RSS

Ketika Waktu Sholat Memanggil

11 May

Tidak semua muslim-muslimah tahu mengenai sholat di kendaraan, tayamum dan jama-qasar. Setidaknya saya pernah mengalami beberapa pengalaman menarik tentang itu. Ketika memakai kereta ekonomi jarak jauh (Jogja-Jakarta atau Jogja-Surabaya) dengan keadaan penuh sesak, bisa dibayangkan keadaan seperti apa yang memungkinkan kita sholat. Apalagi jarak yang jauh itu melewati waktu sholat tertentu. Kebanyakan yang terjadi, gerombolan manusia yang saya yakin banyak yang muslim juga tidak sholat. Namun, di kereta eksekutif (Gajayana) justru saya jumpai kebanyakan sholat, walau ada juga yang masih meninggalkannya. Tempat dan kondisi gerbong berpengaruh signifikan untuk kesadaran dan keyamanan sholat itu.

Perjalanan panjang kemarin dari Bandung ke Surabaya menggunakan bus patas juga sama. Berangkat dari Terminal Cicaheum Bandung jam 11 siang, sampai Surabaya pukul 10 pagi harinya. Hampir 24 jam di kendaraan. Sholat Dhuhur-Asar di kendaraan, Sholat Maghrib-Isya begitu juga dan sholat Subuh. Bus tidak berhenti sama sekali kecuali untuk makan malam sebentar di warteg dan isi bensin. Praktis kami juga tidak bisa berhenti di masjid. Tentunya jika bisa memilih maka kita harusnya memilih bus yang tepat waktu sholatnya, tertib menjaga hak dan kewajiban penumpang. Travel lebih memungkinkan untuk ini. Kalau tidak, ya kita harus sholat di jalan.

Nah, sayangnya itu tadi, tidak semua kita paham tatacara tayamum dan sholat di kendaraan. Bahkan bapak sholeh sebelah saya yang sebelumnya cerita tentang wajibnya seorang yang bekerja sholat waktu tepat waktu belum tahu tatacara sholat di kendaraan. Pengalaman ini begitu jarang sehingga gagap ketika harus diterapkan. Mau nanya, malu. Akhirnya ada yang mendahului tayamum dan sholat dan beliaupun akhirnya menirukan dan beberapa orang dibelakang akhirnya menirukan pula. Sayangnya sang sopir yang muslim juga, justru tidak sholat karena merasa dikejar waktu.

Tatacara Tayamum

Tata cara tayammum Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam dijelaskan hadits ‘Ammar bin Yasir rodhiyallahu ‘anhu,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam mengutusku untuk suatu keperluan, kemudian aku mengalami junub dan aku tidak menemukan air. Maka aku berguling-guling di tanah sebagaimana layaknya hewan yang berguling-guling di tanah. Kemudian aku ceritakan hal tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam. Lantas beliau mengatakan, “Sesungguhnya cukuplah engkau melakukannya seperti ini”. Seraya beliau memukulkan telapak tangannya ke permukaan bumi sekali pukulan lalu meniupnya. Kemudian beliau mengusap punggung telapak tangan (kanan)nya dengan tangan kirinya dan mengusap punggung telapak tangan (kiri)nya dengan tangan kanannya, lalu beliau mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. (HR. Bukhori no. 347, Muslim no. 368)

Dan dalam salah satu lafadz riwayat Bukhori,

“Dan beliau mengusap wajahnya dan kedua telapak tangannya dengan sekali usapan”.

Berdasarkan hadits di atas kita dapat simpulkan bahwa tata cara tayammum beliau shallallahu ‘alaihi was sallam adalah sebagai berikut.

  • Memukulkan kedua telapak tangan ke permukaan bumi dengan sekali pukulan kemudian meniupnya.
  • Kemudian menyapu punggung telapak tangan kanan dengan tangan kiri dan sebaliknya.
  • Kemudian menyapu wajah dengan dua telapak tangan.
  • Semua usapan baik ketika mengusap telapak tangan dan wajah dilakukan sekali usapan saja.
  • Bagian tangan yang diusap adalah bagian telapak tangan sampai pergelangan tangan saja atau dengan kata lain tidak sampai siku seperti pada saat wudhu[17].
  • Tayammum dapat menghilangkan hadats besar semisal janabah, demikian juga untuk hadats kecil.
  • Tidak wajibnya urut/tertib dalam tayammum.

praktik tayamum dapat dilihat disini

Shalat dalam Kendaraan

Orang yang sedang berada dalam kendaraan mengalami situasi yang berbeda. Ada yang di dalam kendaraan itu bisa tenang seperti dalam kapal laut yang besar, adakalanya sesorang tidak merasa nyaman seperti berada di dalam bis yang sempit. Untuk melakukan shalat di kendaraan ini tentunya di sesuaikan dengan jenis kendaraan yang ditumpanginya. Contoh secara umum seperti ini

Rasulullah SAW pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bagaimana cara sholat di atas perahu. Beliau bersabda : “Sholatlah di dalam perahu itu dengan berdiri kecuali kalau kamu takut tenggelam.” (HR. Ad-Daruquthni). Bila selama perjalanan (dengan kendaraan) itu masih dapat turun dari kendaraan, maka hendaknya kita melaksanakan sholat seperti dalam keadaan normal. Tetapi bila memang tidak ada kesempatan lagi untuk turun dari kendaraan seperti bila naik pesawat terbang, maka kita melakukan shalat di atas kendaraan itu.

Pelaksanaan sholat di atas kendaraan pesawat, sama seperti sholat ditempat lainnya. Jika dimungkinkan berdiri, maka harus dilakukan dengan berdiri, ruku’ dan sujud dilakukan seperti biasa dengan menghadap qiblat. Sujud lebih rendah daripada ruku’. Namun jika tidak bisa dilakukan dengan berdiri, maka boleh sholat dengan duduk dan isyarat untuk sholat sunnah.

Sedangkan untuk sholat fardlu maka ruku-rukun sholat seperti ruku’ dan sujud, mutlak tidak boleh ditinggalkan. Sholat fardlu yang dilaksanakan di atas kendaraan sah manakala memungkinkan melakukan sujud dan ruku’ serta rukun-rukun lainnya. Itu dapat dilakukan di atas pesawat atau kapal api yang mempunyai ruangan atau tempat yang memungkinkan melakukan sholat secara sempurna. Apabila tidak memungkinkan melakukan itu, maka sholat fardlu sambil duduk dan isyarat bagi orang yang sehat tidak sah dan harus diulang. Demikian pendapat mayoritas ulama.

Pendapat ini dilandaskan kepada hadist-hadist berikut:

[1]. Dalam hadist riwayat Bukhari dari Ibnu Umar r.a. berkata:”Rasulullah s.a.w. melakukan sholat malam dalam bepergian di atas kendaraan dengan menghadap sesuai arah kendaraan, beliau berisayarat (ketika ruku’ dan sujud), kecuali sholat-sholat fardlu. Beliau juga melakukan sholat witir di atas kendaraan.

[2].Hadist Bukhari yang lain dari Salim bin Abdullah bin Umar r.a. berkata:”Abdullah bin Umar pernah sholat malam di atas kendaraannya dalam bepergian, beliau tidak peduli dengan arah kemana menghadap. Ibnu Umar berkata:”Rasulullah s.a.w. juga melakukan sholat di atas kendaraan dan menghadap kemana kendaraan berjalan, beliau juga melakukan sholat witir, hanya saja itu tidak pernah dilakukannya untuk sholat fardlu”.

Advertisements
 
3 Comments

Posted by on May 11, 2011 in Kisah, Perjalanan

 

Tags: , , ,

3 responses to “Ketika Waktu Sholat Memanggil

  1. islam & pengetahuan

    June 8, 2011 at 06:29

    makasih mas atas tulisanya, sangat membantu bagi saya yg bepergian jauuuuuuuuuuuuuuuuh….
    Islam dan Ilmu Pengetahuan:13::13::13:

    Like

     
  2. taro

    August 6, 2011 at 14:10

    trimakasih….banyak….gan..!

    Like

     
  3. azkiyatuz zahra

    February 1, 2012 at 12:59

    ketika waktu sholat memanggil, maka segerakanlah…
    Sip..

    Like

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: