RSS

Kadang, Selesaikan Masalah dengan Melupakannya

18 Apr

retakanHidup kita memang tidak akan pernah lepas dari masalah, seperti yang sudah kita maklumi. Bahkan, tidak jarang keceriaan yang kita nikmati dalam waktu yang sesaat, justru meninggalkan luka berkepanjangan. Namun, hidup tentu tidak hanya kumpulan masalah. Karena kita hidup hanya sebentar, dan untuk itu ia harus dinikmati. Keceriaan dan kebahagiaan harus lebih mendominasi hidup ini daripada masalah yang hanya memangkas jatah usia. Dan untuk menghilangkan masalah itu, kadang kita perlu dan harus melupakannya. Bagaimana cara melupakannya?

Melupakan dengan Membiarkan Hari-hari terus Berputar

Yakinlah bahwa zaman tak akan berada pada kondisi yang sama terus menerus. Hari-hari pasti berganti. Kegagalan akan segera berganti dengan keberhasilan, begitu juga keberhasilan tidak selamanya bersama kita., sebab Allah SWT berfirman, ”Hari-hari itu Kami pergilirkan di antara manusia.” (QS. Ali Imran : 140)

Melupakan dengan Memaafkan Kesalahan

Melupakan juga bisa dilakukan dengan cara memaafkan, baik dengan memaafkan diri sendiri, ataupun orang lain yang mungkin punya kontribusi nyata dalam masalah berat kita.

Melupakan dengan Meninggalkan Masalah itu dan Menghapus Jejaknya

Tidak mudah memang menghapus masalah dari ingatan buruk kita di hari-hari kelabu bersamanya. Sebab kesan dan pikiran yang terlanjur terukir di benak kita memang sulit untuk dihapus begitu saja. Bahkan seolah ia terus membelenggu kaki dan tangan kita sehingga kita seperti tak kuasa melakukan apa-apa untuk keluar dari masalah tersebut.

Sahabat Umar bin Khattab adalah orang yang banyak melakukan kesalahan di masa jahiliyahnya. Kita tahu bahwa sebelum masuk Islam, ia pernah mengubur anak perempuannya hidup-hidup. Ia juga terkenal dengan sifatnya yang emosional dan acapkali membuat onar. Dalam perlombaan-perlombaan minum arak, ia bahkan kerap menjadi pemenangnya. Tapi setelah keislamannya, ia mendatangi semua tempat di mana ia dulu ia pernah melakukan kesalahan, lalu menyampaikan kebenaran di sana untuk menghapus masa lalunya yang kelam.

Meski demikian, ia masih kerap saja mengingat masa lalunya, hingga terkadang ia menangis dan terkadang pula tersenyum sendiri karenanya. Tetapi ia tidak pernah berhenti mengubur masa lalu dengan menghapus jejak-jejak kesalahannya, dengan segala cara dan kekuatan dan keutamaan ytang Allah berikan kepada-Nya, demi mengangungkan Islam agama barunya.

Termasuk cara menghapus jejak masa lalu adalah dengan meninggalkan atau menjauhi orang-orang yang pernah membantu kita melakukan kesalahan itu. Karena jika kita tetap berada dalam lingkaran mereka, jejak-jejak kesalahan itu tidak mustahil akan menyeret kita kembali ke sana.

Melupakan dengan Merelakan Masalah Kita Kepada Allah

Jika kita mendapat cobaan yang sulit, tak ada yang pantas kita lakukan kecuali berdoa dan menyerahkan semuanya kepada Allah, tentu dengan tetap melakukan hal-hal yang lain secara serius. Seperti halnya kesalahan dan kealpaan yang akan mendapat balasan berupa siksa, dan segera terhapus setelah kita bertaubat, maka masalah-masalah yang kita hadapi akan segera lenyap dan berlalu setelah kita memperbaiki diri dengan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah SWT. Sebab semua masalah itu ada di tanganNya.

Ada seorang laki-laki dari suku Bani Abbas meninggalkan desanya untuk mencari beberapa ekor untanya yang tersesat. Selama tiga hari ia pergi meninggalkan rumahnya. Dia adalah orang kaya yang Allah karuniai banyak biantang ternak; unta, kambing, dan sapi, dan juga karunia keluarga yang besar. Kekayaannya demikian melimpah. Kesenangan dan kebahagiaan meliputinya dan keluarganya, seolah-olah bencana tidak akan pernah menimpa dirinya.

Di malam itu, seluruh keluarganya tertidur lelap tanpa dirinya. Lalu Allah mengirimkan banjir besar yang membawa bebatuan. Seketika rumahnya hancur dan seluruh keluarganya binasa tak tersisa, lenyap seakan mereka belum pernah ada sebelumnya.

Setelah tiga hari, lelaki itu kembali ke rumahnya. Dia hanya mendapai tanah kosong yang menunjukkan bekas-bekas kehidupan. Ia terkejut, dan selang beberapa saat ia sadar bahwa ia telah kehilangan semua keluarga dan harta miliknya. Cobaan tidak hanya berhenti di situ, ketika ia berusaha menangkap seekor untanya yang hendak kabur, sebelah kaki unta itu menendang kedua belah matanya sehingga ia mengalami kebutaan. Tinggal ia di gurun luas seorang diri, seraya berteriak minta tolong.

Tak lama, seorang Badui mendengar teriakannya, lalu orang itu membawanya kepada Al Walid bin Abdul Malik, Khalifah Damaskus saat itu. Ketika ditanya perasaannya mendapat musibah yang luar biasa itu, jawabannya sangat singkat, “Aku ridha kepada Allah.”

Kalimat itu adalah kalimat dahsyat yang diucapkan seorang Muslim yang mengamalkan ajaran kebenaran tauhid dalam hatinya, sehingga Allah membuatnya lupa dengan penderitaan yang baru saja menimpanya.

Begitulah seharusnya sikap seorang Muslim yang ingin terbebas dari masalahnya; melupakan masalahnya dengan merelakannya kepada Allah SWT, bukan menjadi orang yang dikatakan Allah, “Barangsiapa yang menyangka bahwa Allah sekali-kali tiada menolongnya (Muhammad) di dunia dan di akhirat, maka hendaklah ia merentangkan tali ke langit, kemudian ia pikirkan apakah tipu dayanya itu dapat melenyapkan apa yang menyakitkan hatinya.” (QS. Al Hajj : 15)

Melupakan dengan Menghibur Diri dengan Aktifitas yang Disukai

Masalah itu akan semakin berat kita rasakan jika ia begitu menguasai diri kita, menguasai perhatian, pikiran, hati, perasaan, dan jiwa kita. Seakan kita tidak mempunyai perasaan lain terhadap sesuatu selain kepada masalah itu. Karena itu kita perlu penyeimbang, dan perlu sesuatu yang bisa mengalihkan perhatian kita dari masalah tersebut, yang membuat jiwa dan perasaan senang dan beristirahat. Inilah cara lain kita melupakan masalah.

Ibnu Taimiyah rahimahullah menceritakan, bahwa ia pernah jatuh sakit dan dokter yang menanganinya mengatakan kepadanya bahwa aktifitas membaca dan memberi ceramah akan memperburuk kondisi tubuhnya. ”Aku katakan kepadanya bahwa aku tidak mungkin meninggalkan kebiasaanku itu. Dan kalau pun mungkin, aku ingin menguji ilmu dokter itu, ” Kata Ibnu Taimiyah.

Ia bertanya kepada dokternya, ”Bukankah jika jiwa berbahagia, rasa sakit pun akan hilang.” Dokter itu mengiyakan. Karena itu dia mengatakan, ”Jiwaku menemukan kesenangan, kedamaian dalam membaca dan memberi ceramah, dan ilmuku bertambah.” Dokter itu pun berseru dan mengakui bahwa kondisi sang imam di luar jangkaun ilmu pengetahuan.

Seperti itulah masalah yang kita hadapi. Ia akan semakin berat dan menyiksa kita, jika kita sendiri menempatkannya pada posisi yang ”terhormat: dalam jiwa kita. Tetapi jika kita menyepelekannya, lalu mengalihkan perhatian kita pada hal-hal yang kita sukai, maka dengan sendirinya ia akan mengecil dan menghilang secara perlahan-lahan.

dari Tarbawi 189

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on April 18, 2009 in Artikel

 

Tags: , ,

2 responses to “Kadang, Selesaikan Masalah dengan Melupakannya

  1. ell

    June 9, 2009 at 12:50

    cara ini membuat saya sedikit sadar bahwa tidak selamanya kita berlarut-larut dalam kesedihan karena masalah yang kita alami.

    Like

     
  2. lisma

    January 20, 2010 at 03:42

    ingin melupaakan masalah masa lalu, tp kadang datang lagi krn ada kejadian yang mirip.

    jadi harus ikhlas melupakan …

    Like

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: