RSS

Pulang. Pulanglah ke Keluargamu

02 Dec

Keluarga. Itulah anugerah kehidupan. Itulah muara sesungguhnya. Itulah sebenarnya tempat kita selalu berlabuh. Pulang. Berteduh dari ketakutan, kekecewaan, kepedihan, kekeringan fisik maupun hati. Yang lebih memaklumi daripada menghujat. Lebih banyak menerima daripada menuntut. Lebih mudah memperhatikan daripada menghakimi. Semua itu kita tahu. Namun tetap saja kita kerapkali menomorsekiankan keluarga. Bermula dari apa yang kita namakan tuntutan kebutuhan, kita terbang hingga larut malam.

Menjauhi meraka. Lama kelamaan, tuntutan kebutuhan bergeser menjadi kenikmatan. Kita lebih nikmat dan nyaman berada di luar bukan karena keperluan semestinya. Meninggalkan mereka, berlama-lama. Bahkan ketika hadir bersama mereka pun, hati kita tidak ada lagi di sana. Kita tidak begitu kenal lagi dengan mereka, yang berarti tak begitu kenal lagi dengan diri kita sendiri. Sesungguhnya, kita menciptakan nestapa untuk diri sendiri : membangun jarak makin jauh dengan mereka, melawan nurani kita sendiri.

Rumahku ada di Mana-mana

Kebiasaan lingkungan seringkali menyeret kita sedemikian rupa. Tak peduli dampak sebenarnya seperti apa. Tak peduli diri kita sebenarnya merugi, kita kerap tak mau menampik. Dalam suatu harian ibukota, dipaparkan gejala yang melanda masyarakat kota besar. Ketika kata “pulang” tidak lagi dihubungkan dengan rumah. Rumah yang dimaksud disini tentu bukan sekadar sebuah benda dengan atap, pintu dan jendela. Tetapi sebuah suasana di mana semuanya menjadi sederhana. Ketika kepenatan di dunia luar yang selalu menuntut selesai, rumah adalah oase yang akan menerima diri kita apa adanya.

Namun kota besar yang menghisap energi kita sejak pagi sering menuntut lain. Ia seolah tidak “mengijinkan” kita untuk pulang. Bagaikan terpenjara, waktu pulang kita tetap terperangkap di dalamnya, mengkonsumsi di dalamnya, dan merasa hidup di dalamnya. “Pulang? Ngapain di rumah?” kata Indah Sari (28), karyawati BP Migas yang hampir tiap hari mengisi waktu pulang kantor dengan ke kafe, latihan golf, atau main bolling. Bagi Indah, waktu pulang justru waktu paling enak untuk dihabiskan nongkrong bersama teman-teman. Sejak pertama kali bekerja tahun 2002, ia dan kawan-kawannya selalu mencoba satu kafe ke kafe lain. Kalau sedang tidak ke kafe, ia pergi ke driving range untuk melatih pukulan golfnya. Kalau tidak sedang berlatih golf, ia bisa ditemui di tempat-tempat main bilyar. “Rugi kalau langsung pulang,” kata Indah yang berangkat dari rumah ke kantor setiap hari jam 6 pagi.

Elisabeth (23), karyawan PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) hanya berpandangan dengan kawan-kawannya sesama penggemar bilyar saat ditanya, seminggu berapa kali langsung pulang ke rumah. “Kapan ya? Ha-ha-ha… paling sebulan tiga kali.” Katanya. Sambil melepas stress setelah –menurut istilah Elisabeth- suntuk di kantor, ia memilih bermain bilyar pukul 18.00 dan baru beranjak ke rumah sekitar pukul 23.00. ia menghabiskan sampai sekitar 75% dari gajinya untuk kegiatan-kegiatan usai kantor. Bagi lulusan akademi sekretaris yang masih tinggal dengan orangtuanya ini, angka itu tidak menjadi masalah, yang penting ia bisa menghilangkan apa yang disebutnya sebagai rasa bosan di tempat kerja. “Udah kebiasaan sih,” katanya.

Apa yang disebut ‘rumahku istanaku’ sekadar menjadi tempat meletakkan kepala untuk tidur. Rumah direduksi maknanya jadi sekadar tempat persinggahan sementara alias transit, setelah hidup dihabiskan di luar. Bahkan di kampus pun, menjadi suatu “kemestian” untuk tak pulang dulu ke rumah, meski hanya kongkow bersama teman kuliah. Meski ketika dipilah, ternyata tak semua kegiatan itu mesti sebegitu banyak menyita waktu. Kalau arus dinamika itu sudah sedemikian keras menyeret kita jauh dari rumah, adalah naif ketika kita kemudian bingung, kenapa hubungan dengan keluarga menjadi renggang akhir-akhir ini.

Identitas pun seringkali lebih dibentuk di luar rumah, misalnya oleh kawan sehari-hari kita. Seperti Indah, sudah sejak kuliah di FISIP UI tahun 1995 ia memiliki tiga teman yang semuanya perempuan, untuk bercerita tentang cinta dan cita. Bertemu sebulan sekali, masing-masing menceritakan kemajuan soal pekerjaan dan lainnya. Keluarga? Makin terkesan tidak akan memahami. Bahkan menururt indah, datang ke driving range langganannya di Senayan iabarat pulang ke rumah.

Ratu Windy (28), ibu seorang putri berusia tiga tahun juga terbiasa langsung ke pusat kebugaran sehabis kerja, dan baru pukul 20.00 ia pulang ke rumah. “Toh selama aku tinggalkan, putriku diasuh eyangnya,” Jawab Windy.

Dinamika ini muncul dalam berbagai macam wajah. Kota besar yang dinamis, “panggilan” teman-teman, “kerugian” kalau pulang dalam sisa waktu panjang di rumah, tuntutan melepas lelah mengundang kita untuk tidak mau pulang. Berbagai pembenaran dan alasan kita berikan agar tetap bergelut di dalamnya. Aneka aktivitas di luar menghisap apa yang tadinya merupakan waktu yang dikhususkan untuk keluarga. Ada suatu keseimbangan yang dirusak di sini.

Dengan berbagai alasan pembenar, siapa pun kita berkecimpung, dalam posisi apa pun dalam keluarga, kita seringkali termakan kesibukan yang seolah tiada akhir. Kita terbiasa memaafkan diri untuk berlama-lama di luar. Meski tidak mesti di tempat yang “wah” dan “berbahaya”, tapi di mana pun kita, seolah tak ada waktu untuk pulang. Meski sebenarnya persoalan hari itu sudah dapat dianggap usai. Kesempatan untuk pulang secara fisik dan jiwa akhirnya hanya muncul dalam bentuk celah sempit. Dalam sisa-sisa tenaga dan pikiran, barulah terbetik, kita masih punya keluarga.

Padahal, Tak Pernah Ada Waktu Cukup

Saat-saat perginya orang tua menghadap Tuhannya, didahului sakit parah berkepanjangan atau tidak. Mendadak atau tidak. Kala itulah kita biasanya tergugu. Tersadar, sebenarnya tak pernah ada waktu cukup bersama mereka. Tak pernah.

Maknanya, mengapa waktu yang ada tidak kita habiskan buat pulang pada mereka. Pulang, tak hanya raga, tapi termasuk juga pikiran kita. Tidak lagi menampik mereka meski tanpa kita rencanakan. Tak lagi cuma menyambut keinginan berlebihan untuk berlama-lama di luar.

Bagi para orang tua, anak-anak merupakan anugerah ‘harta jiwa’. Betapa kita ini sesuatu yang amat berharga di mata mereka. Bukan karena kita ini lelaki atau perempuan. Bukan karena kita ini kaya atau miskin. Bukan karena kita dianggap berhasil di mata orang lain. Bukan. Cuma karena kita buah hati mereka. Anakanak mereka. Anak satu kata yang punya sejuta kedalaman, buat mereka.

Dewi, seorang perempuan muda yang tinggal di desa Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat, bertutur, ia kerapkali mesti bekerja buat membantu keluarganya yang sederhana. Hingga suatu saat, ia pergi ke luar Sukabumi, untuk bekerja di satu pabrik dan tinggal di asrama. Hanya bertahan beberapa bulan, Dewi pulang. Bukan apa-apa. Orang tuanya memintanya pulang. Sebagai anak tertua ia dibutuhkan di rumah. Di atas kebutuhan pasokan dana yang dikirimi Dewi, orang tuanya memerlukan kehadiran dan pemikiran, juga dukungan moril dari Dewi. Itu mereka anggap lebih tinggi nilainya.

Dewi pun pulang. Dan sejak saat itu, karena melihat orang tuanya yang beranjak menua, Dewi tak lagi banyak bekerja di luar rumah. Meski hidup mereka makin sederhana, namun ia memilih menemani ayahnya, yang mengalami gangguan pada jantungnya. Beberapa tahun berjalan, sakit ayahnya semakin parah. Dari mulanya berobat jalan yang selalu diantar Dewi, sang ayah kemudian harus dirawat di rumah sakit Sekarwangi, Sukabumi. Takdir bicara lain, tak lama di sana ayah Dewi wafat. Sebelumnya sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Dewi dan ayahnya berdua masih sempat naik angkot. Memapah ayahnya yang berjalan perlahan, Dewi merasakan kedekatan nyata. Seperti sebelumnya saat berkali-kali mendatangi ayahnya di sawah, memintanya berhenti bekerja. Memohonnya untuk istirahat saja di rumah.

Di mata kerabatnya, Dewi yang lemah lembut pada ayahnya dinilai sebagai anak berbakti. Namun ketika ia bertanya pada lubuk hatinya sendiri, yang ada cuma tangis karena kepergian ayahnya, tapi karena saat itulah ia menyadari, tak pernah ada waktu cukup untuk dinikmati bersama orang tua. Untuk menggambarkan bahwa sebenarnya kita pun mencintai mereka. Dan ketika waktu itu habis, yang ada pertanyaan, apakah selama ini kita sudah pulang pada mereka. Dalam arti sesungguhnya. Karena meski pun kita merasa sudah pulang secara fisik dan hati, ketika semua kedekatan mesti disudahi, ternyata waktu memang tak pernah cukup. Kita bimbang dan tidak yakin, sudah tuntaskah wujud cinta kita haturkan pada mereka. Apalagi bila selama ini kita tak pernah pulang.

Bacakan Buku Ini, Sekali Saja

Inilah kisah nyata yang memporakporandakan kuatnya cengkeraman keyakinan, bahwa persoalan di luar rumah jauh lebih penting. Bagaikan magnet, urusan-urusan itu kerap menguasai hidup kita. Ini pula yang “menjerat” Danny, ayah dari satu putri. Pahitnya, semua itu disadari pada saat ia tak lagi bisa pulang pada anaknya semata wayang. Saat termenung menatap keluar jendela rumahnya, dengan susah payah ia mencoba memikirkan pekerjaannya yang menumpuk. Tapi sia-sia belaka. Yang ada di pikirannya hanyalah perkataan almarhum Anisa anaknya, di suatu malam tiga minggu yang lalu.

Malam itu, ia membawa pekerjaannya ke rumah. Ada rapat umum yang sangat penting besok pagi dengan para pemegang saham. Sewaktu ia memeriksa pekerjaannya, Anisa, putrinya yang baru berusia dua tahun menghampiri, sambil membawa buku cerita yang masih baru. Buku bersampul hijau bergambar peri. Anisa memintanya membacakan buku itu. Namun ayahnya menampik dan segera beralih kembali pada tumpukan kertasnya. Anisa berdiri terpaku sambil memperhatikan. Lalu bocah itu kembali merayu. “Tapi Mama bilang, Papa akan membacakan buku untuk Anisa.”

Dengan agak kesal, ayahnya menampik kembali karena merasa sangat sibuk. Ia menuruh Anisa untuk meminta ibunya membacakan buku itu. “Tapi Mama lebih sibuk dari Papa,” ujar Anisa perlahan. Tak tahan, sang ayah berbicara keras, dengan kalimat penolakan sama. Seusai itu, ia berusaha tidak memperhatikan Anisa lagi. Waktu berlalu, Anisa masih berdiri di sebelah ayahnya sambil memegang bukunya. Lama sekali ayah mengacuhkan Anisa. Tiba-tiba Anisa mulai lagi. “Tapi Papa, gambarnya bagus sekali dan pasti ceritanya juga bagus, papa pasti akan suka.”

“Anisa, sekali lagi Papa bilang, lain kali!” Dengan agak keras ia membentak anaknya. Hampir menangis, Anisa menjauh. “Iya deh, lain kali, ya Papa lain kali.” Tapi Anisa kemudian mendekati ayahnya dan menaruh buku di pangkuan ayahnya sambil berkata, “Kapan saja Papa ada waktu ya… Papa tidak usah baca untuk Anisa, baca aja untuk Papa tapi kalau bisa, bacanya yang keras ya, biar Anisa juga bisa mendengarkan.” Ayahnya hanya diam.

Kejadian tiga minggu lalu itulah yang ada dalam pikiran sang ayah. Ia teringat Anisa yang dengan penuh pengertian mengalah. Anisa yang meletakkan tangannya yang mungil dia atas tangan ayahnya sambil mengatakan, “Tapi kalau bisa, bacanya yang keras ya Pa, supaya Anisa juga bisa ikut dengar.”

Karena itulah ia mulai membuka buku cerita yang diambilnya dari tumpukan mainan Anisa di pojok ruangan. Ia mulai membuka halaman pertama, dan dengan parau membacanya. Ia sudah melupakan pekerjaannya, yang dulunya amat sangat penting. Ia bahkan lupa akan kemarahan dan kebenciannya pada pemuda mabuk yang kendaraannya menghantam Anisa. Ia membaca halaman demi halaman sekeras mungkin. Berharap, andaikata masih ada kesempatan untuk didengarkan Anisa. Berandai, ika saja sebagai ayah ia amsih punya waktu untuk berbagi.

Tentu, hidup ini bukan untuk diisi dengan pengandaian belaka. Tentu, kita tak perlu berandai-andai, apabila kita tak mengubur sisi manusiawi kita, utnuk pulang, pada orang-orang tercinta. Itulah pemaknaan sesungguhnya pada keluarganya. Penghargaan sebenarnya pada keluarga.

Seperti apa yang dilakukan M. Yasin (43), warga Aceh yang selamat dari terjangan Tsunami. Istrinya dan tiga anaknya yang selamat sengaja ia tempatkan sementara di Jakarta. Sementara M. Yatsin sendiri tetap tinggal di Banda Aceh, untuk mencari kerabat-kerabatnya yang belum ditemukan.

Ketika bencana melanda tempat tinggal mereka di lorong Permata, Kelurahan Mulya, Banda Aceh, keluarga ini semula tercerai berai. M. Yasin dan istrinya hanya dengan baju yang dipakai serta telepon genggam yang sempat terselamatkan, sementara ketiga anaknya juga selamat di tempat lain, hanya dengan baju yang dipakai saat itu.

Menjelang sore, setelah air laut surut, ternyata ketiganya bertemu lagi di seputar rumah mereka yang telah rata dengan tanah. Mereka ternyata pulang menuju tempat yang sama. Dalam kondisi kacau balau, hanya satu yang mereka lakukan: pulang. Meski perjalanan melintasi puing-puing tentu tidaklah mudah. Dan kepulangan itulah yang mempertemukan.

Pulang ke Kampung Abadi, Bersama Mereka

Cakupan makna pulang memang teramat dalam. Sebagai makhluk yang sudah mengetahui bahwa kita memikul tanggung jawab pada keluarga, tanggungjawab membimbing mereka, mengasihi mereka dengan upaya tak henti untuk memperbaiki diri bersama-sama, kita semestinya sudah melakoni makna “pulang” sejak lama. Selagi kita masih ada di dunia fana ini.

Imbas semua kucuran perhatian itu, tidak saja terbalas pada kisaran waktu di dunia karena di akherat pun, kedekatan dengan keluarga dapat tetap berlanjut. Di sana, bersama-sama mereka, kita dapat memasuki tempat mulia yang sama, surga And yang dihadiahkan bagi orang-orang yang shaleh.

Di sana, apabila kita dan keluarga termasuk golongan orang-orang shaleh, kita akan bertemu kembali dengan ayah, ibu, anak, suami, istri, mereka yang bertalian darah dengan kita. Kita akan pulang dalam ketenangan hati bersama mereka, orang-orang yang di dunia ditasbihkan sebagai keluarga. Sedemikian kuat ikatan itu senyatanya.

Dalam Al Qur’an surat Ar Ra’d ayat 22-24 Allah SWT berfirman, yang artinya, “Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rejeki yang kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik). Yaitu surga ‘And yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil) mengucapkan : Salamun ‘alaikum bima shabartum (keselamatan atasmu atas kesabaranmu). Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” []

Tarbawi 128 / 16 Maret 2006

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on December 2, 2008 in Artikel

 

Tags: , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: