RSS

Cara Mark Antony Menggunakan Sugesti Saat Merebut Hati Rakyat Roma

25 May

Dalam bukunya 12 Aturan Emas Napoleon Hill, ia membuat kisah sangat menarik yang membuatku tertarik memiliki buku ini, yaitu orasi dahsyat Shakespeare yang ia letakkan di mulut Mark Antony saat menjawab komentar Brutus di upacara penguburan Chaesar. Tidak ada literatur lain yang mampu menggarisbawahi prinsip-prinsip psikologi terapan sebaik orasi ini.

game yang asyik, strategi menaklukkan dunia

Argumentasi Adegan

Caesar telah dibunuh dan Brutus baru saja menuntaskan pidato di hadapan massa, mengungkapkan alasannya menyingkirkan Caesar. Alasan-alasan ini telah diterima dan massa percaya padanya. Brutus boleh jadi merupakan sosok yang paling dikagumi dan dicintai di seluruh Roma pada masa itu. Wajar jika pernyataannya diterima dengan mudah tanpa banyak protes.

Di sini, Shakespeare memperkenalkan dua sisi pertanyaan. Pertama melalui Brutus, dan kemudian lewat Anthony.

Setelah menyampaikan pidatonya, Brutus merasa puas dan menang, lalu menutup dan menyudahi penampilan. Namun, sesungguhnya ia belum sepenuhnya meyakinkan penonton. Rakyat Roma belum benar-benar yakin. Dengan keyakinan berlebihan ia terlalu cepat menyerahkan panggung kepada Antony. Namun, massa masih percaya dan tidak akan membiarkan siapapun bermulut lancang kepadanya.

Antony muncul di panggung, dengan massa yang setidaknya separuh bersikap benci dan curiga karena yakin bahwa ia pasti hendak menentang Brutus. Langkah pertamanya adalah menenangkan dan menggiring pikiran mereka ke kondisi reseptif (menetralkan pikiran), karena tanpa ini ia tak akan bisa memulai apa pun. Ia juga harus menghindari sikap “menyikut” pihak lain. Elemen-elemen ini penting untuk meyakinkan penonton secara individual. Penonton Anda harus dibuat sedemikian rupa menerima keyakinan, dan dalam hal ini Anda tidak boleh “menyikut”.

ANTONY: “Atas nama Brutus, saya hadir ke hadapan Anda sekalian.” (naik ke mimbar).
WARGA KEEMPAT: “Apa yang dikatakannya tentang Brutus?”
WARGA KETIGA: “Dia bilang, atas nama Brutus ia hadir ke hadapan kita semua.”
WARGA KEEMPAT: “Memang sebaiknya ia tidak menjelekkan Brutus di sini.”
WARGA PERTAMA: “Caesar memang seorang tiran.”
WARGA KETIGA: “Benar sekali. Kita bersyukur Roma telah terbebas darinya.”
WARGA KEDUA: “Wahai, diamlah! Mari kita dengar apa kata Antony.”
ANTONY: “Warga Roma sekalian, …”
SELURUH WARGA: “Semua tenang! Biarkan ia bicara.”

Pada titik ini para amatir cenderung merusak orasi dengan bersikap pongah di atas panggung, membusungkan dada dan berseru dengan suara yang mengalahkan ukuran tubuhnya sendiri.

Kalau saja Antony menyapa dengan cara ini, sejarah Roma tidak akan seperti sekarang. Demi menenangkan bara di pikiran rakyat, ia memulai:

ANTONY: “Kawan-kawan sekalian! Warga Roma sebangsa dan setanah air, mohon dengarkan. Saya datang untuk mengubur Caesar. Bukan untuk memujinya.” (ini tindakan mengkonsolidasi). “Kejahatan yang dilakukan manusia selalu hidup, bahkan setelah manusia itu mati, sementara kebaikannya terkubur bersama jasad. Begitu pula yang terjadi pada Caesar. Brutus yang terhormat telah menyampaikan bahwa Caesar adalah seorang yang ambisius. Jika memang demikian, ini merupakan cacat yang menyedihkan, dan Caesar telah menjawab dosa itu dengan akhir yang memilukan. Di sini, dibawah naungan Brutus dan kawan-kawannya – saya katakan demikian karena Brutus memang orang yang terhormat dan karenanya mereka juga orang-orang yang terhormat – saya hadir untuk berbicara di upacara penguburan Caesar. Ia sahabat saya, setia dan adil kepada saya.” (Maksudnya, betatapun jelek ia bagi yang lain, ia bersikap adil kepada saya, dan karenanya saya mengaguminya.) –

“Namun, Brutus mengatakan bahwa ia seorang ambisius, dan Brutus adalah seorang yang terhormat. Caesar telah memboyong pulang banyak orang Roma yang ditawan, yang uang tebusannya mampu mengisi uang kas Negara. Apakah dengan begini Caesar tampak ambisius? Saat kaum papa menangis, Caesar turut menangis. Padahal kita tahu bahwa seorang ambisius mestinya bersikap lebih tegas. Namun, Brutus berkata bahwa ia seorang yang ambisius, dan Brutus adalah orang yang terhormat. Kalian telah menyaksikan sendiri saat di Lupercal saya menganugerahinya mahkota raja tiga kali berturut-turut, yang ia tolak pula tiga kali berturut-turut. Apakah ini pantas disebut ambisius, dan yakinlah bahwa Brutus adalah orang yang terhormat. Saya bicara untuk tidak menyanggah perkataan Brutus, tapi berdasarkan apa yang saya tahu. Kalian semua pernah mencintai Caesar, dan itu bukan tanpa sebab. Jika demikian, apa yang menahan kalian berduka saat ini? Wahai tuduhan! Kau berlari bagai binatang liar, membuat orang-orang kehilangan akal. Dengarkan saya! Hati saya berada di peti mati itu bersama Caesar, dan saya harus berhenti sampai hati itu kembali.” (Di sini ia menyulut emosi masa).

Antony telah tiba di langkah pertama hukum mental ilmu penjualan. Ia berhasil merebut perhatian massa. Sadar bahwa mereka tak bisa ditenangkan seluruhnya dan karenanya segera memberi mereka peluang untuk menyela, berbicara, menyela atau berpikir, dengan lantang. Sama halnya, tenaga penjual harus memberi kesempatan pada calon pembeli untuk berbicara di awal wawancara agar mampu mempelajari kelemahan yang lain.

WARGA PERTAMA: “Aku rasa kata-katanya cukup beralasan.”
WARGA KEDUA: “Wahai, jika kau pikirkan lagi, Caesar telah banyak membuat kesalahan besar”.
WARGA KETIGA: “Benarkah begitu, Tuan? Aku cemas situasinya akan lebih buruk jika ia naik takhta.”
WARGA KEEMPAT: “Tidakkah kalian dengar kata-kata Antony? Bahwa ia tak mau menerima mahkota? Karena itu ia pasti bukan seorang yang ambisius.”
WARGA KEDUA: “Malang sekali ia! Matanya memerah sembab oleh duka.” (menaruh simpati pada Antony).
WARGA KETIGA: “Tak ada yang lebih terhormat di Roma selain Antony.”
WARGA KEEMPAT: “Diamlah kalian sekarang. Antony mulai bicara lagi.”

ANTONY: “Kemarin suara Caesar seolah lantang menentang dunia. Sekarang, di sini ia terbaring, tanpa seorang pun sudi memberi penghormatan. Wahai, tuan-tuan sekalian,” (berlagak memuji), “seandainya saya ingin menyetir hati dan pikiran kalian ke arah pemberontakan dan kemurkaan, mestinya saya menyalahkan Brutus dan Cassius. Padahal kalian tahu mereka orang-orang terhormat.” (Perhatikan pemberian sugesti pada kata pemberontakan dan kemurkaan. Diikuti penekanan pada pengulangan.)

Pada titik ini, sudah tiga kali Antony menyebut mereka sebagai orang-orang terhormat. Perhatikan perubahan nada suara dan pengaruh yang dibuat setiap kali kata itu terucap. Pada kali pertama, ia hanya membuat pernyataan. Pada kali kedua, ada sugesti samar yang menyataan keraguan akan kejujuran mereka. Dan kali ketiga, dengan keahlian sempurna ia memainkan kata terhormat dalam sarkasme serta ironi halus, untuk meyakinkan massa pada gagasan bahwa orang-orang ini sesungguhnya jauh dari sosok terhormat.

ANTONY: “Saya tidak akan menyalahkan mereka. Lebih baik menyalahkan yang mati atas kekejian yang dilakukan kepada saya dan Anda sekalian ketimbang menyalahkan orang-orang terhormat ini.”

Saat berkata bahwa ia lebih suka menyalahkan yang mati, Antony tahu bahwa ini mengundang simpati dan belas kasihan massa. Saat menyatakan bahwa ia suka menyalahkan diri sendiri, ia membangkitkan kekaguman terhadapnya, dan ketika menyatakan bahwa ia lebih memilih menyalahkan mereka, ia membangkitkan kebencian serta kemarahan massa terhadap pembunuhan Caesar. (Kini ia membangkitkan keingintahuan massa).

ANTONY: “Di tangan saya ada sehelai perkamen, bertanda segel Caesar. Saya temukan di lemari beliau. Ini adalah surat wasiat Caesar. Wahai betapa seharusnya ini diperdengarkan kepada rakyat, tapi sungguh mohon maaf, saya tak bermaksud membacakan. –Dan sungguh, akan mereka cium sekalian bibir terluka mayat Caesar seraya mencelupkan serbet di darahnya yang suci. Sungguh, mereka memohon selembar rambutnya demi kenangan, dan kala sekarat menyebutkan hal ini di surat wasiat mereka, mewariskan pusaka kekayaan pada anak keturunan.”

WARGA KEEMPAT: “Kami ingin mendengar surat wasiat itu. Bacakanlah, Mark Antony.” (Sudah tabiat manusia untuk menginginkan apa yang hendak dijauhkan darinya.)

Amati sekarang, betapa ahlinya Antony saat tiba di tahap kedua hukum mental ilmu penjualan. Betapa dahsyat ia membangkitkan minat massa, dengan menggelitik rasa penasaran mereka. Tentu saja ia berniat membacakan surat wasiat itu, tapi sengaja ia dorong massa agar memaksanya sebelum ia melakukannya.

SELURUH WARGA: “Surat wasiat, surat wasiat! Kami ingin mendengar surat wasiat Caesar!”

ANTONY: “Bersabarlah, wahai kawan sekalian. Saya tidak boleh membacakannya. Tak perlu kalian dengar isinya untuk tahu betapa Caesar mencintai kalian. Kalian bukan kayu, bukan pula batu, tapi manusia. Dan sebagai manusia, demi mendengar surat wasiat Caesar, pasti kalian akan murka. Membuat kalian marah.” (persis seperti yang diinginkan Antony.) “Lebih baik kalian tak tahu betapa kalian pewaris bagi Caesar, sebab jika kalian tahu, wahai, entah apa yang akan terjadi!”

WARGA KEEMPAT: “Bacakan wasiat itu! Kami ingin mendengarnya, Antony, bacakan pada kami surat wasiat Caesar.

ANTONY: “Maukah kalian bersabar mendengarnya? Bertahan disini barang sebentar? Rasanya saya harus maju lebih dekat agar kalian bisa mendengar. Saya takut disalahkan oleh orang-orang terhormat itu, dengan pisau-pisau mereka yang telah menikam Caesar. Sungguh saya takut.” (Kata pisau dan menikam menyiratkan peristiwa pembunuhan. Lihatlah betapa cepat massa menangkap maksud ini.)

WARGA KEEMPAT: “Orang-orang terhormat itu pengkhianat!”
SELURUH WARGA: “Surat wasiat! Surat Wasiat!”
WARGA KEDUA: “Mereka penjahat! Pembunuh! Surat wasiat!”

ANTONY: “Kalian ingin saya membacakan surat wasiat ini? Kalau begitu, segera bentuk barisan melingkar mengelilingi mayat Caesar, dan akan saya tunjukkan pada kalian ia yang telah membuat surat wasiat ini. Haruskah saya turun dari panggung? Akankah kalian member izin?”

SELURUH WARGA: “Turunlah!”
WARGA KEDUA: “Turunlah!”
WARGA KETIGA: “Kami izinkan!”
WARGA KEDUA : “Beri jalan bagi Antony –wahai, Antony yang terhormat!”

Setelah yakin akan kekuatannya menguasai penonton, Antony berniat mendekat. Ia menyingkirkan penghalang jarak antara mimbar dan lantai ruang Forum untuk memberi kesan genting. Amati nada pertama perintahnya, yang diserukan dengan ramah, saat memerintahkan massa mundur.

ANTONY: “Mohon jangan mendesak. Menjauhlah!”
SELURUH WARGA: “Mundur! Beri jalan!”
ANTONY: “Kalau kalian berlinang air mata, bersiaplah menyekanya. Kalian tahu persis mantel ini. Saya ingat pertama Caesar mengenakannya saat itu sore hari di musim panas, di dalam tendanya, di hari ketika ia menaklukkan Nervii.” (Usaha memancing emosi cinta dan patriotism.)

Mulai titik ini Antony mencoba memancing emosi massa, mengangkat belas kasihan mereka karena “belas kasih setara dengan cinta”, mengipasi bara cinta terpendam mereka kepada Caesar.

ANTONY: “Lihatlah, di tempat ini pisau Caesar melesat. Lihat pula hasil karya kecemburuan Casca. Melalui ini semua Brutus kita yang tercinta ikut menikam. Dan saat ia tarik kembali tikaman besi terkutuk itu, lihatlah bagaimana darah Caesar mengucur ke luar, saat ia terhuyung berlari ke pintu, tapi segera dihadang dan dipukul Brutus. Sebagaimana kalian ketahui, Brutus adalah malaikat sekaligus hakim bagi Caesar. Wahai para Dewata, betapa Caesar sangat mencintainya! Ini sungguh tindakan melukai yang paling jahat! Saat Caesar yang mulai melihat Brutus menikamnya berkali-kali tanpa rasa terima kasih, melebihi tangan-tangan pengkhianat ia mencekik, memecahkan jantungnya, membekap Caesar dengan mantelnya sendiri di kaki patung Pompeii! Dan sementara darah mengalir berceceran, sang Caesar agung tewas. Oh, sungguh kematian mengenaskan, teman-teman sebangsa dan setanah air! Lalu saya, dan kalian, dan kita semua ikut jatuh sementara penghianatan besar meraja di kepala kita. Wahai, betapa kalian semua meratap. Bisa saya rasakan belas kasih kalian muncul karenanya. Menetes bagai emas berharga. Wahai jiwa-jiwa yang baik, kenapa harus menangis menyaksikan luka Caesar yag kini sudah bersaput kafan? Lihatlah di sini, di sinilah beliau sekarang berada, terbaring rusak oleh ulah para pengkhianat.” (Massa kini bisa menerima kata pengkhianat dan dengan sukarela melekatkannya ke para konspirator.)

WARGA PERTAMA: “Wahai sungguh tontonan memilukan!”
WARGA KEDUA: “Wahai Caesar yang mulia!”
WARGA KETIGA: “Wahai, sungguh hari yang menyedihkan!”
WARGA PERTAMA: “Wahai, sungguh tontonan berdarah!”
WARGA KEDUA: “Kami menuntut balas dendam!”
SELURUH WARGA: “Pembalasan! Cari! Bakar! Api! Bunuh! Ganyang! Jangan biarkan pengkhianat hidup!”

Antony masuk ke tahap ketiga –tuntutan. Massa menuntut melakukan apa yang memang diharapkan Antony. Di titik ini banyak penjual kehilangan calon pembeli karena menyalahartikan tuntutan dengan kehendak, terlalu cepat menggiring maksud dan menakuti calon pembeli yang belum lagi dibawa ke tahap keempat. Akibatnya, mereka belum siap menerima si penjual dengan tangan terbuka.

Antony sebagai seorang penjual ahli, bertekad membawa pendekatannya sampai akhir, ke tahap ia menyegel argumen rapat-rapat untuk mencegah kemungkinan penonton terpengaruh dan hilang terbawa bujukan lawan. Sengaja ia simpan argument terakhir dan paling kuat sebagai hidangan penutup, agar mampu meyakinkan mereka sepenuhnya. Perhatikan kartu truf yang digelar Antony pada orasi penutup berikut:

ANTONY: “Tenang, kawan-kawan sekalian sebangsa dan setanah air.”
WARGA PERTAMA: “Harap tenang! Dengarkan Antony yang terhormat berkata.”
WARGA KEDUA: “Kami mendengar! Akan kam ikuti dia! Kami rela mati bersamanya!”

ANTONY: “Kawan yang baik, sahabat yang manis, jangan biarkan saya membawakan banjir bandang pemberontakan.” )Taktik Antony memperkuat tuntutan massa.) “Mereka yang telah melakukan perbuatan ini adalah orang-orang yang terhormat. Sungguh saya tak tahu, duka apa yang telah mereka simpan sampai tega berbuat demikian. Mereka adalah orang –orang bijak lagi terhotmat, dan karenanya, tak diragukan lagi, punya alasan untuk menjawab.”

Amati bagaimana lahirnya makna ganda dari suara Antony dalam pengucapan kata-kata tertentu, dan betapa akuratnya ia menyampaikan opini perihal karakter dan konspirator.

ANTONY: “Kawan-kawan, saya tidak hadir di sini untuk mencuri hati kalian. Saya bukan orator seperti Brutus. Kalian semua tahu saya hanya orang kasar biasa yang mencintai sahabat yaitu Caesar. Dan meraka tahu persis ini memberi saya hak untuk bicara di depan public atas namanya. Saya tak punya kepandaian, tidak pula kata-kata, tidak cukup berharga, tidak punya tindakan, ucapan, atau bahkan ekuatan lidah untuk menggolakkan darah rakyat. Saya berbicara apa adanya, menyampaikan apa yang kalian sendiri juga tahu –menunjukkan luka-luka Caesar, membiarkan mulut saya yang malang dan bodoh ini meluncur tanpa rem. Namun, jika saya seorang Brutus dan Brutus adalah Antony, Antony yang itu akan mengobarkan semangat kalian dan menjiat setiap luka Caesar sampai seluruh batu di Roma bangkit memberontak.”

SELURUH WARGA: “Kami akan memberontak.”
WARGA PERTAMA: “Akan kami bakar rumah Brutus.”
WARGA KETIGA: “Ayo kalu begitu! Ayo, kita cari konspirator-konspirator itu!”
ANTONY: “Dengarkan saya dulu, Teman-teman! Dengarkan saya!”
SELURUH WARGA: “Semua tenang! Dengarkan Antony. Dengarkan Antony yang terhormat!”
ANTONY: “Kawan-kawan, kenapa kalian terburu-buru melakukan apa yang tidak kalian pahami, sementara tidakkah Caesar pantas mendapat cinta kalian? Ssungguh disayangkan kalian tidak tahu. Saya harus katakana kalau begitu. Kalian lupa pada surat wasiat yang saya katakana tadi.”

Antony memasng sejak awal berniat membacakan surat wasiat, tapi sengaja menahannya sampai massa benar-benar lapar dan pikiran mereka berada pada tahap dimana membacakan surat itu akan sangat efektif menuntaskan tujuannya. Inilah kartu truf Antony, yang sengaja ia simpan sampai akhir.

Banyak kalangan penjual, dirundung hasrat menyajikan kebaikan dagangan mereka, malah memainkan kartu truf di tahap awal, jauh sebeum calon pembeli siap menerima. Kalau tindakan ini tidak membuat calon pembeli kabur sejak awal, ia melanjutkan dengan poin-poin argument yang lebih lemah, dan terus berlanjut sampai akhirnya kehilangan penjualan. Ia mencoba mencapai tahap keempat tanpa sepenuhnya membahas tahap pertama, dan biasanya berujung pada kegagalan.

Kini saatnya Antony mengerahkan argument untuk menggiring hasrat mebludak serta ketamakan para pendengar –kelemahan yang jamak ditemui di watak manusia.

SELURUH WARGA: “Benar sekali, surat wasiat itu! Mari bertahan sebentar mendengarnya.”
ANTONY: “Inilah surat wasiat itu, bertanda segel Caesar. Kepada seluruh warga Roma, kepada setiap beberapa orang, ia wariskan uang senilai 75 drachma (satuan uang Yunani Kuno)!”
WARGA KEDUA: “Yang termulia Caesar! Akan kami balas kemarian beliau!”
WARGA KETIGA: “Wahai, Caesar sang raja!”
ANTONY: “Sabar! Dengarkan saya lagi!”
SELURUH WARGA: “Semua tenang!”

ANTONY: “Selain itu, beliau wariskan pula seluruh jerih payahnya –berupa anjang-anjang pribadi dan kebun buah yang baru ditanam di tepi suangai Tiber sebelah sini. Telah ia wariskan semua ini kepada kalian, dan kepada seluruh keturunan kalian untuk selamanya. Kesenangan, hak untuk pergi ke luar negeri, dan menciptakan kembali diri kalian –demikianlah sang Caesar! Siapa kiranya yang bisa seperti ia?”

WARGA PERTAMA: “Tak akan pernah! Tak akan pernah! Ayo! Mari! Akan kami abukan jasad beliau di rumah suci, sekalian bakar rumah pengkhianat itu! Mari, angkat jasadnya.”

WARGA KEDUA: “Pergi, ambil obor.”
WARGA KETIGA: “Bongkar bangku-bangku.”
WARGA KEEMPAT: “Bongkar Pintu, jendela, apa saja.” (Warga keluar membawa jasad Caesar.)

Antony tiba di tahap keempat. Sukses memengaruhi kehendak untuk melakukan perintahnya. Hari itu menjadi miliknya. [zh10]

>> Caesar meninggal dunia pada 15 Maret 44 SM akibat ditusuk hingga mati oleh Marcus Junius Brutus dan beberapa senator Romawi. Aksi pembunuhan terhadapnya pada hari Idi Maret tersebut menjadi pemicu perang saudara kedua yang menjadi akhir Republik Romawi dan awal Kekaisaran Romawi di bawah kekuasaan cucu lelaki dan putra angkatnya, Kaisar Augustus.

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on May 25, 2010 in Artikel

 

Tags: , , , , ,

One response to “Cara Mark Antony Menggunakan Sugesti Saat Merebut Hati Rakyat Roma

  1. hmcahyo

    May 28, 2010 at 11:23

    oo ini blog tentang game ya… heeheeehee, 🙂

    salaman 😀

    Like

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: