RSS

Merencanakan Rumah Tangga di Akherat Bercermin dari Keluarga para Salafusshalih

31 Aug

Berumah tangga bukan sekadar menjalankan fungsi ayah-ibu dan anak. Bukan pula semata proses penyatuan cinta kasih, menjalin romantisme dan harmonisme dalam sebuah keluarga yang baru. Berumah tangga adalah juga janji untuk berkomitmen membangun keluarga, dengan maksud dan tujuan yang mulia; melahirkan generasi pengganti yang baik dan shalih.

Apalah arti rumah luas nan mewah jika tidak ada anak yang menemani dalam berumah tangga. Apalah guna kekayaan yang melimpah jika tidak ada pewaris. Betapa sedih hati Khalilulllah Ibrahim as ketika usianya mendekati udzur namun ia belum punya keturunan. Betapa gundah gulana Nabiyullah Zakaria as dan istrinya, di saat usianya yang kian senja namun tidak juga dikaruniai generasi penerus. “Dan sungguh, aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, padahal istriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku seorang anak dari sisiMu, yang akan mewarisi aku dan mewarisi dari keluarga Ya’kub; dan jadikanlah dia Tuhanku, seorang yang diridhai.” Begitulah rintihan Zakaria dalam surat Maryam, ayat 5 dan 6.

Sebuah rumah tangga dibentuk karena ada orientasi di dalamnya. Dan orientasi yang terbaik, tentu saja mengimpikan kenikmatan yang tidak hanya untuk di dunia belaka, tetapi juga di akherat. Yakni berkumpulnya keluarga di Jannah An Na’iim; surga yang penuh kenikmatan; berkumpulnya ayah, istri, dan anak-anak yang shalih di taman Firdaus yang indah. Merencanakan rumah tangga akherat adalah membangun rumah tangga dunia dengan pemimpin yang beriman, yang dikelilingi oleh anak-anak yang shalih.

Rumah tangga orang-orang dulu, selalu mengutamakan lahirnya nak-anak shalih di tengah-tengah mereka ketimbang kebutuhannya yang lain. Dalam keterbatasan, mereka bekerja keras agar anak-anak mereka menjadi orang yang berbakti dan berguna. Mereka senantiasa menjaga keshalihan dan kesucian agar kelak anak-anak mereka, juga tumbuh dengan iman dan akidah yang suci. Banyak ulama istimewa yang lahir dari rumah tangga-rumah tangga yang juga memang sangat istimewa.

Imam Ahmad, misalnya, ia lahir dan diasuh di dalam keluarga yang taat dan berilmu agama yang luas. Meskipun ayahnya meninggal di saat ia masih bayi, tetapi ibunya rela bekerja keras agar anaknya tetap bisa belajar agama. Ibunya bahkan menolak untuk bersuami lagi setelah itu – padahal ia adalah wanita yang cantik, muda, dan banyak laki-laki yang menyukainya – demi mengasuh dan membimbing anaknya. Ia mengajarkan Ahmad kecil apa saja yang ia ketahui dari sejarah hidup Rasulullah, hadits, kisah-kisah bangsa Arab dan kepahlawanan mereka.

Sejak dini, ibunya telah mengajarkannya tentang norma-norma agama Islam dan menanamkan kecintaan kepada Rasulullah SAW. Ibunya rela menjual perhiasan-perhiasannya hanya untuk membantu dirinya dalam mencari ilmu. Perhatian itu begitu besar, bahkan selalu khawatir jika Ahmad yang cerdas ini jauh darinya. Imam Ahmad pernah berkata, Terkadang aku ingin belajar hadits, namun ibuku menarik pakaianku seraya berkata, “Tunggulah sampai adzan Subuh dikumandangkan, atau sampai orang-orang bangun pagi.”

Saat Imam Ahmad berusia 15 tahun, seorang ulama besar datang ke Baghdad. Dia tinggal berhadapan dengan rumah Imam Ahmad. Suatu ketika, air sungai Tigris meluap hingga mencapai Istana Harun Ar Rasyid. Pada saat itu, para penuntut ilmu berusaha menaiki sampan untuk bisa menyeberangi sungai, tetapi Imam Ahmad menolak ikut bersama mereka. Ia berkata, “Ibuku tidak menyuruhku melakukan ini.” Sehingga bergegas kembali kepada ibunya agar ia merasakan ketenangan.

Bagaimana Imam Ahmad tidak patuh kepada ibunya, sementara ibunya telah menolak untuk menikah agar dapat mengasuh dirinya. Sebagai balasannya, Imam Ahmad pun berusaha dengan sungguh-sungguh dalam belajar; sampai akhirnya dia mendapatkan ilmu pengetahuan yang banyak di usianya yang masih belia dengan bersandar kepada kemampuan pribadinya. Imam Ahmad juga enggan menikah kecuali setelah ibunya meninggal sedang usianya saat itu telah mencapai 30 tahun. Hal itu ia lakukan, agar tidak seorang perempuan pun yang memasuki rumahnya yang akan “merampas” sebagian perhatian dan cintanya kepada ibunya.

Dia merasa bahwa dirinya telah menjadi beban berat bagi ibunya. Dia meminta kerelaan ibunya, agar dapat fokus belajar sehingga bisa menggungguli teman-temannya. Dia membagi waktunya antara mencari ilmu, bekerja, dan membantu ibunya. Dengan itu, ia tumbuh sebagai pemuda yang beriman, berakhlak mulia dan cerdas.

Melihat Imam Ahmad yang begitu istimewa, Khuzainah bin Khazim At Tamimi, ayah dari Abu Siraj pernah berucap, “Aku sudah mengeluarkan biaya yang begitu besar untuk menyekolahkan anak-anakku, mendatangkan para pendidik ke rumah untuk mereka, tetapi anak-anakku tetap tidak beruntung mempunyai akhlak dan ilmu yang tinggi. Sedangkan Ahmad bin Hambal ini hanya seorang anak yatim, tetapi lihatlah betapa tinggi ilmunya dan betapa mulia akhlaknya.”

Imam Bukhari yang dikenal sebagai tokoh utama dalam ilmu hadits, juga merupakan produk dari keluarga yang baik. Ayahnya bernama Ismail, terkenal sebagai ulama yang sangat menjaga kesucian dirinya. Ketika menjelang wafatnya, ia pernah berucap, “Aku tidak mengetahui ada satu dirham pun dari hartaku yang haram. Dan tak ada satu dirham pun yang syubhat.”

Begitulah pengakuannya, seperti yang diceritakan Ahmad bin Hafsh yang mendengar langsung darinya. Ahmad bin Hafsh mengungkapkan perasaannya saat mendengar kalimat itu, “Aku merasa menjadi kerdil saat itu.”

Tidak heran jika Bukhari kemudian tumbuh dengan mewarisi sifat-sifat mulia dari ayahnya itu. Bukhari ditinggal ayahnya pada usia 6 tahun, tapi ibunya kemudian menjadi pengasuh yang luar biasa untuk anaknya. Bukhari kecil pernah mengalami sakit berat yang menyebabkan penglihatannya hilang sama sekali. Tapi ibunya yang hidup miskin tidak pernah berhenti berdoa kepada Allah agar anak kesayangannya diberi kesembuhan. Sehingga suatu malam, ia bermimpi didatangi nabi Ibrahim as yang berkata, “Wahai hamba Allah! Sesungguhnya Tuhan menyembuhkan mata anakmu yang rusak, karena seringnya kamu berdoa kepada-Nya.”

Dengan hati yang berdebar-debar, pagi harinya ibu yang shalihah itu mendekati anaknya, dan betul-betul menyaksikan bahwa mata anaknya itu sudah baik dan kembali seperti semula.

Ayah Imam Nawawi rahimahullah juga memiliki perhatian yang besar akan pendidikan agama anaknya. Saat melihat An Nawawi begitu antusias belajar agama, si Ayah menghentikan aktifitas anaknya sebagai penjaga toko yang telah ia ajarkan kepadanya, dan membiarkannya fokus untuk belajar.

Orang-orang besar seperti mereka, juga seperti Imam Abu Hanifah, Malik, Asy Syafi’i, Muslim dan yang lain, adalah orang-orang yang lahir dan dibesarkan dalam rumah tangga yang dipenuhi keharmonisan serta semangat untuk meraih kehidupan yang baik di akherat. Rumah tangga yang dibangun karena ketaatan kepada Allah. Bukan dari rumah tangga yang dibangun di atas pondasi syahwat terhadap pesona dunia.

Para orang tua, pemilik dan pemimpin rumah tangga, perlu menyadari bahwa rumah tangga yang damai dan rumah tangga akherat tidak dibentuk dengan pendidikan belaka. Di dalamnya ada doa. Ada ketaatan kepada Allah. Ada usaha untuk menjaga kebersihan diri. Kita pasti merindukan sebuah keluarga yang kelak bisa bersatu kembali di kehidupan yang lebih kekal, di surganya Allah SWT. Seperti keluarga orang-orang shalih itu. [] Tarbawi

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on August 31, 2008 in Artikel

 

Tags: , , ,

One response to “Merencanakan Rumah Tangga di Akherat Bercermin dari Keluarga para Salafusshalih

  1. Dyat

    September 1, 2008 at 23:06

    what an inspiring story. i didnt know before that Imam Bukhari had experienced that miracle becos of His mother always pray for him.

    this story has made my faith stronger. thx

    Like

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: