RSS

Bobot Sebuah Pembicaraan

23 Aug

Perhatikan isi pembicaraan kita, orang-orang di sekitar kita dan bandingkan dengan isi pembicaraan orang-orang besar atau tokoh yang anda kenal, yang anda kagumi. Apakah ada sebuah jarak yang besar yang membedakan isi dan kualitas pembicaraan kita dengan meraka? Setidaknya sampai saat ini? Entah kalau kita nanti terus belajar, mampu memetik setiap hikmah dan akhirnya menjemput takdir kita menjadi orang-orang yang menggantikan mereka.

***

Dalam sebuah forum mulia itu, sang tokoh yang notabene tokoh nasional sangat antusias bercerita hal-hal yang menjadi tantangan negeri ini. Dari yang paling sederhana hingga yang rumit. Dari bobot pembicaraannya, tampak bahwa kapasitasnya memang bukan level orang kebanyakan.  Ia tampak berwibawa. Meskipun begitu, sisi ramahnya sebagai bapak senantiasa tampak dengan menemani sang anak bermain kembang api di halaman rumah.

Ada banyak hal disampaikan yang banyak orang tidak terpikir atau belum sampai memikirkannya. Pengalaman dan jam terbangnya membuat bobot pembicaraannya sangat tinggi. Bahkan dari sebelum berbuka puasa, diselingi lain-lain dan mulai lagi jam 20.00 sampai jam sudah menunjukkan pukul 01.30 pun masih kuat mengutarakan ide-ide briliannya. Idenya besar, fisiknya kuat! Subhanallah.

Tantangan Sebuah Ideologi

Diceritakan, aktivis Islam di Yordania mengutarakan ide-ide perbankkan syariah dan kufurnya sistem riba. Diutarakan hukum-hukum Allah, janji Allah dan laknat yang akan ditimpakan kepada orang yang tidak berhukum dengan syariah. Apalagi justru sistem bank syariah yang diakui dan paling subur malah berkembang di Inggris, bukan di negara Islam. Orang-orang Barat memetik sistem keadilan dan resiko wajar atas investasi yang mereka lakukan. Sang ketua parlemen yang berasal dari pemegang kursi mayoritas pun berkomentar, “Masya Allah, Naudzubillah, saya pun tidak mau terkena adzab Allah. Jika memang sistem itu yang terbaik, ayo terapkan sekarang juga, saya dukung penuh!” Aktivis-aktivis itu pun senang mendapat sambutan antusias, namun hanya cukup sampai disitu saja. Mereka melongo! Instrumen apa yang sekarang dipunya untuk menerapkan itu? Mereka baru punya ide, gagasan, tapi tidak punya langkah operasional.

Berikutnya, diceritakan bahwa kita, Bangsa Indonesia ini kurang akan ahli-ahli terbaik dalam berbagai bidang. Banyak pula akhirnya berbagai problem dalam masyarakat tidak bisa dijawab. Misal, pemerintah menetapkan swasembada daging sapi di 2014. Nah, salah satu caranya adalah dengan inseminasi buatan. Bahkan ada institusi tersendiri yang mengurusi itu yaitu di BBIB (Balai Besar Inseminasi Buatan) Singosari, Malang dengan jargonnya “Setetes Mani, Sejuta Harapan”. Muncullah pertanyaan, bagaimana hukum membuat sapi itu kehilangan hak biologisnya, yaitu tidak bisa kawin karena selalu diambil spermanya saja? Padahal Sudan, tanpa langkah itupun mampu menjadi negeri dengan jumlah sapi yang banyak, 2x lipat dari jumlah penduduknya. Strategi apa yang seharusnya kita tempuh?

Nilai Sebuah Obrolan

Sebuah komunitas bisa dinilai dengan apa yang biasa diobrolkan sehari-hari. Orang yang suka ke diskotik, dengan forumnya akademisi tentu obrolan sehari-harinya berbeda jauh. Organisasi dan birokrasi yang sehat akan berkembang jika di dalamnya suasananya kaya akan ide dan inovasi. Masyarakatpun begitu, jika di lingkungannya yang diobrolkan adalah hal positif dan berkualitas, maka masyarakat itu akan terus berkembang karena punya rasa antusias. Pekan ini melakukan itu, pekan depannya lagi ingin begini, semua tertuang dalam kerja bakti, sistem baru dan kegiatan baru. Misalnya sebuah kampung yang belum punya masjid, bergotong royong membangunnya dengan dana swadaya, kemudian membuat lapangan bola buat anak-anak dan remaja, membuat taman-taman yang indah dan elok dipandang dan kemudian membuat lomba bayi sehat, rumah sehat, keluarga sakinah, dan seterusnya. Ada saja ide-ide kreatif yang muncul.

Andalusia, negeri Islam yang delapan abad berdiri kokoh di tanah Spanyol adalah kisah nyata sebuah pelajaran akan pola hidup yang dapat dinilai dengan obrolan. Awalnya yang dibicarakan adalah, berapa juz tilawah yang dicapai? Apakah tadi malam sholat lail? Berapa kali puasa daam bulan ini? Dan lain sebagainya. Bahkan, seperti generasi sahabat, berapapun harta dunia digunakan untuk bersedekah dan menyebarkan Islam sampai ke ujung negeri. Namun sekian abad berlalu, kemakmuran melimpah ruah, obrolannya pun berubah menjadi, sudah berapa banyak harta yang dipunya? Seberapa luas kebun yang dipanen? Seberapa cantik istri di rumah? Maka kesempatan itu digunakan negara sekitar untuk merebut dan menguasai Spanyol. Semua harta dunia yang dikumpulkan pun akhirnya dijarah. Dan mereka terusir dari negeri yang selama ini telah dicerahkan dengan peradaban tinggi di zamannya.

Mengetahui Pola Pikir, Mengantisipasi Tindakan

Dalam kesempatan lain, Kepala Balai saya, pak Hardiyanto ketika mengadakan syukuran buka dan tarawih bersama di Balitjestro akan suksesnya acara Citrus Spectacular Day dan MURI kemarin malam, memberikan kisah menarik tentang market intelegent. Orang Australia, melalui ACIAR punya perwakilan di setiap benua, dan lebih-lebih di tiap negara di ASEAN. Expert asing itu ternyata sangat menguasai pola pemasaran Jeruk dan buah-buahan di Indonesia Timur, yang kita sendiri kurang begitu kuat databasenya. Hampir tiap daerah dan pelabuhan dia kenal. Buku pun dikeluarkan, tujuannya adalah member informasi pasar selengkap-lengkapnya yang berguna bagi pemerintah Australia. Nah, apa kita juga melakukan itu di negara lain? Riset pasar kita tidak sampai sebegitu intensifnya yang akhirnya berguna untuk pengambilan kebijakan negara.

Mengapa orang barat sangat berkepentingan mempelajari kita, mengetahui cara berpikir kita? Apa pula rahasia di balik ribuan buku yang terbit tentang kita? Mengapa ratusan ilmuwan dikerahkan untuk mengetahui cara berpikir kita?

Anis Matta menjawab dengan bernas dalam bukunya “Menikmati Demokrasi” yaitu bahwa hasil riset mereka (para ahli) akan menjadi dokumen penting bagi departemen luar negeri di semua negara Barat. Hasil riset itu merupakan data intelijen strategis yang melandasi pengambilan kebijakan negara-negara Barat. Untuk sejumlah kasus spesifik, atau apabila ada rencana melakukan manuver ofensif, data intelijen strategis akan diperkuat dengan data intelijen taktis. Dengan begitu kita akan menyaksikan sebuah sinergi yang dahsyat antara tiga institusi penting; perguruan tinggi atau lembaga kajian strategis, dinas intelijen dan departemen luar negeri.

Para pakar mempelajari aspek pemikiran, budaya, kondisi sosial, kondisi pasar, keadaan sumber daya manusia dan alamnya, dan aspek politik. Dinas intelijen mempelajari aspek perencanaan, gerakan, manuver, dan semacamnya. Selanjutnya departemen luar negeri dan institusi terkait membuat kebijakan politik.

Dengan memperoleh “dokumen pemikiran” kita, mereka akan melakukan langkah antisipasi untuk merebut masa depan. Kita mungkin tidak akan pernah bisa menutup diri untuk tidak dibaca orang lain. Apalagi zaman sudah sedemikian maju seperti saat ini. Informasi mudah didapat dari manapun. Ya, itu pekerjaan sia-sia. Kemampuan membaca pikiran orang lain tidak kemudian serta merta membuat mereka sanggup mengantisipasinya. Yang paling penting sekarang adalah berusaha secara sistematis untuk bekerja dengan kapasitas dan kualitas yang sama dengan negara lain. []

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on August 23, 2010 in umum

 

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: