RSS

Komunitas Halal

05 Jan

Kemana kita bertanya masalah Halal tidaknya makanan yang kita konsumsi? siapa pula yang bertanggungjawab menjamin penduduk Indonesia akan makanan halal yang disantapnya? jawabnya adalam LPOM MUI. Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia atau yang disingkat LPPOM MUI adalah lembaga yang bertugas untuk meneliti, mengkaji, menganalisa dan memutuskan apakah produk-produk baik pangan dan turunannya, obat-obatan dan kosmetika apakah aman dikonsumsi baik dari sisi kesehatan dan dari sisi agama Islam yakni halal atau boleh dan baik untuk dikonsumsi bagi umat Muslim khususnya di wilayah Indonesia, selain itu memberikan rekomendasi, merumuskan ketentuan dan bimbingan kepada masyarakat.

Alasan lembaga ini didirikan adalah bahwa ajaran agama Islam mengatur sedemikian rupa tentang makanan dan minuman. Makanan dan minuman dapat dikategorikan sebagai halal, haram, atau syubhat. Bahan yang diharamkan dalam ajaran Islam adalah bangkai, darah, babi dan hewan yang disembelih dengan nama selain Allah (Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat 179) sedangkan minuman yang dikatagorikan haram adalah semua bentuk khamr (minuman yang memabukkan) (Al Qur’an Surat Al Baqarah 219). Para ulama mendefiniskan khamr sebagai segala sesuatu, baik minuman atau wujud lain yang dapat menghilangkan akal dan digunakan untuk bersenang-senang sehingga dari definisi ini penyalahgunaan obat-obatan termasuk obat bius termasuk dalam katagori khamr. Masalah ini dipandang sebagai masalah penting bagi umat Islam karena menyangkut masalah keyakinan dan hukum syariat. Terlebih-lebih, pada masa kini banyak industri pangan, kosmetika, dan obat-obatan yang berkembang sesuai dengan kemajuan teknologi sehingga dipandang perlu diperiksa apakah dibuat dengan atau mengandung unsur-unsur haram serta membahayakan bagi konsumen.

Pentingnya Komunitas Halal

Harian Republika edisi hari ini (Rabu, 4 Januari 2012) menurunkan bahasan menarik mengenai komunitas halal. komunitas ini memang kita perlukan untuk sharing mengenai produk halal. Selama ini terlalu banyak produk yang tidak jelas kehalalan dan kebaikannya bagi tubuh. beberapa media TV bahkan mengusung tema ini sebagai peringatan bagi masyarakat. Dalam makanan sekarang semakin banyak formalin, boraks, metanil yellow, dll.

Dalam sebuah seminar di BB Pasca Panen Bogor, November 2011 yang lalu, ada seorang peneliti yang menceritakan bahwa ia ketika belanja menyaksikan sendiri ada seorang pedagang makanan yang membeli borak 2 kg di warung, setiap hari! Dan itu digunakan untuk mengawetkan makanan yang dijualnya. Nah, siapa yang kemudian mengawasi peredaran bahan seperti ini agar tidak disalahgunakan? Badan POM dalam forum itu menjawab, institusinya tidak diberik kewenangan dan aturan jelas tentang itu. Harusnya pemerintah daerah dan Dinas kesehatan setempat yang lebih intens mengawasi hal ini. Memang, jika aturan main tidak jelas, tiap institusi akan lempar tanggung jawab. Sanksi-nya pun tidak ada. Padahal jelas bahan seperti ini berbahaya bagi kesehatan.

Boraks atau natrium tetraborat sejatinya adalah bahan yang berisfat antimikrobial sehingga bisa mengawetkan. Karena sifatnya yang dapat mengawetkan inilah sepertinya yang menyebabkan banyak pedagang makanan menambahkan bahan kimia ini ke dalam makanan agar dagangan mereka awet berhari-hari. Panganan yang biasanya diakali dengan penambahan boraks adalah bakso, otak-otak, tahu, mie tujuan lainnya adalah untuk memperbaiki tekstur dan kepadatan sehingga menjadikan bakso dan mie lebih kenyal, tahu menjadi tidak mudah hancur. Boraks juga memberikan kerenyahan dan rasa gurih terutama pada makanan yang mengandung pati seperti kerupuk. (sumber)

Dalam tulisan yang lalu, Hati-hati HOAX! Menyesatkan dan Membunuh Karakter!   ada komentar menarik yang intinya mempertanyakan halal tidaknya makanan yang masuk perut kita. Nah, menjawab pertanyaan seperti ini, sudah banyak forum yang bisa memfasilitasinya. misalnya web resmi LPOM MUI dan komunitas halal yang ada di dunia maya. berikut diantaranya: (*data sampai 5 Januari 2012)

Lukmanul, (Direktur LPPOM MUI ) berharap, ada sinergi tentang penyadaran akan adanya komunitas halal ini. Bukan hanya soal produk halal, tetapi semua pihak juga mendorong produsen yang memiliki sertifikasi halal produknya tetap mempertahankannya. Ia pun ingin agar komunitas halal dapat menginformasikan fatwa-fatwa halal yang telah ditetapkan MUI.

Sejak 2010 langkah ini telah berjalan intensif. Beberapa di antaranya adalah Halal Food Goes to School, Indonesia Halal Expo, dan Halal Competition. Ia mengatakan, komunitas juga di bentuk melalui dunia media jejaring sosial seperti facebook dan twitter. Sementara, Anton Apriyantono, pengelola Komunitas Halal-Baik-Enak mengatakan, komunitas ini dibentuk sebagai media berbagi ilmu.

Selain itu, komunitas inipun memiliki tujuan meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya pangan halal. Hal yang sederhana, misalnya, mengenai makanan di restoran. Perlu kecermatan umat Islam karena sering mengabaikan apakah makanan itu tergolong halal atau sebaliknya. Komunitas ini, jelas dia, saat ini masih fokus mengenai makanan restoran dan katering .

Pembahasan tak hanya sebatas itu, sejumlah bahan tulisan mengenai produk dan titik kritisnya kerap diunggah dan menjadi bahan pembicaraan. Menurut Anton, respons anggota komunitas bagus dan bahkan banyak pula kelompok diskusi lainnya ikut bergabung. Anton sering pula berbagi informasi tersebut kepada mereka. “Kami ingin menjangkau lebih banyak orang sehingga kesadaran soal pangan halal kian tinggi,” katanya.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on January 5, 2012 in info

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: