RSS

Kecenderungan Harga Pangan yang Menggelisahkan

22 Feb

Lebih dari 50 tahun pertanian dunia dibuat gelisah dengan tren harga pangan dan komoditas pertanian dunia pada umumnya yang terus menurun. Mungkin sudah banyak yang lupa bahwa pada 1960 harga minyak sawit mentah masih 1.102 dollar AS per ton, harga karet alam 3.77 dollar AS per kg, dan harga beras 519 dollar AS per ton. Pada 2000 harga sawit turun menjadi 307 dollar AS per ton, harga karet 68 sen dollar AS per kg, dan harga beras menjadi 201 dollar AS per ton.

Penurunan harga tersebut terjadi dalam situasi penduduk dunia yang terus meningkat dari sekitar 2 miliar penduduk pada 1950 menjadi lebih dari 6 miliar penduduk dunia pada awal 2000-an.

Artinya, dalam tempo lebih dari 50 tahun produksi pangan dunia melampaui kebutuhan yang meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan tingkat kesejahteraan dunia sehingga tren harga riil pangan di pasar dunia menurun terus.

Sekarang kondisi sedang berubah. Kecenderungan harga pangan yang menurun tersebut sudah berbalik menjadi naik. Sebagai gambaran, indeks harga pangan (IHP) dunia pada 2000 adalah 90, meningkat menjadi 115 pada 2005, dan kemudian meningkat menjadi 172 pada Desember 2009. Peningkatan IHP tertinggi berlaku untuk gula dengan nilai IHP 334, yang diikuti berturut-turut produk peternakan 216, bijian 171, minyak dan lemak 169, serta daging 119 pada Desember 2009 (IHP tahun 2002-2004 > 100) (FAO, 2009).

Bergerak paradoksal

Kejadian tren meningkatnya harga pangan periode terakhir ini akan memberikan dampak yang berarti terhadap berbagai sendi kehidupan, khususnya untuk kehidupan masyarakat di negara-negara berkembang, di mana porsi pengeluaran pangannya bisa lebih dari 50 persen dari total pengeluaran rumah tangganya. Bandingkan dengan pangsa pengeluaran pangan untuk masyarakat di negara maju yang kurang dari 10 persen.

Karena itu, kenaikan harga pangan akan sangat memberatkan kehidupan kelompok keluarga berpendapatan rendah dengan proporsi yang jauh lebih besar dibandingkan dengan kelompok masyarakat berpendapatan tinggi.

Sebaliknya, harga pangan yang tinggi mestinya menggairahkan para petani untuk meningkatkan produksi dan produktivitas usaha taninya. Hal inilah sebetulnya yang semestinya mengundang kegelisahan kita, yaitu perbedaan produktivitas sektor pertanian antara negara berkembang dan negara maju adalah sekitar 72 kali (Restucia, Yang, dan Zhu (2008) dalam Agriculture and Aggregate Productivity: A quantitative Cross-country Analysis).

Sejalan dengan ini kita menyaksikan rata-rata luas lahan per petani di negara maju meningkat, sedangkan jumlah petaninya menurun sepanjang waktu. Hasilnya adalah luas lahan per petani di Amerika Serikat sudah mencapai 200 hektar.

Dapat menjadi catatan bahwa jumlah petani dan tenaga kerja pertanian di negara-negara maju hanyalah 3 persen dari angkatan kerja, sedangkan di negara-negara berkembang jumlahnya sangat besar, yaitu sekitar 80 persen (Cai, 2009).

Bandingkan dengan skala usaha tani di Indonesia yang kecenderungannya makin menggurem. Hal ini menunjukkan telah terjadinya transformasi ekonomi nasional kita yang arahnya paradoksal dengan evolusi yang terjadi di negara-negara yang lebih maju.

Gambaran bahwa sektor pertanian tidak mendapatkan prioritas di negara berkembang dapat diperlihatkan, antara lain, oleh kecenderungan nilai agriculture relative development index (ARDI), yaitu indeks yang menunjukkan hubungan proporsional antara rasio nilai produk pertanian terhadap populasi tenaga kerja pertanian dan rasio pendapatan nasional dengan populasi dari suatu negara.

Makin tinggi nilai ARDI, dapat ditafsirkan bahwa sektor pertanian telah mendapatkan prioritas. Ziqiang, Jing, Qi1, dan Yansui (2009) menunjukkan bahwa makin maju suatu negara, makin tinggi nilai ARDI-nya. Hasil riset tersebut menunjukkan bahwa di seluruh negara maju nilai ARDI-nya dalam periode 1980 ke 2004 terus meningkat.

Bahkan, untuk Israel nilai ARDI pada 1980 adalah 0,4543, meningkat menjadi 1,2246 pada 2004, dan ARDI untuk Selandia Baru meningkat dari 0,6313 pada 1980 menjadi 1,0265 pada 2004. Adapun nilai ARDI Indonesia menurun dari 0,4634 pada 1980 menjadi 0,3675 pada 2004. Fenomena seperti Indonesia ini berlaku untuk semua negara berkembang.

Yang lebih merepotkan lagi apabila penurunan ARDI tersebut disebabkan oleh penurunan produktivitas ekonomi nasional secara keseluruhan. Adamopoulos dan Restuccia (2009) dalam The Size Distribution of Farms and International Productivity Differences menunjukkan bahwa setiap 75 persen penurunan dalam produktivitas nasional (economy-wide productivity) akan menyebabkan peningkatan persentase tenaga kerja pertanian dari 2,5 persen sampai 53 persen, dan penurunan rata-rata skala usaha pertanian dan produktivitas tenaga kerja pertanian dengan kelipatan lebih dari 20 kali.

Padahal, Gollin et al, (2002) menunjukkan bahwa pertumbuhan produktivitas pertanian (bukan produksi) yang tinggi merupakan prasyarat tingginya pertumbuhan ekonomi nasional.

Peningkatan peran riset

Hasil riset Adamopoulos dan Restuccia (2009) serta Gollin et al, (2002) masing-masing memberikan implikasi kebijaksanaan yang sangat penting: betapa pentingnya pencapaian produktivitas ekonomi nasional secara keseluruhan agar transformasi ekonomi dapat terwujud dan betapa pentingnya pula mewujudkan tingkat pertumbuhan produktivitas pertanian yang tinggi.

Sumber utama peningkatan produktivitas adalah riset dan inovasi. Fuglie et al, (1996) menunjukkan bahwa manfaat dari adanya riset pertanian dan investasi dalam sumber daya manusia (social rates of return to agricultural R&D, extension, and education) sebagai berikut.

Social rates of return untuk semua riset dan pengembangan (R & D) di bidang pertanian 40-60 persen, ilmu dasar 60-90 persen, R & D swasta 30-45 persen, penyuluhan 20-40 persen, dan pelatihan petani 30-45 persen. Namun, negara-negara berkembang pada umumnya tidak memberikan prioritas untuk melakukan investasi di bidang ini.

Sebagai ilustrasi dapat diambil kasus dalam bidang kelapa sawit, yang dalam tiga dekade terakhir berkembang pesat di Indonesia. Abiola Adebowale menyatakan bahwa sampai dengan 1971, Nigeria merupakan pengekspor utama kelapa sawit dunia.

Namun, Nigeria mengalami stagnasi ekonomi dan posisinya itu disusul oleh Malaysia pada 1971. Penyebabnya adalah kurangnya perhatian Pemerintah Nigeria kepada kelapa sawit karena pengaruh negatif dari booming minyak bumi pada waktu itu.

Sebaliknya Malaysia konsisten dalam kebijakannya, khususnya dalam investasi di bidang R & D dan sumber daya manusia sehingga sekarang industri berbasis kelapa sawit di Malaysia sudah menjadi industri yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.

Untuk mencapai posisi tersebut, sebagai ilustrasi, pada 2002 Malaysia mengeluarkan biaya investasi dalam R & D sekitar 95,2 juta dollar AS untuk sawit dengan jumlah peneliti 188 orang dan 19,1 juta dollar AS untuk karet dengan peneliti 33 orang (Stads et al, 2005).

Di Malaysia pengeluaran per ilmuwan mencapai 500.000 dollar AS per tahun pada 2007, meningkat dari 344.000 dollar AS per tahun pada 2002 (Abiola Adebowale). Bandingkan dengan tenaga peneliti kelapa sawit dan karet di Indonesia pada 2009 adalah masing-masing hanya berjumlah 57 orang dan 74 orang, dengan dukungan pembiayaan masing-masing hanya Rp 19,6 miliar dan Rp 7,2 miliar (Wicaksono, 2010).

Dari seluruh uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa persoalan struktural dan persoalan rendahnya kapasitas pertanian merupakan persoalan kompleks yang saling berkaitan satu sama lain.

Apabila pada era 1970-an solusi kekurangan pangan diatasi dengan revolusi hijau, pada era mendatang persoalannya jauh lebih kompleks, bukan sekadar membangun infrastruktur dan menerapkan teknologi produksi, melainkan menuntut adanya perubahan struktural dan kultural yang menyeluruh.

Gagasan pengembangan food estate perlu diterjemahkan dalam konteks upaya menyeluruh dalam transformasi ekonomi yang bisa dan kuat membalik arus paradoksal di atas melalui rancang bangun struktural dan kultural yang mampu menangkap unsur-unsur kompleksitas zaman yang akan datang.

Agus Pakpahan

Pengamat Ekonomi Pangan. Sumber Kompas

KOMPAS/ARUM TRESNANINGTYAS
Carik (42) menabur pupuk urea bersubsidi di sawah miliknya di Desa Tegalluar, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu ( 2 0/ 1 ) .

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on February 22, 2010 in Riset

 

Tags: , , , , ,

One response to “Kecenderungan Harga Pangan yang Menggelisahkan

  1. HIMATITAN

    March 5, 2010 at 12:05

    ikut National Product Desain Competition

    HI-GREAT 2010

    Like

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: