RSS

Menyalahkan

24 Jan

marahKetika ada anak kecil sedang bermain dan tiba-tiba tanpa diduga terjadi kecelakaan, misalnya jatuh hingga berdarah, memecahkan kaca jendela sehingga pecah, kaki atau tangan terjepit, lantas siapa yang disalahkan? Anak kecil itukah? Tentu saja tidak! Tentu kita semua sepakat menunjuk hidung orang tuanyalah yang kurang mengawasi. Jadi apapun yang terjadi dengan anak kecil, orang tuanyalah yang salah. “Kenapa anak ini sakit dan kurus? Kenapa kurang gizi? Kenapa giginya hitam dan keropos? Kenapa anaknya nakal?” Bukan sang anak yang salah, tapi orang tuanya. Orang tuanya tidak bisa mendidik dan merawat dengan baik.

Sekarang yang terjadi dengan kita, “Kenapa tidak lulus-lulus?” Dengan mudah kita menjawab, “Dosennya killer, dosennya sulit ditemui (super sibuk), bahannya sulit”. Orang bertanya, “Kenapa sie bagian Anda tidak jalan?” Dengan mudah pula dijawab, “Ketuanya kurang memberi arahan, teman-teman sulit diajak kumpul, sedang sibuk kerjaan lain”. “Kenapa rapat yang sudah diagendakan tidak datang?” dengan mudah pula dijawab, “karena tidak diingatkan lagi.” Dan seabrek alasan lain. Bahasa yang digunakan adalah senantiasan menyalagkan orang lain dan mencari faktor eksternal.

Tentu dengan cara seperti itu, tidak ada bedanya dengan anak kecil. Memang baru sebegitu saja tingkat kedewasaan kita. Semua yang terajdi mencerminkan pilihan-pilihan yang diambil.

Kenapa tidak segera lulus? Karena sering tidak fokus. Padahal kegiatan organisasi atau kebutuhan mencari penghasilan bisa sejalan seiring dengan akademis. Atau terkadang terlalu asyik dengan kegiatan yang sebetulnya itu juga sudah bukan porsinya, alias porsi dari junior dan penerusnya. Kalau masalah dosen yang terlalu sibuk, bisa melobi jurusan untuk diganti dosen lain yang leobih kooperatif. Semua ada jalan keluar. Kenapa program kerja tidak jalan? Bisa jadi karena porsi koordinasi kurang sehingga masing-masing merasa sudah dikerjakan orang lain. Jadi beban terasa menumpuk banyak.

Menyalahkan orang lain terhadap hal yang menimpa diri kita pada dasarnya adalah menciptakan energi negative bagi diri kita sendiri. Menyalahkan orang lain membutuhkan energi besar. Kita akan kehilangan kontrol atas diri kita dan menjadi tidak berdaya (powerless). Kebahagiaan kita menjadi bergantung kepada orang lain yang tidak dapat dikontrol. Kita menjadi korban, menjadi objek bukannya subjek. [] zh-23/01/09

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on January 24, 2009 in Artikel

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: