RSS

Menikmati Jamuan Ramadhan Bersama Keluarga

21 Jul

Kita semua bergembira dengan hadirnya bulan Ramadhan. Kita semua berbahagia dengan datangnya bulan suci ini. Semua di antara kita menyambutnya dengan suka cita.

Sebagian kita memikirkan untuk menyambutnya dan mendaya-gunakan waktu-waktu Ramadhan seperti untuk shaum, menjaga shalat tarawih sesuai batas maksimal kemampuan, memperbanyak sedekah yang sembunyi-sembunyi atau terang-terangan, mengundang keluarga, tetangga dan teman untuk sama-sama berbuka puasa agar meraih pahala persis seperti orang yang melaksanakan puasa, juga pahala menebar kedamaian dan silaturrahim.

Sebagian di antara kita memikirkan bagaimana agar Ramadhan kali ini terasa istimewa, berbeda dengan sebelum-sebelumnya atau berbeda dengan khalayak umum; dengan berusaha untuk menambah kuantitas dan kualitas ibadah tertentu, menjaga niat juga berusaha untuk menjadikan ibadah yang dilaksanakan berdampak positif bagi diri dan lingkungannya.

Mengisi Jamuan Ramadhan

Sekelompok remaja putri, umur dua puluhan tahun merancang kegiatan ‘memberi ifthor’ kepada polisi lalu lintas atau pekerja yang pada waktu buka puasa masih berada di jalan.

Sebagian mahasiswa-mahasiswi merancang kegiatan bazar murah Ramadhan dengan aneka ragam peralatan ibadah, buku-buku keagamaan, juga aneka makanan khas Ramadhan.

Di sekolah, seorang pendidik mengkondisikan anak didiknya untuk hal-hal positif dan bermanfaat, seperti mengumpulkan bahan-bahan dari kertas dan sejenisnya untuk dijual secara kolektif dan hasil dari penjualannya disedekahkan oleh peserta didik kepada panti asuhan bersama-sama.

Kegiatan Ibu-Ibu

Seorang ibu dengan tiga anak putrinya merencanakan untuk menjadikan Ramadhan sebagai kesempatan beribadah secara berjamah bersama mereka; seperti shalat Tarawih, shalat Subuh berjamaah dan menghafal Al-Qur’an.

Sebagaimana juga beliau mendisiplinkan mereka untuk membaca dzikir pagi dan petang berjamaah secara kontinyu, begitu juga berusaha untuk bisa khatam Al-Qur’an sekali di bulan Ramadhan, juga memberi buka puasa untuk petugas keamanan komplek mereka.

Namun, kadang dikarenakan kesibukan atau ujian di sekolah membawa dampak pada kelangsungan program yang sudah direncanakan, seperti mempengaruhi tilawah Al-Qur’an yang menyebabkan mereka merasa berat atau putus asa untuk mengkhatamkannya di akhir bulan.

Biasanya di sepuluh akhir Ramadhan kegiatan sekolah sudah libur, nah kesempatan ini dijadikan bersama untuk menyempurnakan program Ramadhan yang sudah disepakati sebelumnya bahkan mengejar ketinggalan tilawah Al-Qur’an.

Hal lain yang penting adalah memotivasi mereka untuk tetap semangat, memperkecil kemungkinan perseteruan dengan berusaha menjaga lisan saat terjadi pertentangan, sebagaimana juga menyiapkan mereka untuk bersedekah di hari raya dengan cara mengumpulkan permainan atau pakaian mereka yang layak pake untuk dihibahkan kepada orang yang membutuhkannya.

Aneka Kertas Kebaikan

Lain halnya dengan seorang ibu rumah tangga yang memiliki anak umur tujuh dan sembilan tahun ini, ia merancang kegiatan Ramadhan bersama mereka dengan mendisiplinkan menghafal Al-Qur’an bagi yang umur sembilan tahun dan mendisiplinkan shaum bagi yang umur tujuh tahun.

Untuk membantu semangat mereka dalam menjalankan kegiatan tersebut, ia membuatkan kertas kecil warna-warni dituliskan kegiatan-kegiatan sederhana tersebut juga kegiatan lainnya, seperti sedekah, membantu pekerjaan rumah atau berakhlak baik dan seterusnya dan ditempelkan di tempat-tempat yang sering dilihat oleh anak-anak.

Pohon Impian

Seorang ibu lain menceritakan bahwa dirinya menargetkan pada bulan Ramadhan kali ini tertanamnya sikap santun, dewasa dan tidak emosional pada anak-anaknya. Bulan Ramadhan yang rentang waktunya cukup panjang, menjadi momentum untuk membiasakan dan menginternalisasikan akhlak ini kepada mereka.

Pendekatannya sederhana (sebagai contoh saja), dengan cara menyiapkan benih tanaman dan meminta putra paling besar –yang memiliki kecenderungan emosional- untuk menanamnya, mungkin juga bersama adik-adiknya.

Saya tugaskan dia untuk merawatnya, menyiraminya, membersihkannya dst. sampai tumbuh dalam dirinya sikap kasih sayang, empati dan santun.

Nilai atau pelajaran yang ingin kita ingatkan kepadanya bahwa apa yang kita mulai di bulan Ramadhan merupakan benih perubahan, yang tumbuh sebagaimana pohon, namun perlu perawatan dan kesungguhan, bukan sekedar keinginan atau niat semata tanpa ada aksi nyata sehingga tidak membuahkan perubahan.

Dengan menjadikan analogi pohon yang hidup dan tumbuh tersebut akan lebih memudahkan dia untuk melihat contoh nyata bahwa kesungguhan akan membawa perubahan.

 

sumber: Menikmati Jamuan Ramadhan karya Tim Maktaba Gaza

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on July 21, 2012 in Buku

 

Tags: , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: