RSS

Dengan Izin Allah, Saya Bisa!

15 Dec

Malas beramal adalah penyakit hati, banyak diantara kita yang sudah ikut beratus-ratus atau beribu-ribu kajian tetapi tidak mau beramal, tanpa kontribusi nyata untuk dakwah, hanya mau diliqo’, enggak mau ngliqo’i, mau jadi pengurus tapi enggak mau aksi, demo, atau ”yang ekstrim-ekstrim gitu lah” -katanya. Nggak mau jadi pemandu AAI, enggak mau diminta njemput ustadz, enggak mau jadi mentor mentoring atau follow-up nya, karena tiga kata, ”Saya tidak bisa”. Kebalikannya, kita dapati orang yang over PeDe dalam beramal asal-asalan dengan mengatakan tiga kata ”Ah itu mudah”. Dua-duanya adalah kalimat yang buruk, kalimat yang mencerminkan keruhnya hati seseorang, ucapan kita yang beramal seharusnya, adalah: ”Dengan izin Allah, saya bisa”

”Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya Aku akan mengerjakan Ini besok pagi, Kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah.” dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan Katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini”. (QS al-Kahfi: 23-24)

(Menurut riwayat tentang diturunkannya ayat ini adalah, ada beberapa orang Quraisy bertanya kepada nabi Muhammad saw. tentang roh, kisah ashhabul kahfi (penghuni gua) dan kisah Dzulqarnain lalu beliau menjawab, datanglah besok pagi kepadaku agar Aku ceritakan. dan beliau tidak mengucapkan Insya Allah (artinya jika Allah menghendaki). tapi kiranya sampai besok harinya wahyu terlambat datang untuk menceritakan hal-hal tersebut dan nabi tidak dapat menjawabnya. Maka turunlah ayat 23-24 di atas, sebagai pelajaran kepada Nabi; Allah mengingatkan pula bilamana nabi lupa menyebut Insya Allah haruslah segera menyebutkannya kemudian.)

Atau dalam sebuah kejadian yang diabadikan dalam al-Qur’an, kisah seorang bapak dan anak yang berserah diri pada Allah swt., kisah yang menyemarakkan ’Idul Qurban setiap tahunnya oleh umat Islam sekarang, yak, kisah Ismail as. dan ayahandanya, Ibrahim as., sebuah fase kata ’Insya Allah’ terekspos jelas disana.

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS ash-Shaffat: 102)

Umat Islam saat ini dapat diibaratkan seperti sebuah kapal yang sedang menabrak gunung es di samudera luas lautan, atau bahkan sudah menabrak dan sedang tenggelam perlahan-lahan.

Sedangkan diatas kapal terdapat tiga tipe orang, tipe pertama, dia tidak faham kalau kapal yang ia tumpangi sedang tenggelam, dia terlalu asyik untuk sekedar memikirkan masalah itu, seakan permasalahan bocornya kapal bukan merupakan masalahnya. Dia merasa tidak punya beban untuk ditanggungnya, ya, karena dia berfikir bocornya kapal bukan kesalahannya, dan dia rasa cukup orang lain yang bisa menambalkan untuknya. Orang semacam ini betul-betul payah.

Tipe kedua memang sudah memiliki ’sense’ untuk menambal, akan tetapi tipe ini terjebak dengan perdebatan-perdebatan; dengan apa ditambal?, bagaimana cara menambal?, siapa yang harus menambal?, pertanyaan-pertanyaan seperti itu saja yang terngiang di kepala mereka, dan mereka menunggu terlalu lama untuk segera beraksi, mereka terlalu banyak berdebat dan tak segera mengatasi masalah bersama.

Karena umat Islam kini tengah terbakar, dan adalah kewajiban dari masing-masing kita kaum muslimin untuk memadamkan apinya dengan air yang kita punya, walau sedikit, memadamkan menurut kemampuan, tanpa menunggu orang lain. (Syaikh Amjaz az-Zahawy)

Dan kalaupun bukan kita yang beramal, Allah akan selalu mengisi buminya ini dengan orang-orang yang menyegerakan beramal di jalan Allah, beramal di jalan nikah, beramal di jalan-jalan yang sangat banyak itu. Tapi satu yang pasti, dari jalan-jalan yang banyak itu, kharakteristiknya sama, sebagaimana surga yang dikelilingi hal yang dibenci, dan neraka yang dihiasi begian luarnya dengan apa-apa yang disenangi, jalan ini yang Thulu’ut thariq, Katsiratul aqabat, dan Qillatur rijal (Jalan panjang, banyak rintangannya, dan sedikit pendukungnya). Maukah antum menjadi bagian dari orang-orang yang dicintai Allah untuk berjuang di jalannya?

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah Lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, Maka Sesungguhnya pengikut (agama) Allah Itulah yang pasti menang.” (QS al-Maidah: 54-56)

Karena Allah telah memerintahkan kita untuk beramal dengan melaksanakan dua kaidah penting, untuk ber-amar ma’ruf nahi mungkar, ibarat sebuah pesawat terbang, dua hal ini adalah kedua baling-balingnya. Pesawat itu tak akan terbang hanya dengan satu baling saja.

Ini adalah kaidah tentang hisbah (amar ma’ruf nahi mungkar). Asas kaidah ini adalah: Bahwa semua kekuasaan dalam Islam tujuannya agar ketaatan (ad-diin) itu seluruhnya milik Allah dan agar kalimat Allah itulah yang tertinggi. Sebab Allah menciptakan makhluk untuk tujuan tersebut. Karena itu pulalah Allah menurunkan kitab-kitab dan mengutus para Rasul, dengan alasan tersebut para Rasul dan kaum beriman berjihad. (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah)

Dan betapa banyak ulama yang hanya melakukan amar ma’ruf, sedang tidak pada nahi mungkar, mengapa? karena konsekuensi dari nahi mungkar adalah pasti akan ada segolongan orang yang akan membenci kita, sebagaimana para koruptor jika diajak ber-amar ma’ruf seperti naik haji, mereka juga suka. Tapi bagaimana bila kita melakukan nahi mungkar? Anti korupsi misalnya, maka niscaya mereka -para koruptor itu- akan membenci kita. Tapi ini tugas kita kaum muslimin, untuk melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, untuk melawan mereka yang ber-amar mungkar, nahi ma’ruf.

Ma’ruf: segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah; sedangkan munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya.

“…Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. beri ma’aflah Kami; ampunilah Kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (al-Baqarah: 286)

Dan tugas kita adalah mencari cara yang paling efektif, demi sebuah percepatan dakwah, karena dalam hal ini kita dituntut untuk kreatif. Karena dalam hal yang muammalah, segala hal dihalalkan kecuali yang diharamkan, jadi cukuplah kita kemudian untuk berusaha semaksimal mungkin, dengan membatasi pada hal-hal yang sudah disepakati secara qath’iy dan jelas bahwa hal itu memang diharamkan oleh Allah. Mengharamkan apa-apa yang Allah halalkan sebagaimana menghalalkan apa-apa yang telah Allah haramkan adalah termasuk kemusyrikan. (Dr. Yusuf Qardhawy)

Jadi janganlah kemudian kita sebagai da’i terburu-buru mengatakan ini halal, ini haram, padahal kita lupa bagaimana ulama Salaf as-Shalih mengatakan: ”ini lebih disukai” atau ”ini lebih dekat pada kebenaran” untuk hal-hal yang tidak secara qath’iy dijelaskan dalam al-Qur’an wa as-Sunnah. Nahnu du’aatun laa qudhaatun (da’i bukan tukang vonis). Bukan amal namanya kalau cuman nyalahin terus.

Karena memang semua orang kata-katanya bisa diambil atau ditolak kecuali Rasulullah saw., dan seorang ulama sekaliber Imam Syafi’i menyatakan sesungguhnya dalam setiap pendapatku benar dan mengandung kesalahan, dan pendapat yang lain salah, namun mengandung unsur kebenaran.

Sekali lagi, izinkan saya berbicara dengan bahasa Tuhan, dimana Allah telah menunjukkan keharusan kita untuk melakukan seruan kepada kebaikan dan seruan menolak kepada kemungkaran, dan Rasulullah qudwah kita telah mentarbiyah kita dengan akwal, afwal, maupun af’al –nya, bagaimana kita menyeru, kepada siapa kita menyeru, dan apa yang harus kita serukan.

”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (ali ’Imran: 104)

”Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (ali ’Imran: 110)

Pada awalnya, sebenarnya manusia bodoh saat baru dilahirkan. Nafsu, akal, dan hati yang nantinya akan menentukan apakah dia akan tetap bodoh atau menjadi manusia yang cerdas, bayangkan jika bayi begitu lahir udah ngerti kalau dia sudah dibebani hutang negara dua juta, wah bisa-bisa dia malah enggak mau keluar, ini adilnya Allah swt., kita tidak langsung pinter saat lahir.

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS an-Nahl: 78)

Allah telah menyebutkan, pada perkembangannya, telinga dan mata adalah organ yang akan menerima rangsang dari luar, terdapat dua hal besar yang kita tangkap, yaitu keadaan alam dan perbuatan manusia.

Akal dalam hal ini akan mengambil pelajaran darinya, al-‘Ilmu kita dapatkan dari ayat-ayat kauniyah-Nya dalam alam raya ini, sedangkan al-furqan (pembeda) didapat dari perbuatan manusia, kita dapat langsung membedakan mana yang baik dan mana yang buruk dengan akal, seorang yang marah-marah terus sama istrinya, anaknya, kucingnya, dlsb. tentu tak kan dipuji: “Hebat sekali dia, tukang marah-marah”, tentulah akal tidak akan menyelisihi hal ini. Adapun orang yang membantu nenek-nenek buta menyeberang jalan pasti akan dikatakan: “wah, orang itu baik yah..”

Tetapi, jika kita berhenti di akal, kita kehilangan control factor berupa hati. Jika kita gagal memasukkan tampilan mata dan telinga ke hati, hanya ke akal, maka nafsu yang akan bermain, lihat cewek cantik, ya gitu deh, denger gosip yang ghibah, malah nambahin fitnah, liat makanan enak pas puasa, mbatalin. Ingat ancaman Allah ya,

“Dalam hati mereka ada penyakit[23], lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (QS al-Baqarah: 10)

[23] …Kelemahan keyakinan itu, menimbulkan kedengkian, iri-hati dan dendam terhadap nabi saw., agama dan orang-orang Islam.

Jagalah hati, Jangan kau kotori

Jagalah hati, Lentera hidup ini

(Jagalah Hati)

Karena hati yang akan berperan sebagai controlling factor keadaan alam yang sempurna akan membeberkan bukti-bukti kekuasaan Allah azza wa jalla yang dibenarkan hati, dan perbuatan manusia dalam hati akan bermakna dua hal:

1. Yang dibenarkan akal akan menggugah hati untuk menggerakkan tubuh untuk melakukan hal serupa, disinilah al-’amal bekerja

2. Yang disalahkan akal akan dibenci oleh hati, dan menghindarkan tubuh dari melakukannya, disinilah al-khauf (takut) bekerja.

Sebagaimana percakapan mata dan hati, dalam Raudhatul Muhibbin, ”Kata hati kepada mata, ”Kaulah yang telah menyeretku pada kebinasaan dan mengakibatkan penyesalan karena aku mengikutimu beberapa saat saja. Kau lemparkan kerlingan matamu ke taman dari kebun yang tak sehat. Kau salahi firman Allah, ”Hendaklah mereka menahan pandangannya. ”Kau salahi sabda Rasulullah saw., ”Memandang wanita adalah panah beracun dari berbagai macam panah iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena takut pada Allah, maka Allah akan memberi balasan iman padanya, yang akan didapati kelezatan dalam hatinya.” (HR Ahmad).

Tapi mata berkata pada hati, ”Kau dzalimi aku sejak awal hingga akhir. Kau kukuhkan dosaku lahir dan batin. Padahal aku hanyalah utusanmu yang selalu taat dan mengikuti jalan yang Engkau tunjukkan.”

Dari Abu Abdullah, an-Nu’man bin Basyir ra. berkata: ”Aku telah mendengar Rasulullah saw. bersabda: ”…Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging, jika ia baik, maka baiklah jasad seluruhnya, dan jika ia rusak, rusaklah jasad seluruhnya. Ingatlah itu adalah hati. (HR Bukhari Muslim)

Hati adalah raja, Dan seluruh tubuh adalah pasukannya. Jika rajanya baik maka baik pula pasukannya. (Ibnu Qayyim)

”Dan janganlah Engkau hinakan Aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, Dan (di hari itu) didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertakwa.” (QS asy-Syu’araa’: 87-90)

Jadi, mari kita mengawali amal kita dengan kefahaman dan melingkupinya dengan keikhlasan, sebuah hadits dibawah agaknya sangat pas kita terapkan, buat kita yang ingin beramal, karena seorang muasis dakwah kita, ustadz Rahmat Abdullah rahimahullah telah menyebutkan, ”Bersamalah selalu dengan kebenaran, meskipun engkau sendirian…”, saya baru tahu ini adalah lafaz hadits Rasulullah saw., HR Baihaqi.

Dari Abu Dzar Jundub ibnu Junadah, dan Abu Abdirrahman Mu’adz bin Jabal ra., berkata: ”Rasulullah saw. berkata: ”Bertaqwalah dimanapun kamu berada, Ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, karena ia akan menghapusnya, dan bergaullah dengan sesama manusia dengan budi pekerti yang baik.” (HR Tirmidzi, dia (Tirmidzi) berkata Hadits ini hasan, dan dalam riwayat lain: hasan shahih)

Ayo beramal! Jadikan diri kita seperti pohon mangga, yang membalas lemparan batu dengan buah yang manis dan harum, buah amal kita.

Sleman, Akhukum, Imam Manggalya Adhikara

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on December 15, 2008 in Artikel

 

Tags: , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: