RSS

Memperluas Pagar Zona Nyaman

20 Jul

Sering orang mencoba menjalani hidup secara terbalik; mereka mencoba memiliki lebih banyak barang, lebih banyak uang, agar dapat mengerjakan hal yang mereka inginkan lebih banyak, agar mereka lebih bahagia. Sebenarnya, jalan yang benar adalah kebalikannya. Engkau pertama-tama harus MENJADI DIRIMU yang sesungguhnya, lalu melakukan apa yang perlu kaulakukan, agar dapat lebih banyak memiliki hal-hal yang kauinginkan. (Margaret Young).

 Mengambil Resiko

Setiap orang mendambakan hidup yang tentram, sejahtera. Begitu pula dalam memilih pekerjaan. Kebanyakan orang tua yang sudah merasakan kenyamanan hidup, cenderung mengarahkan anaknya mengikuti profesinya. Ayah/Ibu yang menjadi PNS, ingin anaknya menjadi PNS pula. Orang tua yang menjadi tentara atau polisi, menginginkan anaknya menjadi tentara atau polisi juga. Yang menjadi dosen, menginginkan anaknya menjadi dosen juga, yang menjadi dokter, ingin juga anaknya sukses menjadi dokter, dst. Memang ada kebaikan yang diperoleh, malah banyak mungkin. Namun, bisa jadi hal itu justru membatasi potensi yang seharusnya bisa lebih melejit lagi. Sang anak seharusnya bisa jadi orang yang lebih hebat dari orang tuanya, lebih produktif, lebih pintar (cerdik cendekia), menjadi lebih dikenal masyarakat karena menjadi pemimpin rakyat (bupati, gubernur, menteri, bahkan presiden), menjadi lebih kreatif dan inovatif karena konseptor kebijakan yang handal, menjadi pengusaha sukses yang memimpin sekian puluh ribu karyawan, dll yang tidak hanya sisi duniawi saja tentunya.

Persoalannya adalah, bisakah seseorang mengambil tantangan dengan menempuh jalan yang berliku untuk meraih sebuah kesuksesan. Memilih jalan lain yang berbeda dari sebelumnya dan merintis jalan barunya. Keluar dari zona nyaman adalah hal yang selalu dilakukan orang yang sukses dengan ide dan gagasannya yang berujung pada hal baru yang tentu lebih menantang dan beresiko.

Aburizal Bakrie yang oleh majalah Forbes Asia 2007 dinobatkan sebagai orang terkaya no.1 di Indonesia adalah sosok pengusaha yang mau mengambil resiko untuk meraih kesuksesan (majalah tempo edisi khusus reformasi).

Tahun 1998 di ruang Hotel Crowne, Jakarta Selatan, dihadapan 150 pemberi utang, Aburizal Bakrie mengibarkan bendera putih. Ia memproklamirkan ketidakberdayaannya, “Kami tak kuat lagi membayar utang,” katanya mewakili perusahaan keluarga besarnya yang mempunyai tumpukan utang US$ 1,08 miliar. Bakrie menyerah, namun ia berjanji tidak akan lari, ia hanya meminta penundaan cicilan dan pengaturan kembali pembayaran utang. Perwakilan kreditor dari berbagai negara itu mengangguk setuju. Dua tahun negoisasi akhirnya utang dialihkan menjadi kepemilikan saham untuk pemberi utang. Saham Bakrie & Brothers yang semula sekitar 80 persen hanya tinggal 2,5 persen yang dimiliki.

Karena sikap ksatria inilah, Aburizal yang mewarisi keterpurukan perusahaan keluarga mendapatkan kepercayaan dari pemberi utang untuk mencairkan pinjaman baru. Dari sinilah Aburizal mulai berupaya merebut kembali aset-asetnya. Ia mengambil resiko dengan membajak dan menempatkan para profesional di sejumlah posisi penting. Di antaranya Nalinkant A. Rathod (akuntan dari India), Andrew C. Beckham (konsultan asal Inggris) dan Ari S. Hudaya, profesional pertambangan lulusan ITB). Segera, Bakrie mulai bergerilya. Bakrie dengan anak perusahaan Bumi Resourches membuat kejutan dengan mengakuisisi PT Arutmin Indonesia, perusahaan tambang batu bara milik BHP Billiton Australia. Banyak orang terperangah dengan transaksi US$ 180 juta itu. Apalagi dana pembelian itu dari utang dalam negeri.

Pada tahun 2003, lagi-lagi Bumi Resourches (BR) bikin geger dengan merebut saham Kaltim Prima Coal (KCP) perusahaan milik Rio Tinto dan BP Plc. Setelah akusisi Aritmin dan KCP, kinerja BR semakin melesat. Harga saham yang semula seharga Rp 35 pada Juli 2003 terus naik menjadi kisaran Rp 6800 pada saat ini. Kenaikan saham sampai 16.000 persen.

Apa yang dicapai Bakrie tidak lepas dari keranian mengambil resiko dan sikap tanggung jawab. Bagaimana sikap Bakrie terhadap lumpur Lapindo? Anindya Bakrie (putra Aburizal) menjawab, “Mirip 1999, kami tidak lari dari tanggung jawab.” Semoga persoalan itu segera selesai, dan pihak-pihak yang dirugikan mendapatkan haknya. Mengenai pilihan Bakrie di politik, itu urusan lain. Kita ambil saja sisi baik dari bagaimana ia mampu bertanggungjawab dan mengambil keputusan sulit.

Keluar dari Zona Nyaman untuk Menang

Ada pilihan berat, ketika memilih tetap di zona nyaman dengan keadaan yang begitu-itu saja atau keluar dari zona tersebut untuk memperluas pagar zona nyaman yang telah kita punyai. Sedikit orang yang memilih yang kedua. Namun, yang sedikit itu bisa mengakibatkan tragedi kemanusiaan yang luar biasa jika ia mempunyai semua potensi yang diperlukan untuk berkuasa, sebagaimana Hitler dengan NAZI-nya. Sekutu harus mengorbankan ratusan ribu tentaranya untuk mengalahkannya. Invasi Normandia, yang nama kodenya adalah Operasi Overlord, adalah sebuah operasi pendaratan yang dilakukan oleh pasukan Sekutu saat Perang Dunia II pada tanggal 6 Juni 1944. Hingga kini Invasi Normandia merupakan invasi laut terbesar dalam sejarah, dengan hampir tiga juta tentara menyeberangi Selat Inggris dari Inggris ke Perancis yang diduduki oleh tentara Nazi Jerman.

Pasukan penerjun Divisi 101 diterjunkan ke belakang garis musuh menjadi pembuka jalan dikuasainya Normandy. Resiko pasukan yang ditujukan untuk memutus pasokan logistik dan senjata ini adalah terkepung dan terbantai sebagaimana yang terjadi pada 8 ribu dari 12 ribu pasukan Inggris saat operasi market Garden. Namun, itulah perang, semua beresiko. Jika ingin menang, harus keluar dari zona nyaman dan merebut wilayah musuh untuk dijadikan zona nyaman kita.

Zona Nyaman itu adalah Pekerjaan

Pekerjaan apa yang menjadi dambaan di negeri ini? Ternyata masih PNS. Terbukti pendaftaran PNS Depkeu kemarin yang membludak. Namun, jelas kuota PNS yang sedikit itu tidak sebanding dengan banyaknya orang yang mendaftar. Layaknya UMPTN/SPMB, kursi yang sedikit itu harus diperebutkan. Lantas harus kemana yang lainnya?

Masih banyak lapangan kerja yang lain. Walaupun tentunya bagi kalangan tertentu, yang putri (akhwat) tidak semua bisa dimasuki. Kebanyakan lapangan kerja yang ada memang lebih cocok bagi pria. Misalnya pertambangan, perkebunan, dan industri manufaktur lainnya. Inilah mengapa masih terjadi banyaknya lulusan yang masih menganggur karena terlalu memilih-milih pekerjaan (termasuk saya tentunya ^_^ ).

Senior saya pernah menasehati, bahwa salah satu hikmah menikah adalah memperlancar rezeki memang logis. Ketika sudah menikah, membuat suami (khususnya) tidak akan gengsi lagi untuk kerja. Ia tidak akan memilih-milih lagi pekerjaan ini, itu, dll. Asal halal, akan dia lakukan. Dari kesungguhan (jiddiyah) dan rasa tanggung jawab itulah, Allah pasti akan membukakan rezekinya yang lain. Insya Allah.

Pekerjaan yang kita pilih adalah karir masa depan kita. Tentu jika ingin ke depannya hidup dengan nyaman, harus bersusah payah terlebih dahulu. Jika dari sekarang ingin nyaman dengan status pekerjaan tertentu, tentunya perlu diperhitungkan bahwa keberlangsungan kenyamanan itu jangka pendek atau panjang. Sering-sering berkonsultasi dengan berbagai pihak. Jangan sampai kenyamanan yang kita rengkuh ternyata stagnan. Beberapa teman saya sudah keluar dari pekerjaannya (di manufaktur terkemuka di Indonesia) karena tidak nyaman. Ia merasa tidak mempunyai waktu pribadi. Kerja jam 08.00 pagi, pulang terkadang jam 20.00, 22.00 bahkan pernah jam 02.00 pagi. Kenyamanan bagi dia adalah bisa punya waktu bersosialisasi, waktu istirahat cukup dan waktu ibadah (mengaji) yang banyak. Gaji tentunya menjadi pertimbangan, tapi bagi teman saya tadi, gaji yang tinggi tidak membuat ia bahagia.

Berani mengambil resiko dan mengambil peluang yang ada merupakan pilihan yang baik selagi kita masih muda. Semoga saya, anda dan semua mampu melakukan itu dan berkontribusi maksimal bagi keluarga, lingkungan, bangsa dan negara ini. [zh] 

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on July 20, 2008 in Artikel

 

Tags: , ,

One response to “Memperluas Pagar Zona Nyaman

  1. Amung

    October 11, 2009 at 03:54

    Bagus posting nya. Gak muluk2, n bikin brpikir buat brubah. Saluuut!

    Like

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: