RSS

Kangen Terus Ramadhan

11 Aug

Meski sudah tidak ada lagi suara anak-anak kecil, adek-adek TPA yang rewel, susah diatur dan kadang lucu juga sebagaimana di Ambarrukmo Jogja, Ramadhan kali ini tidak kalah istimewa. Setidaknya sudah 4 tahun ini Ramadhan di luar kampong.

Tahun 2008 menikmati syahdunya Ramadhan di pedalaman Kalimantan Tengah, dan sholat Ied dengan para transmigran. Teman-temanpun ber-25 membuat opor ayam sebagai bentuk syukur dan pelepas kangen atas kampong halaman. Teringat enaknya kelapa muda yang diambil oleh Dino, Dyat dan Rakhman teman di Medco Agro dulu untuk berbuka dengan sirup cocopandan. Ramadhan saat itu menjadi ramadhan paling sepi se-umur-umur. Biasanya banyak kegiatan, di sana senyap. Tarawih pun hanya kita berlima saja. Kajian? Jangan tanya. Majalah Tarbawi Ramadhan di Pedalaman Kalimantan yang dibeli di Pangkalanbun tersimpan dengan baik sampai saat ini mengingatkan betapa susahnya untuk mencari ilmu. Butuh 200 km perjalanan ke kota besar.

Tahun 2009, 2010 dan 2011 Ramadhan di Batu menjadi era baru. Walau kegiatan tidak sebanyak ketika masih di Jogja, namun kegiatan disini lebih dinamis daripada di Kalimantan. Setiap dhuhur ada kajian yang diisi bergilir oleh teman kantor. Sore maupun malam banyak kajian bertebaran di Malang Raya. Tinggal dipilih.

Ada sebuah peristiwa menarik dimana seorang teman yang bertugas sebagai pengisi kultum terawih diingatkan masalah waktu. Ternyata ia tidak sadar bahwa sudah bergitu lama materi yang disampaikan. Padahal masih ada sholat witir. Ada yang berdehem-dehem, ada yang garuk-garuk kepala dan ada yang beringsut pergi. Semua Isyarat tadi tidak dapat direspon dengan baik. Sampai puncaknya ada jamaah yang berdiri dengan membawa jam dinding besar yang diambilnya dari gudang masjid dan tanpa ba-bi-bu langsung ditaruh di depan muka teman saya yang sedang ceramah tadi. Brak! Jam dinding itu menutup lemabran materi di meja khotbah. Teman saya memerah! Malunya bukan main! Tapi itulah manusia. Beberapa jamaah lain setelah sholat terawih selesai berusaha mengiburnya.

Di lain kesempatan, masyarakat tempat nge-kost di daerah Tlekung, Junrejo Kota Batu sering mengadakan acara selametan dan sedekah. Dalam sehari bisa makanan itu sampai 5 keranjang yang mampir kerumah. Masya Allah! Mau dimakan semua, nggak kuat! Akhirnya mubadzir! Tentu setelah lauk-pauknya kusikat. Hehe. Sempat ada bisikan pikiran, andai saja datangnya makanan ini tiap hari, 5 hari tentunya tidak perlu jajan beli buka nih…! Sebuah angan-angan yang akhirnya kubuang jauh.

Ramadhan memang beda! Suasana beda! Tetangga yang sebelumnya ada yang tidak kenal, dengan jamaah di masjid bisa berkenalan dan lebih akrab lagi. Suara tadarus alqur’an dimana-mana. Jamaah sholat wajib pun bertambah berlipat. Kotak infak di masjid, musholla dan berbagai tempat sampai tidak muat. Orang-orang berbondong-bondong sedekah. Acara TV lebih menutup aurat dan penuh hikmah. Ada kajian-kajian hebat, wanita-wanita menutup aurat, programnya pun pilihan seperti PPT (Para Pencari Tuhan) yang sekarang menginjak tahun ke-5.

Kuiingin Ramadhan ini tidak berlalu begitu saja. Acara dan suguhan ilmu itu moga berlanjut di 11 bulan lainnya. Dan semoga kita memperoleh keutamaan Ramadhan itu! Ya Allah berkahilah kami di bulan Ramadhan mulia ini.

baca juga 10 Indikasi “Gagal” Meraih Keutamaan Ramadhan

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on August 11, 2011 in Kisah

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: