RSS

Warisan Kuliner Masyarakat Muslim

03 Jan
Sejarah Kopi dari Islam

Pembuatan kopi Arab secara tradisional. Gambar: coffeebouquet.com

Masyarakat Barat mengira makanan dan hidangan Muslim hanyalah kari, biryani, kebab, chapati, dan baklava. Dugaan itu ternyata salah besar. Dalam ajang konferensi internasional 1001 penemuan yang digelar di Museum Ilmu Pengetahuan dan Industri Manchester (Inggris), dua tahun lalu, terungkap begitu banyak makanan dan masakan yang kini diklaim masyarakat Barat ternyata warisan dari umat Islam. Di era keemasannya, umat Islam ternyata tak hanya melahirkan ilmu pengetahuan, teknologi, serta peradaban yang tinggi. Seni kuliner juga ternyata mendapat perhatian begitu besar dari para sarjana Muslim. Tak heran, jika beragam aneka resep masakan dan hidangan berkembang pada masa kejayaan. Hal itu dibuktikan dengan beragam kitab kuliner yang ditulis para sarjana Muslim.

Seni kuliner menempati posisi yang terbilang penting dalam sejarah peradaban Islam. Apalagi Rasulullah SAW menyuruh umatnya untuk memperhatikan kesehatan tubuh: ”Ina li-jasadika `alayka haqqan (Jasadmu memiliki hak atas dirimu),” begitu sabda Nabi Muhammad SAW. Salah satu cara memelihara dan menjaga kesehatan tubuh adalah dengan menyantap makanan dan hidangan yang halal dan bergizi. Berkembangnya seni kuliner pada masyarakat Muslim di era keemasan berawal dari Revolusi Pertanian. Pada masa itu, masyarakat Muslim Arab sudah mengembangkan beragam jenis sayur-sayuran dan buah-buahan yang sebelumnya tak dikenal. Tanaman sayuran dan buah-buahan itu lalu dikembangkan masyarakat Muslim di Mesir, Suriah, Afrika Utara, Spanyol, serta Sicilia.

Pengembangan seni kuliner di era keemasan tak dilakukan secara serampangan. Setiap hidangan dan resep yang diciptakan merupakan hasil dari penelitian dan didasarkan pertimbangan penata diet. Sebelum sebuah hidangan diperkenalkan kepada publik, para ahli kuliner Muslim meracik resep masakannya dengan penuh pertimbangan. Bumbu-bumbu masak yang digunakan pun merupakan hasil seleksi.

Sehingga hidangan yang diciptakan tak hanya lezat disantap, namun juga mengandung unsur-unsur pengobatan. Hidangan yang disajikan menjadi semacam obat yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh dari penyakit serta mencegah penuaan dini. Untuk itu, para dokter Muslim berlomba untuk mencari dan meneliti rempah-rempah yang dapat dijadikan bumbu masak sekaligus berguna bagi kesehatan.

dijamin mantap.... ^_^

Dokter Muslim yang melakukan penelitian rempah-rempah yang berguna bagi kesehatan itu antara lain; Thabit Ibnu Qurra (836 M – 901 M), melalui sederet risalah yang ditulisnya; Abu Bakar Al-Razi (865 M – 925 M) dalam Al-Hawi fi’t-tibb; Ibnu Sina melalui Canon of Medicine; Ibnu Sa’id al-Qurtubi (abad 10 M) dalam Kitab khalq al-janin wa tadbir al-hibala (diet untuk fetus dan ibu hamil); serta Abu Marwan Ibnu Zuhr (1092 M – 1161 M) dalam buku tentang Nutrisi.

Hasil penelitian para dokter Muslim itu lalu diterapkan para koki terkemuka Muslim dalam meracik makanan dan hidangan yang dibuatnya. Di era keemasan, terdapat sederet buku tentang masak-memasak. Beberapa buku kuliner yang dihasilkan para koki Muslim itu antara lain; Kanz al-fawa’id fi tanwi’ al-maw’id yang ditulis seorang koki tak dikenal dari Mesir; Fadhalat al-khiwan fi atayyibat at-ta’am wa-‘l-‘alwan yang ditulis Ibnu Razin Attujibi pada abad ke-12 di Spanyol.

Selain itu ada pula Kitab At-tabikh fi al-Maghrib wa-‘l-Andalus yang disusun seorang koki tak dikenal di Maroko pada abad ke-12 M; Kitab At-tabikh yang ditulis Mohammed al-Baghdadi pada abad ke-13 M di Irak; Kitab At-Tabikh: ditulis Ibn Sayyar al-Warraq pada abad ke-13 M di Irak; Tadhkira ditulis Dawad al-Antaki pada abad ke-13 M di Suriah; Wasla ‘l-habib fi wasf al-tayyibat wa-t-tibb ditulis Ibnu A’dim pada abad ke-13 M di Suriah.

Awalnya, resep-resep itu hanya beredar di kalangan istana. Setelah itu, barulah masyarakat biasa bisa meracik hidangan sesuai resep yang dibuat para koki andal itu. Saat itu, ilmu gizi telah dikembangkan sebagai salah satu bentuk pengobatan. Penguasa Muslim di era itu sudah memperkenalkan pentingnya menjaga kesehatan tubuh. Di abad ke-13 M, buku-buku gizi beserta resep-resep masakan yang disusun para dokter Muslim menarik perhatian para penguasa, tak terkecuali Gereja di Barat pun ikut kepincut untuk mempelajarinya. Minat untuk mempelajari ilmu gizi beserta resep-resep makanan dan hidangannya semakin berkembang pesat ketika Ferrara, Salerno, Montpellier, dan Paris menjadi pusat untuk mempelajari ilmu kedokteran Islam.

Sejak itu, kalangan aristokrat dan penguasa di Eropa mulai mencicipi masakan dan bumbu masak yang diracik umat Islam. Meski begitu, penduduk biasa di Eropa Utara dibatasi untuk berdiet. Sedangkan, penduduk di Eropa Selatan sudah mulai menikmati hidup lebih baik dengan menyantap salad yang terdiri dari sayuran dan buah-buahan.

Salad dan sop juga merupakan hidangan yang diracik dan disarankan dokter Muslim seperi Al-Razi dan Ibnu Zohr. Selain itu, pasta juga ternyata warisan kuliner Islam. Petualang Muslim pada abad ke-11 M bernama Al-Bakri menuliskannya dalam catatan perjalanannya. Pada abad itu wanita-wanita Muslim sudah membuat pasta untuk jamuan makan. Pasta warisan kuliner Muslim terbuat dari tepung terigu. Jenis tepung khusus diperkenalkan umat Islam ke Sicilia dan Spanyol pada abad ke-10 M. Tak hanya itu, es krim juga merupakan warisan kuliner Muslim. Es krim dalam bahasa Italia disebut cassata yang berasal dari bahasa Arab Qashada (krim). Tempat penyimpanan es juga telah berkembang di masyarakat Islam. Namun, sejumlah dokter Muslim seperti Al-Razi dan Ibnu Sina tak menganjurkan meminum es dingin, karena bisa merusak syaraf.

Pola diet yang dikembangkan sarjana Muslim itu ternyata diterapkan Ratu Cristina selaku penguasa Denmark, Swedia, dan Norwegia. Sejak itu, seni kuliner juga berkembang pesat di Eropa. Masyarakat Barat ternyata tak hanya berutang pada ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan sarjana Muslim. Ternyata masakan dan resep yang dikembangkannya pun banyak meniru dan mengambil dari warisan kuliner Muslim.

Kopi, Minuman Asli Masyarakat Muslim

Menyeruput kopi telah menjadi gaya hidup masyarakat dunia modern. Tak heran, bila kemudian kedai kopi dari kelas bawah hingga kelas atas tumbuh dan menjamur. Minuman hitam yang nikmat itu ternyata juga ternyata warisan masyarakat Muslim di era keemasan. Kali pertama, minuman kopi ditemukan masyarakat Muslim di Yaman pada abad ke-10 M. Di Yaman, kopi diracik sebagai minuman bernama Al-Qahwa. Konon, minuman itu dibuat oleh kelompok sufi agar mereka dapat tetap beribadah serta berzikir sepanjang malam. Kopi menyebar ke seluruh negeri Muslim melalui para pelancong, jamaah haji dan para pedagang.

Minuman kopi mulai dikenal masyarakat Makkah dan Turki di akhir abad ke-15 M. Sedangkan, masyarakat Mesir baru bisa mencicipi kopi pada abad ke-16 M. Masyarakat Eropa baru mengenal nikmatnya kopi pada abad ke-17 M. Kopi masuk ke Eropa melalui Italia. Hubungan perdagangan antara Venisia dengan Afrika Utara, khususnya Mesir menjadi pintu masuknya kopi ke Eropa. Awalnya, hanya kaum berpunya di Eropa yang bisa menyeruput nikmatnya kopi. Untuk pertama kalinya, kedai kopi dibuka di Venisia pada 1645 M. Sejak itu kopi menjadi minuman yang selalu hadir setiap sarapan masyarakat Venisia. Tak heran, jika pada 1763 telah berdiri 218 kedai kopi di wilayah itu.

Kedai kopi pertama muncul di Inggris pada 1650 M. Menurut Darby, kopi diperkenalkan melalui orang-orang Turki. Kopi dibawa ke Inggris oleh seorang saudagar Turki bernama Pasqua Rosee. Dia pertama kali menjual kopi di Lombard-Street. Pada 1658 M, Rosee juga membuka kedai kopi bernama Sultaness Head di Cornhill. Pada tahun 1700 M, di London sudah berdiri 500 kedai kopi.

Kopi mulai dikenal di Prancis pada 1644 M dibawa orang Marseilles yang kembali dari Istanbul Turki. Mereka tak hanya membawa kopi namun juga teknik meracik dan peralatan untuk membuat minuman kopi. Pertama kali, kedai kopi di buka di Marseilles pada tahun 1671 M. Setelah hadir di Italia, Inggris dan Prancis, kopi lalu menyebar ke seluruh benuah Eropa. Masyarakat Jerman mulai mengenal kopi setelah mengalahkan pasukan Turki.

Sedangkan, Belanda membawa biji kopi dari negara Muslim di Asia Tenggara, yakni Indonesia. Masyarakat Amerika justru terbilang paling belakang mengenal dan merasakan nikmatnya kopi. Kopi di bawa ke Amerika melalui orang Prancis.Sejak 1683 M, cara baru mempersiapkan dan meminum baru mulai ditemukan. Minuman kopi pun mulai bervariasi. Masyarakat dunia pun mengenal Cappuccino. Konon, nama Cappucino diambil dari nama biarawan Capuchin yang melawan Turki dalam pertempuran di Winna pada 1683 M.

Minuman Ringan Pertama di Dunia

Bisnis minuman ringan alias soft drink kini begitu menggurita. Sebagian besar binis minuman ringan ternyata dikuasai perusahan Eropa dan Amerika. Ternyata soft drink berawal dan berakar dari komunitas masyarakat Islam di era kejayaan. Minuman ringan yang pertama kali dikembangkan di dunia bernama Sherbet.

Minuman ringan yang populer di dunia Islam itu terbuat dari jus atau ekstrak bunga atau rempah-rempah dan ditambah gula serta air. Bentuknya mirip sirup dan diminum dengan ditambahi es. Sherbet begitu populer hingga awal abad ke-20 M. Pada era itu, masyarakat dunia kesulitan untuk mendapatkan buah-buahan segar.

Sherbet berasal dari bahasa Arab shariba atau meminum. Konon, kata syrup juga berasal dari sherbet. Masyarakat Turki Usmani menyeruput sherbet sebelum dan ketika makan. Di Turki, sherbet disajikan dengan beragam makanan khas Ottoman. Selain masyarakat Muslim Turki, orang Mesir juga memiliki kebiasaan meminum sharaab atau sherbet. Orang Mesir memiliki beragam jenis sherbet atau minuman.

Penulis : hri
REPUBLIKA – Selasa, 15 April 2008.  sumber – http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/khazanah/09/03/13/37235-warisan-kuliner-masyarakat-muslim


Advertisements
 
Comments Off on Warisan Kuliner Masyarakat Muslim

Posted by on January 3, 2012 in Sejarah

 

Tags: , , ,

Comments are closed.

 
%d bloggers like this: