir karena banyak bersinggungan dengan sekte salafi-wahabi
    syukron jiddan buat penulisnya

    Like

     
  20. zainuri

    October 21, 2013 at 12:48

    Alhamdulillah jika tulisan ini bermanfaat. Memang tidak mudah memutuskan, apalagi begitu banyak informasi yang masuk dan “berlabel islam”. So, buka mata hati kita untuk menerima kebenaran. Dengan akal dan nalar kita, Insya Allah kita bisa memilih dan memilah.

    :hmm:

    Like

     
  21. Allone

    January 9, 2014 at 10:18

    Alhamdulillah…. Insya Allah saya tidak keliru menjadi pengikut yang pro imunisasi/vaksinasi, buktinya… dengan ridla Allah ketiga anak saya yang ketika bayi diimunisasi sehat semuanya. Dua anak saya yang laki-laki sudah lulus S1 dan sekarang sudah bekerja, bahkan yang sulung anaknya sudah dua, dan yang perempuan sekarang masih kuliah FKU UGM semester 6. Terima kasih Mas Hanif atas tulisannya yang amat bagus ini, teruskanlah berkarya…!!!

    Like

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: