RSS

Sejak Dini Cinta Negeri

14 Jan

Melihat ratusan anak-anak kecil yang berseragam TK berlarian dengan sesekali ibunya melarang ini-itu di sebuah kantor apalagi kantor pemerintah adalah hal yang langka. Apalagi selama ini kesan kantor itu formal, tenang dan tempat orang dewasa bersliweran. Namun tidak begitu halnya dengan kantor kami yaitu Balitjestro (Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Sub Tropika). Justru beberapa kali kantor ini yang menyatu dengan kebun koleksi buah menjadi ajang rekreasi anak-anak untuk mengenal buah dan cara menanamnya. Mulai dari jeruk, apel, anggur dan lengkeng. Sedangkan stroberi ada di kebun lain yang terpisah yang masih satu kota yaitu di Kliran, Kota Batu.

Beberapa waktu lalu ketika menonton televisi, sebuah pusat penelitian LIPI juga dikunjungi banyak adik-adik, tapi yang ini anak-anak SD. Mereka dikenalkan dengan berbagai fasilitas penelitian dan beberapa koleksi yang ada di LIPI. Mulai dari ikan purba, jenis-jenis laba-laba dan lain-lain. Lengkap!

Liburan kemarin memberi kesempatan yang luar biasa bagi banyak keluarga mengajak semua anggotanya untuk berwisata ke Mekarsari. Wisata buah tentunya. Dengan membayar seharga tertentu misalnya, selama 30 menit bisa bebas memakan durian sebanyak-banyaknya. Tentu bagi penggemar durian ini tawaran yang menarik. Apalagi sebenarnya durian kita tidak kalah daripada durian Monthong Thailand. Kita lebih banyak variasinya dan keunikannya. Tinggal promosi dan budidaya secara massal saja. Dan hal itu sudah dilakukan Kementrian Pertanian dengan program 66 Kawasan Pengembangan Hortikultura yang dimulai di tahun 2008 kemarin untuk beberapa komoditi buah unggulan yaitu buah-buahan ekspor utama antara lain pisang, nenas, alpukat, jambu biji, mangga, manggis, jeruk, pepaya, rambutan, langsat/duku, durian, semangka, melon dan buah-buahan lainnya.

Ajari Sejak Dini Cinta Negeri Ini

Pengenalan ‘cinta’ terhadap produk lokal (dalam negeri) dan potensi bangsa ini memang seyogyanya diterapkan kepada anak-anak. Instrumen yang bisa digunakan sangat banyak, mulai dari keluarga, sekolah (TK, SD, SMP, SMA), organisasi kemasyarakatan dan edukasi dalam bentuk media (buku, televisi, iklan, baliho, dll). Keberhasilan industri sapi perah di Thailand tak lepas dari program ini. Setelah sang Raja Thailand tersebut berkunjung ke Eropa dalam studi banding industri sapi perah, Thailand kemudian mengambil kebijakan dengan menggratiskan susu sapi untuk anak-anak SD. Hal itu menjamin produk dari peternak terserap pasar karena semua hasil produksi dijamin pemerintah pasti terbeli. Selain itu asupan gizi buat anak juga meningkat. Dan ketika dewasa kebiasaan minum susu itu terbawa sehingga akhirnya peternakan sapi perah bergairah dalam jangka panjang.

Indonesia bisa saja melakukan itu semua. Industri sapi perah dan perkebunan buah-buahan, kerajinan tradisional, dll perlu dirangsang agar jangka panjang bisa mandiri. Saat ini industri susu lebih memilih impor dari Australia dan Selandia Baru daripada menyerap susu dari peternak lokal, alasannya karena harga tidak kompetitif. Secara bertahap kita perlu mengajak generasi baru, yang sekarang masih kecil-kecil ini untuk peduli dan menggairahkan industri lokal dalam jangka panjang. Karena untuk memperoleh harga yang kompetitif dengan produk luar negeri, pola usaha dan skalanya harus diubah, lebih besar.

Kunjungan dan darma wisata ke museum, lapang, lokasi penelitian, objek wisata untuk generasi imut-imut ini harus sering dilakukan. Tidak hanya menjadi bentuk refresing tetapi anak-anak menjadi tahu dan peduli pada apa yang dimakannya dan bagaimana prosesnya (jika ke kebun/ladang). Kalau perlu sering-sering saja diajak menanam padi dan merasakan langsung asyiknya berladang. Sehingga mereka lebih menghargai dan tergerak secara massal untuk ikut terjun menyukseskannya secara langsung (dengan bergelut di agrobisnis) maupun tidak langsung, menjadi konsumen yang tenggang rasa terhadap harga yang naik sewaktu-waktu. Bagaimanapun juga, petani juga butuh sejahtera ^_^ [zh]


>> foto koleksi balitjestro


Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on January 14, 2010 in Artikel

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: