RSS

Tanggung Jawab Komandan

24 Apr

Semua Berawal dari Keteladanan (bagian ke-4 dari 6 tulisan)

crew rindam jaya medco agro, menyempatkan diri mejeng sekitar barak sebelum pulang ^_^

“The most effective leadership is by example, not edict” kata Maxwell. Lebih lanjut Maxwell mengatakan; “A leaders credibility and his right to be followed are based on his life”. Dalam tradisi militer dikenal filosofi kepemimpinan yang diringkas padat dalam formula “Follow me!” Komandan batalyon akan berkata kepada komandan kompi agar mengikutinya, seterusnya kebawah. Filosofi tentara “follow me!” menuntut sang komandan berperilaku dan bersikap benar di mata anak buahnya. Ini masalah keteladanan.

Tentara dalam Keterbatasan

Aku jadi lebih objektif menilai tentara ketika masuk ke komunitasnya. Meski belum bisa dikatakan benar-benar menyeluruh, mata kepalaku semakin terbuka melihat sisi-sisi kemanusiaannya. Ada yang mau menyekolahkan anak susah karena pendapatannya pas-pasan. Harus berpisah sekian lama dengan keluarga karena tugas ke luar propinsi, sampai ke perbatasan negara. Namun sangat bangga ketika harus bertugas ke luar negeri seperti menjadi bagian tentara penjaga perdamaiannya PBB di Lebanon beberapa waktu yang lalu. Karena biasanya yang dikirim terbatas dan merupakan tentara pilihan, terseleksi! Ketika pulang bertugas pun akhirnya mendapatkan pengalaman dan kebanggaan tersendiri.

TNI saat ini memang sedang terpuruk, sudah tidak menjadi anak emas lagi sebagaimana TNI AD ketika zamannya Soeharto. Beberapa dari mereka memang menyayangkan walau presiden sekarang dari mantan TNI namun kekuatan TNI tidak bisa optimal. Memang sih, untuk memutuskan anggaran bukan hanya di Presiden, DPR punya kewenangan untuk memangkas anggaran yang saat ini lebih dibutuhkan ke pendidikan, kesehatan, pangan dan sektor lainnya. Sehingga memang tidak pas rasanya jika dana itu untuk membeli senjata. Walaupun itu senjata untuk menembak para koruptor :), lha koruptor masih bisa digantung kan?

Toh walau begitu kekuatan TNI kita sangat diperhitungkan oleh negara tetangga. Walau di tengah keterbatasan yang ada. Saat latihan bersama, perlombaan dan di lapangan, walau persenjataan kalah, fisik tentara kita terbukti lebih unggul. Ahli-ahli survival kita sering diminta melatih di luar negeri.

Itu Tanggung Jawab Komandan

Ketika waktu sholat, terutama ketika kita di lapang, seringkali hampir diabaikan. Apalagi sewaktu outbound dan survival di Ciampea. Hari itu hari Jum’at. Di Jadwal kita tidak ada waktu untuk sholat Jum’at. Salah satu pelatih saat itu ketika kita tanya perihal jadwal itu menjawab, “nggak papa, kita juga kadang begitu, terutama ketika di lapang. Pagi-pagi ketika harus lintas medan juga nggak sholat Subuh”. Hah? Aku dan temenku terbengong. “Lho dosa lho pak, kok ninggalin sholat?” Jawabannya pun entheng, “itu tanggung jawab komandan, komandan kan yang memberikan perintah”.

TNI Tentara Nasional Indonesia, Diklat, Bela Negara, Pertahanan RI, Tentara

Instruksi sedang diberikan kepada secaba, latihan yang menjadi makanan harian. Mereka adalah orang biasa yang ingin kuat, kerjaannya ya menempa fisik, jiwa dan raga

Wah loyalitas yang salah kaprah. Tapi Alhamdulillah karena bersikeras, dan banyak teman yang mendesak, waktu kegiatan dilonggarkan untuk sholat Jum’at, meskipun ketika datang di lapang dengan truk posisi Imam hampir rukuk. Beberapa malah masbuk karena terlambat satu rakaat. Wah, sholat Jum’at kok bisa telat? :(. Pernah dan sering ketika beribadah, teman yang harus ke gereja juga di hari Minggu, justru dimarahi karena dianggap terlalu lama dan bertele-tele oleh oknum komandan… Duh…Duh…

Tampaknya secara umum inilah potret kita. Bangsa yang lemah karena jauh dari Tuhannya. Entah itu di level pimpinan maupun rakyat jelata. Banyaknya manusia yang berhaji 200.000 lebih yang berangkat ke tanah air tiap tahun, belum membekas ke dirinya sendiri, keluarga, lingkungan dan masyarakat secara umum. Sholat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Semangat kebaikannya pun akan menyebar jika dilakukan dengan betul dan sesuai kaidahnya.

Ditengah keprihatinan itu, masih ada dan banyak yang rajin sekali melaksanakan sholat tepat waktu seperti Serda Lajalil yang asalnya dari Ambon. Ya beliau adalah komandan paling ramah dan bersahaja. Tutur katanya lembut dan sering memberi pengertian kami ketika kami dimarahi akan kesalahan-kesalahan yang ada.

Dalam sistem komando di tentara, atasan memang memegang peran mutlak. Ditaati sepenuhnya. Dan di jajaran elitnya, seperti jajaran perwira memang orang-orang pilihan. Dan semoga itu menjadi modal berharga mengajak yang lain untuk lebih taat pada Tuhannya.

Alangkah kuatnya TNI kita jika secara fisik dan lahiriah mereka kuat, hubungan dengan Allah juga kuat. Karena pertolonganNYA lah satu-satunya yang bisa diharapkan dalam berbagai keadaaan. Keberkahan Allah akan berlimpah. Di dunia dan di akherat. Apalagi ketika mati di medan perjuangan, jika niat karena Allah, Insya Allah menjadi syuhada.

Yang hebat adalah ketidaksukaan terhadap pimpinan, tidak membuat mereka hilang profesionalitasnya. Jangan harap bisa dapat omongan penilaiannya pada atasan, apalagi kita orang luar. Jawaban-jawabannya standar. SIsi manusiawi memang ada, tapi mereka bisa betul-betul professional.

Tidak Ada Tentara yang Mengundurkan Diri

Melihat latihan yang begitu kerasnya, kita pun bertanya-tanya, “Apa ada selama ini tentara yang melarikan diri?” Jawabannya pun tidak terduga, “Tidak ada yang mengundurkan diri, tapi yang kabur sudah banyak!” Oalah… 😀

Tentara masih jadi dambaan, lha buktinya yang saat itu mendaftar dan ikut test menjadi tentara sangat banyak disana. Pendaftar lebih dari 3 kali lipat yang dibutuhkan. Apa ada permainan dalam rekruitmennya? Entahlah. Semoga aja tidak. Sudah sengsara, harus bayar lagi… kasihan.

Dimarahi (Lagi), Harus Merokok 1 Bungkus Sampai Habis

Ada saja pasti kesalahan yang diungkit-ungkit. Dan memang sebelumnya sudah diperingatkan. Seperti teman kami, Felix yang ketahuan beli rokok satu bungkus di warung kompleks. Lha di beli rokok pas tanpa disadari pak John komandan kami juga beli rokok. Ditambah beberapa teman terlambat datang ke kelas, entah karena masih tiduran atau tertidur.

Akhirnya beberapa teman tadi dihukum berdiri di depan. Ada Syukur, Herman, Yan, Brian dan Felix. Yang paling unik ya si Felix tadi. Rokok yang baru saja dibeli langsung disuruh ngabisin. Ada 11 batang yang tersisa. Dan harus habis dihisap sekaligus, tanpa lepas dari mulut. Tangan hanya boleh digunakan untuk mengganti rokok yang mau habis. Jelas, matanya jadi perih. Langsung 11 batang! Nggak kekurangan akal, ternyata beberapa batang rokok disembunyikan di wadah minum yang selalu dibawa di pinggang. Posisi berdiri sambil istirahat memudahkan untuk tidak ketahuan. Setidaknya lumayanlah, 3-4 batang rokok tidak perlu dihisap. Melihatnya saat itu kami kasihan, asap beracun itu membuat matanya perih dan selalu batuk-batuk. Hukuman yang aneh!

Pak John yang saat itu menghukumpun heran lha kok cepet? Ketika dihitung puntung rokok di bawah jendela, jumlahnya juga banyak, 10an batang ada. Kok bisa? Itu adalah sampah-sampah rokok tentara lain yang biasanya dibuang begitu saja di bawah jendela dan sekitar taman. Selamatlah si Felix. Ia sedang beruntung.

Bertemu Adik-adik dari STIP

Habis sholat Dhuhur, ada seorang yang mendekat ke kami dan mengutarakan maksudnya untuk meminjam HP. Saat itu Syukur teman kami langsung meminjamkan HPnya. Ia kasihan melihat sang adik yang sangat kangen sama ortunya, ia ingin menelpon bapaknya. Sekitar 300 peserta baru STIP memang dirindamkan, dan aturan mereka lebih ketat. HP dan semua properti pribadi seperti dompet diminta untuk dikumpulkan. Tampak wajah yang sumringah ketika ia sudah terhubung dengan bapaknya di sebelah. “Kabar baik pak, Sehat! Alhamdulillah”. Sang bapak ternyata juga kangen karena selama beberapa hari mencoba menelpon selalu tidak bisa nyambung.

Setelah kasus penyiksaan senior pada yunior, STIP justru mengalami lonjakan dalam pendaftaran siswa baru. Sebelumnya dari 300-an yang diterima, yang mendaftar 1000, saat itu bisa mencapai 2000 orang. Ikatan dinas tetap menjadi jaminan yang menarik bagi banyak orang.

Meskipun begitu, saat itu (2008), ternyata kekerasan fisik masih terjadi. Bahkan kalau bisa memilih, ia senang di Rindam Jaya karena pelatih tidak pernah main fisik disini. Sedangkan ditempatnya menimba ilmu, ditempeleng itu masih biasa terjadi, ya bahkan setelah kasus ada yang meninggal itu. Senior terus memantau mereka, kalau di Rindam diketahui ada yang “malu-maluin” menurut versi kakak kelasnya, dipastikan sang anak itu jadi bulan-bulanan di kampus nantinya. Ia sendiri mengaku tidak mengalami kekerasan fisik, hanya pernah ditempeleng saja… Ckckck…

Peserta lainnya, BKN-TKI…

Ada banyak memang saat itu yang bersama kami ikut pelatihan di Rindam Jaya. Selain PT United Tractor Astra yang pembukaannya bareng dengan kita, ada juga 1000-an TKI yang akan diberangkatkan ke Hongkong dan Taiwan. Kalo TKI itu sampai masuk RIndam, hmm… perusahaan penyalur bisa lebih dipercaya.

Ketika kami hampir selesai, sudah 2 pekan lebih, ada teman kita di Departemen Pertanian (sekarang Kementrian Pertanian), yaitu dari Badan Karantina yang baru saja masuk dan mengalami hari pertama, persis ketika kami mengalaminya. Ketika itu mereka sedang melewati haling rintang ke-20. Ada beberapa ibu-ibu dan mbak-mbak yang sampai nangis dan muntah-muntah… 😦 maklum, lha kita aja yang putra kepayahan begitu, apalagi beliau-beliau… Tak apa, Badai Pasti Berlalu 🙂

Tips Berlatih di Rindam Jaya

Berikut adalah beberapa tips agar kita enjoy selama mengikuti pelatihan Bela Negara di Rindam Jaya. Beberapa adalah pengalaman kita, yang lain adalah pesan-pesan pelatih atau komandan;

1. Ikut saja aturan yang berlaku
2. Jangan sering membantah dan mempertanyakan aturan, terutama di depan forum, kalau di belakang saat-saat santai nggak papa :), justru disitulah tempat bertanya
3. Yakinlah, badai pasti berlalu (point penting nih :))
4. Gunakan kesempatan untuk belajar sebanyak-banyaknya, interaksi dengan seluas-luasnya
5. Jika tidak mampu jangan paksakan diri, bilang saja. Mereka maklum karena kita memang bukan basicnya militer. Santai aja, jangan takut. Teman kami beberapa hari latihan tidak bisa ikut latihan karena harus istirahat. Malarianya kambuh. Yang lain ada yang diare. Justru akan diobati dan dilayani dengan baik supaya lekas sembuh.
6. Kritis konstruktif, selama kita logis, mereka mau juga memahami. Misal untuk jadwal sholat tadi.
7. Berbagilah dalam kesempitan dan kesenangan. Misalnya ketika sanak saudara berkunjung dan membawa banyak makanan.
8. Berbagi kisah dan cerita hidup di kala senggang dengan teman akan sedikit mengendorkan saraf kita yang tegang. Bercandalah bila perlu.

[zh09] …
bersambung

Test Kesegaran Jasmani, Lari 12 Menit Standar (bagian ke-5 dari 6 tulisan)

Hari ke-12 sesi pagi diisi oleh Letkol Kirjiono, asal Imogiri, Bantul. Orangnya ramah, sosok pengajar yang asyik dan suka silaturrahim. Sempat tukeran HP juga, eh nomor HP. Sebelumnya dilakukan test kesegaran jasmani, lari selama 12 menit. Aku bisa menyelesaikan 5 putaran kurang 1 tikungan. Yang jelas di depan Dyat, Dinno, Iqbal, dan trio kwek-kwek, Desy, Leni dan Nana yang hanya sekali ku-overlap. Sedangkan Rakhman meng-overlap aku 2 kali, ia mampu menyelesaikan 7 kali putaran. Setara dengan tentara pada umumnya. Hebat tenan anak ini.

Banyak manfaat yang bisa dirasakan. Rasa-rasanya sudah biasa dengan rutinitas lari, lari dan lari. Juga aneka latihan fisik lainnya. Tapi kalau ditawari jadi tentara, missal lewat jalur perwira, “Nggak deh!” Serahkan pada ahlinya.

Halang Rintang (HR)

Halangan yang ada sebanyak 20 rintangan. Semuanya menantang dan menguras fisik. Alhamdulillah, aku bisa ikut semuanya. Karena beberapa teman yang kelebihan berat badan untuk tantangan tertentu memang dibolehkan menghindari, lewat dari samping.

Halangan yang paling berkesan buatku adalah HR ke-20 yaitu rintangan berayun dengan tampar melewati 3 meter air kubangan limbah. Yang gagal tercebur dan harus bersih-bersih lagi dengan keras. Aku memang bisa melewatinya, namun 6 jari tanganku terkelupas kulit arinya. Perih! Jari-jari lainnya hanya lecet-lecet. Praktis beberapa hari tanganku kesakitan. Ternyata untuk yang bebannya berat tidak dianjurkan lari mengambil ancang-ancang dari jarak jauh, karena beban tubuhnya akan membuat gesekan di tangan dengan tali tampar semakin kuat. Dan memang teman-teman kelas berat lainnya, terutama si Iqbal mengalami hal serupa. Tangannya lecet walau tidak separah aku.

Mencukupi Gizi

Kantin senantisa penuh, terutama setelah sesi fisik, lari, HR dan lintas medan. Berbagai kelompok yang berlatih sangat banyak, kelompok kami salah satunya. Jajanan yang laris adalah Pocari Sweat, Mizone, dan makanan ringan seperti donat, marning pedas, juga mie godhog. Kegiatan siang dan pergerakan malam sangat menyita energi.

Nasehat-nasehat

Pelatih RIdwan yang ngajak ngobrol sewaktu kompas malam member banyak nasehat:
1. Ambil semua yang baik dari pelatih dan tinggalkan yang buruk
2. Hargai kalo ada yang sedang berbicara
3. Pengabdian 15 tahun, kalau di swasta tentu sudah banyak yang didapatkan, bersyukurlah kalian dan jangan disia-siakan.
4. Hati-hati di Jakarta, banyak copet

_____


Tulisan terkait “Serial Bela Negara” :

01 Bela Negara di Rindam Jaya
02 Badai Pasti Berlalu, Hari-hari awal di Rindam Jaya
03 Jaket Kulit
04 Tanggung Jawab Komandan
05 Hari-hari Mulai “Biasa”
06 Ciampea

Advertisements
 
3 Comments

Posted by on April 24, 2010 in Artikel

 

Tags: , , , , ,

3 responses to “Tanggung Jawab Komandan

  1. kamarul arief

    April 26, 2010 at 14:31

    Komandan yg paling baik dan benar dan bijaksana adalah hatinurani kita sendiri, bukan nafsu harta,tahta dan wanita yg jd komandan, damailah negeriku, damai di bumi, damai di akhirat. Contohlah Nabi Muhammad SAW sbg komandan panutan seluruh ummat, rahmatan lil alamin.

    Like

     
  2. narno

    April 27, 2010 at 05:21

    semoga sukses dalam bertugas

    Like

     
  3. Deden

    April 10, 2011 at 10:06

    kerennnn omm…… hmm kayaknya saya mesti cepet2 turunin berat badan nihh…..

    untuk masuk ke secaba BB max berapa omm?

    Like

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: