RSS

Solusi Praktis Membangkitkan Buah Nusantara di Pasar Domestik dan Ekspor

29 Jan

Latar Belakang

Merangkum dari para pembicara sebelumnya, kendala-kendala yang dihadapi buah nusantara dalam usahanya untuk ‘bangkit’ dan lebih eksis di pasar domestik dan ekspor dapat dikelompokkan sebagai berikut:

  1. Kenyataan bahwa keanekaragamanhayati buah-buahan nusantara merupakan salah satu yang terbesar di dunia, tetapi produksi dan pemasarannya masih terkesan ‘seadanya’.
  2. Sentra produksi buah-buahan tertentu menurut kecocokan agroklimatnya mulai berkembang dalam 15 tahun terakhir, tetapi belum dapat mencukupi jumlah permintaan dan kontinuitas pasokan buah ke pasar.
  3. Penanganan pascapanen, pengemasan, transportasi dan distribusi buah-buahan yang sangat mudah rusak (perishable) pada umumnya belum dilaksanakan dengan baik.
  4. Sangat sedikit varietas ‘mapan’ buah nusantara yang dikenal luas oleh masyarakat, kebanyakan adalah varietas ‘tak bernama’, sehingga mutu buah di pasar tidak bisa konsisten. Sebaliknya buah-buahan impor datang lengkap dengan segala atribut dan merek dagangnya.
  5. Informasi dan publikasi mengenai buah-buahan nusantara unggulan masih sulit didapat dan kurang gencar dipromosikan, sehingga baru sebagian kecil masyarakat awam yang mengetahuinya.

‘Potret’  Kondisi Buah Nusantara saat ini

Berbicara mengenai buah nusantara, kita perlu mengetahui posisinya saat ini dari kacamata masyarakat awam yang membeli dan mengonsumsinya.  Tempat yang paling awal untuk mengenal buah nusantara adalah dengan mendatangi pasar buah, baik itu penjual buah pikulan, pasar tradisional, gerai/toko buah, pasar swalayan, hingga ke hotel.

Pada umumnya para pedagang/penjual buah hanya mengenal buah dari jenis/ spesiesnya seperti papaya-mangga-pisang-jambu, tetapi jarang yang mengenal varietasnya secara tepat. Contohnya yang seringkali salah kaprah adalah papaya Dampit dijual dengan nama papaya Bangkok, mangga Gadung tertukar dengan Arumanis, pisang Sereh disebut pisang Susu, dan jambu Citra dinobatkan sebagai jambu Thailand.  Memang sampai saat ini yang mengenal betul perbedaan varietas-varietas buah nusantara adalah para peneliti atau praktisi hortikultura. Masyarakat awam kurang mendapatkan informasi dan pengetahuan yang memadai mengenai keanekaragaman buah nusantara yang sangat banyak ini.

Kelemahan ini masih ditambah dengan kenyataan di pasar tradisional bahwa mutu, ukuran, dan penampilan dari satu varietas buah sangat beragam. Semuanya tampil dalam kondisi sangat ‘bersahaja’ dipadukan dengan kiat berdagang yang tricky, misalnya:

  1. Buah memar, lebam atau penyok karena pengemasan yang tidak memadai. Diperkirakan lebih dari 30% buah menjadi afkir karena rusak atau busuk.
  2. Getah berlelehan atau embun jelaga mengotori permukaan kulit buah
  3. Buah dipanen muda atau diperam sehingga rasanya masam dan manisnya tidak maksimal.
  4. Beberapa buah berukuran besar diletakkan ‘di atas’ untuk mengelabui konsumen, sedangkan semakin ‘ke bawah’ tumpukan ukuran buah semakin kecil.
  5. Aneka varietas durian bertumpuk menjadi satu gundukan dijajakan di tepi jalan. Negosiasi awal adalah ‘bicara manis’ (tidak manis, tidak bayar), tetapi seringkali berakhir dengan bersitegang urat leher karena perbedaan persepsi ‘rasa manis’ itu seperti apa.

Semua ini bermuara kepada kesimpulan bahwa buah nusantara itu Kecil-Kusam-Dekil-Masam (KKDM), sehingga pada akhirnya konsumen enggan (atau lebih tepatnya: kapok!) membeli buah nusantara.

Ironisnya, hal sebaliknya terjadi pada buah-buahan impor. Nama-nama apel Fuji/ Washington, anggur Red Globe/Thomson seedless, jeruk Sunkist/Kino mandarin, pir Yang Lie, bahkan durian Monthong sudah sangat melekat dibenak konsumen.  Penampilan bentuk, ukuran, warna, dan rasa buah sangat seragam sehingga mudah diingat, mudah dicari, dan mudah diperoleh. Konsumen dimudahkan dan dimanjakan, tidak repot memilih dan tidak perlu bertengkar.  Mahal sedikit, cincay-lah!  Nasionalisme rendah?  Tidak juga!

Tetapi mengatakan bahwa buah nusantara selalu kalah dari buah Thailand, nah itu pertanda rendah diri, minder, atau ‘kurang Pe-De‘. Kenyataannya durian Monthong, papaya Bangkok, dan jambu air Citra yang kesohor, semua asal-usulnya dari Indonesia!

Thailand lebih pandai memanfaatkan kelambanan kita dengan ‘menyalip ditikungan’ dan mendapatkan ketenaran nama dan keuntungan secara komersial.

Apa yang mau Dibangkitkan?

Tentunya buah nusantara kesayangan dan kebanggaan kita ini yang akan dibangkitkan. Kalau harus dibangkitkan, berarti sekarang sedang jatuh, tidur, atau minimal ‘duduk santai’. Akibatnya buah-buahan impor malang-melintang di bumi yang gemah ripah loh jinawi ini.

Untuk membangkitkan buah nusantara ini maka banyak hal yang harus dibenahi, dilaksanakan, dan ditingkatkan mulai dari:

  1. Pemilihan jenis buah: (a) yang diminati pasar domestik,  (b) yang dikehendaki pasar ekspor; sebaiknya difokuskan hanya beberapa jenis buah pilihan utama dulu.
  2. Penyediaan benih unggul dari jenis/varietas buah yang diminati pasar tadi, sebaiknya bibit dari Pohon Induk Tunggal yang sudah resmi ditetapkan oleh Pemerintah.
  3. Pengembangan Sentra Produksi di wilayah yang cocok agroklimatnya dengan jenis buah tadi, dan memiliki kecocokan dengan budaya masyarakat/petani setempat.
  4. Pengetahuan terapan tentang cara bertanam yang baik (Good Agricultural Practices), penanggulangan hama dan penyakit, pengairan dan pemupukan, hingga ke usaha membuahkan di luar musim.
  5. Proses pascapanen, sortasi, grading, pengemasan, transportasi, hingga distribusi ke pasar konsumen akhir masih harus terus dibenahi.
  6. Promosi yang berkesinambungan, rutin dan terjadwal tentang buah-buahan nusantara kepada masyarakat awam melalui mass media, pameran, bursa, festival, pariwisata, kuliner, lomba, dan beraneka kegiatan lainnya.

Dari butir (1) bisa diambil contoh buah mangga. Untuk pasar domestik, mangga Arumanis masih merupakan favorit utama konsumen lokal. Rasa manis yang kuat, aroma harum, dan tekstur daging buah yang lembut tidak berserat menjadi kekuatan utama dari varietas ini. Bila orang awam ditanya: “Mangga apa yang paling anda sukai?”  Maka 8 dari 10 orang Indonesia akan menjawab: “Arumanis”. Artinya varietas ini sudah menjadi “Top of mind“, yaitu secara otomatis menjadi jawaban pertama yang diingat dan terekam dalam benaknya. Untuk pasar ekspor, tampaknya mangga Gedong Gincu menjadi andalan yang lebih tepat.

Pasar Eropa menghendaki mangga yang berukuran seragam kecil-sedang (100-150 gram), kulit berwarna menarik (merah, oranye), rasa manis dengan sedikit asam, tahan lama disimpan, serta mudah penyajiannya atau cara makannya.  Kriteria ini cocok dengan deskripsi varietas Gedong Gincu. Karena itu tidak sesuai jika kita memaksakan kehendak bahwa mangga Arumanis itu yang paling enak (menurut kita) dan layak diekspor, padahal konsumen berbeda selera perihal kriteria buah yang ‘paling enak’.

Pengembangan Sentra Produksi Buah menjadi pilihan prioritas untuk berkebun buah-buahan nusantara, dengan memperhatikan dua hal utama:  kecocokan lahan/agro-klimat, serta budaya masyarakat petani yang ‘terbiasa’ menanam buah-buahan tertentu.  Sentra Produksi Buah adalah suatu hamparan/kesatuan wilayah yang cocok untuk ditanami jenis buah-buahan tertentu, misalnya: mangga di pantai utara Jawa Timur, rambutan di Kab. Subang, manggis di Kab. Bogor, jambu air di Kab. Demak. Luasan dari sentra produksi ini menjanjikan hasil panenan yang cukup besar untuk memenuhi pasar-pasar kota besar di sekitarnya. Dengan adanya sentra produksi, banyak kegiatan yang dapat diefisienkan dan disinergikan antara lain:  ketersediaan tenaga kerja, pemenuhan kebutuhan sarana produksi pertanian (pupuk, pestisida), pembentukan Koperasi, pengangkutan hasil panen, penanganan pascapanen, hingga ke faktor keamanan kebun.  Faktor terakhir inilah yang masih menjadi kendala besar bagi perusahaan swasta atau pengusaha perkebunan yang berniat membuka kebun buah berskala komersial.

Bila Pemerintah ingin mendorong pembukaan perkebunan buah berskala komersial maka salah satu alternatif yang dapat dilaksanakan adalah dengan ‘menitipkan’ embrio perkebunan buah ini kepada perusahaan perkebunan besar (sawit, karet, kopi, kakao) yang sudah sukses beroperasi.  Dengan mencanangkan konversi 1% saja dari lahan perkebunan besar tadi menjadi lahan perkebunan buah-buahan, maka dari setiap 10.000 hektar perke-bunan sawit misalnya, harus ada ’embrio’ perkebunan buah-buahan seluas 100 hektar. Sistem manajemen skala perkebunan, modal yang memadai, dan faktor keamanan hasil panen, relatif sudah tertangani dengan baik pada perusahaan perkebunan besar, sehingga menangani ’embrio’ kebun buah bukan merupakan pekerjaan yang terlalu sulit. Kesuksesan embrio ini diharapkan akan ‘menggetok tular’ kepada masyarakat di sekitar perkebunan, sehingga akhirnya dapat berkembang menjadi Sentra Produksi Buah yang baru.

Kecocokan lahan dan agroklimat merupakan salah satu syarat terpenting untuk menjamin keberhasilan produksi buah-buahan. Banyak masyarakat awam atau ‘petani kota’ yang masih gemar mencoba-coba (trial and error) menanam jenis buah di tempat yang kurang sesuai dengan karakter tanamannya. Hal ini merupakan pemborosan biaya, waktu, dan tenaga, padahal sumberdaya untuk memulai suatu usaha kebun buah tidak sedikit dan memerlukan waktu lama.

Begitu juga dengan budaya masyarakat petani yang sudah secara turun-temurun bercocok tanam pohon buah-buahan akan lebih menjamin keberhasilan dari pada memaksakan perubahan pekerjaan dari petani palawija menjadi pekebun tanaman keras.  Suatu contoh yang sukses adalah perubahan petani buah di Demak yang dahulu bertanam belimbing dan kini berganti menjadi bertanam jambu air.  Kedua jenis buah ini mempunyai karakter yang sama yaitu berkulit tipis sehingga mudah diserang lalat buah.  Namun bagi petani buah Demak, keahlian membungkus buah sudah diwariskan turun-temurun sehingga merubah kebiasaan membungkus belimbing menjadi membungkus jambu air tidak menjadi hambatan.  Dengan harga jual jambu air yang mencapai tiga kali lipat harga belimbing, maka lambat laun seluruh kebun dan pekarangan petani berubah menjadi sentra produksi jambu air.  Dua varietas yang terkenal adalah jambu Delima dan jambu Citra. Pada tahun 2007, bapak Menteri Pertanian Dr. Anton Apriantono bahkan sempat melakukan panen perdana pada saat panen raya di kelurahan Betokan, Demak.

Perbedaan Tingkat Kesiapan Buah Menuju Pasar

Setiap jenis buah seperti papaya-mangga-pisang-jambu mempunyai tingkat kesiapan yang berbeda menuju pasar, baik itu pasar domestik, apa lagi pasar ekspor.  Papaya dan pisang adalah buah tanpa musim yang setiap saat tersedia di pasar.  Masalah-nya adalah pada tingkat mutu buah yang diminta oleh segmen pasar yang berbeda.  Sebagai contoh: pasar tradisional dapat menerima segala macam tingkat mutu papaya yang ada di pasar, karena segmen pembelinya selalu ada. Tetapi di toko-toko buah atau swalayan, mutu papaya lebih terseleksi dan harga jualnya kepada konsumen menjadi lebih mahal. Yang paling mahal adalah mutu paling tinggi disertai dengan kontinuitas ketersediaan setiap saat, seperti kontrak pembelian untuk restoran atau hotel.

Mangga Gedong Gincu seperti contoh di atas adalah buah yang siap menuju pasar ekspor. Selain kriteria ukuran-warna-rasa-daya simpan yang diminta konsumen, sentra produksi juga sudah terbentuk dan berkembang sesuai dengan meningkatnya permintaan pasar. Contoh lain yang justru ‘kedodoran’ masuk pasar ekspor antara lain adalah manggis. Permintaannya demikian besar dan tidak pernah tercukupi, tetapi sentra produksi belum siap memenuhi permintaan karena berbagai kendala yang masih ada. Kendala ini mulai dari penyediaan benih tanaman unggul terbatas, pertumbuhan tanaman yang sangat lambat, musim panen buah yang singkat, penyakit getah-kuning pada daging buah, serta penampilan kulit buah yang sering blurik.  Padahal dari data ekspor buah Indonesia ke mancanegara, manggis termasuk jenis yang paling tinggi setelah nenas.

Solusi Praktis

Dalam usaha membangkitkan buah-buahan nusantara menjadi ‘raja di negeri sendiri’, tidak ada solusi praktis yang dapat menyelesaikan semua permasalahan dengan segera. Tetapi salah satu solusi yang bisa dipraktekkan dengan dampak cukup signifikan adalah  promosi buah-buahan nusantara yang berkesinambungan, rutin dan terjadwal.

Salah satu usaha memperkenalkan buah-buahan varietas baru di Taman Wisata Mekarsari adalah dengan mengundang sebanyak mungkin peliputan melalui mass media, ataupun mendatangkan pengunjung dengan kemasan acara-acara yang menarik.

Tahun lalu di bulan Nopember ketika Simposium Internasional Buah-buahan Tropis diselenggarakan di Bogor, sebanyak 150 peserta dari 28 negara berkunjung ke Mekarsari untuk menyaksikan pelepasan varietas baru ‘Nangkadak’ yaitu persilangan antar spesies nangka >< cempedak.  Usaha promosi seperti ini mengharumkan tidak saja nama Mekarsari, tetapi sekaligus Indonesia sebagai salah satu penghasil buah-buahan tropika terdepan di dunia.  Seyogyanya momentum ini dimanfaatkan untuk mendorong produksi buah nusantara ke pasar ekspor mancanegara, tentunya dengan membenahi berbagai kendala yang menjadi hambatan pada saat ini.

Dari waktu ke waktu secara konsisten Mekarsari berusaha menyajikan berita tentang varietas buah yang baru dihasilkan atau baru ditemukan (dari hutan), maupun hasil introduksi. Hal ini perlu untuk mengingatkan masyarakat bahwa sebenarnya surga buah-buahan tropika itu ada di Indonesia, dan kita belum sepenuhnya mengenal, apa lagi memanfaatkan karunia alam tersebut.

Berbagai kegiatan seperti pameran, festival, lomba, bursa diselenggarakan secara berkala, sehingga sepanjang tahun tidak pernah sepi dari kegiatan promosi buah-buahan. Bahkan acara hiburan seperti panggung musik bersama grup band atau penyanyi yang sedang ‘naik daun’, juga dititipi dengan pesan memperkenalkan buah nusantara. Sesuai dengan motto:  “Tiada hari tanpa buah”, maka gebrakan promosi buah nusantara ini seharusnya diangkat ke tingkat nasional melalui kerjasama berbagai stakeholder yang berkepentingan kepada bangkitnya buah nusantara.

>>Makalah ini dibawakan pada “Seminar Nasional Buah Nusantara” di Bogor, 28-29 Oktober 2009 yang lalu oleh Dr. Ir. Mohamad Reza Tirtawinata, MSm, Pakar buah tropika PT Mekar Unggul Sari, Taman Wisata MEKARSARI, Cileungsi, Bogor

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on January 29, 2010 in Riset

 

Tags: , , , , , , ,

One response to “Solusi Praktis Membangkitkan Buah Nusantara di Pasar Domestik dan Ekspor

  1. firman

    January 29, 2010 at 06:39

    Berita yang sangat menarik. mari kita produksi dan konsumsi buah hasil nusantara kita sendiri, karena buah kita adalah yang terbaik.
    selain buah semua hal yang berkaitan dengan nusantara kita harus kembangkan, banyak berita top nusantara lainnya bisa didapat di http://www.topberita.com/nusantara

    Like

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: