RSS

Strategi Pangan

29 Apr

“Control oil and you control the nations, Control food and you control the people” (Henry Kissinger)

Rice paddy, Mie prefecture, Japan

Letusan Tambora (Indonesia) yang menyebabkan suhu global turun 3 derajat Celsius, yang membuat bumi menjadi gelap, ternyata mempengaruhi sejumlah peristiwa penting di jagat ini. Setahun setelah letusan tersebut, Eropa mengalami musim dingin yang hebat. Sejumlah ahli menghubungkan ledakan hebat tersebut dengan kekalahan Napoleon Bonaparte di Waterloo, Belgia pada tahun 1815. Pertempuran itu terjadi pada tahun Juni 1815, dua bulan setelah erupsi Tambora. Pada masa tersebut cuaca Eropa memang kacau balau. Alih-alih panas, kota-kota dirundung hujan begitu deras. Eropa terendam, banjir menggila, transportasi lambat, logistik tidak tersalurkan, pasukan pun mulai kelaparan. Itulah yang membuat Napoleon menyerah.

Napoleon Bonaparte dari Prancis yang pernah masuk Timur Tengah (1798) itu menyebutkan bahwa perjalanan para tentaranya sangat tergantung pada isi perut (an army travels on its stomach). Napoleon mengatakan, mental dan fisik pasukan sangat tergantung dari pangan yang masuk ke dalam tubuh pasukannya.

Saat terjadi revolusi Amerika, mulai muncul istilah ransum yang berarti pasokan pangan bagi anggota militer. Tanggal 4 November 1775 adalah saat pertama kali secara formal ada ransum untuk tentara AS. Pada saat itu ransum seorang tentara terdiri dari 16 ons daging sapi, 18 ons terigu, 16 ons susu, 1,4 ons beras, 6,8 ons kacang-kacangan dan juga sabun bir dan lilin.

Pada Perang Dunia II diperkenalkan teknologi pengalengan (canning) agar ransum pasukan bisa awet. Ketika perang Vietnam, ransum para tentara disiapkan secara memadai hingga memenuhi standar kualitas dan kuantitas untuk pasukan tempur. Pada saat itu mulai dikenal istilah meal ready to eat (MRE) dan dua jenis ransum T (T Ration). Pada masa itu juga diperkenalkan kendaraan dapur berjalan atau MKT (mobile kitchen trailer). Berbagai cara pasokan pangan untuk pasukan dalam perang ini terus diperbarui. Ilmu SCM, Supply Chain Management yang diajarkan di kampus, mulanya juga dari logistik perang yang terus berkembang.

Kemajuan ini terlebih karena peran US Army Natick Research, Development, and Engineering Centre (NRDEC) serta US Army Research Institute of Enviromental Medicine (USARIEM) di Natick, Massachusetts, yang terus mengkaji dan meneliti ransum bagi tentara. Mereka juga mengkaji kebutuhan energi untuk berbagai jenis pasukan dan medan yang berbeda.

Untuk pasukan khusus (special forces) yang berada di medan tempur selama sembilan hari membutuhkan pasokan energi sebanyak 4.099 kilokalori setiap hari. Dalam sehari seorang anggota pasukan khusus ini akan mengalami pengurangan energi sebanyak 1.123 kilokalori.

Politik Pangan Kerajaan Mataram

Sejak awal berdirinya Kerajaan Mataram, beras telah menjadi komoditas politik. Keamanan pasokan beras merupakan salah satu sendi penyokong kekuasaan Ki Ageng Pamanahan, pendiri Kerajaan Mataram.

Apabila penguasa zaman sekarang menggunakan indikator ekonomi, penguasa zaman dulu menggunakan beras sebagai indikator stabilitas ekonomi dan politik serta pencapaian kemakmuran. Sebaliknya tanda-tanda keruntuhan sebuah rezim juga selalu terkait dengan morat-maritnya pasokan pangan.

Serbuan pasokan Trunojoyo dari Madura mengakibatkan Mataram porak-poranda. Raja Amangkurat I terpaksa mengungsi hingga wafat. Situasi ini ditandai dengan morat-maritnya ketersediaan pangan dan banyak pengikutnya yang kelaparan.

Pangan juga menjadi strategi perang Sultan Agung yang menyerbu Batavia. Penaklukan daerah oleh Mataram selalu memperhatikan pasokan pangan bagi pasukan yang hendak menyerbu. Pasukan rahasia selalu diminta mencari daerah yang rata, aman, dan beras murah sebelum dilakukan penyerbuan. Perhitungan tempat yang dijadikan penyangga pangan selalu dilakukan. Jepara salah satu contoh daerah penyangga pangan itu. Taktik isolasi logistik juga dilakukan sebagai bagian untuk menaklukkan lawan. Pasukan Mataram mengisolasi musuh dari pasokan pangan sehingga musuh makan seadanya dan terserang penyakit. Bahkan ketika menyerang daerah timur, pasukan lawan tidak makan nasi tetapi bonggol pisang, umbi kunci dank arena terdesak akhirnya saling berebut, dan juga berkelahi antar pasukan.

Politik Pangan Soeharto

Para penguasa kerajaan Mataram selalu menginginkan kerajaan tercukupi kebutuhan pangan. Kondisi ini menjadi cirri bagi kesuksesan seorang pemimpin dan juga menjadi symbol pemimpin yang dicintai rakyatnya. Penguasa akan gelisah dan merasa kekuasaan akan terancam bila terdapat laporan mengenai panen yang gagal. Pada zaman Raja Amangkurat II, ia sampai meminta agar dilakukan semacam survey untuk mengerahui masalah pangan di kalangan rakyat. Pangan juga menjadi symbol kewibawaan penguasa.

Penguasa juga takut dampak dari kekurangan pangan itu akan menggoncang para pasukan kerajaan dan abdi dalem karena harga beras mahal. Untuk itulah raja selalu mengambil cara agar pasokan beras selalu aman. Petani senang, prajurit tentram, dan abdi dalem tidak mengeluh. Kebijakan ini sepertinya ditiru oleh Soeharto yang menjadikan peningkatan produksi beras sebagai program utama ketika mulai berkuasa. Pada saat yang bersangkutan muncul revolusi hijau yang diadopsi penuh dengan mendatangkan pakar dan juga pembukaan kran investasi asing.

Sumber:
• Andreas Maryoto, Jejak Pangan, Sejarah, SIlang Budaya dan Masa Depan
• Jawa Pos, Murka Tambora Gelapkan Dunia – 25 April 2010

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on April 29, 2010 in umum

 

Tags: , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: