RSS

Negeri Kaya Buah yang Miskin Peneliti Buah

02 Jul

Sebagai negara penghasil buah terbesar di dunia, Indonesia sangat layak memiliki peneliti-peneliti buah yang andal. Keberadaan mereka diharapkan dapat membuka peluang bagi berkembangnya varietas-varietas baru.

Indonesia dikenal sebagai salah satu surga buah-buahan di dunia. Sebagai negara tropis, setidaknya Indonesia memiliki sekitar 3.000 varietas buah-buahan yang tersebar di seluruh wilayah di Indonesia. Setiap daerah biasanya memiliki jenis buah khas, yang hanya tumbuh di kawasan-kawasan tertentu.

Kendati demikian, pengembangan penelitian-penelitian soal tanaman buah dan keberadaan peneliti buah-buahan di Indonesia hingga saat ini masih sangat memprihatinkan. Penelitian soal buah-buahan dirasa masih kurang diminati sehingga jumlah peneliti yang menekuni bidang tersebut pun sangat sedikit.

“Untuk menyebutkan 20 orang saja sulit sekali. Kalau 10 orang mungkin masih bisa disebutkan,” kata Kepala Divisi Pengembangan Proyek Khusus PT Mekar Unggul Sari yang berbasis di Taman Wisata Buah Mekarsari, Mohamad Reza Tirtawinata.

Di antara yang sedikit tersebut, menurut Reza, adalah Rudi Purwanto dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Sobir dari Pusat Kajian Buah Tropika, dan Sumeru Ashari dari Univeritas Brawijaya.

Padahal, lanjut Reza, Indonesia merupakan negara yang begitu kaya dengan berbagai jenis buah-buahan.

Taman Buah Mekarsari saja setidaknya memiliki koleksi tidak kurang dari 1.400 jenis buah-buahan. “Indonesia itu sangat kaya varietas buah-buahan, dan itu belum semuanya digali,” katanya.

Di negara-negara maju, penelitian dalam sektor buah-buahan umumnya dilakukan dalam satu tim. Tim ini meneliti satu komoditas buah. Satu tim bisa terdiri dari 20 peneliti, yang terdiri dari ahli pupuk, hama, bakteri, lingkungan, pengolahan pascaproduksi, dan bidang-bidang lainnya yang terkait.

“Kalau di Indonesia tidak seperti ini. Biasanya satu peneliti menangani sekitar 10 komoditas. Jadi kebalikan dengan kondisi di luar negeri.

Ini yang akhirnya membuat peneliti tidak fokus meneliti dan belum bisa sampai pada tahap seperti di Thailand atau di Brasil yang sudah mencapai taraf rekayasa genetik untuk buah-buahan,” kata Reza.

Padahal, lanjut Reza, kajian buah-buahan tersebut sangat luas dan menyangkut banyak sekali aspek. Tidak sebatas pada rekayasa genetika untuk menghasilkan atau memperoleh varietas-varietas unggul, tapi juga upaya untuk mengubah buah-buahan menjadi produk industri yang bermutu. Selain itu, ada upaya untuk mengembangkan buah-buahan menjadi pelengkap produk obat-obatan.

“Katakanlah dulu orang sama sekali tidak melirik buah mengkudu. Tapi saat ini diketahui kalau mengkudu memiliki manfaat obat untuk banyak penyakit,” ujar Reza lagi.

Hal yang sama terjadi pada buah merah dan mahkota dewa yang ternyata memiliki khasiat untuk menyembuhkan penyakit-penyakit tertentu. “Hasil temuan ini tentu memerlukan banyak sekali penelitian untuk pengembangan lebih lanjut.”

Tidak Peduli

Reza menilai penelitian dan pengembangan buah-buahan seolah-olah menjadi anak tiri dalam sektor pertanian, terutama jika dibandingkan dengan beberapa produk pertanian, seperti beras (pangan) dan palawija. “Sejak awal, sektor buah dianggap sebagai sektor yang tidak memiliki masa depan,” kata Reza yang pernah bekerja di Departemen Pertanian dan menekuni masalah serupa ini.

Menurutnya, jarang sekali perusahaan yang bersedia mengeluarkan dana untuk investasi penelitian di bidang penelitian buah-buahan. Tidak sebandingnya pertambahan nilai ekonomis dari komoditas buah dengan banyaknya biaya yang diperlukan untuk sebuah penelitian dinilai menjadi kendala tidak majunya sektor pengembangan buah di Indonesia.

“Masyarakat kita sudah merasa cukup dengan buah yang diberikan oleh alam sehingga mereka tidak terlalu memedulikan apakah buah durian itu harus dengan kadar alkohol yang sekian persen, bagaimana menghasilkan rasa yang lebih manis dengan daging buah yang lebih kenyal, atau sebagainya,” kata Reza.

Dengan kekayaan jenis buah yang ada di Indonesia, menurut Reza,
fokus penelitian buah-buahan sebaiknya tidak pada upaya menghasilkan varietas, namun lebih pada upaya memperbanyak varietas-varietas unggul untuk kemudian disebarkan kepada petani buah.

“Jadi kalau ada jenis buah yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi, apakah di hutan atau di daerah tertentu, perbanyak saja. Kemudian jenis itu disebar kepada para petani dan biarkan alam yang menyilangkan buah-buahan itu,” katanya.

Tidak hanya itu, Reza mengusulkan agar para pemerhati dan peneliti buah juga memfokuskan sistem pengaturan masa panen buah-buahan tertentu sehingga menjamin ketersediaan buah di pasaran.
“Masalahnya selama ini petani hanya bergantung pada musim.

Saat musim panen, buah melimpah, namun langka saat tidak musimnya. Ini yang harus diatur bagaimana caranya agar buah-buah ini bisa berbuah setiap musim. Dan di sinilah letak tugas para peneliti ini,” katanya.

sumber : koran -jakarta

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on July 2, 2010 in umum

 

One response to “Negeri Kaya Buah yang Miskin Peneliti Buah

  1. Yani BYHQ

    August 18, 2010 at 12:31

    Memang para peneliti buah-buahan di badan litbang pertanian ada juga. Cuma yang menekuni satu buah komoditas khusus buah tersebut memang bisa dihitung dengan jari misalnya untuk peneliti jeruk dari Balitjestro Malang.

    Like

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: