RSS

Merampok Kreativitas

09 Nov

kaizenPerusahaan dan organisasi yang hebat dan maju adalah yang memandang karyawan dan anggotanya sebagai aset. Ketika SDM dipandang sebagai aset, maka usaha untuk meningkatkan kualitas SDM itu harus terus-menerus dilakukan, dengan training, kompetisi, evaluasi kinerja, dll. Kekuatan terbesar perusahaan tersebut ada pada rasa memiliki semua pihak, sehingga dengan partisipasi semua (mulai pemilik, manajemen sampai karyawan) perusahaan tersebut membangun sebuah sistem kerja yang dinamis dan kreatif Namun, ketika perusahaan mengumandangkan kebutuhan untuk berubah dan mengelola perubahan, kaizen telah mengajarkan solusi yang sangat elegan, manfaatkan kekuatan karyawan. Matthew E. May menyebutkan setidaknya ada dua hal yang merintangi karyawan untuk maju. Yaitu kecenderungan untuk mengkritik para karyawan garis depan, yang satunya lagi adalah kebudayaan kita yang selalu membayar ide-ide. Ada sebuah kisah menarik mengenai ini :

Seorang perempuan tua tinggal sendirian di rumahnya di pinggir sebuah jalan tempat anak-anak bermain dengan ribut setiap sore. Suatu hari keributan itu sudah keterlaluan dan sang perempuan tua memanggil anak-anak itu masuk ke rumahnya. Dia memberitahu mereka bahwa dia senang mendengarkan mereka bermain, tetapi pendengarannya mulai terganggu dan dia tidak bisa lagi mendengarkan mereka bermain. Dia meminta mereka datang setiap hari dan bermain dengan berisik di depan rumahnya. Jika mereka melakukannya, dia akan memberi mereka masing-masing 25 sen. Anak-anak itu kembali lagi keesokan harinya dan bermain dengan rebut di depan rumah itu. Sang perempuan tua membayar mereka dan meminta mereka datang lagi besok. Maka, mereka bermain lagi dengan riuh dan sang perempuan tua membayar mereka lagi. Namun, kali ini dia hanya memberi mereka masing-masing 20 sen sambil menjelaskan bahwa dia sedang kehabisan uang. Keesokan harinya, mereka masing-masing hanya mendapat 15 sen. Selanjutnya, sang perempuan tua berkata kepada mereka bahwa ia terpaksa menurunkan biaya menjadi lima sen pada hari keempat. Anak-anak itu manjadi marah dan mengatakan bahwa mereka tidak akan kembali lagi. Tidak sepadan, kata mereka, bermain dengan hanya dibayar lima sen.

Rencana sang perempuan tua berhasil mencuri dari anak-anak itu sesuatu yang sangat mereka sukai yang sebetulnya mereka lakukan secara cuma-cuma. Pelajaran dari cerita ini sudah jelas. Jika tidak hati-hati, kita bisa mengganti motivasi kita dengan yang tiruan. Kita bisa merampok kekuatan kreatif orang-orang dengan memberikan imbalan finansial bagi ide-ide.

Cerita tadi terjadi dimana-mana. Perusahaan-perusahaan memperlakukan pegawai seperti tikus yang mengejar keju di jalur yang berputar-putar dengan membayar ide-ide yang disetujui dan saran-saran yang diterima. Mereka kemudian bertanya-tanya mengapa partisipasi karyawan rendah. Mereka tidak mau mendengar pendapat bahwa untuk mendapatkan sebuah ide bagus, Anda memerlukan banyak ide.

Riset gabungan Asosiasi Keterlibatan Pegawai dan Asosiasi Hubungan antarmanusia Jepang menyingkapkan bahwa jumlah rata-rata ide yang diserahkan per pegawai setiap tahun di perusahaan-perusahaan Jepang 100 kali lebih besar ketimbang di perusahaan-perusahaan AS. Mengapa? Salah satunya karena pemberian imbalan yang salah dengan cara yang salah. Rata-rata imbalan di perusahaan-perusahaan Jepang 100 kali lebih sedikit daripada rata-rata imbalan AS yang mencapai $500. Parktik bisnis Barat yang hanya memberi imbalan pada ide-ide yang diterima telah membunuh dorongan kreatif bisnis Amerika.

Solusinya tanamkan prinsip kaizen. Kaizen adalah kata dalam bahasa Jepang yang berarti perbaikan tanpa henti, adalah tentang penyerahan ide, bukan penerimaan ide. Sebagai penghasil nyata inovasi bisnis terus-menerus, kaizen adalah praktik yang menumbuhkan etos kuat berupa rasa penasaran tiada henti dalam perusahaan. Kaizen terdiri dari tiga langkah: Pertama, ciptakan standar. Kedua, ikuti standar itu. Ketiga, cari cara yang lebih baik. Ulangi tanpa henti. Mencoba membuat peningkatan dan inovasi tanpa standar sebagai panduan sama seperti sebuah perjalanan tanpa titik mulai :: Hnf

sumber gambar: http://org-oz.com/

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on November 9, 2008 in Artikel

 

Tags: , , ,

One response to “Merampok Kreativitas

  1. itsonly1717

    November 26, 2008 at 05:19

    Apik nip. Bagus. ku Grab yaa?
    HEhehehehe. Kita saling meng-grab kan?

    Like

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: