RSS

Berani Dewasa

09 Apr

Menjadi anak-anak adalah fase hidup. Tetapi menjadi dewasa adalah keberanian. Maka menjadi dewasa bukan urusan usia –meski usia punya kontribusi– tapi ini soal sikap, soal memilih kadar yang mana dari kebahagiaan yang bertingkat-tingkat.

Adalah Abdullah, putra sang Khalifah Umar bin Abdul Aziz menegur sang ayah yang saat itu beristirahat di ashar yang melelahkan, di hari ketika sang ayah diangkat sebagai khalifah. Sang ayah benar-benar letih setelah seharian mengurus jenazah pamannya, khalifah yang digantikannya, juga menerima kunjungan orang-orang yang menyampaikan do’a takziah.

“Ada apa anakku, aku hanya ingin istirahat sejenak,” Tanya Umar ketika menyusul. Sang anak menjawab, “Apakah engkau bisa menjamin bahwa kematian tidak datang, sementara rakyat engkau di depan pintu sudah menunggu, sedang engkau mengalang diri?” Seketika sang khalifah keluar. Ia sama sekali tidak jadi istirahat.

Maka betapa sedihnya ketika sang anak meninggal mendahuluinya. Selesai sang anak dimakamkan, Umar bin Abdul Azis bergumam, “Semoga Allah merahmatimu wahai anakku. Kamu benar-benar telah berbakti pada ayahmu. Demi Allah aku sangat bahagia, sejak detik pertama Allah mengkaruniakan kamu untukku. Bahkan demi Allah, aku tidak pernah merasa bahagia dan senang melebihi rasa bahagiaku serta pengharapanku di sisi Allah atas kebajikanmu saat aku letakkan kamu di tempat peristirahatan dimana Allah menetapkannya untukmu. Semoga Allah merahmatimu, mengampuni kesalahanmu, serta membalas kebaikan-kebaikan amalmu wahai anakku…”

Orang Tua yang Terlambat Dewasa

Hari-hari ini begitu banyak orang-orang tua yang sangat terlambat menjadi dewasa. Banyak pula anak muda yang tidak pernah menjadi dewasa segera dan menyeberang dari arus kerusakan yang menghanyutkan. Banyak laki-laki pengecut yang mau enak sendiri bermain perempuan tanpa pernah berani dewasa mengambil tanggung jawab pernikahan.

Ada pula penggiat-penggiat kemungkaran yang tak pernah berani dewasa membenarkan kata hatinya yang paling dalam, betapa bangkai-bangkai kemungkaran yang ia sebarkan dengan cipratan minyak wangi tetaplah bangkai.

Atau mahasiswa-mahasiswi pemalas yang tak pernah berani dewasa mengambil peran lebih yang sudah menunggunya. Ia enggan menanggung lelah-letih menghafal dan bergelut dengan sumber-sumber ilmu.

Berani dewasa adalah keputusan jiwa yang sangat tidak sederhana. Sebab ia seringkali berada dalam situasi lahiriyah yang sangat kontras. Kita kanak-kanak misalnya tapi kita harus menuntun hati dan menekan kehendak-kehendak kemewahan yang tak sampai. Kita kaya raya tetapi harus memerangi rasa angkuh dan naluri semena-mena yang dipicu oleh kekayaan itu. Kita punya keterbatasan misalnya, tetapi kita hues berjuang dan menggerakkan agar kita menjadi sesuatu. Kita pintar dan bergelar misalnya, tapi kita harus arif dan terus meyakini bahwa di atas masih ada yang lebih bisa.

Kedewasaan Nabi Yusuf

Bagi nabi Yusuf, keberanian menjadi dewasa adalah potongan hidup yang sangat dramatik. Saudara-saudara tirinya begitu kekanak-kanakan pada mulanya. Mereka berulah, membuang Yusuf. Tetapi keberanian menjadi dewasalah –setelah karunia Allah- yang telah menjadikan Yusuf begitu lapang dan teguh mengambil titian yang terhormat. Bahkan di hari-hari ketika ia kemudian sangat berkuasa untuk menolak permintaan bantuan pangan dari saudara-saudaranya itu, ia justru memberinya dengan Cuma-Cuma. Ia tidak merasa perlu untuk membalas dendam. Terpikirpun tidak. Waktu itu ia bahkan menjadi bendahara Mesir. Malah ia mohonkan ampun kepada Allah atas kesalahan-kesalahan saudaranya.

Berani hidup harus berani dewasa. Hidup ini memang tidak mudah, tetapi alangkah tidak mudahnya hidup tanpa keberanian menjadi dewasa. Bahwa fase demi fase adalah kepastian. Setiap usia punya jenjangnya, situasinya, sulit dan mudahnya. Tapi keberanian menjadi dewasa adalah keniscayaan yang dengannya kita lalui segala fase itu, kita kejar cita-cita akhir kita, di puncak pengharapan akan ridha Allah SWT.

Dari Tarbawi 101 dengan pengolahan seperlunya.

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on April 9, 2010 in umum

 

Tags: , ,

2 responses to “Berani Dewasa

  1. kamarul arief

    April 12, 2010 at 04:37

    berani berubah adalah dewasa, walau perubahan itu tidak nyaman, merubah pola pikir kanak-kanak menjadi dewasa adalah perjuangan berat, jihad terus menerus melawan nafsu yg kekenak-kanakan.

    Like

     
  2. akhnoer

    April 29, 2010 at 09:42

    sangat suka dengan edisi tarbawi yg ini…sayang malah ilang majalahnya….

    Like

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: