RSS

Jogja (Aku) Kembali

23 Dec

Awal bulan Desember ini, bersama teman-teman se-kantor menyempatkan menghadiri walimah pernikahan salah seorang peneliti di Jogja. Kesempatan ini dimanfaatkan untuk sekalian wisata, suatu hal yang sudah didamba setahun ini karena tiap karyawan, setiap bulan sudah menyisihkan uang untuk ditabung. Rencananya mau ke Bali, tapi karena ada acara walimah di Jogja, ya sekalian saja ke objek wisata di sekitar Jogja yaitu Borobudur, Parangtritis, Kraton, Malioboro, Beringharjo, Pabrik Bakpia dan Prambanan. Kesempatan ke Jogja sungguh sangat menyenangkan, kembali bisa berjumpa dengan kampung halaman yang ngangeni.

Kraton Jogja

Semua objek wisata itu pernah kukunjungi, tapi yang paling berkesan adalah Kraton, karena paling lama tidak pernah dikunjungi lagi sejak kecil. Ternyata memang sudah banyak berubah di dalamnya. Beberapa pertanyaan mengemuka dari pemandu kepada rombongan kami. Karena saya orang Jogja, maka sering ditanya dan disuruh menjawab sama teman-teman. Lah ternyata beberapa pertanyaan tidak bisa dijawab. Seperti hitungan tahun pembuatan di simbol naga, makna pohon ditanam di kompleks kraton, makna ini-itu… Aduh filosofinya banyak banget. Sampai nggak tahu semuanya… ^_^  Ditanya, kapan terakhir ke Kraton? “Wah nggak inget, sudah sejak kecil.” Ibu pemandu pun menimpali, “Wah, kebangeten! Diragukan wong Jogjane!”… Hehe. Memang sih saya sering banget main di sekitar Kraton, yaitu di Panembahan rumah Sunu, di Patehan, di Kadipaten, dan sekitarnya tapi untuk masuk kraton sendiri, ya itu, jarang buanget. Mungkin karena merasa dekat jadi justru tidak segera menyempatkan menengok. Saya yakin banyak warga Jogja juga begitu. Tapi setidaknya saya sudah kesana baru saja, sedikit lebih tahu dan mengerti.

Beberapa simbol di Jogja adalah Tugu golong gilig (tugu Yogyakarta) yang menjadi batas utara kota tua menjadi simbol “manunggaling kawulo gusti” bersatunya antara raja (golong) dan rakyat (gilig). Simbol yang melambangkan yaitu persatuan antara khalik (Sang Pencipta) dan makhluk (ciptaan). Sekarang lebih dikenal dengan sebutan Tugu Jogja dengan tinggi 1/3 dari Tugu Jogja Asli yang rusak karena peristiwa gempa dan bangunan dirubah oleh penjajah Belanda. Tugu Jogja sudah kehilangan makna. Malah ada lambang Yahudi juga di situ, suatu lambang yang tidak dikenal di adat Jawa. Tuntutan untuk mengembalikan ke bentuk semula sudah sering dikemukakan pihak Kraton dan budayawan Jogja. Entah kapan direalisasikan.

Ketika masuk dijelaskan oleh pemandu, “Pintu Gerbang Donopratopo berarti “seseorang yang baik selalu memberikan kepada orang lain dengan sukarela dan mampu menghilangkan hawa nafsu”. Dua patung raksasa Dwarapala yang terdapat di samping gerbang, yang satu, Balabuta, menggambarkan kejahatan dan yang lain, Cinkarabala, menggambarkan kebaikan. Hal ini berarti “Anda harus dapat membedakan, mana yang baik dan mana yang jahat”.

Beberapa pohon yang ada di halaman kompleks keraton juga mengandung makna tertentu. Pohon beringin (Ficus benjamina; famili Moraceae) di Alun-alun utara berjumlah 64 (atau 63) yang melambangkan usia Nabi Muhammad. Dua pohon beringin di tengah Alun-alun Utara menjadi lambang makrokosmos (K. Dewodaru, dewo=Tuhan) dan mikrokosmos (K. Janadaru, jana=manusia). Selain itu ada yang mengartikan Dewodaru adalah persatuan antara Sultan dan Pencipta sedangkan Janadaru adalah lambang persatuan Sultan dengan rakyatnya. Pohon gayam (Inocarpus edulis/Inocarpus fagiferus; famili Papilionaceae)bermakna “ayem” (damai,tenang,bahagia) maupun “gayuh” (cita-cita). Pohon sawo kecik (Manilkara kauki; famili Sapotaceae) bermakna “sarwo becik” (keadaan serba baik, penuh kebaikan) . (Wikipedia)

Banyak Klenik

Ya, itulah  banyak adat di Jogja yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Mungkin ini jugalah penyebab banyaknya pergerakan Islam kuat dan berpusat di Jogja. Ada Muhammadiyah salah satunya. Yang terakhir kemarin misalnya mubeng beteng Kraton 7 kali dengan mbisu (diam). Pihak Keraton sudah bagus, mengeluarkan statemen bahwa itu bukan acara resmi kraton tetapi acara yang diselenggarakan oleh paguyuban abdi dalem. Semoga ke depan, budaya syirik, klenik dan bid’ah bisa dihilangkan sehingga sy’iar Islam seperti sekaten, dll mampu menjadi sarana dakwah yang efektif.

Kalau menjadikan sebagai budaya, dan mengisahkan bahwa dulu begini-begitu, artinya lambang ini begini-begitu, dst,  sehingga kita bisa ambil ibrohnya tampaknya tidak mengapa. Karena daya tarik Jogja ya di sisi budaya. Perlu dicari solusi yang terbaik. Bagaimana menjadikan wisata budaya yang justru mengajarkan dakwah Islam sebagaimana diinginkan pendahulu2 Kraton. Apakah Kraton perlu disebut lagi dengan Kasultanan Ngayogyakarta, ini juga perlu pendalaman sejarah kembali. Yang pasti perannya untuk penyebaran agama Islam di Jawa sudah terbukti.

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on December 23, 2009 in Activity

 

Tags: , , , , , , , , ,

One response to “Jogja (Aku) Kembali

  1. Rudi

    December 23, 2009 at 09:54

    welcome to jogja Nif 😎

    Like

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: