RSS

Krisis Pangan dan Solidaritas

21 Jun

                                            

Indonesia adalah negara yang potensial untuk berperan besar dalam mengatasi krisis pangan dunia. Namun, kini Indonesia masih mengalami dua bentuk krisis pangan, yakni krisis pangan secara berkala (transitory/occasional food insecurity) dan kronis (chronic food insecurity).

Krisis pangan berkala terjadi karena, misalnya, adanya bencana alam, konflik sosial, fluktuasi harga, dan lain-lain. Adapun krisis pangan secara kronis adalah krisis yang terjadi secara berulang-ulang dan terus-menerus. Krisis ini ditengarai adanya akses terbatas terhadap persediaan pangan disertai harga pangan yang melambung tinggi.

Antara makro dan mikro

Secara makro, sebenarnya persediaan pangan di Indonesia masih mencukupi karena beberapa komoditas kebutuhan pangan di Indonesia masih dipenuhi lewat impor dari negara lain. Namun secara mikro, krisis pangan telah terjadi di tingkat keluarga, terutama di daerah-daerah pedesaan yang terpencil, terutama di kelompok masyarakat yang mengandalkan pertanian untuk hidup. Gambaran situasi mikro ini sungguh ironis.

Ini bisa terjadi karena dampak kebijakan Pemerintah Indonesia di masa lalu, ketika pemerintah menerapkan tarif impor komoditas pangan rendah (lebih rendah dari ketentuan WTO) sehingga harga-harga komoditas kebutuhan pangan yang diimpor lebih rendah dari hasil pertanian lokal atau nasional. Akibatnya, petani di daerah-daerah pedesaan yang berpotensi menjadi lumbung pangan tidak bergairah mengembangkan pertanian karena pendapatan yang akan mereka dapatkan tidak menjanjikan.

Selain pengaruh negatif atas kebijakan pemerintah itu, pengaruh bencana alam, konflik sosial, musim kemarau, dan perubahan musim akibat pemanasan global juga berpengaruh besar terhadap kecukupan persediaan pangan di Indonesia. Krisis bahan bakar minyak dunia ikut memperburuk situasi ini.

Sekarang ada kecenderungan warga dunia mengalihkan tanaman pangan ke tanaman yang bisa menghasilkan biogas (bioenergi) guna memenuhi kebutuhan energi dunia. Akibatnya bisa fatal. Lumbung pangan dunia yang menjadi kebutuhan dasar akan menipis dan menyebabkan krisis pangan dunia.

Kurangnya akses untuk mendapatkan bahan pangan dan meroketnya harga pangan menyebabkan krisis pangan di negara-negara berkembang, seperti Haiti, Banglades, Filipina, Meksiko, Nigeria, Kamerun, Somalia, Mauritania, Burkina Faso, Argentina, Etiopia, dan Indonesia (George Kombe Ngolwe, http://www.omiusajpic.org).

Menurut laporan hasil assessment World Food Programme (Februari 2007), daerah-daerah bekas bencana seperti pantai barat Nanggroe Aceh Darussalam, Pulau Simeulue, Nias, Yogyakarta, dan sebagian Jawa Tengah mengalami krisis pangan yang akut dan krisis lapangan kerja. Meski demikian, daerah-daerah itu kini semakin membaik situasinya. Sementara krisis pangan kronis terjadi di Sumatera Utara, Jawa Timur, Jawa Barat, Kalimantan Timur dan sebagian Kalimantan Tengah, Kepulauan Nusa Tenggara, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Papua Barat, serta Maluku (www.wfp.org/odan).

Krisis pangan global dan nasional ini harus mendapat perhatian serius, apalagi Indonesia termasuk negara rawan bencana. Terjadinya bencana tidak hanya menghambat produksi tanaman pangan, tetapi juga menyebabkan kebutuhan pangan kian meningkat tajam. Kebijakan impor pangan dari negara lain tidak bisa diandalkan lagi, mengingat dunia juga mengalami krisis pangan. Akibat krisis pangan global ini, setiap negara—terutama negara-negara yang potensial untuk produksi pangan— didorong untuk tidak hanya swasembada pangan, tetapi juga bisa mengekspor komoditas pangan ke negara lain.

Kelompok rentan

Yang mengalami dampak paling besar terhadap krisis pangan global adalah masyarakat pengungsi. Mereka sama sekali bergantung pada bantuan pangan dari luar negeri atau luar daerah. Terjadinya banyak bencana di dunia dan di Indonesia tentu akan menambah jumlah orang yang dipaksa mengungsi.

Dilaporkan, jumlah pengungsi (refugees maupun internally displaced person/IDP) semakin besar, sekitar 26 juta orang (Kent Garber, 24/4/2008). Ini belum termasuk pengungsi korban konflik dan bencana pada akhir-akhir ini, misalnya di Myanmar dan China. Maka, jumlahnya pasti akan lebih tinggi dari yang dilaporkan.

Dengan adanya krisis pangan dunia tersebut, para pekerja kemanusiaan khawatir akan besarnya dampak buruk bagi para pengungsi di tempat-tempat pengungsian mereka dan para pengungsi yang baru saja kembali ke tempat/daerah/negara asal mereka. Situasi ini akan diperburuk dengan adanya fenomena akhir-akhir ini, yakni negara produsen pangan membatasi ekspor mereka demi stabilitas harga pangan dalam negeri dan proteksi persediaan pangan di dalam negaranya masing-masing tanpa memperhitungkan pentingnya solidaritas kemanusiaan dunia.

Sebagai negara yang potensial untuk produksi pangan, Indonesia hendaknya tidak hanya menargetkan swasembada pangan untuk masyarakat di dalam negeri sendiri, tetapi demi panggilan kemanusiaan dan solidaritas global juga mampu mengekspor komoditas pangan ke luar negeri.

Target ini perlu didukung kebijakan pemerintah berpihak kepada petani di pedesaan, yang selama ini menjadi ”korban” kebijakan yang tidak memihak mereka. Dengan memihak petani komoditas pangan, bukan hanya mereka diharapkan bisa menghadapi krisis pangan dunia, tetapi juga bisa mengembangkan solidaritas kemanusiaan global, terutama pada kelompok rentan seperti pengungsi di kamp-kamp dan mereka yang baru saja kembali ke daerah/tempat/negara asal. Semoga suara mereka mendapat perhatian.

 

Diambil dari Opini Kompas Sabtu 14 Juni 2008, oleh : Adrianus Suyadi SJ Direktur Nasional Jesuit Refugee Service Indonesia

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on June 21, 2008 in Riset

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: