RSS

Di Balik Surut dan Seretnya Rezeki

07 Jun

Setiap anak yang lahir ke dunia, sudah ada jatah rezekinya. Begitulah Allah menegaskan. Begitu pula Rasulullah mengajarkan. Rezeki yang telah diberikan Allah juga tidak akan salah. Apa yang memang jatah seseorang, tidak akan berpindah ke tangan orang lain, dengan cara apapun. Bila sampai berpindah, itu artinya bukan rejekinya. Sebaliknya, apa yang memang bukan jatah seseorang, tidak akan datang kepada dirinya, dengan apapun jua.

 

Maka ketiadaan rezeki, kekurangan, dan segala bentuk kesulitan yang menimpa seseorang, harus ada jawaban di baliknya. Banyak kemungkinan mengapa rezeki tak kunjung datang, atau datang dalam jumlah yang sangat terbatas. Berikut di antaranya :

 

1.      Barangkali karena Dosa

 

Boleh jadi, terhambatnya rezeki, bukan karena seseorang tidak berhak mendapatkannya. Ia sebenarnya berhak mendapatkan rezeki itu, tetapi rezeki itu terlambat datang, atau tidak datang, lantaran dosa yang dilakukannya. Kenyataan ini dengan tegas dijelaskan oleh Rasulullah dalam haditsnya : “Sesungguhnya, bisa saja seseorang terhalang rezekinya lantaran sebuah dosa yang ia lakukan.” (HR. Ibnu Hibban)

 

2.      Barangkali karena ketimpangan

 

Tersumbatnya rezeki, kadang juga karena timpangnya perputaran kekayaan. Atau dengan kata lain, ini terjadi karena ada kesalahan dalam mengurus kekayaan. Karena itu Al-Qur’an mengingatkan bahwa harus dihindari berputarnya uang dan kekayaan hanya pada orang-orang kaya saja. Seperti ketika Allah menjelaskan pembagian harta rampasan (fa’i) adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang berada dalam perjalanan. Pada penghujung ayat itu Allah menjelaskan alasannya, “Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja.” (QS. Al-Hasyr : 7)

 

3.      Barangkali karena ujian

 

Kadang kala, kesulitan rezeki merupakan ujian yang diberikan Allah kepada hamba-hambaNya. Ini semacam sarana dan cara yang digunakan Allah untuk meningkatkan kualitas hamba-hamba-Nya. Di dalam Al Qur’an Allah dengan tegas menyatakan, “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “innaa lillaahi wainna ilaihi raaji’un.” (QS. Al Baqarah : 155-156).

 

4.      Barangkali karena pergiliran

 

Hidup ini seperti roda yang terus berputar. Perputaran itu lantas melahirkan siklus hidup. Ada kalanya seseorang di bawah. Ada kalanya berada di atas. Kesulitan rezeki yang menimpa seseorang, barangkali lantaran itu merupakan bagian dari pergiliran yang telah diberikan Allah. Pergantian yang mesti terjadi yang diberikan Allah kepada manusia. Allah SWT berfirman, “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu kami pergilirkan di antara manusia.” (QS. Ali-Imran : 140)

 

5.      Barangkali karena sudah merupakan jatah maksimal

 

Boleh jadi, rezeki yang sedikit yang diterima seseorang, karena memang sudah merupakan jatah maksimal yang diberikan Allah kepada kita. Memang, membicarakan prinsip ini bisa menjebak seseorang untuk berpikir salah, dan bahkan bertindak salah. Bisa jadi orang sebenarnya malas berusaha, tetapi ia berlindung di balik prinsip ini. Bisa jadi orang tidak hati-hati, kurang bersungguh-sungguh, lalu atas hasil yang tidak seberapa ia berdalih behwa semua ini memang jatahnya. Karenanya prinsip ini sesungguhnya tidak hanya berlaku untuk orang miskin. Tetapi berlaku untuk setiap orang. Terutama setelah seseorang berusaha sekuat tenaga.

 

Kesulitan hidup yang dialami seseorang tidak berarti behwa ia tidak diberikan jatah rezekinya oleh Allah. Setiap kita bisa membaca dengan jujur, atas segala kondisi yang kita alami, baik maupun buruk, susah maupun senang. Ada ketetapan Allah dibaliknya. Tetapi ada juga unsur ikhtiar kemanusiaan kita, yang turut memberi warna hitam putih nasib kita.

 

Suatu hari Rasulullah SAW sedang membetulkan sesuatu. Dua anak Khalid, Habbah dan Siwa masuk menemui Rasulullah lalu membantu Rasulullah membetulkan sesuatu itu. Kepada keduanya Rasulullah mengatakan : “Janganlah kamu berputus asa dari rezeki Allah, selama kepala kamu masih bergerak. Sesungguhnya manusia itu sebagai orok merah, tidak memiliki bungkus. Lalu Allah memberinya Rezeki.” (HR. Ibnu Majah).

 

Maknailah dengan benar segala susah dan senang kita, lapang dan sempit kita. Lalu, bersama dengan itu, jangan pernah bosan untuk berusaha. < Tarbawi 53/4

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on June 7, 2008 in Artikel

 

Tags: , , , ,

One response to “Di Balik Surut dan Seretnya Rezeki

  1. ferry

    December 10, 2008 at 23:18

    subanallah, informasi antum sangat berguna sekali

    jazakallahu khoiron katsiro

    Like

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: